Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Port Meadow's Swoon
Begitu bus sekolah yang mengantarnya berhenti tepat di persimpangan jalan kecil menuju rumah, Fraya langsung melompat turun. Ia melewati dua undakan tangga sekaligus dengan gerakan yang nyaris sembrono, memicu teriakan cemas dari Helen, supir bus perempuan yang sudah menganggap Fraya seperti anak sendiri.
"Fraya, hati-hati! Bisa lecet itu kaki!"
Fraya tidak menoleh. Baginya, peringatan Helen hanya angin lalu yang kalah cepat dengan adrenalin yang sedang memompa jantungnya.
Dengan langkah-langkah panjang yang efisien, ia berlari menembus udara Jakarta yang gerah dan berdebu siang itu. Kakinya yang kurus bergerak lincah, seolah ia sedang berlomba dengan waktu yang tidak terlihat.
Helen, meski jadwal antar jemputnya masih menyisakan beberapa anak lagi, memilih diam sejenak di balik kemudi.
Ia tersenyum tipis melihat siluet Fraya yang perlahan tertelan rimbun pepohonan di ujung jalan. Ada rasa bangga yang menyelinap; ia tahu siswi kesayangan sekolah itu sedang membawa pulang sesuatu yang layak dipamerkan.
Fraya nyaris menghantam pagar rumah saat ia mencoba berhenti mendadak. Bunyi dentuman besi yang beradu dengan grendel menciptakan suara nyaring yang memecah kesunyian lingkungan itu.
Tanpa memedulikan napasnya yang tersengal, Fraya menyerbu masuk ke dalam halaman, mendekap erat sesuatu di dadanya seolah itu adalah harta paling berharga di dunia.
"Ma... Mama... Fraya pulang, Ma!" teriaknya saat melintasi pintu depan.
Biasanya, kehadiran Mama selalu lebih cepat dari suaranya. Mama adalah sosok yang selalu tahu kapan Fraya sampai di depan pagar, menyambutnya dengan senyum atau sekadar pertanyaan tentang menu makan siang.
Namun kali ini, ruang tamu itu terasa asing. Hampa.
Suara televisi yang menyala sayup-sayup terdengar dari arah ruang tengah. Fraya mengerutkan kening.
Aneh. Tidak biasanya Mama begitu asyik dengan layar kaca sampai mengabaikan kepulangannya.
Dengan semangat yang masih tersisa, Fraya bersiap melompat ke ruang tengah, sudah membayangkan wajah kaget sekaligus bangganya Mama saat melihat piala besar di pelukannya.
Namun, ruang TV itu kosong. Hanya ada gambar bergerak yang tidak ditonton siapa pun.
Fraya terpaku. Ia mengedarkan pandangan, rasa bingung mulai mengikis antusiasmenya. Perlahan, ia meletakkan piala hasil kejuaraan Fisika itu di atas meja TV. Logam piala itu terasa dingin dan berat, kontras dengan hatinya yang mulai dilingkupi firasat tidak enak.
"Ma... Mama di mana sih? Fraya bawa sesu—"
Kalimatnya terputus secara brutal. Seluruh saraf di tubuh Fraya mendadak kaku saat matanya menangkap sepasang kaki menyembul dari balik meja dapur. Sepasang kaki dengan kuku yang dicat merah—warna yang sangat ia kenal. Kaki itu terbujur diam, tak berdaya di atas lantai dapur yang dingin.
Dunia Fraya runtuh dalam satu detik. Ia berlari seperti orang kesetanan dan menemukan Mamanya terbaring di sana, ada aliran darah yang keluar dari hidung, sementara satu tangannya masih menggenggam spatula.
Fraya menjatuhkan diri ke lantai, menarik tubuh itu ke dalam pelukannya dengan gerakan panik.
Dengan sisa kewarasan yang menipis, Fraya mencoba menekan pembuluh darah di bawah leher kiri Mamanya. Jemarinya bergetar hebat saat meraba-raba kulit dingin itu, mencari tanda kehidupan.
Lama ia terdiam dalam ketakutan yang mencekik, sampai akhirnya, ia menangkap satu denyutan samar. Sangat samar, tapi cukup untuk membuatnya bernapas kembali.
"Ma, Mama... bangun, Ma. Mama nggak apa-apa. Tolong, bertahan ya, Ma."
Ia meletakkan kembali tubuh Mamanya ke lantai dengan sangat hati-hati. Dengan langkah limbung, ia menyambar telepon rumah dan menekan nomor darurat rumah sakit pusat di Jakarta dengan jari yang gemetar tak terkendali.
Begitu nada sambung pertama terjawab, Fraya langsung memekik. Suaranya pecah, meluncurkan alamat rumahnya dengan nada yang nyaris histeris.
"Tolong ibuku, cepat. Tolong segera kirimkan ambulan kerumahku. Ibuku pingsan, butuh bantuan. Tolong segera bantu ibuku."
...°°°°°...
Port Meadow adalah hamparan padang rumput kuno di utara Oxford yang seolah tidak tersentuh waktu.
Selama lebih dari empat milenium, tanah ini menolak untuk tunduk pada pembangunan, tetap menjadi lahan penggembalaan paling autentik di Inggris.
Ke sanalah Damian membawa Fraya hari ini. Di dalam mobil, Fraya memegang teguh prinsipnya untuk bungkam. Ia menutup rapat akses komunikasi, membiarkan keheningan yang tegang mengisi ruang di antara mereka sepanjang perjalanan.
Damian memarkir mobil di sudut pelataran yang sunyi, di bawah naungan rimbun pohon yang tidak jauh dari hamparan rumput. Belum sempat Damian melepas sabuk pengaman, Fraya sudah lebih dulu turun dan membanting pintu mobil dengan keras.
Namun, kekesalan Fraya seolah menguap begitu saja saat matanya menangkap pemandangan di depan. Padang rumput itu berwarna hijau keemasan, dengan ilalang yang menari rendah ditiup angin sejuk Oxford.
Di kejauhan, beberapa ekor sapi tersebar secara acak, menciptakan komposisi pemandangan yang begitu menenangkan.
Fraya merasa ditarik oleh daya magis tempat ini. Kemarahan yang tadi menggumpal di dadanya perlahan meluruh, digantikan oleh rasa takjub yang sulit ia sembunyikan.
"Kamu suka?" Suara Damian muncul dari balik punggungnya.
Meski mencoba terlihat santai dengan bahu tegap, Damian sebenarnya didera cemas. Menghadapi aksi diam Fraya sepanjang perjalanan adalah siksaan tersendiri baginya. Ia merasa kembali menjadi Damian yang minggu lalu—sosok yang harap-harap cemas hanya demi mendapatkan satu lirikan dari gadis di depannya ini.
Fraya masih bungkam, enggan memberikan Damian kepuasan dengan menoleh. Tapi matanya tidak bisa berbohong; ia terpesona.
"Kamu mau kasih makan sapi, tidak?"
Pertanyaan itu sukses menghancurkan tembok pertahanan Fraya. Ia bahkan nyaris terjerembab ke rumput saking kagetnya. Kekesalannya hilang seketika, digantikan oleh ekspresi tidak percaya.
"Kasih makan sapi? Kamu tidak salah bicara, kan?"
Damian terkekeh pelan sambil mengangguk.
"Memangnya kamu pikir pewaris kaya raya seperti aku tidak bisa membumi juga? Pilih saja satu sapi yang kamu suka, nanti aku minta Mr. Hansley siapkan pakannya."
Kepala Fraya rasanya seperti mau pecah.
Ia memandang Damian dari ujung rambut hingga ujung sepatu loafers kulitnya yang kini ternoda tanah padang rumput.
"Damian, kamu sedang tidak mabuk, kan, pagi-pagi begini?" Fraya bertanya dengan nada skeptis yang tidak mampu ia tutupi. "Maksudku, feeding cows? Itu sama sekali tidak ada dalam buku 'Hal-hal yang dilakukan seorang Damian Harding yang congkak' di kepalaku. Aku pikir hobimu itu cuma semena-mena mengatur hidup orang, mengoleksi mobil atau menghitung saham."
Damian tertawa lepas, sama sekali tidak tersinggung dengan rentetan kalimat sadis Fraya barusa. Dan tawanya merupakan jenis tawa yang membuat matanya menyipit dan membuat garis wajahnya terlihat jauh lebih manusiawi.
"Ekspektasi kamu ke aku terlalu rendah, Ace. Memangnya aku terlihat seperti orang yang hanya bisa memesan wagyu di restoran bintang lima tanpa tahu bentuk sapinya seperti apa?"
"You want me to be honest? Here's your answer: Yes, i don't believe anything you said just now," jawab Fraya ketus, tapi ada getaran geli yang gagal ia sembunyikan di sudut bibirnya.
"Ouch, Ace. You definitely hurt my feeling. Padahal aku sudah menyiapkan ini sebagai kompensasi karena sudah merusak harimu," Damian berpura-pura memegang dadanya seolah terluka secara emosional.
"Ayo, jangan berdiri di sana seperti tiang listrik. Nature doesn't bite, unless you're a jerk to it. Oh, itu Mr. Hansley."
Fraya mengikuti arah pandang Damian ke seorang pria paruh baya bertubuh gemuk yang sedang menuntun seekor kuda dengan gerakan tenang yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan alam selama puluhan tahun.
Pria itu tersenyum lebar pada Damian yang melambaikan tangan kearahnya. Dan saat pria bermata penuh keramahan itu menghampiri mereka, ia menjabat tangan Damian dengan keakraban yang tampak tulus dan hangat.
"Lihat lah, bocah kecilku sudah tampak dewasa sekali. Kamu sudah tumbuh besar, dan sangat rupawan, Nicholas," ujar pria itu.
Fraya menoleh cepat, alisnya bertaut.
"Nicholas?"
Damian hanya mengangguk samar dengan senyumnya yang sempat surut sesaat, ada kilat tipis di matanya saat mendengar nama tengahnya disebut.
"Ace, Mr. Hansley ini orang kepercayaan keluargaku yang mengelola tanah ini sejak lama. Dia sudah melihatku sejak aku masih lebih pendek dari pagar itu, mungkin saat aku masih menangis kalau tidak dibelikan es krim."
Fraya menyunggingkan senyum ramah saat menjabat tangan pria itu.
"Nice to meet you, Sir. Nama saya Fraya Alexandrea."
"What a beautiful name you have, just like your face. The pleasure is all mine, young lady. Call me Freddie," jawab pria itu sebelum melirik Damian dengan tatapan penuh arti yang membuat Damian sedikit salah tingkah.
"Jadi, inilah yang akhirnya akan kamu kenal kan ke Monica? I must say, you have an excellent taste."
Fraya bisa melihat daun telinga Damian memerah samar—sebuah anomali yang sangat memuaskan untuk disaksikan. Damian buru-buru menepuk udara, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum Freddie membongkar lebih banyak rahasia masa kecilnya.
"Freddie, Monica sudah siap, kan?"
"She’s ready. Dia sudah menunggu di sisi pagar," Freddie terkekeh.
Sambil berjalan menuju seekor kuda cokelat besar yang tampak anggun, Damian melirik Fraya yang masih tampak ragu.
"Kamu tahu kenapa aku menamainya Monica?"
"Kenapa? Mantan pacarmu waktu di taman kanak-kanak yang gagal kamu lupakan?" tebak Fraya asal, berusaha tetap terdengar sinis meski hatinya sebenarnya mulai melunak tanpa mau dia akui.
"Bukan. Karena dia punya selera yang sangat tinggi, keras kepala, dan suka mengatur, persis seperti seseorang yang aku kenal." Damian menatap Fraya dengan tatapan yang sangat intens hingga Fraya harus memalingkan wajah.
"Kalau kamu bermaksud menghinaku, kamu gagal total, Damian," balas Fraya, mencoba menenangkan debar jantungnya.
"Siapa yang bilang itu kamu? Aku hanya bilang 'seseorang'. Kalau kamu merasa, ya berarti itu pengakuan," Damian terkekeh, lalu dengan gerakan yang terasa sangat natural, ia meraih tangan Fraya, membuat gadis itu sempat terkesiap walaupun hanya sesaat.
Jemari Damian yang hangat membimbing tangan Fraya untuk menyentuh moncong Monica yang lembut.
Fraya sempat ingin menarik tangannya, namun ia tertegun saat merasakan napas hangat kuda itu berhembus di kulitnya.
Damian tidak melepaskan tangannya. Ia justru berdiri tepat di belakang Fraya, menciptakan semacam benteng yang membuat Fraya merasa aman disana.
"Lihat, kan? Dia langsung suka kamu. Baru kali ini aku bisa sangat cemburu dengan seekor kuda karena di tatap se mesra itu sama kamu." bisik Damian.
Fraya hanya terdiam, walaupun jantung sialannya mulai berulah lagi.
Ia masih gondok, masih merundung, masih merasa Damian adalah pria paling menyebalkan yang pernah ia temui sejak ia menginjakkan kaki di Inggris. Namun, tak ayal, di bawah langit Oxford dan di samping pria yang rela membolos hanya untuk menunjukkan sisi rapuhnya, Fraya sadar pertahanannya sedang mengalami total collapse.
...°°°°...
Di sisi lain, Axel barusaja mematikan puntung rokoknya yang entah sudah keberapa ia hisap hari ini.
Sedetik kemudian, pintu ruang rekreasi terbuka, menampakkan seorang gadis bertubuh tinggi dengan postur bak model catwalk yang baru saja turun dari panggung Milan Fashion Week.
Senyumnya secerah matahari. Senyum yang gadis itu tahu, selalu menggetarkan setiap insan yang menatap kehadirannya yang begitu kontras menerangi ruangan.
"Hey you!" Axel berseru kelewat senang. Ia menghampiri Alana Highmore dan merengkuhnya dalam pelukan erat dan memutar tubuh yang lebih mungil dalam kedua tangannya.
"I fucking miss you, Rosewood." Alana, gadis dengan warna rambut seterang bulan purnama itu memekik bahagia saat melepas pelukan.
"I know, right? How long has it been? Enam bulan, dua minggu, sepuluh hari, tujuh jam. Begitulah waktu yang kamu habiskan buat menghilang dari radar Milford Hall, Alana."
Alana tertawa lepas, suaranya terdengar renyah namun tetap memiliki nada otoritas. "Stop that nonsense, Rosewood. Milan Fashion Week butuh sedikit sentuhan tangan ajaib Highmore Inc, makanya aku harus tinggal lebih lama disana."
Kegembiraan Alana mencapai puncaknya saat Louis dan Russo muncul dari balik pintu ruang rekreasi. Sedetik penuh keterkejutan mereka, Alana langsung menerjang Louis dan Russo kedalam sebuah pelukan yang disambut dua cowok itu dengan gembira.
Atmosfer ruangan itu kemudian menjadi sangat ramai sekaligus heboh saat mereka saling bertukar cerita tentang pesta-pesta di Eropa dan proyek fashion terbaru Alana yang sedang ia garap.
Namun, radar Alana yang tajam segera menangkap sesuatu yang hilang dari formasi mereka. Matanya berpendar lagi ke seluruh ruangan, lalu dengan tidak sabar ia melempar pertanyaan yang sejak tadi menjadi ganjalan dalam hatinya.
"Ngomong-ngomong, Nicholas dimana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Alana.
Russo dan Louis mendadak langsung bungkam sambil bertukar pandang, sebuah reaksi anomali yang jarang sekali terjadi.
Sedangkan Axel hanya bersedekap, menatap Alana dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dadanya membusung sombong, keangkuhan yang membuat banyak orang segan dengan Axel.
"Ada apa? Nicholas sakit?" Alana mengulang pertanyaan, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Louis berdeham, mencoba mencari diksi yang paling aman untuk meredam ledakan yang ia tahu akan segera datang. "Damian hari ini tidak masuk sekolah. Tapi bukan karena sakit."
Alana mengerutkan kening. "Lalu? Jangan bilang dia tertahan di London karena urusan bisnis ayahnya."
"Bukan," Axel menyela dengan suara datar, "Dia sedang bersama kekasihnya."
Keceriaan di wajah Alana sejak tadi hilang seketika, digantikan oleh kekosongan yang membeku sampai membuat setiap sisi wajahnya terlihat kaku.
"Girlfriend? What do you mean girlfriend? He has a girlfriend now? You guys got to be fucking kidding me, right!?"
Atmosfer hangat di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat tegang, seolah oksigen ditarik keluar secara paksa.
Louis Partridge mencoba menengahi, "Damian memang sudah punya pacar, Alana. It’s serious this time."
Napas Alana mulai memburu. Baginya, Damian adalah konstanta mutlak dalam hidupnya. Sebuah aset yang tidak boleh dimiliki orang lain. Hanya milik Alana seorang sejak mereka terlahir ke bumi.
Ia menjatuhkan diri ke sofa, matanya memancarkan rasa kecewa yang berujung pada kemarahan murni.
"Siapa namanya?" tanya Alana, rendah dan tajam.
Louis dan Russo saling lempar pandang, lalu bersamaan mereka menatap Axel yang masih bergeming. Louis menatap tajam Axel, berusaha melemparkan kode tanpa kata dengan gelengan kepala agar temannya itu tidak perlu harus memperburuk keadaan.
Tapi Axel jelas saja tidak peduli. Ia tidak merasa perlu menyembunyikan kebenaran yang pahit itu untuk seseorang yang kehadirannya sudah Axel nantikan selama beberapa bulan ini.
"Fraya. Namanya Fraya Alexandrea."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit