NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Malam semakin larut, namun bagi Citra, jarum jam seolah berhenti bergerak. Waktu terasa membeku, persis seperti suhu di dalam kamar utama yang luas itu.

Udara dingin dari pendingin ruangan yang disetel pada suhu enam belas derajat Celcius oleh Putra terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk langsung ke tulang sumsumnya. Sisa demam yang belum tuntas direngkuh pelukan ibunya kemarin kini kembali menyerang dengan kekuatan ganda. Tubuh ringkih Citra menggigil hebat di atas sofa kulit yang keras itu. Ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh, berusaha mencari kehangatan dari kaos tipisnya yang sama sekali tidak membantu.

Napas Citra memburu dan terasa panas menyapu bibirnya yang kering pecah-pecah. Luka bakar di punggung tangannya akibat cipratan air kopi mendidih semalam kini berdenyut menyakitkan, seolah ikut memprotes perlakuan kejam yang diterimanya di rumah ini.

Menjelang pukul tiga pagi, tenggorokan Citra terasa seperti gurun pasir. Kering, perih, dan tercekat. Ia butuh air putih. Ia juga merasa sangat mual, perutnya yang kosong karena belum makan malam diaduk-aduk tanpa ampun.

Dengan pandangan yang mulai berkunang-kunang, Citra memaksakan diri untuk bangun. Ia mengingat ancaman Putra: jangan melewati batas, gunakan kamar mandi bawah.

"Sedikit lagi, Cit... kamu pasti bisa turun ke bawah..." bisiknya pada diri sendiri dengan bibir yang gemetar membiru.

Citra berpijak pada lantai parket yang terasa sedingin balok es. Namun, baru saja ia mengambil dua langkah menjauhi sofa, keseimbangannya hilang total. Ruangan di sekelilingnya berputar hebat. Pandangannya menggelap secara tiba-tiba, menyisakan dengungan keras di telinganya. Kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya.

Brukkk!

Tubuh Citra ambruk, menghantam lantai kayu yang keras dengan suara dentuman yang cukup kencang. Ia jatuh pingsan, tak sadarkan diri dalam kegelapan dan dingin yang mencekam.

Suara jatuhnya tubuh Citra itu memecah keheningan malam dan menembus alam bawah sadar Putra. Pria yang sedang tidur lelap di bawah selimut goose down tebal itu mengerang pelan, merasa tidurnya terganggu.

"Citra, jangan sengaja membuat keributan di malam hari. Saya bilang jangan berisik," gumam Putra dengan suara serak, matanya masih terpejam.

Satu menit berlalu. Hening. Tidak ada jawaban, tidak ada suara langkah kaki, tidak ada permintaan maaf yang biasanya selalu meluncur dari bibir gadis itu.

Rasa kesal bercampur sedikit firasat aneh membuat Putra akhirnya membuka mata. Ia meraba saklar lampu tidur di atas nakas. Cahaya kuning temaram seketika menerangi sebagian ruangan. Putra menoleh ke arah sudut ruangan tempat sofa berada.

Kosong.

Kening Putra berkerut. Ia menyibak selimutnya dan duduk. Matanya menyapu lantai, dan saat itulah jantungnya seolah berhenti berdetak selama sekian detik.

Citra tergeletak tak berdaya di atas lantai. Wajahnya sepucat mayat, bibirnya membiru, dan tubuhnya meringkuk dengan napas yang sangat pelan.

"Citra?!"

Insting Putra mengambil alih. Ia melompat dari ranjang, melupakan segala aturan batas imajiner dan gengsi yang ia buat sendiri. Ia berlutut di samping tubuh istrinya. Saat jemari Putra menyentuh pipi Citra, pria itu tersentak kaget. Tubuh gadis itu panas membara, seperti menyentuh bara api, sangat kontras dengan suhu ruangan yang membekukan.

"Bangun. Hei, Citra, bangun!" Putra menepuk pipi Citra, namun tidak ada respons.

Tanpa berpikir panjang, Putra menyelipkan tangannya di bawah lipatan lutut dan bahu Citra, lalu mengangkat tubuh istrinya yang ternyata sangat ringan itu. Ada desir rasa bersalah yang asing menyelinap di dadanya saat melihat betapa rapuhnya gadis ini. Ia membaringkan Citra di atas ranjang king size-nya sendiri, menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuh yang menggigil itu.

Putra segera menyambar ponselnya dan menelepon Dokter Rahman, dokter pribadi keluarga Aditama.

"Dokter, datang ke mansion sekarang. Istri saya pingsan dan demam tinggi," perintah Putra dengan nada tak sabar, tidak menerima penolakan meski waktu menunjukkan pukul tiga pagi.

Tiga puluh menit kemudian, Dokter Rahman tiba dengan tas medisnya. Kehadiran dokter di tengah malam itu membuat seisi rumah terbangun. Putri dan Kinan keluar dari kamar mereka, mengintip dari ambang pintu kamar Putra dengan wajah bingung campur kesal karena tidur mereka terganggu.

Dokter Rahman memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan denyut nadi Citra dengan saksama. Wajah dokter paruh baya itu tampak serius.

"Suhunya hampir 40 derajat Celsius, Pak Putra. Istri Anda mengalami kelelahan fisik dan mental yang sangat ekstrem. Dehidrasi berat, dan sepertinya asam lambungnya juga naik karena telat makan," jelas Dokter Rahman sambil mulai memasangkan selang infus ke punggung tangan kiri Citra.

Dokter Rahman kemudian memperhatikan tangan kanan Citra yang melepuh. "Luka bakar ini... cukup parah dan sudah mulai infeksi karena tidak ditangani dengan benar. Saya akan berikan salep antibiotik. Dan tolong, suhu ruangannya jangan terlalu dingin. Pasien butuh kehangatan dan istirahat total. Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan berat dulu."

Putra hanya diam mematung, mendengarkan setiap teguran medis itu dengan rahang mengeras. Matanya melirik luka melepuh di tangan Citra, teringat kejadian kopi panas semalam. Rasa bersalah itu kini bukan sekadar desir, melainkan cubitan tajam di ulu hatinya.

"Baik, Dok. Lakukan apa pun agar dia cepat sadar," jawab Putra pelan.

Setelah Dokter Rahman memberikan obat melalui selang infus dan pamit pulang, kamar itu kembali hening. Putri dan Kinan sudah kembali ke kamar mereka sambil mendumel pelan. Putra duduk di kursi di samping ranjang, menatap wajah Citra yang mulai terlihat sedikit lebih tenang meski masih memucat.

Pagi harinya, sinar matahari sudah mengintip dari balik jendela. Citra masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat penenang dan penurun panas yang diberikan dokter. Putra baru saja selesai mandi dan berpakaian, bersiap untuk pergi ke kantor karena ada rapat penting yang tidak bisa ia tinggalkan.

Namun, baru saja Putra meraih jasnya, pintu kamar terbuka dengan kasar.

Brak!

Sosok Pak Aditama berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah merah padam. Pria paruh baya itu baru saja tiba dari bandara setelah menyelesaikan urusan bisnisnya di Surabaya lebih cepat dari jadwal. Baru saja ia melangkahkan kaki ke dalam rumah, kepala pelayan langsung melaporkan kejadian semalam bahwa Dokter Rahman dipanggil darurat karena Nyonya Muda pingsan.

Mata tajam Pak Aditama langsung menangkap sosok Citra yang terbaring lemah di ranjang dengan selang infus menancap di tangannya. Ia berjalan cepat menghampiri ranjang, menatap wajah menantunya yang pucat pasi, lalu melihat luka bakar yang sudah diperban di tangan kanannya.

Pak Aditama berbalik, menatap putra sulungnya dengan sorot mata yang sanggup membunuh.

"Apa yang sudah kamu lakukan pada istrimu, Putra?!" suara Pak Aditama menggelegar, memenuhi seluruh penjuru kamar mewah itu.

Putra meneguk ludah, berusaha mempertahankan ketenangannya. "Papa baru pulang, tenang dulu. Citra cuma demam biasa, Pa. Dia kecapekan..."

"Demam biasa kamu bilang?!" potong Pak Aditama murka. Ia menunjuk ke arah Citra. "Sampai harus diinfus? Sampai tangannya melepuh seperti itu?! Bibi pelayan bilang padaku kalau kamu memerintahkan Citra tidur di sofa! Apa itu benar?!"

"Itu... itu karena Citra membangkang, Pa. Dia pergi dari rumah tanpa..."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Putra. Pria itu terhuyung mundur, memegangi pipinya yang memanas. Ia menatap ayahnya tak percaya. Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya tangan Pak Aditama melayang ke wajahnya.

"Papa tidak mendidikmu menjadi laki-laki pengecut yang menyiksa wanita!" bentak Pak Aditama, dadanya naik turun menahan emosi yang meledak. "Dia itu istrimu! Tanggung jawabmu di hadapan Tuhan! Citra itu anak baik-baik, dia sudah bekerja keras, dan kamu malah memperlakukannya lebih rendah dari keset kaki di rumah ini!"

Pak Aditama melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja mahal putranya.

"Dengar baik-baik, Putra Mahesa Aditama," desis Pak Aditama dengan nada ancaman yang tidak main-main. "Mulai detik ini, kalau Papa melihat satu air mata lagi jatuh dari mata Citra karena ulahmu, atau kalau kamu membiarkan adik-adikmu yang kurang ajar itu menindasnya lagi... Papa pastikan kamu akan kehilangan seluruh hak waris dan posisimu di Aditama Group. Papa tidak butuh penerus yang tidak punya hati nurani!"

Putra terdiam kaku. Ancaman ayahnya bukanlah gertakan sambal. Pria arogan itu akhirnya menunduk, menyadari bahwa kebenciannya pada perjodohan ini telah membawanya terlalu jauh melampaui batas kemanusiaan.

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!