SEKUEL DARI CINTA LAMA BELUM KELAR
Dalam kisah ini didominasi perjalanan cinta antara Sasa dan Sakti, restu orang tua dari Sakti yang belum juga turun, meski pernikahan mereka sudah berjalan kurang lebih 5 tahun, bahkan kedua anak Iswa sudah sekolah, namun hubungan mertua dan menantu ini tak kunjung membaik.
Kedekatan Sakti dan kedua anak mendiang adiknya, Kaisar, Queena dan Athar membuat Sasa overthinking dan menuduh Sakti ada fair dengan Iswa. Setiap hari mereka selalu bertengkar, dan tuduhan selingkuh membuat Sakti capek.
Keduanya memutuskan untuk konsultasi pernikahan pada seorang psikolog yakni teman SMA Sakti, Mutiara,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESONA MANDOR
Rumah kontrakan Sasa tak jauh dari rumah nenek Sasa, untungnya pemilik kontrakan kenal baik dengan nenek saat beliau masih hidup, bahkan beliau masih ingat dengan Sasa, anak baik yang selalu patuh dan ikut membantu nenek jualan. Sama seperti tetangga sebelumnya, pemilik kontrakan gak respect dengan mama Sasa, dan mama Sasa tak peduli juga.
Dibantu oleh Pak RT, Sasa mendapatkan kontraktor perumahan untuk renov rumah sang nenek. Sasa sudah mencari gambar di internet yang disesuaikan dengan tanah milik sang nenek. Tak butuh waktu lama proses renovasi pun berjalan. Selama proses renov, Sasa tak mau berdiam diri di rumah. Ia mulai menjual kosmetik dengan memanfaatkan akun media sosialnya.
Mantan istri Sakti, tentu tak perlu menyewa model untuk promosi jualan skincarenya, karena terbukti wajah dan kulit Sasa yang terawat bisa mendukung pekerjaannya saat ini. Ia juga masih berkomunikasi dengan dokter Fandy, dokter itu sangat perhatian dengan Sasa, hampir setiap hari cek kondisi Sasa dan mengecek kegiatan yang dilakukan Sasa.
Soal jualan, mama Sasa tak mau bantu sama sekali. Beliau hanya bertugas memasak dan membersihkan rumah saja, tak berniat ikut cari uang. Setiap hari minta dijatah Sasa 200ribu untuk masak dan pegangan uang, dan Sasa tak keberatan, toh dia hanya berkutat soal jualan saja.
Mantan tim marketing online sebuah perusahaan ternama, membuat dia tak perlu susah untuk menerapkan strategi pemasaran, jualannya langsung laku, meski bertahap. Setiap hari ada saja kang paket yang pick up jualannya.
Tak lupa setiap hari juga Sasa mengecek progres pembangunan rumahnya. Enaknya memakai jasa kontraktor itu Sasa tak perlu repot mengurus bahan material, meski biaya yang dikeluarkan lumayan. Saat Sasa cek rumah, mama tentu saja ikut, keduanya jalan kaki bersama.
Sampai pembangunan sudah mencapai sepertiga bagian hubungan Sasa dan penyedia jasa baik, ya memang Sasa tipe perempuan yang tak pernah neko-neko, profesional saja. Berbeda dengan sang mama, yang dilihat Sasa sangat friendly dengan mandor pembangunan. Sasa tak berniat curiga atas keramahan sang mama pada mandor tersebut, tapi lama-lama saat Sasa berniat nimbrung di warung tetangga sembari beli sembako, dan sang mama masih berkutat di bangunan rumah. Sasa menemukan fakta baru, bahwa beberapa orang sering bertemu mama Sasa pagi begitu makan bersama sang mandor.
Tentu saja Sasa tak percaya begitu saja, mengingat mama Sasa hanya ke pasar. "Ya sering makannya itu di warung pasar, Mbak Sasa! Sumpah deh, saya pernah tahu sendiri."
"Iya kah, Bu?" tanya Sasa masih tak percaya.
"Ih, beneran. Ya awalnya kita anggap bertemu biasa gak sengaja begitu, tapi setiap ke warung kok terlihat duduk bersama sambil ngobrol begitu. Tolong, Mbak Sasa diingatkan mama Mbak Sasa, khawatir istri Pak Mandor melabrak," pesan tetangga lain yang memang pernah melihat kelakuan mama Sasa.
Rasanya Sasa bingung harus bilang apa pada sang mama, sejak dinyatakan punya gangguan mental, Sasa kadang semakin sulit mengungkapkan perasaannya, alhasil apa yang disampaikan tetangga tadi dianggap angin lalu.
"Kamu malam ini live?" tanya mama Sasa sembari memberi camilan pada Sasa berupa pisang goreng.
"Live, Ma. Jam 8 malam biasanya ramai trafiknya," ujar Sasa sembari cek stok dan menata barang yang akan dibuat live nanti. Mama Sasa hanya mengangguk saja, lalu menutup kamar Sasa.
Sasa pikir mamanya main ponsel di kamar seperti biasa, Sasa juga tak keluar kamar hingga hampir 2 jam 30 menit live, dengan banyak transaksi, Sasa pun akhirnya menyudahi kegiatannya itu. Ia mengambil minum di dapur, dan berpikir mamanya sudah tidur karena lampu ruang tamu dan area kamar ibu sudah gelap. Hubungan mereka tak dekat seperti pada umumnya, say hello saja saat makan dan Sasa belum bisa curhat pada sang mama.
Sasa pun membereskan barang dagangannya, dan besok pagi akan ia packing, ia mau tidur karena merasa badannya sangat lelah.
Sedangkan mama Sasa ternyata keluar rumah, setelah mengantar pisang goreng dari kamar Sasa, beliau sudah ditunggu mandor di depan kuburan, mereka kemudian naik sepeda motor dan pergi mencari penginapan agak jauh dari lingkungan rumah Sasa.
"Kamu gak dimarahi istri kamu?" tanya mama Sasa saat keduanya sudah berada di kamar sebuah penginapan yang sangat longgar, bahkan tidak ditanya KTP atau hubungan mereka. Memang agak jauh dan hampir ke luar kecamatan rumah Sasa.
"Dia gak mungkin mencari, ada dua anak balita yang merepotkan hari-harinya," ujar sang mandor sembari melucuti satu per satu pakaiannya. Mama Sasa tersenyum manis. Mama Saja termasuk tipe perempuan yang merawat diri, banyak orang bilang dia dan Sasa seperti adik kakak, karena beliau selama menjadi TKW juga rajin perawatan, wajah dan kulitnya tak kalah mulus dengan Sasa. "Kemarilah!" ujar sang mandor yang memang tampan dan gagah.
Keduanya bercumbu dengan hasrat yang berlebih, mama Sasa begitu lihai memanjakan sang mandor, mungkin karena sudah berpengalaman, keduanya bisa mengontrol suara.
"Kamu luar biasa, legit sekali!" ujar sang mandor memuji kepiawaian mama Sasa.
"Aku sudah lama, kangen banget!" ucap mama Sasa yang memang sebelum putus kontrak kerja tak mau berhubungan dengan orang sana, khawatir saat tes kesehatan bermasalah.
Keduanya melakukan adegan panas entah sampai berapa kali, yang jelas mama Sasa tak pulang. Sasa baru sadar sang mama tidak ada si rumah saat akan mengajak beliau sarapan, ingin membuktikan ucapan tetangga kemarin.
"Ma!" panggil Sasa sembari mengetuk pintu, karena tak mendapat sahutan, Sasa pun membuka pintu kamar beliau, dan kamar masih rapi. "Kok gak ada?" tanya Sasa heran.
Sasa pun menghubungi mama dan tak direspon sama sekali, Sasa mengecek sepeda motor matic yang ia beli, ternyata masih ada. Semakin bingung saja, sang mama pergi ke mana.
Sasa pun bingung, dan kembali menghubungi namun tak kunjung dapat balasan. Akhirnya ia menuju ke pembangunan rumah, masih ada tukang dan kuli saja yang datang.
"Pak Nurman gak masuk, Pak?" tanya Sasa, ini sudah hampir jam 9 pagi, tapi sang mandor yang biasanya on time tak ada di area pembangunan.
"Gak masuk, Mbak. Keluar kota, ke rumah mertuanya!" ucap salah satu tukang yang memang sempat dihubungi Pak Mandor.
Sasa pun mengiyakan saja, dan tak punya bayangan aneh pada Pak Mandor meski posisi mama sampai sekarang belum diketahui di mana.
Sasa semakin khawatir karena menjelang maghrib, sang mama belum ada kabar. Sasa takut dan cemas kalau sang mama meninggalkannya lagi.
Maaf, Sa. Mama pergi gak pamit, mama sedang ke rumah teman TKW mama, di luar kecamatan, mama juga menginap di sini. Lusa mungkin keluar.
eh kok g enak y manggil nya