Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tinta Merah, Tanda Cinta
Gue berdiri di depan cermin toko buku besar di pusat Jakarta, menatap pantulan diri gue sendiri. Gaun yang gue pakai nggak semewah waktu malam penganugerahan Valentine dulu, tapi rasa gemetarnya jauh lebih hebat. Di luar sana, antrean orang sudah memanjang, mereka memegang buku dengan sampul berwarna pastel yang judulnya bikin gue pengen nangis setiap kali melihatnya: Typo di Antara Kita.
Novel pertama gue. Hasil darah, keringat, dan ribuan coretan tinta merah dari seorang "monster" yang sekarang entah ada di mana di antara kerumunan itu.
"Siap, Na?" Maya muncul dari balik tirai, wajahnya sumringah. "Gila, ya. Dari cuma curhat di NovelToon, sekarang buku lo jadi bestseller bahkan sebelum acara peluncuran resmi dimulai. Pak Hermawan pasti nyesel banget kehilangan lo dan Genta sekaligus."
Gue cuma bisa tersenyum tipis. "Gue cuma beruntung, May."
"Beruntung gundulmu! Lo itu punya editor paling sadis sedunia yang nempa lo sampai jadi kayak gini," Maya menyenggol bahu gue. "Ngomong-ngomong, dia datang nggak?"
Gue mengedikkan bahu, pura-pura cuek padahal sejak tadi mata gue sibuk nyari sosok tinggi dengan berkacamata itu. Setelah Genta mengundurkan diri, dia benar-benar menghilang sebentar buat ngurus proyek barunya di luar kota. Kami memang sering teleponan, tapi dia nggak pernah bilang mau datang sore ini.
Gue melangkah keluar ke panggung kecil yang sudah disiapkan. Riuh tepuk tangan menyambut gue. Rasanya seperti mimpi. Gue duduk di sana, menandatangani satu per satu buku pembaca, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka tentang siapa sosok "Kastara" yang sebenarnya.
Sampai akhirnya, seorang pria dengan jaket bomber gelap dan topi yang ditarik rendah berdiri di depan meja gue. Dia nggak menyodorkan buku buat ditandatangani, tapi dia malah naruh segelas Caramel Macchiato hangat di atas meja.
"Kopinya, Aruna. Kurang manis, soalnya hidup kamu sudah terlalu manis hari ini," ucapnya dengan suara berat yang sangat gue hafal.
..."Kopinya, Aruna. Kurang manis, soalnya hidup kamu sudah terlalu manis hari ini,"...
Gue mendongak. Genta melepaskan topinya, menatap gue dengan mata yang, untuk pertama kalinya, nggak lagi mencari kesalahan, tapi penuh dengan rasa bangga yang luar biasa.
"Bapak... eh, Genta? Kamu datang?" suara gue hampir hilang.
"Saya nggak mungkin melewatkan bab paling penting dalam hidup penulis favorit saya," katanya sambil mengambil satu buku dari tumpukan, lalu membukanya tepat di halaman persembahan.
Gue menahan napas. Gue tahu apa yang tertulis di sana. Tulisan yang gue buat sambil nangis semalaman saat drafnya dikirim ke percetakan.
Genta membacanya pelan, seolah sedang memaknai setiap kata yang gue susun.
"Untuk Editor terkejam, yang tinta merahnya berubah jadi cinta. Terima kasih sudah mengoreksi hidupku, sampai aku tahu kalau typo adalah cara semesta bilang kita nggak perlu sempurna untuk dicintai."
..."Untuk Editor terkejam, yang tinta merahnya berubah jadi cinta. Terima kasih sudah mengoreksi hidupku, sampai aku tahu kalau typo adalah cara semesta bilang kita nggak perlu sempurna untuk dicintai."...
Genta terdiam cukup lama. Dia membetulkan letak kacamatanya, lalu berdeham, gestur jaimnya masih ada, tapi kali ini gue bisa melihat matanya sedikit berkaca-kaca di balik lensa itu.
"Diksi kamu... sudah jauh lebih baik," gumamnya, suaranya agak serak. "Tapi kalimat ini... secara teknis ini terlalu emosional. Tapi saya kasih nilai sempurna."
Gue tertawa kecil, air mata gue jatuh tanpa sadar. "Cuma nilai sempurna? Nggak ada revisi?"
Genta menutup buku itu, lalu menggenggam tangan gue di atas meja, nggak peduli sama tatapan ratusan orang di toko buku itu.
"Nggak ada revisi, Aruna. Karena untuk bagian ini, kamu sudah nulis akhir yang paling tepat."
Sore itu, di tengah aroma buku baru dan kopi, gue sadar kalau kesuksesan bukan cuma soal berapa banyak buku yang terjual. Tapi soal gimana satu orang yang paling berarti buat kamu, akhirnya bisa baca isi hati kamu tanpa perlu ada lagi spasi yang memisahkan.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻