NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Whidie Arista

Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.

Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?

Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!

“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Siapa wanita itu?

Ziya duduk termenung di bibir ranjang ditemani suara pengering rambut yang berdengung di atas kepalanya.

“Tunggu-tunggu, ko bisa gue ngomong gitu sama si Asep, pake nuding dia selingkuh pula. Lu emang udah gak waras Ziya, lu siapanya si Asep coba, Astaga!” rutuknya pada diri sendiri.

“Pake bilang apa tadi, menye-menye, dih. Gue harap dia gak sampai salah faham, tadi gue ngomong gitu cuma karena kesel aja sama si Siti, belum lagi si Asep ngomongnya seolah gue yang memulai pertengkaran duluan, kan jadi kesel gue nya,” Ziya bermonolog.

“Tapi kayanya gue tetep harus minta maaf sama si Asep, gue gak mau dia salah faham dan nyangka gue cemburu lagi sama dia dan si Siti,” Ziya mematikan pengering rambutnya, setelah rapi dia pun keluar.

Namun bertepatan dengan itu Asep muncul dari arah dapur, dia berjalan sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Untuk beberapa saat Ziya dibuat terpana oleh postur tubuhnya yang ideal, dia tidak terlalu tinggi hanya sekitar 170 cm, namun tubuhnya nampak kekar walau terbalut kaus sekali pun, memang semenjak Ziya tinggal disini Asep selalu berusaha untuk berpakaian sopan karena takut sang Istri merasa tidak nyaman karenanya, dia bahkan selalu membawa baju ganti saat mandi, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Setelah beberapa saat akhirnya Ziya pun tersadar, ‘Ziya, lu apa-apan sih, inget niat awal Lu nikah sama Asep tuh karena apa,’ batinnya mengingatkan.

“Ehem, Sep...,” ucap Ziya sedikit gugup.

Asep yang semula hendak masuk ke kamarnya menghentikan langkahnya, “ada apa Neng?”

“Itu, anu, gu-gue mau minta maaf soal tadi,” ucap Ziya sambil menggigit bibir bawahnya, “gue udah nuduh elu selingkuh, padahal kita gak ada hubungan apa-apa, sorry.” Tutur Ziya.

“Iya gak papa atuh Neng,” sahut Asep masih selalu setia dengan senyumnya. Dan anehnya kini Ziya merasa Asep lumayan tampan juga.

“Serius nih gak papa? Lu beneran gak marah sama gue?”

“Iya atuh Neng. Saya juga minta maaf karena udah bikin Neng tersinggung tadi.”

“Its ok, kalau gitu kita Impas ya.”

“Iya kita Impas. Oh ya, besok saya mau pergi ke pasar Desa, Neng mau ikut?” ajaknya.

“Emh boleh, gue mau ngambil duit ada Mesin ATM gak disana?”

“Ada tempat ngambil uang sih tapi bukan ATM.”

“Ya udah gak papa yang penting bisa dipake ngambil duit, jam berapa berangkatnya?"

“Jam delapan.”

“Oke kalau gitu.”

***

Keesokan harinya, Ziya dan Asep sudah duduk di mobil pickup bersiap pergi menuju pasar Desa yang Asep maksud.

“Ini kita lewat jembatan yang kemarin gak?”

“Enggak, Neng tenang aja.”

Asep menyalakan mobil dan mulai melajukannya, seperti biasa jalanan yang di lewati seakan membuat mobil yang mereka tumpangi bergoyang sepanjang jalan, belum lagi musik dangdut koplo yang dinyalakan Asep semakin menambah suasana.

'Ayo goyang dumang, biar hati senang, pikiran pun tenang, galau jadi hilang, semua masalah jadi hilang...'

Ziya melihat sekeliling, seperti biasa hanya pepohonan hijau dan lebatnya hutan yang mampu ia lihat, serta sawah dan hamparan ladang sayuran dengan jenis yang berbeda-beda.

“Masih jauh kah Sep?” tanya Ziya.

“Lumayan lah Neng, lima belas menitan.”

“Katanya satu desa, ko jauh banget?”

“Iya emang kampung kita yang paling jauh, tapi suasananya bikin betah,” ujar Asep masih disertai senyumannya.

“Lu kalau ngomong gak usah pake senyum kenapa Sep, biasa aja,” komentar Ziya.

“Emangnya kenapa Neng? Neng gak suka liat senyum saya?”

“Bukannya gak suka... Ah pokoknya kalau ngomong biasa aja, bisa kan?”

“Ya ini teh udah biasa atuh Neng, saya emang begini orangnya. Bukannya bagus kan senyum itu Ibadah,” dia malah sengaja tersenyum manis kearah Ziya.

Ziya berdecak kesal sambil membuang muka kearah lain. Tak berselang lama mobil pun memasuki gerbang Desa, rumah-rumah disini tidak terlalu berjarak seperti di kampungnya Asep, disini juga cukup ramai dan banyak yang berjualan di depan rumahnya, setelah beberapa saat berkendara Asep pun menghentikan laju mobilnya di lapangan terbuka, sepertinya ini memang sengaja di kosongkan untuk tempat parkir pengunjung.

Dan ternyata benar-benar ada pasar kecil disana, kecil namun lengkap seperti halnya di pasar pada umumnya, dari mulai makanan dan pakaian semuanya lengkap disana dan pedagangnya pun harus warga asli Desa ini.

Saat kami berjalan masuk seseorang tiba-tiba menyapa, “Eh Jang Asep, tumben atuh datang kesini ada apa?”

“Saya cuma mau belanja atuh Kang, kebutuhan di rumah sudah habis.”

“Itu siapa atuh yang ikut di belakang?”

Asep hanya membalas dengan senyuman dan memilih berlalu diikuti Ziya dibelakangnya.

“Eh Jang Asep, jawab atuh jangan bikin saya penasaran,” teriaknya, namun Asep tak menggubrisnya sama sekali

“Neng mau ngambil uang kan, sok atuh ini tempatnya,” ucap Asep sambil berhenti di salah satu toko tanpa barang jualan, hanya ada meja dan kursi disana.

Setelah selesai mengambil uang, Asep dan Ziya kembali berjalan, namun anehnya dia tak membeli apa pun padahal banyak pedagang sayuran disana dan sepertinya hampir semua mengenalnya.

“Sep kita gak beli Sayuran?”

“Buat apa atuh Neng, kalau mau tinggal petik aja di kebun sayang banget uangnya.”

“Dih, kaya yang semua kebun punya kamu aja,” ucap Ziya, sedang Asep hanya tersenyum membalas ucapan sang Istri.

Asep masuk kedalam salah satu toko paling besar yang ada di ujung, toko dengan nama Toserba Desa Mekar Wangi.

“Neng kalau mau apa-apa tinggal ambil aja, nanti sayang yang bayar,” ucap Asep sambil membawa keranjang.

“Yakin nih, kalau gue ngambil yang mahal-mahal gimana?”

Asep terkekeh pelan, “ambil aja atuh Neng, lagian yang dijual disini cuma kebutuhan rumah saja, gada ada Tas merek Dior atau Gucci.”

“Kalau gitu gue ambil semuanya,” Ziya menyeringai.

“Ambil aja atuh Neng, tapi setelah itu kita gak akan bisa pulang.”

“Lah kenapa?”

“Kita akan langsung pindah rumah ke kantor polisi,” canda Asep.

“Ck, sebenarnya lu nyuruh belanja atau enggak sih?”

“Maksudnya ambil secukupnya aja Neng, ambil yang Neng butuhkan, semisal shampo, sabun, atau yang Neng tadi beli di warungnya Teh Siti.”

“Hah, lu liat isinya?” Ziya sedikit terkejut karena ternyata Asep tahu kalau yang Ziya beli adalah pembalut.

“Hanya sekilas, tapi saya tahu apa isinya. Lagian gak usah malu atuh, itu hal yang normal bagi wanita.”

Ziya mengedikan bahunya, dan mulai memilih barang belanjaannya, pun dengan Asep pria itu juga melakukan hal yang sama.

Tanpa Ziya sadari dia sudah terpisah dari Asep, tempat ini juga cukup besar dengan deretan rak-rak tipis memanjang berisi barang jualan seperti mini market lah kalau di kota.

Ziya menyusuri tiap deretan rak dengan keranjang separuh terisi, saat dia ingin mengambil sabun cuci pakaian tiba-tiba dia mendengar percakapan seseorang.

“Abi ngadangu Akang atos Nikah, leres eta teh Kang?” ( Saya dengar Akang sudah menikah, bener itu teh Kang?) suaranya terdengar lembut dan sopan dan itu suara wanita, namun hanya kata Nikah yang bisa Ziya mengerti dari percakapan mereka.

“Muhun Neng. Neng oge saurna di jodoken ka murangkalihna Pak Kades, leres eta teh?” (Iya Neng. Katanya Neng juga di jodohkan sama Anaknya Pak Kades, apa benar?)

Ziya mengenali suara itu, itu suara Asep, tapi dengan siapa dia bicara dan apa yang mereka bicarakan, sialnya Ziya tidak mengerti bahasa mereka?

1
Arin
Bagus itu Ziya makin cepat makin bagus putusin tuh si Regan....
Biar si benalu cari duit sendiri
juwita
Ziya org tua g ngerstui sm pacar km. mgkn ada sebabnya.
Susi Akbarini
lanjuttttt...
❤❤😍😍💪💪
Susi Akbarini
ziya jga kurang oeka gk ada yg menjaga seperti Asep..
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
Susi Akbarini
lanjutttttt❤❤😍😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
🤣🤣😄😄😄😍❤❤💪💪💪
Rubyred
lanjut makin seru ceritanya..🤭🤭
Rubyred
menarik
Susi Akbarini
asep lagi ganti baju..
ziya auto njerittt..

aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
Susi Akbarini
waaaahhhh..
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
Whidie Arista 🦋: Nggak Kak, Bapaknya Asep itu baik ko yang serem cuma penampilannya aja hehe
total 1 replies
Arin
Jawab Ziya...... iya gitu. Jangan sampai bapak mertua berusaha misahin. Karena gak ada cinta buat Asep😁😁😁
Susi Akbarini
waaaddduuuuhhhh..

jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..

🤣🤣😄😍❤❤❤❤
Whidie Arista 🦋: /Facepalm/
total 1 replies
Rubyred
haha.....matilah kau ziya bisa ketahuan tu bohongnya....🤭🤭🤭
Susi Akbarini
lanjutttt...
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
Rubyred
kasian ziyanya cemburu tu asep🤭🤭🤭
Susi Akbarini: betul3..

🤣😄😄😍😍❤❤
total 1 replies
Ayu
menarik dan tidak membosankan bacanya /Smile/
Susi Akbarini
lanjutttt❤❤❤💪😍😍❤❤
Susi Akbarini
waahhhh..

aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
Susi Akbarini
lanjuttttt❤❤💪😍😄
Susi Akbarini
waduhhhh...
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..


❤💪💪💪😍😍😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!