Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perawatan
Hotel Cakrawala Prime berdiri megah menjulang ke langit, seolah-olah menertawakan debu-debu jalanan yang menempel di ransel dekil Yumna. Begitu pintu mobil terbuka, hawa dingin dari AC sentral langsung menyergap, membawa aroma bunga lili yang sangat mahal, tipe aroma yang membuat orang miskin mendadak ingin minta maaf karena sudah bernapas di sana.
"Silakan, Ibu Yumna. Tuan Evander sudah mengatur segalanya. Hari ini jadwal Anda dan keluarga adalah... restorasi total," ucap wanita modis bernama Clarissa, asisten kepercayaan Evander.
"Restorasi? Emangnya kami ini motor antik yang mau turun mesin?" celetuk Yumna sambil membetulkan letak tasnya.
Clarissa hanya tersenyum tipis, tipe senyum yang berkata 'Sabar, ini adalah tugas negara'.
"Maksud saya, perawatan spa dan grooming lengkap, Ibu. Agar di hari pernikahan nanti, aura Anda memancar sempurna."
Yumna, Ayah, dan Ibu digiring menuju area spa eksklusif di lantai atas. Tempat itu lebih mirip surga daripada salon. Air mengalir di dinding marmer, musik kecapi yang menenangkan berputar pelan, dan para terapis membungkuk hormat seolah-olah keluarga Yumna adalah keturunan bangsawan yang baru pulang dari pengasingan.
"Ibu, silakan masuk ke ruangan ini untuk lulur emas dan mandi susu. Bapak akan kami beri perawatan facial oksigen dan pijat refleksi premium," jelas Clarissa.
Satu jam kemudian, suasana spa yang harusnya elegan berubah menjadi simfoni yang tidak beraturan.
Grok... groook... pfft... grok!
Suara dengkuran Ayah bergema dari bilik pijat pria. Sang terapis yang sedang memijat kaki Ayah hanya bisa menahan napas, mencoba tetap profesional meski Ayah mendengkur dengan vibrasi yang cukup untuk menggetarkan gelas kaca di atas meja.
Di ruangan sebelah, Ibu tak jauh beda. Saat wajahnya ditutup masker lumpur dari Laut Mati, Ibu langsung terlelap dalam hitungan detik. "Aduh, Mbak... empuk banget kasurnya... kayak tidur di atas awan kinton..." igau Ibu sebelum akhirnya ikut menyumbang suara ngorok yang lebih halus namun berirama.
Yumna sendiri awalnya mencoba untuk tetap sadar. Ia ingin menikmati sensasi mandi susu yang katanya bisa bikin kulit seputih porselen. Tapi, karena semalam kurang tidur gara-gara memikirkan nasib dan menangisi katering ayam bakar, pertahanannya runtuh.
Saat terapis mulai memijat kepalanya dengan minyak esensial, Yumna pun tumbang. Ia bermimpi sedang makan cilok di atas awan bersama seorang pria yang wajahnya mirip Evander, tapi versi Evander yang sedang jualan cilok sambil tersenyum manis.
Tiga jam kemudian, mereka keluar dari area spa dengan wajah yang sangat mengilap. Kulit mereka begitu bersih dan licin sampai-sampai lalat mungkin akan terpeleset jika mencoba hinggap di dahi mereka.
"Wah, Yah... muka Ayah jadi kayak artis sinetron tahun 90-an ya. Kinclong!" puji Ibu sambil meraba pipinya sendiri yang terasa kenyal.
"Ibu juga, jadi mirip Nyonya Besar. Tapi itu tadi, Ayah denger ada suara mesin disel di dalem, ternyata suara ngorok Ayah sendiri ya?" Ayah tertawa malu-malu sambil membetulkan kerah batiknya.
Yumna menguap lebar. "Ayo kita ke kamar. Yumna mau lanjut tidur di kasur yang katanya harganya seratus juta itu."
Namun, saat mereka melintasi area lobi utama yang luas menuju lift khusus penghuni suite, langkah Yumna mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena cinta. Ini adalah detak jantung kemarahan.
Di depan meja resepsionis, berdiri dua orang yang sangat ia kenali. Desta dan Cindy.
Desta tampak mengenakan kemeja bermerek yang mungkin dibelikan oleh Cindy, sementara Cindy tampil mencolok dengan tas Hermes yang ditenteng di lengannya. Mereka baru saja menyelesaikan proses check-in.
"Lho? Yumna?" Desta menoleh, matanya membelalak melihat mantan tunangannya berdiri di sana bersama orang tuanya.
Cindy ikut menoleh. Ia langsung menyilangkan tangan di dada, menatap keluarga Yumna dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina. "Astaga... pengemis dari mana ini? Kok bisa masuk ke lobi hotel bintang lima? Satpamnya lagi tidur ya?"
Wajah Ibu Yumna langsung memerah. "Apa kamu bilang?! Kami ke sini bukan mau mengemis ya! Kami ini tamu!"
Cindy tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat merendahkan. "Tamu? Di sini? Aduh, Ibu... denger ya. Hotel ini sudah di-booking hampir seluruh lantai atasnya untuk keluarga besar Moreno. Kakakku yang hebat, Evander Sky Moreno, mau menikah. Kalian mending buruan keluar sebelum diusir paksa sama petugas keamanan. Jangan merusak pemandangan di sini."
Desta ikut menimpali dengan nada sinis. "Iya, Yumna. Ngapain kamu bawa orang tuamu ke sini? Mau minta sumbangan karena pernikahan kita batal? Atau mau cari simpati? Udahlah, sadar diri. Tempat ini nggak level buat orang kayak kalian."
Yumna mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali menyiramkan air Evian yang ia bawa ke wajah Desta yang sok ganteng itu. Tapi ia teringat pesan Evander: Jadilah ratu, bukan pecundang.
"Kami di sini karena ada urusan, Desta. Kamu nggak perlu tahu," jawab Yumna setenang mungkin, meski bibirnya gemetar.
"Urusan apa? Mau jadi pelayan di acara pernikahan Kak Evander?" Cindy mengejek lagi. "Dengar ya, pernikahan Kakakku itu acara paling eksklusif tahun ini. Bahkan kakekku, Kakek Moreno, sampai datang dari luar negeri saking penasarannya."
Cindy beralih menatap Desta dengan manja. "Sayang, kamu tahu nggak? Sampai sekarang Kak Evander merahasiakan siapa calon istrinya. Nggak ada satu pun orang kantor atau keluarga yang tahu identitas perempuan itu. Kakek juga kepo banget, tapi siapa sih yang berani bertanya atau kepo sama Kak Evander? Bisa-bisa dipecat dari silsilah keluarga sebelum sempat dijawab."
Desta mengangguk-angguk setuju. "Iya, aku juga dengar. Bos besar itu benar-benar tertutup. Pasti calon istrinya bukan orang sembarangan. Minimal anak konglomerat atau model internasional. Nggak mungkin lah orang kayak..." Desta melirik Yumna dengan hinaan yang nyata. "...orang kayak kamu."
Ibu Yumna sudah hampir meledak dan ingin melemparkan tas jinjingnya ke arah Cindy, tapi Yumna menahan tangan Ibunya.
"Sudahlah, Bu. Nggak usah diladeni. Sampah memang tempatnya di bawah," ucap Yumna dingin.
"Apa kamu bilang?!" Cindy meradang. "Kamu berani ngatain aku sampah?!"
"Cuma sampah yang suka ngambil barang bekas orang lain, kan?" Yumna membalas dengan senyum miring yang sangat memuaskan. "Ayo Yah, Bu. Kita naik. Capek meladeni orang yang nggak punya etika."
"Heh! Kalian mau ke mana?! Lift itu cuma buat tamu VIP!" teriak Desta saat melihat Yumna dan keluarganya berjalan menuju lift khusus yang dijaga ketat.
Namun, yang membuat Desta dan Cindy hampir jatuh pingsan adalah saat petugas keamanan yang tadinya kaku, tiba-tiba membungkuk sangat dalam saat Yumna mendekat.
"Selamat siang, Ibu Yumna. Silakan, lift sudah kami siapkan," ucap petugas itu dengan sopan.
Yumna masuk ke dalam lift, diikuti Ayah dan Ibu yang mendadak bergaya angkuh. Sebelum pintu lift tertutup, Yumna menatap Desta dan Cindy yang masih melongo di lobi dengan mulut terbuka lebar.
"Nikmati waktu kalian di lobi ya. Hati-hati, AC-nya dingin, nanti masuk angin," ucap Yumna sambil melambaikan tangan dengan elegan saat pintu lift perlahan menutup.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...