"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ELISE BENER- BENER LU YEE
Satu jam setelah meneguk anggur itu, Catharina mulai merasakan sesuatu yang aneh. Kepalanya berputar, perutnya terasa dipelintir dari dalam, dan tubuhnya mendadak berat seperti berisi batu.
"Lucian..." ia memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Aku merasa tidak baik."
Lucian langsung meletakkan gelasnya dan berbalik, wajahnya berubah. "Catharina? Apa yang kamu rasakan?"
"Pusing... mual... aku tidak tahu apa ini..."
Sebelum Lucian sempat berbuat apa pun, Catharina tiba- tiba muntah. Lucian langsung bangkit untuk menopang tubuhnya yang mendadak melemah dengan cepat.
"Catharina! Bertahanlah! Aku akan panggil..."
Kalimatnya tidak selesai. Kepalanya sendiri mulai berputar. Pandangannya mengabur, perutnya seperti terbakar dari dalam.
"Sial..." Lucian terjatuh ke satu lutut, satu tangannya bertumpu ke lantai berusaha menahan diri. "Anggurnya... Catharina, anggurnya ada yang salah..."
Catharina sudah tidak bisa menjawab. Tubuhnya merosot ke lantai, kesadarannya mulai menghilang seperti api yang kehabisan sumbu. Satu-satunya yang ia dengar sebelum semuanya gelap adalah suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
Martha kembali ke salon karena lupa mengambil kunci brankas yang ia tinggalkan tadi. Ia membuka pintu dan langsung terpaku di ambang pintu, napasnya tertahan.
"YANG MULIA! MARQUESS LUCIAN!"
Teriakan Martha memecah keheningan malam. Ia berlari keluar dan berteriak meminta tolong dengan sekuat tenaga. Beberapa penjaga yang masih berpatroli di sekitar distrik langsung berlari datang. Mereka langsung membawa Catharina dan Lucian ke klinik terdekat dengan tergesa-gesa, tidak membuang sedetik pun waktu yang berharga untuk nyawa keduanya.
Dokter kerajaan, Tuan Edmund, memeriksa keduanya dengan wajah yang semakin serius seiring waktu berlalu. Setelah pemeriksaan yang cepat namun menyeluruh, ia berdiri dan menatap Martha.
"Ini keracunan. Mereka berdua diracun."
Martha terperanjat sampai hampir menjatuhkan lentera yang ia pegang. "Diracun?! Siapa yang berani melakukan ini?!"
"Itu bukan urusanku untuk ditentukan." Tuan Edmund sudah bergerak ke lemari obat-obatannya. "Racun ini cukup berbahaya. Kalau terlambat beberapa saat lagi, keduanya tidak akan tertolong." Ia mengeluarkan beberapa botol dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. "Beruntung kalian datang cepat."
Martha menangis. Bukan sesenggukan, tapi air mata yang mengalir deras tanpa bisa ia hentikan. Ia menangis dari rasa lega yang bercampur dengan kemarahan yang belum menemukan sasarannya.
Siapa yang tega melakukan ini pada Yang Mulia?
Sementara itu, di tempat persembunyiannya di tepi kota, Elise mendengar kabar bahwa Catharina dan Lucian berhasil diselamatkan. Wajahnya berubah merah.
"Tidak mungkin!" ia memukul meja dengan kepalan tangan. "Kenapa mereka begitu beruntung?!"
Marcus berdiri di sudut ruangan dengan lengan terlipat dan wajah yang tidak menunjukkan rasa simpati sedikit pun. "Sudah aku bilang sejak awal, Elise. Ini jalan yang salah. Sekarang mereka pasti akan menyelidiki. Dan jejak racun itu mudah dilacak kalau orang yang tepat mulai bertanya."
"Aku tidak meninggalkan jejak apa pun!" Elise bersikeras, tapi ada nada tidak yakin yang menyelip tanpa ia sadari.
"Kamu terlalu percaya diri." Marcus menatap keponakannya dengan tatapan yang sudah lelah. "Kecerobohan orang yang terlalu percaya diri justru yang paling mudah ditemukan."
Tapi Elise tidak mendengarkan. Di kepalanya yang sudah dipenuhi kebencian, ia sedang menyusun rencana lain. Racun tidak berhasil kali ini. Tapi masih ada cara-cara lain.
Ia tidak akan berhenti. Tidak akan pernah.
***
Keesokan paginya, Catharina terbangun di kediamannya dengan tubuh yang masih terasa seperti diperas habis. Setiap gerakanya terasa berat. Bahkan membuka mata pun membutuhkan usaha.
Yang pertama ia lihat adalah wajah ayahnya. Duke Henry duduk di samping ranjang dengan wajah yang tidak bisa ia gambarkan. Bukan hanya marah. Lebih dari itu.
"Ayah..." suaranya keluar serak dan lemah.
"Catharina." Duke Henry menggenggam tangan putrinya erat-erat, seperti takut melepaskannya. "Syukurlah kamu sadar."
"Aku... apa yang terjadi?"
"Kamu dan Marquess Lucian diracun." Kata-kata itu keluar dengan sangat tenang, tapi di balik ketenangannya ada badai yang tertahan. "Tuan Edmund berhasil memberikan penawar tepat waktu. Sebentar lagi dan..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Catharina merasakan jemari ayahnya menggenggam lebih erat. Baru kali ini ia melihat Duke Henry terlihat seperti seorang ayah yang ketakutan, bukan seorang bangsawan yang selalu harus terlihat kuat.
"Aku tidak apa-apa, Ayah," bisiknya.
"Kamu tidak apa-apa karena Martha kembali tepat waktu." Nada suara Duke Henry akhirnya retak sedikit. "Siapapun yang berani menyakiti putriku, akan aku pastikan mereka tidak akan bisa melakukan ini pada orang lain."
Di kamar sebelah, Lucian juga sudah sadar lebih awal. Hal pertama yang ia tanyakan bahkan sebelum ia sempat duduk tegak adalah keadaan Catharina.
"Lady Catharina baik-baik saja, Yang Mulia Marquess," jawab Martha sambil membetulkan bantal di belakang punggungnya. "Tapi Anda harus istirahat dulu. Racun itu menguras banyak tenaga."
"Aku harus melihatnya sendiri."
"Yang Mulia..."
"Martha." Lucian menatap pelayan itu dengan tatapan yang tidak menerima bantahan. "Tolong."
Dengan bantuan pelayan dan Martha yang akhirnya menyerah, Lucian berhasil sampai ke kamar Catharina dengan langkah yang masih sedikit goyah. Duke Henry meliriknya sebentar, menilai, lalu berdiri dan memberi mereka ruang dengan diam-diam keluar dari kamar.
Lucian duduk di tepi tempat tidur, menggenggam tangan Catharina dengan dua tangannya sekaligus. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak biasanya ia perlihatkan. Kelegaan yang besar, dan di baliknya, ketakutan yang baru saja ia alami.
"Catharina."
"Aku tahu," jawab Catharina pelan. "Kita hampir tidak selamat."
"Tidak. Kamu hampir tidak selamat." Lucian mengoreksinya dengan suara yang lebih rendah. "Dan itu..." ia berhenti sebentar, menelan sesuatu. "Itu bukan sesuatu yang ingin pernah aku rasakan lagi."
Catharina menatap wajah Lucian. Baru kali ini ia melihat pria yang selalu tampak tenang dan terkendali itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan.
"Aku berjanji akan mencari tahu siapa yang melakukan ini," ujar Lucian akhirnya, suaranya kembali mengeras dengan tekad. "Dan aku berjanji mereka tidak akan bisa melakukannya lagi."
"Aku sudah tahu pelakunya," kata Catharina pelan namun pasti.
Lucian mengangkat kepalanya. "Siapa?"
"Elise. Pelayan dari kediaman Nightshade yang dipindahkan ke dapur."
"Atas dasar apa kamu yakin?"
Catharina menarik napas. Ini bagian yang selalu sulit. Bagaimana cara menjelaskan bahwa ia tahu karena sudah pernah membaca kisah ini sebelumnya? "Hanya dia yang punya alasan cukup kuat untuk membenciku. Dan aku pernah mendengar bisikan-bisikan tentang dirinya. Tentang bagaimana ia mencari kekuasaan dengan cara yang kotor." Itu bukan jawaban yang lengkap, tapi cukup untuk sekarang.
Lucian menatapnya beberapa detik, membaca raut wajahnya. "Kamu yakin?"
"Sangat yakin."
"Baiklah." Lucian mengangguk pelan. "Tapi kita tidak bisa bergerak hanya dengan keyakinan. Kita butuh bukti yang nyata. Cukup kuat untuk tidak bisa dibantah."
"Aku tahu. Dan kita akan mendapatkannya." Catharina membalik tangannya sehingga kini ia yang menggenggam tangan Lucian, bukan sebaliknya. "Kita akan menghentikan Elise sebelum dia menyakiti orang lain."
Lucian memandangi genggaman tangan mereka sebentar, lalu mengangkat pandangannya ke wajah Catharina.
"Bersama-sama," ujarnya.
"Bersama-sama," Catharina mengulangi.
Dan meski tubuh mereka masih lemas dan dunia di luar masih menyimpan ancaman yang belum selesai, ada sesuatu yang terasa lebih kuat dari kemarin.
Keyakinan bahwa menghadapi apapun bersama, ternyata tidak terasa seberat menghadapinya sendiri.
***
BERSAMBUNG