Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Terakhir
Tiga bulan berlalu, perut Anisa memang tidak begitu terlihat, hanya sedikit membulat, namun bagi Zaki perubahan kecil apapun sudah membuat pria itu bersyukur.
Setiap hari ia masih mengajak berbicara calon anaknya itu, sambil mengelus-elus perut istrinya.
Namun keanehan yang dirasa Anisa begitu kuat, sebagai ibu hamil ia tidak merasakan mual muntah yang begitu kuat, sebagai ibu hamil ia juga tidak merasakan ngidam layaknya ibu-ibu hamil pada umumnya.
Dan hal ini kadang membuat Anisa resah, bahkan walau hanya kedutan di dalam rahimnya ia tidak merasakan sama sekali.
"Mas, kata orang tiga bulan itu udah ada tanda-tanda berkedut, tapi ini gak sama sekali," adu Anisa yang merasa ketakutan sendiri.
"Sayang, jangan pernah mikir macam-macam ya," sahut Zaki.
"Gak bisa Mas, dari kemarin aku terus menerus kepikiran ini," sahutnya kembali.
"Ya sudah kan, dua hari lagi ada jadwal pemeriksaan, kita tunggu hari itu saja ya," kata Zaki sambil memeluk tubuh Anisa, menenangkan hati istrinya sebisa mungkin.
"Kira-kira normal gak Mas?" tanya Anisa sekali lagi.
"Kamu ini ngomong apa Nis, setiap orang hamil itu bawaannya beda-beda, jadi aku rasa kamu gak usah berpikir yang macam-macam dulu ya," pesan Zaki pria itu lalu mendekap tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Nafas Anisa terdengar sedikit teratur dari sebelumnya, entah kenapa pelukan Zaki seolah menjadi obat tersendiri bagi Anisa.
☘️☘️☘️☘️
Malam harinya, saat Anisa baru selesai membuang air kecil entah kenapa tiba-tiba wanita itu merasakan mulas yang sangat luar biasa. Perut Anisa terasa seperti diremas dari dalam.
“Mas… sakit…” suaranya gemetar, wajahnya pucat.
Belum sempat Zaki bertanya lagi, darah mulai merembes. Tangannya langsung gemetar melihat noda merah itu.
"Nis, kamu kenapa Sayang?" tanya Zaki dengan khawatir.
"Gak tahu Mas, tiba-tiba perutku mulas begitu saja," ujar Anisa.
Tanpa pikir panjang, ia menggendong Anisa ke motor. Sepanjang perjalanan ia terus membaca doa, napasnya tidak beraturan.
Angin malam berhembus pelan, Zaki mulai melintasi jalanan yang dipadati pengendara lain, suara klakson terus bersahutan terdengar begitu kencang, mungkin di depan sana ada pengendara yang macet atau apa sehingga klakson itu terus menerus berbunyi.
"Mas, suruh orang itu diam kepalaku terasa makin pusing," keluh Anisa, sambil merasakan sakit yang ada di dalam perutnya.
Zaki sangat tersentuh, andai saja ia bisa menyuruh satu-satu orang agar tidak menyalakan klaksonnya, tapi pria itu sadar diri, siapa dia? Yang ada situasi malah tambah repot.
"Sayang, sabar aja dulu, Mas tahu apa yang saat ini kamu rasa," ujar Zaki, sambil terus melaju, membela jalanan yang dipadati oleh para pengemudi.
Beruntung Zaki bisa melewati jalanan padat itu sehingga ia terlepas dari kemacetan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sesampainya di rumah sakit, Zaki langsung menggendong tubuh istrinya sambil diantar satpam yang berteriak memanggil perawat, dan di situlah tubuh Anisa mulai ditangani dan dibawa ke ruang IGD.
Dokter menatap layar USG beberapa saat sebelum akhirnya mematikan alatnya. Wajahnya berubah lebih serius.
“Pak Zaki, Bu Anisa… saya jelaskan pelan-pelan ya.”
Zaki mengangguk, meski jantungnya sudah berdetak tak beraturan.
“Di dalam rahim Ibu memang terbentuk kantung kehamilan. Itu artinya pembuahan sempat terjadi. Tapi… di dalam kantung tersebut tidak terbentuk embrio.”
Anisa memejamkan mata.
Dokter melanjutkan dengan suara hati-hati.
“Kondisi ini disebut kehamilan kosong, atau dalam istilah medis anembryonic pregnancy. Biasanya terjadi karena kelainan kromosom sejak awal pembuahan, jadi embrio tidak berkembang sebagaimana mestinya. Ini bukan karena aktivitas Ibu, bukan karena makanan, bukan karena kelelahan.”
Zaki langsung menoleh pada istrinya, seolah memastikan Anisa mendengar kalimat terakhir itu.
“Tubuh Ibu sebenarnya akan mengenali bahwa tidak ada perkembangan janin, sehingga memicu kontraksi dan perdarahan seperti yang sedang terjadi sekarang. Itu sebabnya Ibu merasa mulas hebat.”
Air mata Anisa jatuh perlahan.
“Jadi… dari awal memang tidak ada bayinya, Dok?” suara Zaki serak.
Dokter terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Secara medis, embrio tidak pernah berkembang. Yang ada hanya kantung kehamilan tanpa isi.”
Kalimat itu terasa lebih tajam daripada pernyataan apa pun.
“Karena perdarahannya sudah mulai dan kontraksinya aktif, ini termasuk proses keguguran spontan. Kami sarankan tindakan untuk membersihkan rahim agar tidak ada sisa jaringan yang bisa menyebabkan infeksi atau perdarahan berlebihan.”
Ruangan itu kembali hening, Zaki terdiam tangannya masih menggenggam tangan Anisa. Bukan hanya karena kehilangan. Tapi karena kini semuanya sudah jelas, harapan itu memang tak pernah sempat tumbuh.
Selesai pemeriksaan itu dokter langsung memutuskan untuk melakukan penanganan yang cepat pada Anisa.
“Kami sarankan kuretase agar rahim bersih dan perdarahan tidak berlanjut,” jelas dokter.
Anisa langsung menggeleng lemah.
“Aku takut, Dok… jangan dikuret…”
Dokter akhirnya memilih memberikan obat untuk membantu pengeluaran jaringan, sambil memantau kondisinya. Beberapa jam terasa seperti bertahun-tahun. Anisa menangis dalam diam setiap kali mulas itu datang.
Zaki tak pernah melepas genggamannya.
Setelah jaringan keluar, dokter melakukan tindakan pembersihan ringan untuk memastikan tidak ada sisa yang tertinggal. Anisa harus dirawat selama tiga hari karena perdarahannya cukup banyak
Di malam pertama rawat inap, Anisa terbangun pelan, ia melirik ke sebelahnya, Zaki tidak ada di kursi, tapi ia mendengar suara lirih dari sudut ruangan.
Zaki sedang shalat. Suaranya pecah ketika membaca doa. Bahunya bergetar. Tangisnya tertahan, tapi jelas.
“Ya Allah… kalau ini ujian, kuatkan kami… jangan ambil sabarku…”
Air mata Anisa mengalir tanpa ia sadari, ia melihat lelaki yang selalu tampak kuat itu runtuh, bukan karena kehilangan anak yang belum sempat ada, tapi karena takut kehilangan istrinya juga.
Anisa masih belum percaya, jika di malam ini suaminya itu menangis dalam diamnya. "Ya Allah, kuatkan hati hamba dan suami hamba, dia lelaki yang baik," ucap Anisa sambil mendongakkan kepalanya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya, mentari menyelinap dari jendela rumah sakit, aroma antiseptik begitu menyeruak di ruang kamar Anisa. wanita itu menatap ke arah suaminya yang sedang duduk di sebelahnya, lalu berbisik pelan.
“Mas… maaf…”
Zaki hanya tersenyum tipis. Ia mengusap kepala istrinya lembut.
“Gak ada yang perlu dimaafkan.”
Tapi setelah itu, ia lebih banyak diam, bukan karena marah ataupun kecewa, tapi hanya tidak tahu bagaimana cara menyimpan kesedihannya sendiri yang baru saja kehilangan calon anaknya.
The End ....
Untuk pertama kalinya aku ucapkan beribu kali maaf untuk kakak-kakak semua ya, karena buku ini harus selesai sampai sini saja.
Ups? Tapi tenang dulu ya, ada kelanjutannya kok besok. Hanya saja di buku yang berbeda dan judul yang berbeda.
Dan di bawah ini adalah kelanjutan kisah Anisa, semoga besok udah bisa liris ya Kak ... Aku harap dukungan dari kakak-kakak bisa membuat author lebih semangat lagi.
Dan sebelumnya terima kasih banyak karena sudah ngikutin Anisa sejauh ini. Dan salam sayang dari aku ♥️♥️♥️♥️♥️♥️