NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 | Tiket Sekali Jalan ke Shanghai

...----------------🍁----------------🍁----------------...

​Matahari Jakarta pagi itu terasa berbeda di mata Satya. Bukan lagi sekadar bola api yang menyengat kulit, melainkan pusat energi yang memancarkan spektrum warna yang kacau. Di trotoar yang retak, di antara pedagang asongan dan debu knalpot bajaj, Satya melihat dunia yang sedang berada di ambang kehancuran. Di atas kepala setiap orang yang berpapasan dengan nya, angka-angka persentase kemiskinan berkedip merah, seperti alarm yang tak terdengar.

​"Mereka tidak tahu," batin Satya sambil mengeratkan pegangan pada tas ransel nya. "Mereka masih mengeluh soal harga cabai, padahal sebentar lagi, harga harga diri mereka pun tidak akan sanggup membeli sebutir beras."

​Satya melangkah masuk ke sebuah toko gadai kecil di sudut pasar. Di sana, ia meletakkan satu-satu nya harta yang tersisa selain pakaian nya: sebuah jam tangan Seiko tua pemberian almarhum ayah nya dan sebuah cincin emas murni yang seharusnya menjadi kado ulang tahun ketiga pernikahan nya dengan Clarissa, hadiah yang tak pernah sempat ia berikan karena surat cerai lebih dulu sampai di tangan nya.

​"Cuma ini?" penjaga toko itu, seorang pria bermata sipit dengan cerutu di mulut nya, menatap remeh. Di atas kepala nya, Satya melihat angka 85% keserakahan.

​"Berapa?" tanya Satya datar.

​"Jam ini sudah usang. Cincin nya kecil. Saya kasih dua ratus ribu," ucap si penjaga.

​Satya menatap mata pria itu. Tiba-tiba, sebuah visi melintas. Ia melihat pria ini akan menerima telepon dalam lima menit dari istri nya yang melaporkan bahwa brankas di rumah mereka macet. Satya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih seperti seringai predator.

​"Dua juta," kata Satya tenang.

​Pria itu tertawa terbahak-bahak hingga cerutu nya hampir jatuh. "Kamu gila? Barang rongsokan begini minta dua juta?"

​"Dalam lima menit, istri mu akan menelepon," Satya berkata dengan suara rendah, hampir berbisik. "Dia akan bilang kalau brankas di kamar mu tidak bisa dibuka karena kombinasi yang kau ganti kemarin salah. Hanya aku yang tahu angka asli nya, karena aku melihat nya di kening mu sekarang."

​Tawa pria itu terhenti. Wajah nya memucat. "Apa... apa kata mu?"

​Tepat saat itu, telepon di atas meja berdering. Si penjaga mengangkat nya dengan tangan gemetar. Setelah beberapa detik mendengarkan suara histeris di seberang sana, ia menatap Satya seolah-olah melihat hantu.

​"Dua juta," ulang Satya. "Dan angka kombinasi nya adalah tanggal lahir selingkuhan mu yang kau simpan di dompet itu. 12-08-72."

​Pria itu tidak membantah lagi. Dengan tangan bergetar, ia menghitung uang lembaran seratus ribu dan menyerahkan nya pada Satya. Ia tidak berani bertanya bagaimana Satya tahu. Ketakutan akan hal gaib jauh lebih kuat daripada logika ekonomi bagi pria itu.

​Satya keluar dari toko dengan kantong yang sedikit lebih tebal. Tapi itu belum cukup. Ia berjalan menuju sebuah money changer di kawasan Sabang. Di sanalah, antrean mulai memanjang. Orang-orang mulai mencium bau busuk dari ekonomi negara, tapi mereka masih ragu.

​"Rupiah di Rp 2.450 per dollar," Satya membaca papan pengumuman. Di samping angka itu, ia melihat bayangan angka transparan yang terus berputar liar seperti mesin slot: Rp 2.600... Rp 3.000... Rp 4.500.

​"Gila," gumam Satya. "Lompatan nya akan terjadi sore ini."

​Ia mendekati seorang pria paruh baya yang tampak bimbang di depan pintu money changer. Pria itu membawa tas kulit yang penuh dengan uang tunai Rupiah. Di atas kepala nya, Satya melihat indikator Keputusasaan sebesar 90%.

​"Pak," sapa Satya. "Jangan tukar di dalam. Mereka akan memberi Anda rate yang rendah karena mereka tahu Anda butuh."

​Pria itu menoleh curiga. "Lalu? Kamu mau apa? Menipu saya?"

​"Saya punya informasi. Pukul empat sore nanti, bank sentral akan menghentikan intervensi. Rupiah akan anjlok ke tiga ribu dalam semalam. Jika Anda membeli dollar sekarang di sini, Anda hanya dapat sedikit. Tapi, jika Anda ikut saya ke broker ilegal di belakang gedung ini, Anda bisa dapat rate sisa kemarin. Saya hanya minta komisi sepuluh persen dari selisih keuntungan Anda."

​Pria itu ragu, namun mata Satya yang berkilat merah tipis seolah menghipnotis nya. "Bagaimana aku bisa percaya?"

​"Lihat mata saya, Pak. Apakah saya terlihat seperti orang yang punya waktu untuk menipu untuk uang receh?" Satya tiba-tiba mampu memberikan aura tekanan yang ia pelajari dari leluhur nya dalam mimpi.

​Tiga jam kemudian, Satya berdiri di depan loket tiket pesawat Bandara Soekarno-Hatta. Di kantong nya kini ada hampir lima ribu Dollar AS, hasil dari spekulasi cepat dan komisi dari pria tadi yang hampir menangis syukur karena telah berhasil mengamankan harta nya tepat sebelum berita TV menyiarkan kejatuhan Rupiah tahap pertama.

​"Satu tiket ke Shanghai. Sekali jalan," ucap Satya kepada petugas maskapai.

​Petugas itu, seorang wanita muda dengan seragam biru ketat, menatap Satya dengan heran. "Hanya satu, Pak? Tidak ada tiket pulang?"

​"Saya tidak berencana untuk pulang," jawab Satya.

​Saat petugas itu memproses tiket nya, Satya sedikit melamun. Ia melihat pantulan diri nya di kaca pembatas loket. Ia tampak berantakan, namun ada aura gelap yang mulai menyelimuti nya, karisma seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk hilang.

​"Apakah aku terlalu kejam pada Clarissa?" sebuah suara kecil di kepala nya bertanya.

​Satya segera menepis nya. "Kejam? Mereka membuang ku seperti sampah setelah aku memberikan tiga tahun hidup ku. Jika dia mati di kecelakaan itu, itu adalah takdir. Jika dia selamat namun cacat, itu adalah peringatan. Aku bukan lagi pelindung nya. Aku adalah badai yang akan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalan ku."

​Ia mengambil tiket nya dan melangkah menuju gerbang keberangkatan. Di ruang tunggu, mata nya tak sengaja menatap layar televisi besar yang menayangkan berita terkini.

​"Berita duka menyelimuti keluarga besar konglomerat Wijaya. Putri tunggal mereka, Clarissa Wijaya, mengalami kecelakaan tragis di depan Pengadilan Agama Jakarta Pusat. Kondisi nya kritis dan sedang dalam penanganan intensif..."

​Orang-orang di ruang tunggu berbisik kasihan. Satya hanya menatap layar itu dengan datar. Tidak ada getaran di hati nya. Yang ada hanyalah rasa lapar akan kekuasaan yang lebih besar.

​"Mas Satya?"

​Satya menoleh. Seorang wanita cantik dengan seragam pramugari sedang berdiri di dekat mesin kopi, menatap nya dengan ragu. Wanita itu adalah teman sekolah nya dulu, Maya.

​"Maya?"

​"Ya ampun, benar kamu! Kamu mau ke mana? Kok kelihatan... beda banget?" Maya mendekat. Di atas kepala Maya, Satya melihat aura merah muda yang lembut, aura ketertarikan.

​"Aku mau ke Shanghai. Mencari peruntungan baru," jawab Satya singkat.

​"Shanghai? Tapi di sana lagi kacau juga karena krisis Asia, Satya. Kamu punya koneksi di sana?" Maya tampak cemas.

​Satya melangkah mendekat, membuat Maya sedikit mundur hingga punggung nya menyentuh mesin kopi. Satya menatap mata Maya dalam-dalam, membuat jantung wanita itu berdegup kencang. Dengan kemampuan cenayang nya, Satya bisa melihat masa depan Maya dalam hitungan detik ke depan.

​"Maya," bisik Satya. "Nanti saat pesawat mu take off menuju Singapura, jangan biarkan pilot mengambil jalur pintas lewat awan cumulonimbus di arah tenggara. Bilang pada nya, ada turbulensi hebat yang bisa mematahkan sayap kiri."

​Maya mengerutkan kening. "Apa? Satya, kamu ngomong apa? Kamu sakit?"

​Satya tersenyum misterius, lalu berbalik tanpa pamit. "Ingat kata-kata ku jika kau ingin tetap cantik. Sampai jumpa di kehidupan yang lain, Maya."

​Satya berjalan masuk ke garbarata, meninggalkan Maya yang terpaku dengan perasaan campur aduk antara takut dan terpesona.

​Di dalam pesawat, Satya duduk di kursi kelas ekonomi yang sempit. Namun, di dalam pikiran nya, ia sudah duduk di singgasana emas di puncak gedung tertinggi di Shanghai. Ia menutup mata nya, merasakan getaran mesin pesawat yang mulai menderu.

​"Tiongkok... negeri tirai bambu," gumam nya dalam hati. "Tempat di mana naga-naga bertarung. Mereka tidak tahu bahwa seekor naga dari tanah Jawa baru saja terbang menuju ke sana. Bukan untuk berteman, tapi untuk memangsa."

​Tiba-tiba, seorang wanita di kursi sebelah, seorang wanita Tionghoa dengan pakaian glamor dan kacamata hitam, menjatuhkan majalah nya. Satya mengambil nya dan saat tangan mereka bersentuhan, sebuah penglihatan dahsyat menghantam nya.

​Wanita ini adalah pewaris sebuah klan bisnis di Shanghai yang sedang melarikan diri dari upaya pembunuhan.

​Satya mengembalikan majalah itu sambil menatap mata di balik kacamata hitam tersebut. "Hati-hati, Nona. Penjemput mu di bandara Pudong nanti bukan orang suruhan ayah mu, tapi algojo yang dibayar paman mu."

​Wanita itu tersentak, tangan nya gemetar. "Siapa... siapa kau sebenarnya?"

​Satya menyandarkan kepala nya ke kursi, memejamkan mata dengan tenang. "Hanya seorang pengembara yang bisa melihat apa yang kau sembunyikan di bawah kulit mu."

​Pesawat pun lepas landas, membelah awan Jakarta yang kelabu, membawa Satya Samantha menuju takdir baru yang berlumuran darah, uang, dan wanita-wanita yang akan berlutut di bawah kaki nya. Indonesia adalah luka, dan Shanghai akan menjadi obat yang sangat keras.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
Serena Khanza
duh takut 🫣 gimana nih sama satya
Hunk
anjay posesif banget nih cewe.
Hunk
Masih hidup mantan istrinya? aku kira udah mati.
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
Serena Khanza
siapa nih🤔 si meiling ya
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
karakter es selalu menjadi karakter favorit aku 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!