"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Pagi itu, suasana kelas 12-IPA 1 kembali gempar, namun dengan alasan yang berbeda dari hari sebelumnya. Jika kemarin mereka terpesona oleh Muslimah Modis dari luar negeri, hari ini Dayana muncul dengan identitas aslinya. Gadis itu melangkah masuk tanpa selembar kain pun di kepalanya. Rambut cokelat kemerahannya yang panjang dibiarkan tergerai indah, dipadukan dengan seragam yang pas di tubuh, memamerkan kecantikan yang lebih berani dan bebas.
Ternyata, hijab yang ia kenakan kemarin hanyalah bagian dari eksperimen fashion yang ia anggap unik setelah bertahun-tahun tinggal di Eropa. Sebagai seorang non-Muslim yang baru beberapa hari kembali ke tanah air, Dayana menganggap atribut agama tak lebih dari sekadar gaya berpakaian.
Di pojok kelas, Aydan hanya melirik sekilas saat Dayana masuk. Ada sedikit kilat di matanya, bukan kekecewaan, melainkan sebuah konfirmasi atas dugaannya kemarin. Ia kembali memutar bukunya, tetap dingin, tetap tak tersentuh.
Keadaan memanas saat jam pelajaran Sosiologi dimulai. Kelompok Dayana mendapat giliran presentasi tentang "Akulturasi Budaya dan Kebebasan Berekspresi di Era Global". Dayana berdiri di depan kelas dengan penuh percaya diri, menjelaskan bagaimana budaya luar memberikan warna pada kebebasan individu di Indonesia.
"Jadi, kesimpulannya," Dayana menutup presentasinya dengan nada menantang, matanya sengaja mencari sosok Aydan di barisan belakang. "Ekspresi diri adalah hak mutlak. Tidak boleh ada norma atau pandangan kuno yang membatasi seseorang dalam bergaya, termasuk bagaimana mereka merepresentasikan diri mereka di depan publik. Kritik terhadap cara berpakaian seseorang adalah bentuk dari kemunduran berpikir."
Kelas hening. Semua orang tahu kalimat itu ditujukan untuk siapa.
Guru Sosiologi membuka sesi tanya jawab. "Ada yang ingin menanggapi presentasi Dayana?"
Aydan perlahan mengangkat tangannya. Ia tidak berdiri, namun aura di sekitarnya mendadak menjadi pusat gravitasi kelas.
"Saya ingin bertanya," suara Aydan yang berat dan tenang menggema. "Kau bicara tentang kebebasan berekspresi. Tapi, apakah kau juga menghargai nilai dibalik simbol yang kau gunakan? Kemarin kau memakai hijab sebagai eksperimen fashion. Apakah kau sadar bahwa bagi miliaran orang, itu adalah simbol kesucian dan ketaatan, bukan mainan untuk mencari perhatian?"
Dayana tersenyum sinis, ia melipat tangan di dada. "Itu masalah perspektif, Aydan. Di luar negeri, orang bebas memakai apa saja. Jika aku merasa cantik memakai kain itu kemarin, apa urusanmu? Itu hakku sebagai manusia bebas. Kenapa kau begitu terganggu? Apakah moralitas mu begitu rapuh hanya karena melihat cara berpakaian seseorang?"
Aydan akhirnya berdiri. Ia melangkah sedikit ke depan mejanya, menatap Dayana dengan pandangan yang membuat gadis itu merasa kecil.
"Ini bukan soal moralitas ku yang rapuh, Dayana. Ini soal integritas," balas Aydan tajam. "Kau bicara tentang kebebasan, tapi kau tidak punya rasa hormat terhadap identitas yang kau pinjam. Kemarin kau menghina sebuah keyakinan dengan memakainya secara tidak pantas. Dan hari ini, kau berdiri di sana mengagungkan kebebasan tanpa memahami bahwa kebebasan tanpa batasan hanyalah kekacauan."
"Kekacauan?" Dayana tertawa meremehkan. "Itu disebut progresif! Kau hanya takut pada perubahan karena kau terkurung dalam pemikiran sempit keluargamu yang konservatif."
Aydan tidak terpancing emosi. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa lebih menyakitkan daripada makian.
"Konservatif? Ibuku adalah wanita paling bebas yang pernah aku kenal. Dia pernah berada di duniamu yang kau sebut progresif itu, dunia di mana nilai seorang wanita hanya diukur dari seberapa banyak mata pria yang memujanya. Tapi dia memilih untuk menutup diri, bukan karena dia terkekang, tapi karena dia sadar bahwa kecantikannya bukan barang murah yang bisa dinikmati siapa saja di kantin sekolah."
Aydan melanjutkan, suaranya kini merendah namun penuh penekanan. "Kau pikir dengan melepas kain itu dan berdiri seperti ini kau sudah menang? Tidak, Dayana. Kau justru membuktikan kata-kataku kemarin, bahwa kau tidak punya prinsip. Kau hanya mengikuti tren. Kemarin kau mencoba jadi alim, hari ini kau mencoba jadi bebas. Besok, kau akan jadi apa lagi hanya untuk mendapatkan pengakuan?"
Dayana terdiam. Kalimat Aydan tentang pengakuan menghantam bagian terdalam dari egonya. Seluruh teman sekelas menahan napas. Perdebatan ini bukan lagi soal tugas sekolah, tapi soal benturan dua dunia yang berbeda.
"Kau... kau tidak berhak bicara seperti itu padaku!" Dayana mencoba membela diri, namun suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya menjawab presentasimu tentang kebebasan," ucap Aydan sambil kembali duduk dengan tenang. "Kebebasan sejati adalah saat kau tidak lagi butuh validasi dari tatapan orang lain untuk merasa berharga. Sesuatu yang sepertinya belum kau pahami."
Guru Sosiologi berdehem, mencoba menengahi situasi yang sudah sangat panas itu. "Baik, terima kasih Aydan dan Dayana. Diskusi yang... sangat mendalam."
Dayana kembali ke tempat duduknya dengan perasaan campur aduk. Ia merasa benci pada Aydan, namun di saat yang sama, ia merasa tertantang. Tidak ada pria yang pernah bicara sekeras itu padanya, dan tidak ada pria yang pernah melihat menembus topeng kecantikannya sejelas Aydan.
Di bangku belakang, Kay berbisik pelan pada Aydan. "Gila lo, Dan. Lo beneran bikin dia kena mental."
Aydan tidak menjawab. Ia hanya menatap ke depan, teringat pada pesan ayahnya: “Aydan, di mana pun kau berada, jadilah kebenaran yang tenang. Jangan biarkan dunia mengubah warnamu, tapi ubahlah warna dunia dengan imanmu.”
Aydan tahu, Dayana hanyalah salah satu dari sekian banyak ujian yang harus ia hadapi. Namun ia tidak menyadari, bahwa debat panas hari ini adalah awal dari perubahan besar yang akan dialami oleh gadis pindahan itu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰