Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Mati
Di area kampus kedatangan Arlo dan Valen menjadi pemandangan pagi yang membuat semua mahasiswa yang ada di parkiran melihat ke arah mereka dengan penasaran. Bagaimana tidak, Valen menggunakan mobil sport terbaru yang baru saja di belikan Zurra sebagai hadiah pemecahan masalah tempo hari.
Valen masih diam di dalam mobilnya sedangkan Arlo masih berdiri dan bersandar di motor sport miliknya. Dari dalam mobil Valen memindai semua area kampus. Dia melihat semua keadaan kampus yang nampak lengang karena beberapa dari mereka masih takut dengan berita yang ada di sana.
"Gue nggak tahu gimana caranya nemuin lo, tapi gue pastiin gue bakal dapatin lo! "batin Valen.
Valen keluar dari dalam mobilnya d menghampiri Arlo yang sedang bermain ponselnya. Banyak pasang mata yang menatap mereka aneh karena sebagian besar dari mereka tahu jika Valen adalah kekasih Dean, tapi sekarang malah terlihat dekat dengan Arlo dan sekarang malah datang bersama ke kampus.
"Hei, bukannya itu Valen anak baru itu? Dia kekasih Kak Dean 'kan? Tapi kenapa dia bersama dengan Arlo hari ini?"
"Iya, apa mungkin mereka ada hubungan?"
Banyak bisik bisik yang menduga hubungan Valen dan Arlo bagaimana. Tapi ada juga yang menebak jika Arlo dan Valen hanya teman atau saudara, tapi kembali lagi Valen serta Arlo tak pernah peduli dengan orang lain yang ada di sekitarnya.
"Val, apa lo udah nemuin sesuatu yang mencurigakan?" tanya Arlo santai.
Mereka terus berjalan dan masuk ke dalam kampus tapi mata mereka terus memindai semua area kampus yang nampak lengang.
"Gue nggak lihat apa apa, tapi gue ngrasa ada yang sedang ngawasin kita. Cuma kayaknya bukan dari kalangan dunia bawah yang seperti dugaan gue," sahut Valen pelan.
Mereka berdua terus berjalan sampai mereka berpisah di persimpangan gedung karena Arlo berada di jurusan bisnis sedangkan Valen ada di jurusan design atau bisa di bilang juga lebih ke arsitek gedung. Berbeda dengan Ale yang hobi di design baju dan semua keindahannya, sedangkan Valen lebih tertarik dengan design gedung gedung.
Arlo terus berjalann ke gedung di mana dia kuliah tapi saat dia sudah sampai di gedung miliknya dia melihat ada sebuah bayangan orang yang menyeret barang. Mata Arlo menyipit saat melihat itu, dia berinisiatif untuk mengikuti bayangan yang dia lihat itu. Dia juga tak lupa segera memberi tahu Valen tentang apa yang dia lihat.
Setelah nya Arlo segera berlari mencari keberadaan bayangan orang tadi yang anehnya saat Arlo mencari nya di tempat yang dia lihat tadi tak ada seorang pun di sana.
"Sial, apa gue salah lihat ya?" batin Arlo.
Dia celingukan di sana dan memindai semua tempat yang ada di sana. Sampai dia kesal sendiri, tapi saat dia berbalik ada seseorang yang memukul wajahnya dan menyekap wajahnya menggunakan sapu tangan yang sudah di bubuhi obat bius.
Seketika pandangan Arlo menggelap, dan orang itu juga menyeret Arlo untuk di bawa pergi ke tempat yang seharusnya.
Sementara itu Valen yang baru melihat tanda dari Arlo mengerutkan keningnya karena jam tangan miliknya berwarna merah dan itu sudah di seting untuk mendeteksi keberadaan Arlo yang bersama dengannya. Mata Valen terbelalak melihat lampu jam tangan itu kelap kelip merah.
"Sialan, kenapa jamnya begini? Apa Arlo dalam bahaya?"
Valen terus berlari dengan cepat ke arah gedung kuliah Arlo yang tak jauh dari tempatnya. Di saat dia kalut mencari keberadaan Arlo dia berusaha menghubungi Dean untuk membantunya melacak keberadaan Arlo.
Tuttt tuttt....
Nada dering dari suara ponselnya terus berbunyi tapi Dean tak kunjung mengangkatnya.
"Sial, kenapa nggak di angkat juga sih!" umpat Valen pelan.
Saat Valen sudah kelimpungan tak menemukan keberadaan Arlo, beberapa anggota Zurra mendekatinya, karena tadi posisi Valen sedang di tempat rame dan semua anggota itu tak mungkin menimbulkan kegaduhan kembali.
"Nona muda..." sapa mereka semua.
"Cari Arlo sampai dapat, dia menghilang beberapa menit lalu," intruksi Valen pada semua anggota Zurra.
Mereka semua mengangguk dan segera menghubungi satu sama lain agar semua anggota yang tersebar segera menemukan keberadaan Arlo saat itu juga.
Mereka semua berpencar, begitu juga dengan Valen. Dan di saat dia sudah kewalahan karena tak kunjung menemukan Arlo, ponselnya berbunyi kembali dan itu panggilan dari Dean.
"Sayang, maaf aku barusan meting bareng yang lainnya. Ada apa?" tanya Dean langsung.
"Arlo hilang, aku nggak bisa nemuin dia di kampus. Dan sekarang semua anggota mami dan papi sedang berpencar mencarinya. Hanya saja kami kesulitan karena di sini ada banyak orang, aku juga takut membuat kegaduhan," ucap Valen cepat.
Dean yang sedang berjalan untuk kembali ke ruangannya mematung di tempatnya, dan membuat para orang tua menatapnya bingung. Mata Dean juga berubah jadi datar dan dingin.
"Kamu jangan cari sendiri, terus aktifin ponsel dan alat pelacaknya. Aku dan yang lain akan segera ke sana, biar pihak kampus di urus ayah dan papi." ucap Dean datar.
Dean segera memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan memasang earpiece yang selalu dia bawa kemanapun dan itu membuat semua orang tua yang ada di depannya mengerutkan kening mereka bingung.
"Arlo tiba tiba menghilang dari kampus dan saat ini Valen serta anggota papi sedang mencarinya." jelas Dean pada mereka.
Mata para orang tua langsung membola dan tak menunggu lama mereka segera berlari melewati pintu khusus agar tak di ketahui para karyawan mereka.
"Dean apa yang terjadi? Kenapa Arlo bisa menghilang?" tanya Mahessa panik.
"Dean nggak tahu Om, karena Valen saat ini juga tengah mencari Arlo bersama anggota yang lainnya tapi belum menemukan petunjuk!!" ucap Dean sambil masuk ke dalam mobilnya.
Yang lain juga segera masuk ke dalam mobil Dean yang muat untuk mereka berlima.
Ziko yang memang selalu membawa tabletnya segera menyalakannya dan meretas semua CCTV di kampus. Di sana dia melihat Valen dan Arlo yang masih bersama sampai mereka berdua berpisah di persimpangan jalan karena Arlo akan pergi ke kampusnya. Tapi mata Ziko menyipit saat dia melihat Arlo seperti sedang mengawasi sesuatu.
"Lihat, di sini Arlo terlihat mencari sesuatu," tunjuk Ziko kepada Altezza.
Altezza yang ada di sebelah Ziko segera melihat itu dan meneruskan apa yang Ziko lakukan sampai di titik yang terlihat jauh dari CCTV kampus dan sepi Arlo tiba tiba menghilang. Tapi mata jeli Altezza melihat ada bayangan di sana, dan terlihat juga ada pantulan di kaca jendela di dekat tempat Arlo menghilang.
"Dia di serang oleh dua orang, kita harus cepat menemukannya. Dean bilang pada Valen untuk berhati hati." pesan Altezza.
Tapi di seberang sana Valen sudah mendengar apa yang di katakan papinya pada Dean. Dia segera menyurusi tempat di mana Arlo hilang tadi. Dan saat sampai di sana Valen menemukan sebuah anting berlian milik Arlo yang terjatuh di dekat tempat sampah.
"Ini milik Arlo..." batin Valen.
Valen segera menyurusi semua area di sana dan nampak ada beberapa jejak kaki di sana. Dia terus mencarinya dan tak lama dia menemukan jalan buntu yang tak bisa di lewatinya sama sekali.
"Ini jalan buntu, terus mereka bawa Arlonya lewat mana?" gumam Valen pelan.
"Kak Dean, aku nemuin anting Arlo tapi aku nemuin jalan buntu di sini. Apa om Ziko bisa melihat ku dari CCTV yang sedang kalian pantau? Di sini aku juga nemuin banyak jejak kaki, ada sekitar tiga pasang jejak kaki."
Dean yang mendengar itu sudah melepas ear piece nya jadi suara Valen juga terdengar kepada semuanya yang ada di sana.
"Kami mendengarnya sayang, dan om Ziko sedang mencari celah yang lainnya. Kamu pergi dari sana terlebih dahulu. Ingat berhati hatilah," pesan Dean pada Valen.
Valen segera pergi dari sana, tapi saat dia keluar dari jalan buntu itu ada segerembolan mahasiswi perempuan yang sedang menarik satu orang perempuan yang terlihat culun dan terlihat polos.
"Gue udah bilang sama lo kan, jangan macam macam di sini. Lo cuma orang miskin di sini. Buat apa lo cari perhatian sama cowok cowok hah?" bentak salah satu dari perempuan yang terlihat kurang bahan itu.
Valen yang sedang bersembunyi itu masih mendengarkan tanpa berniat ikut campur karena menemukan Arlo lebih penting sekarang dari pada ngurusin mereka.
Sedetik kemudian dia juga mendengar suara perempuan menjerit kesakitan dan pukulan berkali kali.
"Mereka menghajarnya? Di kampus elit ini? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kampus ini?" batin Valen.
Ziko dan yang lainnya yang menemukan fakta itu saling pandang karena mereka baru saja menemukan hal yang tak di sangka selama ini dan mereka juga syok jika ada hal itu yang tak di laporkan kepada mereka.
"Cari mati ternyata!!!!"
to be continued...