Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Bau mesiu masih menggantung di udara. Aspal jalan sempit itu tampak gelap oleh bercak darah yang mulai mengalir perlahan dari tubuh pria yang tergeletak kaku. Lampu jalan di atas mereka berkedip samar, membuat bayangan para pria bermantel hitam terlihat semakin menyeramkan.
Alecio berdiri tegak dengan pistol masih mengepul tipis di tangannya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras, tatapannya setajam mata elang. Namun, ekspresinya berubah seketika ketika ia menangkap gerakan di ujung gang.
Seorang wanita berdiri mematung. Berpakaian tertutup dari ujung kaki hingga ujung kepala, jilbab rapi, gamis panjang, dan mantel tipis menutupi tubuhnya. Wajah pucatnya tertutup cadar, matanya membelalak, tubuhnya bergetar nyaris tak terlihat.
Alecio mengangkat pistolnya tanpa ragu, mengarahkan tepat ke arah wanita itu.
Sandrina, yang baru saja tersadar bahwa ini bukan adegan syuting, merasa dunia seolah berputar. Tidak ada kameraman. Tidak ada sutradara. Tidak ada lampu sorot. Hanya mayat, darah, dan pria bersenjata.
Kakinya terasa lemas seperti agar-agar. "Aduh… apa yang harus aku lakukan?" batin Sandrina panik, tetapi tubuhnya tetap membeku.
Otaknya yang pernah mengalami cedera ringan lima tahun lalu—yang sering membuatnya bertindak impulsif—tiba-tiba bekerja dengan kecepatan luar biasa. Sebuah ide nekat muncul.
Sandrina perlahan membalikkan bola matanya ke atas, hingga hanya terlihat bagian putihnya. Napasnya diatur sepelan mungkin. Tubuhnya ia renggangkan, tangannya terangkat sedikit, meraba-raba udara di depannya seperti orang buta.
Dengan langkah hati-hati, Sandrina mulai berjalan perlahan ke arah seberang gang, tempat terlihat jalan besar dengan lampu lebih terang.
"Pura-pura tidak bisa melihat. Pura-pura tidak tahu apa yang mereka lakukan," gumam Sandrina dalam hati, berusaha menenangkan diri.
Patrick, yang berdiri tak jauh dari Alecio, langsung mengernyit curiga.
"Fermati!" teriak Patrick tegas dalam bahasa Italia. ("Berhenti!")
Sandrina tentu tidak paham sepatah kata pun. Ia terus berjalan, langkahnya gemetar tetapi berusaha stabil.
"Pura-pura tuli … pura-pura tidak dengar apa-apa," batinnya lagi.
Max, salah satu anak buah Alecio, berjongkok di dekat mayat sambil memeriksa denyut nadi yang sudah tidak ada.
"È sorda?" (Apa dia tuli?) tanya Max sambil melirik Sandrina.
Patrick tidak menjawab. Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke kaki Sandrina.
Namun, sebelum Patrick sempat menembak, Alecio lebih dulu menggerakkan jarinya.
DOR!
Peluru menghantam aspal tepat di dekat kaki Sandrina. Pecahan batu beterbangan.
Jantung Sandrina seperti copot. Tubuhnya terlonjak kaget, napasnya tertahan di tenggorokan. Refleks, ia hampir menjerit, tetapi buru-buru menggigit bibir bawahnya sampai perih.
"Pura-pura tidak dengar, pura-pura tidak dengar," ulang Sandrina dalam hati, meski tubuhnya bergetar hebat.
"Ya Allah, lindungi aku dari para penjahat ini." Doa Sandrina dalam hati, matanya masih terbalik putih.
Max menyeringai kecil. "Avevo ragione, è davvero sorda." (Benar dugaan aku, dia benar-benar tuli.)
Alecio menurunkan pistolnya sedikit, kewaspadaannya berkurang. Ia melangkah cepat mendekati Sandrina, lalu berdiri tepat di depannya, menghalangi jalan keluar.
Sandrina merasakan kehadiran seseorang di depannya, tetapi tetap mempertahankan akting butanya. "Aih, kenapa dia malah berdiri di sini?" batinnya panik.
Alecio menatap lekat-lekat wajah Sandrina. Ia memperhatikan matanya yang tampak kosong, hanya menampilkan bagian putih. Alisnya sedikit terangkat.
"È cieca e sorda," gumam Alecio pelan. (Dia buta dan tuli.)
"Bos," panggil Patrick ragu-ragu, melihat Alecio menurunkan pistolnya.
Alecio menoleh sekilas. "Dia buta dan tuli. Tidak akan menjadi ancaman."
Namun, Patrick tidak semudah itu percaya. Instingnya selalu tajam. Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sesuatu, sebuah ular mainan berwarna hitam, lengkap dengan mata mengkilat.
Dengan santai, Patrick melemparkannya ke arah Sandrina.
Plak!
Ular mainan itu jatuh tepat di bahu Sandrina, lalu meluncur ke tangannya. Refleks, Sandrina menangkap benda itu. Begitu matanya yang semula terbalik kembali normal dan melihat jelas apa yang ada di tangannya. Seekor ular hitam dengan mata mengkilat.
Otaknya berhenti bekerja. "Aaaa!" teriak Sandrina histeris.
Tanpa berpikir panjang, Sandrina melompat ke tubuh tinggi Alecio seperti kucing panik memanjat pohon. Kedua tangannya melingkar erat di leher Alecio, sementara kakinya spontan mengunci pinggang pria itu.
Alecio membeku total. Tubuhnya kaku seperti patung marmer.
Seluruh anak buahnya terperangah, mulut mereka ternganga lebar. Semua orang tahu, bos mereka sangat membenci sentuhan fisik. Bahkan jabatan tangan pun jarang ia terima.
Patrick langsung mengangkat pistolnya dan mengarahkannya ke kepala Sandrina. "Chi sei?!" (Siapa kamu?!) bentaknya.
Sandrina menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "E, gawat! Penyamaran aku terbongkar," batinnya panik setengah mati.
Alecio akhirnya bereaksi. Dengan suara menggelegar, ia berteriak tepat di telinga Sandrina.
"SCENDI DA ME!" (Turun dari tubuhku!)
Sandrina yang masih syok malah berteriak balik, refleks. "Berisik! Aku tidak budek!"
Wajah Alecio menegang. Matanya menyipit tajam.
Max menoleh ke Patrick. "Cosa ha detto?" (Dia bilang apa?)
Patrick menggeleng. "Non lo so (Mana aku tahu), tapi jelas dia tidak buta dan tidak tuli."
Alecio menatap Sandrina dengan tatapan membunuh. Perlahan, ia mengangkat pistolnya dan menempelkan moncongnya tepat di kening Sandrina.
Benda itu terasa dingin, namun mematikan. Wajah Sandrina langsung memucat. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca, keringat dingin mengalir di pelipisnya sebesar biji jagung.
Mulutnya komat-kamit cepat, seperti orang membaca doa tanpa suara.
"Ya Allah, aku belum mau mati. Jangan dulu kirim malaikat Izrail kepadaku. Aku masih muda, belum menikah, belum punya anak yang akan jadi generasi penerus umat Nabi-Mu ...."
Alecio menatapnya tanpa berkedip, jari telunjuknya siap menarik pelatuk.
Angin malam berdesir. Suasana di sana semakin mencekam.
Di tengah ketegangan itu Sandrina masih bergelayut di tubuh Alecio seperti koala ketakutan.
"Kamu sudah siap mati rupanya." Alecio menyeringai dan menarik pelatuk pistol miliknya.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu