Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haus Kasih Sayang di Sudut Tersembunyi
Lampu-lampu kota Aeryon mulai berkedip di kejauhan, tampak seperti taburan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Namun, di atap gedung tua terbengkalai di distrik industri yang jarang terjamah, suasana terasa jauh lebih sunyi dan murni. Angin malam berhembus cukup kencang, memainkan helai-helai rambut cokelat panjang Seraphina Aeru saat ia berdiri di tepian beton yang kasar.
Di belakangnya, Dareen Christ berdiri siaga. Tangannya tidak lagi berada di belakang punggung dalam posisi istirahat di tempat yang kaku. Alih-alih, ia bersandar pada pilar besi berkarat, matanya tidak lepas dari sosok gadis yang kini telah menjadi pusat gravitasinya.
"Kau tahu, Babe ..." Sera memulai, suaranya hampir hilang terbawa angin, namun cukup jelas bagi indra pendengaran Dareen yang terlatih. "Tempat ini jauh lebih baik daripada balkon kamarku. Di sini, aku tidak merasa seperti pajangan di dalam kotak kaca milik Seldin."
Sera berbalik, menatap Dareen dengan binar mata yang redup. Gaun kuliahnya yang mahal terlihat kontras dengan dinding gedung yang penuh grafiti dan debu. "Kadang aku sengaja berteriak, marah tanpa alasan, atau clubbing sampai pagi hanya untuk melihat apakah Seldin akan benar-benar datang dan memarahiku. Aku bertingkah emosional karena aku takut akan keheningan. Keheningan bagiku berarti aku telah dilupakan. Dan dilupakan ... itu lebih buruk daripada dibenci."
Dareen melangkah maju, mendekati Sera hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. "Kau tidak perlu berteriak untuk membuatku melihatmu, Sera."
Nama kecil itu keluar dari bibir Dareen dengan sangat halus, seolah-olah pria itu baru saja menyerahkan kunci pertahanan terakhirnya. Tidak ada lagi sapaan 'Nona' yang kaku. Di atas gedung tua ini, di sudut tersembunyi Aeryon City yang tidak diketahui oleh intelijen Seldin, status majikan dan pelayan itu telah menguap bersama kabut malam.
Sera tertegun sejenak mendengarnya. Ia melangkah maju, membenamkan wajahnya di dada bidang Dareen, menghirup aroma sabun dan campuran samar bau mesiu yang selalu melekat pada pria itu. "Aku haus kasih sayang, Dareen. Kedengarannya sangat menyedihkan, bukan? Putri Aeru yang memiliki segalanya, tapi mengemis perhatian dari pengawalnya sendiri."
Sera mendongak, matanya yang berkaca-kaca menuntut jawaban. "Aku butuh konfirmasi setiap saat. Setiap kali kau tidak menoleh, setiap kali kau bersikap dingin, aku merasa seperti anak kecil yang ditinggalkan lagi di pemakaman orang tuaku. Aku takut ... aku takut jika aku berhenti bersikap 'sulit', kau juga akan meninggalkanku karena aku tidak lagi menarik untuk dijaga."
Dareen merasakan hatinya teriris. Ia merengkuh bahu Sera, menariknya masuk ke dalam pelukan yang protektif. "Ketakutanmu adalah bayang-bayang masa lalu, Sera. Seldin menghancurkan hatimu untuk membangun kekuasaan, sama seperti militer menghancurkan kehormatanku untuk menutupi kesalahan mereka. Kita berdua adalah puing-puing dari ledakan yang sama."
Dareen mengusap punggung Sera dengan lembut, sebuah gerakan yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan ia lakukan. "Kau tidak perlu menjadi sulit untuk membuatku bertahan. Aku sudah terikat padamu, bukan karena kontrak Seldin, tapi karena luka kita memiliki frekuensi yang sama. Aku tidak akan pergi, Sera. Tidak selama aku masih bernapas."
Sera memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh dan meresap ke kemeja Dareen. "Katakan lagi. Panggil namaku lagi."
"Sera," bisik Dareen tepat di telinganya. "Seraphina. Hanya milikku di sini."
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di sana, berbagi keheningan yang kini terasa nyaman, bukan lagi mengancam. Di sudut tersembunyi ini, mereka bebas menjadi manusia. Mereka duduk di tepian atap, membagi sebotol air mineral dan beberapa camilan yang dibeli Dareen dari toko kelontong kumuh di bawah.
Beberapa hari kemudian, 'rutinitas rahasia' mereka berlanjut. Setiap kali jam kuliah Hukum Bisnis berakhir, alih-alih langsung kembali ke mobil jemputan resmi, Dareen akan membawa Sera menyusup melalui pintu belakang fakultas menuju sebuah kafe bawah tanah bernama The Vault. Tempat itu remang-remang, penuh dengan asap rokok dan musik jazz rendah, tempat para pemberontak dan pencari suaka batin berkumpul.
Seldin mungkin mengira adiknya sedang belajar di perpustakaan atau berbelanja di butik ternama, namun di sini, Sera duduk di sofa kulit yang robek, tertawa lepas saat Dareen menceritakan pengalamannya saat latihan bertahan hidup di hutan—hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Jadi kau benar-benar memakan kalajengking?" Sera meringis namun matanya berkilat penuh minat.
"Itu protein terbaik saat kau tidak punya apa-apa lagi," jawab Dareen dengan senyum tipis yang jarang terlihat. Di tempat ini, ia tidak perlu memasang wajah porselen.
Sera meraih tangan Dareen di atas meja, mengusap bekas luka di buku jari pria itu. "Dulu aku benci melihat luka-lukamu. Tapi sekarang, aku melihatnya sebagai bukti bahwa kau selamat. Kau pejuang, Dareen. Dan aku ingin menjadi alasanmu untuk terus berjuang, bukan sekadar bertahan."
Dareen menggenggam balik tangan Sera, membawanya ke bibirnya dan mencium jemari gadis itu dengan penuh pengabdian. "Kau sudah menjadi alasan itu, Sera. Setiap hari aku harus menahan diri untuk tidak menghajar siapa pun yang menatapmu terlalu lama di kampus, atau siapa pun yang membuatmu menangis. Itu bukan lagi tugas. Itu naluri."
"Aku suka saat kau posesif," goda Sera, sifat manjanya kembali muncul namun dengan nada yang jauh lebih manis. "Tapi aku lebih suka saat kau menatapku seolah-olah aku adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini."
"Karena memang begitu," sahut Dareen tanpa ragu.
Namun, di tengah kemesraan yang tumbuh di sudut-sudut gelap kota, bayang-bayang The Phoenix Group dan ambisi Seldin tetap mengintai. Setiap tawa yang mereka bagi di kafe bawah tanah itu terasa seperti pinjaman yang harus dibayar mahal suatu saat nanti.
Dareen menyadari bahwa semakin dalam ia mencintai Sera, semakin besar risiko yang ia ambil. Ia sedang mencintai putri dari musuhnya, atau mungkin lebih tepatnya, putri dari penjara yang membelenggunya. Tapi saat ia melihat Sera tersenyum tulus—senyum yang tidak pernah terlihat di depan kamera media—Dareen tahu bahwa ia siap membayar harga apa pun.
"Kita akan keluar dari sini suatu saat nanti, kan?" tanya Sera tiba-tiba, menatap ke arah pintu keluar kafe yang mengarah ke jalanan gelap. "Keluar dari bayang-bayang Seldin, keluar dari konspirasi ini?"
Dareen menatap mata Sera dalam-dalam, mencari keyakinan di sana. "Aku akan membawamu keluar, Sera. Meski aku harus membakar seluruh Aeryon City untuk membukakan jalan bagimu."
Ikatan luka mereka telah berubah menjadi ikatan janji. Di sudut tersembunyi Aeryon City, di tengah kepungan beton dan rahasia, dua jiwa yang hancur itu perlahan-lahan mulai menyusun kembali kepingan diri mereka sendiri. Sera tidak lagi merasa perlu berteriak untuk didengar, dan Dareen tidak lagi merasa perlu menjadi monster untuk merasa kuat. Cukup dengan saling memiliki, mereka merasa telah memenangkan perang yang belum sempat mereka mulai.
Malam itu, saat mereka berjalan kembali menuju mobil agar tepat waktu sampai di rumah sebelum Seldin curiga, Dareen berhenti sejenak di lorong gelap dekat parkiran. Ia menarik Sera ke dalam pelukan singkat namun intens.
"Jangan pernah ragukan aku lagi," bisik Dareen di puncak kepala Sera.
"Aku tidak ragu, Babe," balas Sera sambil tersenyum lebar. "Selama kau terus memanggilku Sera, aku akan selalu ada di sini."
Mereka masuk ke dalam mobil, dan seketika itu juga, topeng-topeng itu kembali terpasang. Dareen menjadi pengawal yang kaku, dan Sera menjadi putri yang angkuh. Namun, di bawah meja, tangan mereka saling bertautan erat, sebuah rahasia kecil yang menjadi kekuatan terbesar mereka untuk menghadapi badai yang pasti akan datang.