Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dokter Wendy
Lumi berteriak sambil menunjuk ke arah keluar, sontak membuat Theo dan ibu Sophie ikut melihat ke arah keluar. Ternyata Maerin dan Kakek serta Lior berjalan ke arah klinik. Sophie berlari kearah Lior dan memeluk putranya. "Aww..." Rintih Lior.
"Ah, maafkan ibu, nak. Ayo kita obati lukamu di dalam." Kata Sophie pada anaknya.
"Anu... apakah boleh memar di wajah kakek juga diobati?" Maerin bertanya dengan ragu.
"Ini bukan apa-apa, Maerin. Aku baik-baik saja. Yang terpenting adalah keselamatan nenek." Jawab Kakek.
Sophie melihat ke arah kakek, "Tentu saja anda harus diobati. Lalu tentang nenek yang anda sebutkan. Beliau sekarang sedang beristirahat, jadi anda sudah tak perlu khawatir lagi."
"Hah.. Syukurlah." Kakek hampir terjatuh lemas karena lega, Maerin dengan sigap memengangi kakek sehingga kakek tak terjatuh.
Mereka bersama masuk ke dalam klinik, Sophie mengobati luka Lior dan memar di wajah kakek. Sementara Maerin menemani Theo di luar ruangan nenek. Lumi tiba-tiba berjalan mendekati mereka berdua, tiba-tiba duduk di pangkuan Maerin. Maerin dan Theo pun terkejut lalu keduanya tersenyum kecil, seolah beban yang mereka rasakan sedikit terangkat. Mereka mengobrol ringan dan sesekali bergurau dengan Lumi. Tak lama kemudian kakek dan Lior menghampiri mereka diikuti Sophie di belakang Lior. Lalu Lior berdiri di depan Theo, "Tuan, terima kasih banyak telah menolongku. Gara-gara menolongku, nenek jadi berada dalam bahaya."
Theo langsung berdiri kemudian menenangkan Lior, "Dengar Lior, itu bukan salahmu. Jadi kau tak perlu meminta maaf. Memang mungkin takdir mempertemukan kita dengan cara seperti ini. Semua akan baik-baik saja. Nenek juga akan membaik. Jadi jangan menyalahkan dirimu. oke?"
Lior menggangguk dengan air mata yang memenuhi wajahnya.
"Wah... Kakak menangis!" Teriak Lumi. Semua orang tertawa lega dan Lior pun mengusap air matanya dengan lengan bajunya.
Tak lama muncul seorang laki-laki, "Ternyata kalian di sini. Aku terkejut saat pulang tak ada siapapun di rumah."
Semua orang menoleh ke sumber suara itu.
"Ayah!!!!!" Teriak Lumi sambil turun dari pangkuan Maerin dan berlari ke arah ayahnya. Ayahnya memeluk dan menggendong Lumi, lalu berjalan ke arah orang-orang berkumpul. Mencoba memahami situasi, namun terkejut melihat penampilan putranya yang penuh luka.
"Apa yang terjadi?" Tanya laki-laki itu
Sophie pun menjelaskan semuanya, dari awal hingga akhir.
"Dasar berandalan sialan, harus kuberi pelajaran sekarang. Seenaknya melukai putraku." Kata laki-laki itu.
"Hentikan, suamiku. Percuma saja. Kepala desa di desa sebelah hanya akan mengabaikanmu. Atau lebih parah malah menyuruh orang untuk menyakitimu. Sudahlah, kita cukup menghindarinya saja. Jangan cari masalah dengannya. Desa ini bisa hancur jika membuatnya marah. Kau lupa kejadian beberapa tahun lalu?" Kata Sophie menenangkan amarah suaminya.
"Oh iya, perkenalkan. Ini Rowan, suami saya. Ayah dari Lior dan Lumi." Ucap Sophie pada rombongan Theo.
Rowan dan rombongan Theo saling berkenalan satu sama lain, lalu Rowan bertanya, "Kalian akan tinggal dimana?"
"Ah itu, apakah ada penginapan paling murah di desa ini?" Tanya Theo.
"Di sini hanya ada satu penginapan, entahlah bisa disebut murah atau enggak. Untuk sementara menginap di rumah kami saja." Jawab Rowan.
"Kami tak ingin merepotkan kalian lebih dari ini. Sebaiknya kami menginap di penginapan saja." Jawab Theo sungkan.
"Tak merepotkan sama sekali. Kalian sudah menolong putra dan putri kami. Jadi tak perlu sungkan untuk menginap di rumah kami." Kata Sophie.
"Anu.. nyonya Sophie. Apakah aku boleh di sini saja menunggu istriku?" Tanya kakek.
"Tentu saja boleh, jika terjadi sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu orang yang sedang berjaga. Dia akan memanggilkan dokter.
Theo dan Maerin tak mencegah keinginan kakek. Mereka merasa itu hal yang paling dibutuhkan kakek saat ini, dan mungkin juga yang paling dibutuhkan nenek. Setelah Theo mengantarkan kakek masuk ke dalam ruangan nenek di rawat, dia berpamitan pada kakek. Setelahnya berjalan bersama serta membawa Milo menuju rumah Rowan dan Sophie. Lumi dengan antusias ingin menaiki gerobak lagi, Theo pun mengijinkannya, dan dia berjalan sambil menuntun Milo. Maerin pun juga berjalan di sisi lain Milo. Sesampainya di rumah Rowan, mereka masuk dan berbincang sejenak. Lalu Sophie menyiapkan makan malam, Maerinpun membantunya. Lior dan Lumi sedang bermain dengan Milo di belakang rumah dekat dengan dapur. Jadi Sophie tetap bisa mengawasi mereka. Dan hanya tersisa Rowan dan Theo.Tiba-tiba Theo bertanya, "Bolehkah saya bertanya?"
"Silakan." Jawab Rowan
"Saya penasaran dengan yang istri anda sebutkan waktu di klinik. Tentang kepala desa di desa sebelah dan tentang kejadian beberapa tahun lalu." Theo bertanya dengan hati-hati.
"Meskipun anda orang luar, entah kenapa saya merasa sepertinya anda bisa dipercaya. Jadi saya akan menceritakannya. Dibanding desa sebelah, desa ini sangat kecil, penduduk tak begitu banyak. Tapi kenapa di desa kecil ini memiliki seorang dokter?" Ucap Rowan.
"Saya sebenarnya juga menanyakan pertanyaan itu di dalam hati saya. Sebab di tempat asal saya, hanya di kota-kota besar saja yang ada dokternya..."Theo tiba-tiba terdiam.
"Saya tak akan menanyakan darimana anda berasal, jadi anda bisa bicara dengan santai di sini. Jadi sebenarnya saya adalah pengawal dokter Wendy..." Belum selesai bicara, Theo menyela Rowan, "Maaf, dokter Wendy?"
"...ya, dokter pemilik klinik ini bernama Wendy. Dan saya adalah pengawalnya. Dokter Wendy sebenarnya putri seorang bangsawan, karena ibu beliau meninggal dan ayahnya menikah lagi dan mempunyai anak dengan istri barunya. Setelah kelulusan dokter Wendy, saat diperjalanan pulang dari akademi, tiba-tiba kami diserang sekelompok pembunuh bayaran, karena kami hanya membawa beberapa pengawal, kami mengatur siasat yaitu tiga pengawal menahan pembunuh bayaran, dan saya melarikan diri ke dalam hutan dengan beliau. Tak lama kemudian sisa pembunuh bayaran yang masih hidup, mereka mengejar kami, kami bersembunyi mengecoh dan semua usaha telah saya lakukan. Hingga akhirnya kami bertemu dengan salah satu penduduk desa ini, lebih tepatnya putra kepala desa. Dia menolong kami, saat para pembunuh itu menemukan jejak kami, dia menyuruh kami bersembunyi sehingga hanya dia saja yang berpapasan dengan sisa pembunuh bayaran itu. namun terjadi hal di luar dugaan, mereka membunuhnya. Sontak dokter Wendy refleks berteriak, untung sama saya sempat menutup mulut beliau hingga beliau tak jadi bersuara. Mereka pergi, setelah saya rasa aman. Saya mendekatinya dan membawa jasadnya ke desa ini. Dokter Wendy benar-benar syok namun berjalan mengikuti saya. Setibanya di desa ini, semua orang marah dan tak terima, bahkan istri kepala desa terkejut dan sepertinya terkena serangan jantung dan meninggal. Hal itu memberikan pukulan baru untuk beliau. Jadi beliau benar-benar syok berat. Beliau pasrah jika harus menyerahkan nyawa sebagai penebusan hilangnya nyawa putra kepala desa dan istrinya. Namun, putri kepala desa sangat bijak. Dia meluruskan dan menjelaskan situasi dengan cepat, bahwa kejadian ini bukanlah salah kami. Sebagai ucapan terima kasih dan penebusan, dokter Wendy memutuskan untuk tinggal di sini hingga ajalnya menjemput. Beliau tak menyembunyikan diri, beliau menyurati kediamannya, lebih tepatnya ibu tirinya. Meminta untuk dianggap sudah mati, melepas semua hak yang dimilikinya dan tak akan pernah kembali sama ke sana sama sekali, asalkan jangan usik atau ganggu hidup dokter Wendy. Dan ibu tiri beliau mengabulkannya, jadi dokter Wendy bisa hidup tenang di sini, tapi sebenarnya saya yakin bahwa dokter Wendy tidak sepenuhnya tenang." Rowan mengenang masa lalu dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu bagaimana dengan putri kepala desa itu sekarang?" Tanya Theo.
"Dia menjadi istri saya. Ya, Sophie adalah putri kepala desa waktu itu. Sekarang kepala desa sudah ganti. Untungnya beliau bijak. Tak seperti kepala desa di desa sebelah." Jawab Rowan.
"Wah sangat rumit, namun penuh pelajaran yang bisa dipetik. Lalu tentang kejadian beberapa tahun yang lalu itu, bagaimana?" Tanya Theo
"Jadi itu kejadian yang sangat menyakitkan kedua setelah kejadian sebelumnya.." Rowan belum selesai bicara karena Sophie menyela ucapan Rowan.
"Suamiku, sebaiknya kita makan dulu. Setelah antarkan makanan untuk kakek yang sedang menunggui nenek di klinik." Kata Sophie. Rowanpun mengangguk tanpa membantah.
"Biar saya saja yang mengantarkan makanan untuk kakek." Ucap Theo.
"Tak perlu, sebab anda masih harus mendengarkan lanjutan dari cerita suami saya. Saya yang akan menceritakannya." Ucap Sophie dengan raut wajah sedih.
"Tapi, istriku..." Kata Rowan.
"Aku sudah baik-baik saja, suamiku." Jawab Sophie
Bersambung...