Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.
"Aku akan menikahi Gauri."
~ Devan Valtor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan berangkat
"Devan juga ikut? Ya ampun, ini gak mimpi kan?! Aku pikir Gino aja."
Ella, salah satu alumni SMA yang sekelas dengan Devan cs bersorak gembira. Mereka sedang berada di rumah ketua penyelenggara liburan alumni. Ada Diana juga di sana. Tentu dia dengar.
"Gila, gila! Akhirnya setelah lebih dari enam tahun gak liat dia, kita bisa liat si ganteng Devan lagi! Gue masih gak percaya."
"By the way, kok bisa dia mau ikut? Karena si Gino maksa? Kayaknya gak mungkin deh."
"Mungkin emang lagi pengen liburan aja. Bisa aja kan dia lagi bosen mau ngapain, terus kebetulan banget alumni kita bikin program liburan." para wanita itu tak berhenti-berhenti mengucapkan nama Devan saking heran dan senangnya mereka dengar si mantan penjolan sekolah itu bakal ikut liburan.
"Din, gue denger Devan jadi guru di tempat lo ngajar ya?" Ella menatap Diana yang sejak tadi sibuk memilah snack di meja, pura-pura tak terlalu mendengar.
Diana berhenti sejenak, mengangkat wajahnya pelan.
"Iya… baru sebulanan." jawabnya singkat.
"HAH? Serius? Jadi tiap hari lo ketemu dia? Ya ampun, hidup lo enak banget!" seru Mila sambil menepuk bahu Diana, membuat wanita itu hanya bisa tersenyum canggung.
Ella langsung duduk mendekat.
"Lo ngeliat dia berubah nggak? Masih cool? Masih jago banget matematika? Masih nggak suka ngomong sama orang, masih ..."
"Devan masih sama kok. Gak berubah." balas Diana tersenyum. Dia memposisikan dirinya sebagai wanita pendiam dan berkelas di antara teman-teman wanitanya.
Padahal mereka tidak tahu saja kalau dia sampai harus ambil pinjaman di Shopee pinjam cuma gara-gara baca di grup sudah rame Devan mau ikut liburan. Diana memang lagi tidak ada duit, duitnya sudah dia habiskan belanja pakaian keluaran terbaru. Dia bukan terlahir dari anak orang kaya, hanya di kira saja dia kaya karena memakai barang-barang bermerek.
Aslinya, semua barang-barang itu hasil dia menabung mati-matian dari gaji bulanannya, berburu diskon, bahkan beberapa hadiah dari orang-orang yang dulu pernah dekat dengannya. Tapi teman-temannya tak perlu tahu itu. Mereka terlanjur percaya bahwa dia anak orang kaya. Dan hal itulah yang membuatnya di terima di circle mereka.
"Eh, si Agam gak ikut?" Sari, penggemar berat Agam angkat suara.
"Nggak. Gue denger dia sibuk banget, gak bisa ikut. Maklum, profesi dokter tuh hampir gak ada liburnya."
"Oh, padahal gue pengen banget liat dia."
Sari kecewa.
"Ya udah lah, yang penting Devan sama Gino ikut. Itu aja udah bikin liburan ini naik level," celetuk Mila sambil merapikan poni dan mematut diri di cermin kecil yang ia keluarkan dari tas.
Diana hanya tersenyum kecil, meski hatinya berdebar tak karuan. Mendengar nama Devan berkali-kali membuatnya makin tidak sabar menunggu hari liburan mereka. Dia bisa cari perhatian pria itu bukan di hari kerja. Karena hari kerja, pria itu selalu cuek padanya. Mungkin Devan akan lebih banyak bicara dengannya kalau bertemu di luar sekolah.
Aku harus tampil agar di lirik Devan.
Ucapnya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya, pagi-pagi sekali Devan sudah berada di apartemen Agam untuk menjemput Gauri. Ia mengenakan setelan santai yang jarang dilihat orang lain, kaos abu muda sedikit oversized, jaket tipis warna navy, dan celana chino hitam yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari sosok 'guru killer' yang dikenal murid-muridnya. Rambutnya yang biasanya disisir rapi kini sedikit berantakan alami, justru membuatnya terlihat lebih approachable.
Ketika memasuki apartemen Agam, Gauri keluar dengan dress pink selutut yang memberikan kesan manis sekali. Gadis itu memang masih muda sekali, dan wajahnya sangat manis. Matanya seperti boneka, membuat laki-laki mana saja yang lewat akan berhenti sebentar hanya untuk menatapnya.
Devan tersenyum, Gauri segera berlari padanya begitu melihatnya. Tangannya memeluk boneka beruang pemberian Devan dua minggu lalu.
"Kakak ganteng!"
Devan mengusap lembut rambut Gauri begitu gadis itu berhenti di depannya.
Ares yang tengah membantu mengemasi barang-barang Gauri ke dalam koper besar miliknya ikut menatap ke Devan. Sahabat kakaknya itu masuk sendiri karena sudah tahu password apartemen. Agam lagi sibuk sekali hari ini, jadi hanya ada Ares yang membantu Gauri packing pakaian dan beberapa barang gadis itu. Gaya Ares sudah seperti pengasuhnya Gauri saja. Devan bahkan heran melihat koper super besar yang di dorong Ares keluar dari kamar Gauri.
"Pagi bang." sapa Ares.
"Pagi." balas Devan. Pandangannya tak lepas dari koper di tangan Ares. Seolah tahu arti tatapan itu, Ares terkekeh kecil dan angkat suara.
"Aku udah bujuk dia bawa koper yang kecil aja karena perginya tiga hari doang, tapi dia gak mau bang. Maunya yang ini karena bisa isi bonekanya."
Ares memiringkan kepalanya, menatap Gauri yang berdiri sambil menggendong boneka beruang dengan wajah tak berdosa. Devan ikut tertawa, tidak mengeluhkan besarnya koper itu. Tangannya kembali memegang kepala Gauri.
"Gauri sudah siap?" tanyanya. Gadis itu langsung mengangguk kuat.
"Ya sudah, ayo."
"Ayo!"
Tangan kiri Devan meraih tangan Gauri, tangan kanannya mengambil koper milik Gauri tapi Ares dengan cepat menawarkan biar dia yang bawa sampe tempat Devan di parkir.
"Biar aku aja bang." bahkan sebelum Devan menolak, Ares sudah keluar dari apartemen lebih dulu. Devan pun berjalan sambil menggenggam tangan Gauri. Gadis itu tampak begitu riang, dan Devan senang melihatnya.
Sesampainya di bawah, Gauri langsung masuk sendiri ke mobil Devan. Ia sudah terbiasa naik mobil pria itu walaupun pake seatbelt-nya tetap di pakein sama Devan.
"Gauri, inget, jangan nakal-nakal di sana ya. Harus terus sama bang Devan atau bang Gino. Gak boleh makan permen terlalu banyak, jangan gampang percaya sama orang ba ..."
"Ih, Ares cerewet banget sih!" seru Gauri kesal. Wajah cemberutnya persis anak-anak.
"Itu kan buat kebaikan kamu juga. Ini pertama kalinya kamu pergi beberapa hari dari aku sama bang Agam. Harus dengar-dengaran sama bang Devan ya di sana."
Gauri segera menutupi telinganya nggak mau dengar lagi. Ares tertawa kecil dan mencubit pipinya.
"Bang, kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin ya. Ini pertama kalinya Gauri liburan semenjak dia sakit."
Devan tersenyum menganggukkan kepala. Ponselnya sudah bergetar berkali-kali sejak tadi. Pasti Gino. Mereka semua sudah sepakat kumpul di bandara jam 8 pagi.
"Kami pergi dulu." ucap Devan. Ares melambaikan tangan. Setelah mobil Devan mulai bergerak barulah Gauri melambai kencang ke Ares.
Mobil melaju pelan meninggalkan halaman apartemen. Gauri masih menempelkan wajahnya ke jendela, melambai sampai sosok Ares tak terlihat lagi.
Begitu Ares hilang dari pandangan, gadis itu memutar badan dan menatap Devan dengan mata berbinar.
Semangat berkarya Mae, semoga makin banyak lagi kisah² bagus & seru yang diciptakan.
🥰🥰🥰💕💕💕
Gauri mau kasih kejutan romatis untuk Devan - sambil memberitahu kalau dirinya hamil.
Tak tahunya Devan menemukan test hasil tes kehamilan Gauri.
Agam, Gino, dan Sari mendekati mereka berdua. Ikut senang dan bahagia.
Gino kapan melepas masa jomblonya, kalau sebentar lagi giliran Agam dan Sari.
Kebahagiaan untuk Devan dan Gauri bertambah dengan kedatangan Papa Devan dan mama tirinya. Keluarga besar Agam datang bersama Ares.
Gino selalu paling heboh berseru Gauri hamil ketika ada yang bertanya ada apa.
Semua bahagia.
Terima kasih Author ceritanya bagus. Sehat selalu dan Berkat melimpah dariNya.
Sari yang sejak tadi menunduk terkejut sampai tersedak ludah sendiri ketika Agam bertanya - kamu suka yang hangus juga.
Gino yang menjawab seperti menggoda Sari. Sari malu dan kesal dengan Gino.
Agam sepertinya juga ikut menggoda Sari.
Jagung sudah mateng, Devan memberikan jangung untuk istri tercinta.
Sari yang baru melihat keromantisan Devan untuk istrinya, kaget ketika Agam menyodorkan jagung bakar yang sudah matang.
Ternyata Agam ada, sedang duduk di dekat bakaran jagung. Bersama Devan membakar jagung.
Gauri menarik Sari duduk di dekat bakaran. Menunggu suaminya dan Agam selesai membakar jagung.
Gino menikmati kekesalan Sari yang merasa dibohongi. Sambil merekam diam-diam.
Gino punya rencana untuk mendekatkan Sari dan Agam. Sari selalu curhat sama Gino kalau suka Agam.
Gauri pasti senang Sari datang.
Sari menolak diajak Gino - malu kalau ada Agam. Padahal Sari ingin sekali bertemu Gauri.
Gino heran Sari malu sama Agam.
Sari menceritakan kejadian yang memalukan semalam.
Gino tertawa keras sampai Sari kesal. Sudah pernah dibilangin Gino, kalau mabuk jangan sampai mabuk di depan laki-laki yang kau sukai.
Sari akhirnya mau dipaksa ikut Gino yang mengatakan Agam gak ada, lagi sibuk operasi.
Jadi berakhir mabuk, ngoceh fakta dirinya yang menyukai Agam. Lalu konser di depan Agam - menyanyi, lalu ngoceh yang bikin Agam tertawa lebih keras.
Sari benar-benar tak sadar sampai tidur di atas batu.
Cinta Sari terhadap Agam - cinta terpendam.
Sari senang ketika melihat Agam bahagia. Ikut sedih ketika melihat Agam sedih.
Sari diantar Agam pulang ke rumahnya.
Agam merasa terhibur - oleh ulah Sari yang mabuk.
Agam ketawa melihat adegan itu walau tak tahu perempuan itu bicara apa pada kucing.
Agam menepikan mobil - pintu di buka, suara perempuan itu makin jelas. Baru tahu perempuan itu Sari.
Sari berteriak melengking suaranya sebut nama Agam. Sampai kucing kabur.
Melihat Sari berjalan sempoyongan ke arahnya, Agam tahu Sari mabuk.
Dalam kondisi mabuk, Sari jujur bicaranya di depan Agam. Ada kata-kata yang bikin Agam tertawa kecil.
Sari mendengar dari Nino tentang penyebab kecelakaan keluarga Gauri, Sari jadi sedih. Sari merasa malu dan merasa bersalah.
Gauri resmi ambil alih perusahaan. Gauri merasa masih muda, menyerahkan pada Devan untuk ambil alih.
Rena tak mau jatuh miskin, dia kini berada di ruangan Gauri dan Devan. Memohon untuk dikasihani.
Enak saja - Rena minta Ibnu tidak di penjara, jangan ambil sahamnya. Widiiiih nglunjak ini Rena, maunya saham diberikan dirinya dan mamanya.
Rena diingatkan Devan - masih punya hutang maaf pada istrinya.
Bagi Gauri maafnya Rena terlambat.
Saham itu milik ayah Gauri, jadi sekarang milik Gauri.
Rena di tarik keluar dua bodyguard keluar ruangan.
Bukti-bukti kejahatan Ibnu sudah berada di tangan kuasa hukum Gauri - Andra Pradipta. Andra sudah membuat laporan resmi.
Ibnu masih saja menyalahkan Gauri. Menghina Gauri pula.
Setelah semua keluar ruangan, kini tinggal Gauri dan Devan.
Gauri tak kuasa membendung air matanya - menangis.
Betapa sedihnya Gauri ketika melihat video - Ibnu sengaja memotong rem mobil yang akan di kendarai papa, mama, kakak, juga dirinya. Kecelakaan terjadi, Gauri sendiri yang masih hidup.