Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kings, Queens, and Outsiders
"Party in my house?"
Selembar flyer mendarat persis di depan wajah Fraya, menghalangi pandangannya sesaat setelah ia menutup pintu loker dengan dentum logam yang terdengar keras.
Aroma kertas baru dan tinta mahal langsung tercium, jenis kemewahan yang bahkan merambah hingga ke urusan alat tulis di Milford Hall.
Fraya baru saja hendak meraih lembaran itu ketika Florence, yang luar biasa gesit, sudah lebih dulu menyambar flyer tersebut dari tangan Robby.
Cowok itu berdiri di sana dengan gaya yang terlalu santai untuk ukuran anak sekolah, menyunggingkan senyum maut yang sudah jadi senjatanya paling mutakhir untuk memicu histeria para siswi di Milford Hall yang memuja pesonanya.
Robby adalah definisi playboy kelas kakap yang juga masuk dalam lingkaran elit Damian, jenis pria yang tahu persis seberapa besar daya tariknya.
"Sejak kapan orang-orang borjuis seperti kalian mengundang kalangan biasa seperti kami?" tanya Florence tanpa basa-basi. Ketajaman lidahnya itu mendapat anggukan setuju dari Asa, yang berdiri bersandar di loker sebelah Fraya sambil memperbaiki letak kacamatanya.
Robby tertawa kecil, suara baritonnya terdengar begitu percaya diri. "Sejak gadis ini resmi menjadi pacar sahabatku yang paling terkenal seantero Milford," ujarnya asal.
Ia memberikan senyum yang, seperti sudah dikatakan diatas, merupakan senjatanya paling mutakhir untuk menaklukan barisan perempuan manapun, yang kini juga sukses membuat pipi Florence bersemu merah seketika. Rona pipi Florence makin berpendar kemerahan bahkan saat Robby sudah melipir pergi meninggalkan mereka didepan loker masing-masing.
"I am not Damian's girl...friend," desis Fraya, kata terakhirnya tertahan di tenggorokan. Ia ingin sekali mengumpat, namun Robby sudah terlalu jauh untuk mendengar pembelaannya.
Sia-sia. Fraya menyadari bahwa usahanya menyangkal status di sekolah ini terasa seperti mencoba membendung air laut dengan tangan kosong. Semua orang lebih memilih percaya pada narasi yang dibangun Damian dan antek-anteknya daripada kebenaran yang keluar dari mulutnya sendiri.
Florence masih menatap punggung Robby yang menjauh dengan satu alis terangkat, seolah jiwanya baru saja tersedot paksa dengan efek senyum Robby yang begitu memabukkan itu.
Asa, yang sejak tadi mengamati reaksi Florence dengan tatapan menyureng, menarik flyer tersebut guna mengembalikan kesadaran sahabatnya ke bumi.
"You guys really consider coming to their party this Saturday?" tanya Asa, nadanya sarat akan skeptisisme sambil menunjuk lembaran di tangannya.
"I think I’ll pass," sahut Fraya sambil menyandarkan punggung dan bersedekap. Jawaban itu krusial, dan entah mengapa, membuat Asa diam-diam menyunggingkan senyum puas di balik wajah kaku itu.
"Why not? Alexa, we have to come! Jarang-jarang orang seperti kita diundang ke pesta besar yang diadakan lingkaran se-elit geng mereka," pekik Florence, antusiasmenya kembali meluap-luap.
Asa mendesah berat, "Memangnya apa manfaatnya datang ke pesta yang isinya paling cuma untuk minum-minum dan melakukan hal tidak jelas lainnya?"
Florence melemparkan tatapan sinis.
"Tentu saja ada manfaatnya. Memangnya kamu tidak mau jadi sorotan di Milford untuk sebentar saja? Status kita bisa langsung naik pamor. Kita harus berterima kasih pada Alexa. Walaupun dia akan menyangkal seribu kali sampai bumi kiamat pun bahwa dia bukan pacar Damian, kedekatan mereka tetap memberi kita akses. Lihat? Belum apa-apa kita sudah diundang ke pesta elit mereka."
Florence menjatuhkan pandangan penuh harap pada Fraya yang masih bergeming. "Ayolah, Alexa. Sebentar saja, tidak perlu lama-lama."
Fraya menghela napas panjang, menatap koridor yang mulai lengang. "Well, aku tidak bisa janji. Hari Sabtu nanti rumahku kosong, jadi aku harus berjaga di rumah sampai Minggu."
Fraya mulai melangkah menuju kelas Mrs. Witherspoon, diikuti Florence dan Asa yang mengekor seperti bayangan.
"Memangnya orang tuamu ke mana hari Sabtu nanti?" tanya Florence lagi, belum menyerah.
Fraya tidak langsung menjawab. Ada ruang di dalam hatinya yang ia kunci rapat-rapat. Tidak ada alasan baginya untuk memberitahu bahwa Sabtu nanti adalah jadwal kemoterapi lanjutan Mamanya yang mengharuskan Mama menjalani rawat inap semalam.
Rahasia itu adalah beban yang ia pikul sendiri, sebuah kenyataan pahit yang tidak perlu ia bagi, bahkan kepada Florence yang sudah dianggapnya sangat akrab.
Asa berdeham, memecah fokus pembicaraan.
"I’m on Fraya’s side. I’m gonna pass this party. Dan juga, saat ini aku harus pergi duluan karena aku ada sesi di klub fotografi. So, I think I’ll see you guys Monday."
Fraya dan Florence melambaikan tangan saat Asa pamit undur diri dengan langkah lebar.
Setelah sosok tinggi itu menghilang di balik pilar koridor, Florence menarik lengan Fraya, suaranya merendah namun penuh rencana.
"Bukannya lebih bagus kalau orang tuamu pergi? Kita bisa pergi dengan leluasa tanpa perlu diwanti-wanti pulang jam berapa, kan?"
Fraya mendengus, langkahnya terhenti.
"Florence, apa menurutmu bijak jika aku muncul di pesta orang-orang yang lingkaran pertemanannya sama dengan pria yang hidungnya pernah kubuat patah? Pria yang pernah membuatmu menangis bombay sampai aku harus berurusan dengan Damian yang menyebalkan itu? Muncul di pesta mereka sama saja dengan mengantarkan nyawaku sendiri."
Rentetan kalimat itu akhirnya membungkam Florence. Cewek itu meringis, seolah baru tersadar bahwa Fraya memang belum—dan mungkin tidak akan pernah—sudi berada dalam satu ruangan dengan Axel Rosewood.
Florence merangkul bahu sahabatnya, mendesah pasrah namun dengan nada yang kembali ceria
"Baiklah. We're gonna pass this big ass party for the sake of your sanity. Tapi sebagai gantinya, bagaimana kalau aku menemanimu saja di rumah selagi orang tuamu tidak ada? Kita buat pesta sendiri. A girls' soiree. Hanya kita berdua. Asa tidak usah diajak!"
Fraya menyembur tawa mendengar kalimat terakhir. Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat. Sambil mengangguk, ia menyahut, "Sounds perfect."
"Iya kan? I mean, come on!" Florence melanjutkan cerocosannya dengan semangat yang meluap-luap.
"Kita bisa memesan piza dengan keju yang melimpah sampai kita lupa caranya diet, memakai masker wajah hijau sampai kita terlihat seperti kerabat dekat Shrek, dan maraton film tanpa perlu mendengarkan ceramah Papa kamu soal 'masa depan cerah'. No boys, no drama, just us."
Fraya terkekeh, bebannya seolah terangkat satu per satu.
"Dan yang paling penting: tanpa interupsi Asa yang akan sibuk membahas teknik pencahayaan atau angle kamera film yang sedang kita tonton."
"Tepat!" Florence menjentikkan jarinya di udara. "Membayangkannya saja sudah membuatku merasa lebih pintar daripada harus terjebak di ramainya pesta Robert Hastings nanti."
"Pilihan yang sangat logis, Flo," timpal Fraya sambil mulai melangkah menuju pintu kelas Mrs. Witherspoon yang sudah terbuka lebar.
Ia barusaja hendak melangkah ke barisan paling belakang ketika sebuah getaran singkat di saku rok seragamnya menghentikan gerakannya.
Fraya merogoh saku, mengeluarkan ponselnya, dan menatap layar yang menyala terang di tengah remang koridor.
Satu pesan baru. Dari kontak yang ia beri nama: Damian Pirang Harding
Fraya mendesis pelan. Untuk apa pria pirang ini mengirim pesan pagi-pagi begini? batinnya ketus.
Namun, ada rasa penasaran yang menggelitik, yang membuatnya tetap menggeser layar dan membaca isinya.
Damian : I’m not coming to school today. I hope you don't miss me, Ace.
Fraya : Keep dreaming, butthead.
Fraya barusaja akan memasukkan ponselnya ke dalam saku ketika bunyi denting ponselnya berbunyi lagi.
Damian: How cold. Padahal aku baru saja ingin mengajakmu ke pesta Robby Sabtu nanti. I'll pick you up at 8, how's that sound?
Fraya : Jam 8 aku sudah tidur. And for the record, aku tidak akan datang. Aku punya rencana yang jauh lebih menarik daripada pesta kalian yang berisik itu.
Damian : Rencana apa? Belajar bahasa Jerman sampai tertidur di atas kamus lagi? It’s such a shame, though. Padahal aku sudah membayangkan betapa cantiknya kamu, when you wear a classic black dress that hugs your curves perfectly... you would be the death of me, Ace.
Damian : Tapi tidak apa-apa. Jika kamu tidak mau ke pesta, aku bisa saja 'mampir' ke mimpimu. Siapkan tempat yang nyaman ya. ;)
Fraya mematung di tempat duduknya. Ia merasakan gelombang panas mendadak menjalar dari leher hingga ke puncak kepalanya.
Jemarinya yang memegang ponsel sedikit gemetar.
Sialan. Cowok ini benar-benar tahu bagaimana cara mengobrak-abrik konsentrasinya hanya dengan beberapa baris kalimat jahil.
Kata-kata "...you would be the death of me" terus bergema di kepalanya, menciptakan distorsi pada logikanya yang biasanya kokoh, kini goyah bahkan saat Mrs. Whiterspoon mulai menerangkan pelajaran didepan kelas.
...°°°°°...
Di sudut lain dari kastel Milford Hall, ruang rekreasi eksklusif yang hanya bisa diakses oleh lingkaran inti geng elit Damian—sebuah ruangan dengan panel kayu ek gelap dan aroma cerutu mahal yang maskulin—mendadak terasa mencekam.
Suasananya pengap oleh ketegangan yang tak kasatmata, seolah oksigen di sana baru saja disedot habis.
Damian duduk di salah satu sofa kulit berwarna cokelat tua, tubuhnya bersandar dengan gestur yang terlihat santai namun rahangnya mengeras.
Di depannya, Alana Highmore duduk dengan punggung tegak, bersedekap, dan sepasang mata biru yang biasanya memancarkan pesona aristokrat itu kini hanya menyisakan kobaran amarah yang tertahan.
Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang menyambut kembalinya Alana dengan sorak-sorai seolah seorang ratu baru saja pulang dari pengasingan, Damian justru merasa terbebani.
Kehadiran Alana baginya bukan lagi tentang memori masa kecil yang manis, melainkan beban tanggung jawab yang mulai mencekik lehernya.
Ia harus duduk di sini, di ruang privasi ini, hanya demi memuaskan hasrat Alana yang tengah menuntut jawaban dengan amarah yang memuncak.
"Jadi, rumor itu benar?" Alana membuka suara, suaranya dingin, bergetar oleh emosi yang ia tahan di ujung lidah.
"Kamu sudah memiliki seseorang? Anak baru pindahan dari negara yang hanya dikenal karena Bali itu?"
Damian menghela napas, menatap Alana tanpa keraguan sedikit pun.
"Apa pun keputusan yang terjadi dalam hidupku, Alana, itu bukan urusanmu. Berhenti bertingkah seolah kamu memiliki otoritas atas langkah yang kupilih."
Alana tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. Ia condong ke depan, menatap Damian dengan intensitas yang menyakitkan.
"Bukan urusanku? You must be joking, Nick. Kamu akan selalu menjadi milikku. Kamu tahu itu. Ayahku dan ayahmu sudah mengunci masa depan kita bahkan sebelum kita paham arti kata komitmen. Kita sudah ditakdirkan bersama, Nicholas. Baik kamu setuju, atau lebih tidak setuju lagi."
Wajah Damian menggelap. "Kesepakatan itu hanya berlaku di kedua orang tua yang aku yakin mereka bahkan tidak paham apa artinya peduli dan empati. Aku bukan aset perusahaan yang bisa mereka pindah tangankan begitu saja."
"Tapi kamu tidak bisa lari!" Alana berseru, suaranya pecah, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. Frustasi mulai menggerogoti pertahanannya.
"Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun, Nick. Aku menjaga diriku hanya untuk menjadi pendampingmu, dan sekarang kamu membuang semua itu hanya untuk gadis yang bahkan belum ada satu tahun kamu kenal itu?"
Damian bangkit dari duduknya, memberikan tekanan intimidasi yang membuat Alana tertegun.
Ia melangkah satu titik lebih dekat, menatap Alana dengan sorot mata yang begitu tajam hingga mampu membuat siapa pun mundur teratur.
"Dengarkan aku baik-baik, Alana," suara Damian rendah, namun setiap katanya terasa seperti belati. "Jika kamu berencana untuk menyentuh Fraya, atau menyakitinya sedikit saja, baik itu dengan kata-kata atau tindakanmu, maka kamu akan menghadapi sisi terkelam dariku yang tidak pernah kamu lihat seumur hidupmu. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang mencoba mengusiknya. Termasuk kamu."
Hati Alana rasanya baru saja disayat tanpa bius. Ia terisak, air matanya kini luruh membasahi pipinya yang dipulas makeup sempurna.
Rasa sakit hati itu berubah menjadi kehancuran total.
"Apa, Nick? Apa yang tidak kumiliki namun dimiliki si Fraya itu?" Alana bertanya di sela tangisnya, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku punya segalanya. Nama, harta, kecantikan, koneksi... Apa yang dia berikan padamu sampai kamu tega mengancam teman kecilmu sendiri?"
Damian terdiam sejenak, tatapannya menerawang jauh, seolah sedang melihat sosok Fraya yang sedang tertawa di koridor.
Ekspresi keras di wajahnya melembut hanya untuk sedetik, sebelum ia kembali menatap Alana dengan ketegasan yang mutlak.
"Selama delapan belas tahun aku hidup, dan semenjak kepergian Ibuku, duniaku hanya terisi ruangan kosong yang gelap. Tapi Fraya..." Damian menjeda, suaranya kini sarat akan emosi yang tulus. "Hanya dia yang membuat ragaku kembali utuh. Hanya saat bersamanya, napas dan detak jantungku terasa normal kembali. Dia membuatku merasa normal, seperti manusia-manusia lain di luaran sana. Dia tidak memandangku karena nama belakangku. Dia bahkan tidak peduli. Dia hanya peduli bahwa aku adalah seorang Damian yang biasa."
Damian melangkah menuju pintu, namun sebelum ia benar-benar pergi, ia menoleh sedikit, memberikan kalimat terakhir yang menjadi vonis mati bagi harapan Alana.
"Dia bukan sekadar kekasih, Alana. Bagiku, Fraya adalah sepenting detak jantung dan nadi dalam hidupku. Dia adalah cinta dalam hidupku."
Damian melangkah keluar, meninggalkan Alana yang jatuh terduduk di sofa kulit mahal itu, tenggelam dalam isak tangis yang memilukan di tengah ruang rekreasi elit yang mendadak terasa sangat luas dan sepi.
...°°°°°...
Malam Minggu itu, keheningan di rumah Fraya terasa begitu tebal, hanya dipecah oleh suara dialog melankolis dari film The Notebook yang berpijar di layar televisi.
Di atas sofa, Fraya dan Florence duduk bersandar dengan wajah yang tertutup lapisan tebal masker lumpur berwarna hijau. Mereka baru saja menghabiskan dua kotak piza besar yang kini hanya menyisakan remah-remah di atas meja.
Fraya menyesap minumannya, namun matanya tidak benar-benar fokus pada perjuangan cinta Noah dan Allie di layar. Pikirannya mendadak tersangkut pada insiden di koridor beberapa hari lalu.
"Flo," suara Fraya terdengar kaku karena masker yang mulai mengering dan mengencang di kulit wajahnya. "Gadis pirang yang tempo hari menabrak ku di koridor... yang tampilannya sangat... Tidak seperti kita. Siapa dia sebenarnya?"
Florence yang tadinya sedang asyik mengunyah potongan piza terakhir, mendadak menghentikan gerakannya.
"Why do you ask?" tanya Florence tidak langsung menjawab.
Fraya mengedikkan bahu dengan ringan seraya berkata, "Aneh saja, jika ku ingat-ingat waktu kemarin dia menabrakku, sepertinya itu bukan insiden yang tidak disengaja. Dan aku juga sadar waktu kamu menatapnya seperti baru ketemu Zombie yang mau memangsa kita berdua kemarin itu."
Ia terdiam cukup lama, matanya tetap terpaku pada televisi seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus merusak malam tenang ini dengan kenyataan yang pahit.
"I honestly didn't want to ruin our soiree , Alexa, but i think you need to know this eventually," Florence menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada rasa ingin tahu sahabatnya. "Namanya Alana. Alana Highmore."
Fraya mengernyit, mencoba mencerna nama yang terdengar sangat ningrat itu.
"Highmore?"
"Iya. You should know one thing, Lexy" Florence menoleh, sorot matanya berubah serius di balik masker hijaunya yang retak.
"Di Milford Hall, Damian ibarat 'aset' eksklusif yang tidak boleh dimiliki oleh siapa pun, kecuali Alana Highmore, baik dari dalam maupun luar sekolah. Itu sebabnya Damian tidak pernah benar-benar punya pengalaman berpacaran dengan siapa pun. Karena secara de facto, sejak mereka kecil, Alana dan Damian adalah pasangan aristokrat dengan kasta tertinggi. Jika Damian adalah Rajanya, maka Alana adalah satu-satunya Ratu yang sah dimanapun mereka ber sekolah."
Fraya terhenyak. Florence melanjutkan dengan nada yang lebih rendah, nyaris seperti membisikkan rahasia negara.
"Dengar, Lexy. Damian memang sudah terkenal dengan sepak terjangnya yang suka meniduri banyak perempuan, tapi perempuan-perempuan yang di tidurinya juga tahu diri. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah distraksi sesaat, dan tidak akan pernah ada yang bisa menggeser posisi Alana di samping Damian. Dan kedatanganmu di sini... itu seperti gempa yang meruntuhkan benteng kasta yang sudah mereka bangun bertahun-tahun. Nope, correct me. Not them, but just Alana."
"Alana merasa terancam," lanjut Florence. "Dia merasa sudah menggenggam Damian, dan saat dia sedang cuti sekolah untuk mengurus proyek lini busananya yang dipamerkan di Milan Fashion Week kemarin, tiba-tiba kamu muncul dan merebut atensi Damian sepenuhnya."
Fraya membelalak. "Wait a second. Highmore... maksudmu Highmore Inc.? Pemilik kerajaan fashion yang iklan-iklannya ada di sepanjang jalanan London itu?"
Florence mengangguk mantap. "Tepat. Kekuasaan keluarganya tak terbatas. Dan Alana adalah wajah dari masa depan Highmore."
Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa menyesakkan bagi Fraya.
Ia termenung, menatap kosong ke arah layar TV. Ternyata keberadaannya di Milford sudah melampaui batas yang ia bayangkan. Ia bukan sekadar murid pindahan yang ingin fokus belajar; ia adalah 'perusak' tatanan sosial yang sudah ada sejak lama.
Keraguan mulai merayap di benaknya. Jika taruhannya adalah perang melawan wanita sekelas Highmore, apakah Fraya akan mampu memberikan jawaban pasti pada Damian nanti untuk menjadi kekasih cowok itu? Apakah dia sanggup menjadi pelabuhan bagi laki-laki yang dunianya bahkan sudah diatur sedemikian rupa?
Florence tiba-tiba bangkit, gerakan mendadaknya membuat piring piza di pangkuannya nyaris jatuh.
"You know what? Persetan dengan Highmore dan semua tetek bengek kastanya!" seru Florence tiba-tiba, matanya berkilat penuh tekad yang meledak-ledak.
"Aku tidak tahan melihat kita jadi mengasihani diri sendiri begini di malam minggu yang seharusnya kita habiskan untuk bersenang-senang. Kita akan datang ke pesta Robby malam ini. Titik. Tidak ada penolakan, Fraya Alexandrea!"
"Apa? Flo, jangan gila! Kita bahkan masih memakai masker lumpur!"
Florence tidak mendengarkan. Ia melesat masuk ke dalam kamar Fraya, menggeledah lemari pakaian sahabatnya dengan kecepatan yang mengerikan.
"Aku tidak mau membiarkan si Alana itu merasa menang karena kamu bersembunyi di sini! Kita harus menunjukkan bahwa gadis Indonesia ini punya kelasnya sendiri!"
Tak lama kemudian, Florence keluar dengan sebuah gaun di tangannya. Sebuah gaun semi-formal berukuran sepaha dengan potongan yang sangat chic.
Bukan gaun hitam klasik seperti yang Damian bayangkan dalam pesan singkatnya tempo hari. Florence justru menemukan sebuah dress berwarna putih gading—ivory white—dengan material yang tampak jatuh sempurna.
"Pakai ini," perintah Florence dengan nada otoriter yang tak terbantahkan. "Damian mungkin membayangkan mu dalam balutan warna hitam seperti kebanyakan gadis di pestanya, tapi dengan gaun putih ini, kamu akan menjadi satu-satunya cahaya yang menarik seluruh perhatian di pesta nanti. Biarkan Alana tahu, bahwa singgasana Ratunya sedang dalam bahaya besar."
"Siapa bilang aku mau jadi pusat perhatian di khalayak umum!?" Fraya melempar gerutuan, yang justru malah dihadiahi pelototan tajam dari mata hijau Florence Hunt.
Fraya menatap gaun putih itu didepannya lagi dengan perasaan campur aduk.
Putih. Warna yang melambangkan kemurnian, namun di saat yang sama, terasa seperti sebuah tantangan terbuka di tengah dunia Damian yang gelap dan penuh rahasia.
part yg bikin bad mood wkwkwk
tim Damian in action
terima kasihhhhh bagus ceritanya🥰
kalo udah dapat jgn disia2in
semangat nunggu ceritamu kak🥰
tapi lama2 mirip film horor euy serem bacanya🥰
bacanya sambil berharap terus nyambung g berhenti 😂 keren ceritanya
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍