NovelToon NovelToon
Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Menikahi Tukang Parkir Misterius Demi Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:95.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.

Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.

Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.

Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Tenang Sebelum Serangan Balik

Para direksi kembali saling pandang.

“Benar. Sudah berulang kali saya baca, tapi tak menemukan celah.”

“Sepertinya posisi kita lemah.”

“Apa masih ada jalan keluar?”

Atyasa kembali bersandar di kursinya, menatap lurus ke arah Zelia.

“Sebagai CEO, kau harus mencari cara agar kita keluar dari masalah ini. Jika tidak… kau akan membuat ribuan karyawan kehilangan pekerjaan.”

Kalimat itu seperti tekanan yang sengaja dilemparkan ke tengah ruangan.

Zelia akhirnya tersenyum. “Kalian yakin tak ada celah?”

Semua yang hadir saling melirik, ragu.

“Bagaimana kalau saya menemukan celah itu?” lanjutnya tenang.

Atyasa tersenyum meremehkan. “Benarkah? Katakan. Celah itu.”

Zelia menatap ayahnya beberapa detik… lalu tersenyum tipis. “Kita lihat saja di pengadilan,” katanya ringan. “Saya akan membuat celah itu… dan menggunakannya untuk menyerang balik.”

Ruangan langsung dipenuhi bisik-bisik.

“Benarkah CEO melihat celah di kontrak itu?”

“Dia begitu percaya diri…”

“Harusnya memang sudah ada sesuatu.”

Atyasa menyipitkan mata, menatap Zelia yang tampak begitu yakin, lalu beralih ke Are yang tetap berdiri tegak dan tenang seolah tak ada ketegangan sedikit pun.

"Apa mereka benar-benar sudah menemukan celah itu?" batinnya.

Entah mengapa, insting waspadanya tiba-tiba meningkat.

Sebelum semua mulai beranjak, sekretaris Zelia masuk tergesa membawa tablet.

“Bu… saham kita mulai bergerak turun sejak berita gugatan bocor.”

Ruangan langsung menegang. Beberapa direksi refleks saling pandang, wajah mereka berubah tegang.

Zelia menerima tablet itu, melihat grafiknya sekilas… lalu mengembalikannya dengan tenang seolah itu hanya laporan biasa.

“Biarkan.”

Ia berdiri, merapikan blazernya dengan gerakan rapi dan terkontrol.

“Pasar selalu bereaksi pada ketakutan. Tugas kita memastikan ketakutan itu salah.”

Suasana hening. Tidak ada yang langsung bergerak.

Tatapan para direksi kini bukan lagi penuh kekhawatiran… tapi rasa ingin tahu. Seolah mereka sedang mencoba membaca sesuatu yang tidak mereka lihat.

Atyasa menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi, matanya menyipit tipis. Bukan marah… tapi mengamati.

Kepercayaan diri Zelia yang terlalu tenang justru membuat insting waspadanya semakin kuat.

"Kenapa dia terlihat seperti orang yang memegang kartu terakhir?" pikirnya.

Beberapa direksi mulai berbisik pelan.

“Dia tidak terlihat panik sama sekali…”

“Seperti sudah tahu langkah berikutnya…”

Di sisi lain, Are berdiri diam dengan ekspresi datar seperti biasa. Namun ada kepuasan samar di matanya yang hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar memerhatikan.

Ia melihat Zelia bukan sebagai CEO yang sedang berpura-pura tenang… tapi sebagai pemimpin yang benar-benar mengendalikan situasi.

Dan sejak rapat dimulai, akhirnya sudut bibirnya terangkat nyaris tak terlihat.

Zelia melangkah keluar ruang rapat diikuti Are tanpa menoleh lagi.

Langkah mereka mantap. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.

Namun jauh di dalam pikiran Zelia, ia tahu satu hal pasti, "Ini bukan sekadar gugatan. Ini perang. Dan perang tidak pernah berakhir tanpa korban."

***

Usai rapat, Zelia kembali ke ruangannya. Sunyi langsung menyergap begitu Are menutup pintu.

Zelia berdiri beberapa detik di tengah ruangan, lalu menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Bahunya yang terasa berat sejak pagi… kini terasa ringan.

Ia berjalan pelan ke arah meja, lalu bersandar di tepi meja dengan senyum kecil yang sulit disembunyikan.

“Aku berhasil,” gumamnya pelan.

Bukan hanya berhasil bertahan, tapi memimpin. Tanpa panik. Tanpa goyah.

Perasaan puas itu hangat… dan menenangkan. Namun ketika ia mengangkat pandangan dan melihat Are berdiri tak jauh darinya, ekspresi serius itu langsung mencair. Senyumnya melebar.

“Ini semua karena kamu,” katanya tiba-tiba.

Are mengangkat alis sedikit. “Karena aku?”

“Iya!” Zelia melangkah mendekat dengan mata berbinar. “Kalau kamu gak nemuin celah itu, aku pasti sudah dihancurkan di ruang rapat tadi.”

Dan sebelum Are sempat merespons—

"Are! Aku makin suka padamu!"

Zelia melompat. Tangannya melingkar di leher Are. Tubuhnya nyaris menabrak dengan antusiasme yang sama sekali tak ditahan.

Are refleks menangkap tubuh Zelia, tangannya langsung memeluk pinggang wanita itu agar tidak jatuh.

Jantungnya sempat tersentak. Dekat. Terlalu dekat. Aroma lembut itu lagi.

Dalam hati, ia menghela napas panjang. "Awalnya cuma berani pegang lengan… Lalu peluk pinggang… Sekarang leher…" Rahangnya sedikit mengeras. "Besok-besok…"

Pikirannya berhenti sendiri sebelum sempat menyelesaikan kalimat itu. Ia bahkan tak berani melanjutkan.

Zelia sama sekali tak menyadari badai kecil yang sedang ia ciptakan. Ia justru tersenyum puas dengan dagu hampir menyentuh bahu Are.

“Kamu hebat,” katanya ringan.

Are menatap ke samping sebentar, mencoba menjaga ekspresi tetap datar meski napasnya sedikit berubah.

“Kamu bisa turun sekarang?” katanya akhirnya, suaranya rendah.

Zelia terkikik pelan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dan berdiri kembali. Namun senyum cerianya masih tersisa.

“Aku benar-benar lega hari ini,” katanya.

Are hanya mengangguk kecil, tapi tatapannya lembut… nyaris tak terlihat.

***

Di ruangan lain, suasana jauh berbeda.

Atyasa berdiri di dekat jendela dengan ponsel di telinga, wajahnya serius. “Mereka tidak panik,” katanya datar. “Zelia terlihat sangat yakin.”

Di seberang, Fero berdecak pelan. “Mustahil mereka menemukan celah dalam kontrak itu. Kita yang menyusunnya. Tim hukum terbaik yang merancangnya.” Nada suaranya penuh keyakinan.

Atyasa menyipitkan mata sedikit. “Tetap hati-hati. Cara dia bicara tadi… bukan gertakan kosong.” Ia berhenti sejenak. “Dan pria itu.”

Fero langsung tahu siapa yang dimaksud.

“Dia lagi,” gumamnya kesal. “Apa Om menemukan informasi lain tentang dia?”

“Belum,” jawab Atyasa pelan. “Aku juga tidak menemukan apa pun.”

Fero berjalan mondar-mandir, ekspresinya mulai tidak sabar. “Aku bahkan tidak bisa menemukan riwayat apa pun sebelum dia pindah ke kota ini,” katanya. “Seolah dia muncul begitu saja.”

Keheningan sejenak mengisi percakapan.

Atyasa menatap keluar jendela, rahangnya sedikit menegang. “Orang seperti itu… biasanya bukan orang biasa.”

Fero berhenti melangkah. Rasa tidak nyaman kecil muncul di dadanya.

***

Lorong pengadilan terasa tegang, penuh bisik dan sorot mata penasaran.

Zelia berjalan di depan dengan langkah mantap, wajahnya datar tanpa emosi. Blazer gelapnya rapi sempurna, auranya dingin dan terkendali.

Tim legal perusahaan mengikutinya dengan wajah serius.

Dan satu langkah di belakangnya… Are. Pria itu berjalan satu langkah di belakangnya, seperti biasa. Diam, tapi kehadirannya terasa seperti dinding tak terlihat.

Beberapa orang yang duduk di kursi tunggu menoleh tanpa sadar.

“Itu CEO baru…”

“Kasusnya besar…”

“Pria di belakangnya siapa…?”

"Auranya mencolok."

Zelia tidak menoleh sedikit pun.

Beberapa meter di belakang Zelia, Are dan tim legal…

Atyasa.

Ia berjalan terpisah. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

Wajahnya tenang, bahkan tampak seperti figur senior yang hadir memberi dukungan moral. Namun matanya bergerak pelan, tajam mengamati situasi.

Secara posisi, ia adalah bagian dari perusahaan yang sedang digugat. Maka ia duduk di kubu Zelia.

Secara kenyataan?

Hanya dia yang tahu, di mana ia berdiri.

Tatapannya menyapu lorong, bukan pada Zelia. Tapi mencari seseorang.

 

...✨“Pasar bereaksi pada ketakutan. Pemimpin memastikan ketakutan itu salah.”...

...“Perang tidak dimenangkan oleh yang paling keras… tapi oleh yang paling siap.”...

...“Ketenangan adalah senjata paling menakutkan.”...

...“Saat semua orang panik, seseorang yang tetap tenang terlihat seperti memegang takdir.”...

...“Mereka mengira aku terpojok. Padahal aku hanya menunggu.”...

...“Beberapa perang dimenangkan bukan dengan menyerang… tapi dengan menunggu waktu yang tepat.”...

...“Kepercayaan diri yang terlalu tenang selalu membuat orang lain gelisah.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Zelia ganti yang memeluk Are. Are diam, tapi bahunya menegang.

Zelia bicara jujur, ada rasa takut - tahu Are bukan orang biasa. Zelia tidak mau Are jadi menyesal mendapatkannya.

Are berbalik menghadap Zelia. Are tidak menyesal telah memilih Zelia. Are memeluk Zelia.

Are sudah bilang pada Zelia untuk berhenti memikirkan siapa yang pantas atau tidak.

Zelia masih bicara - merasa tidak yakin cukup pantas untuk berdiri di samping Are.
anonim
Zelia ketahuan belum tidur - dikecup Are lehernya, nambah lagi kecupannya.

Nah lo diajak latihan malam pertama wkwkwk.

Dah langsung praktek saja Are - ini kan yang Zelia mau - dulu...

Zelia jantungnya berdebar kuat pastinya.

Are tahu yang Zelia mau.

Zelia malah diam, ragu - merasa tidak pantas berdiri di sisi Are yang Zelia tahu ia bukan orang biasa.

Are jadi kecewa dengan Zelia yang cuma diam saja.

Tembok yang di bangun Are sudah runtuh, ia merasa Zelia tidak serius dengannya yang seorang tukang parkir.

Are kecewa dengan Zelia. Iya melepas pelukannya. Tidur membelakangi Zelia.
Yunita Sophi
Zel klo menjauh berarti si kutu kupret menang... jgn biarkan dia bahagia krn merasa bisa mengalah kan kamu Zel... maaf kan Are, manusia itu kan ada salah nya... Are terlambat tp Are sdh berusaha
Wardi's
tidak usah bingung harus apa., hanya cukup bersama.,
Dek Sri
lanjut
abimasta
begitulah ibu hamil susah dipahami
Dew666
💜💜💜
phity
zelia maafkan are jgn egois coba dengar alasan are knp dia dtngnya terlambat, are sdh berusaha cepat tp keadaan yg buat dia terlambat bukan keinginannya. klo kmu ad di posisi are bgmna???
Kyky ANi
semoga saja
Anitha Ramto
Maafkanlah Are Zelia...ia sudah mengaku salah
Anitha Ramto
Bayinya biar pengen deket terus sama Papa Are😄
Kyky ANi
sabar ya Are,, Zelia belum siap MP,,
Kyky ANi
semoga rencana Are,, tidak diketahui oleh Atyasa,,,
Kyky ANi
ayo,, Are,, selamatkan Zelia,,
Ina Yulfiana
penjagaan buat Zelia lebih d perketat dan ksih liht jgn pernah main² cm kesayngn Are...

next semngt sukses selalu
Ina Yulfiana
keras hati sekali kau Zelia penyesalan dong terakhir loh jgn sampai nyesel nantinya ...Are mungkin slh krn tk mempublis hbungnya langsung tp kau jgn egois Zelia jgn Bikin muak deh...
love_me🧡
bundir itu namanya kalian 😂
Yunita Sophi
maka nya Re datang nya klo malam aja biar sll dekat 🤭😂
asih
malam pelukan pagi berantem lagi😄😄😄
abimasta
are tetap jaga zelya dari viona
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!