Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesaksian dari Liang Lahat
Enam bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Wren mereda, namun udara di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hari ini terasa lebih berat dari biasanya. Devan Altair Wren duduk di kursi saksi dengan setelan hitam legam. Wajahnya tampak lebih tirus, gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di sana, namun matanya memancarkan ketenangan yang mematikan.
Di balik jeruji besi ruang sidang, Kakek Wren duduk dengan kursi roda, tampak renta namun tatapannya masih penuh kebencian. Di sebelahnya, Liliana tertunduk lesu dengan seragam oranye, kecantikannya yang dulu ia agungkan kini memudar di balik tembok penjara.
Namun, fokus Devan bukan pada mereka. Matanya tertuju pada bangku penonton baris ketiga. Di sana, Arabella duduk dengan anggun, mengenakan blus putih tulang. Ini adalah pertama kalinya mereka berada di satu ruangan yang sama setelah enam bulan komunikasi mereka hanya sebatas laporan hukum via email.
"Saudara saksi," suara Hakim Ketua memecah keheningan. "Kami telah meninjau bukti rekaman suara dan dokumen uji coba kimia yang Anda serahkan. Namun, ada satu berkas terakhir yang baru saja diserahkan oleh pihak kurator peninggalan almarhum Tuan Reese, ayah dari istri Anda. Apakah Anda bersedia memberikan tanggapan?"
Devan mengerutkan kening. "Saya bersedia, Yang Mulia."
Seorang petugas pengadilan menyerahkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit yang sudah usang kepada Devan. Saat Devan membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah buku harian ayahnya yang selama ini disembunyikan oleh Ayah Ara.
"Silakan baca halaman 142, Dokter Devan," perintah Hakim.
Devan membacanya dengan suara bergetar yang menggema di seluruh ruang sidang.
"12 Juni 2006. Aku tahu mereka akan datang malam ini. Ayahku (Kakek Wren) tidak akan membiarkan istrinya sendiri membongkar skandal limbah itu. Aku sudah meminta bantuan Reese untuk menyembunyikan botol sampel asli. Jika sesuatu terjadi padaku dan istriku malam ini, Reese tidak membunuh kami. Dia justru menyelamatkan satu-satunya harapan kami: putra kami, Devan."
Suasana sidang mendadak riuh. Ara menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras.
"Lanjutkan, Saudara Saksi," ucap Hakim tegas.
Devan menarik napas panjang, matanya kini tertuju pada Kakeknya yang mulai gelisah.
"Reese dipaksa untuk menyuntikkan zat itu oleh pasukan bayaran ayahku. Tapi Reese sengaja mengganti dosisnya dengan penenang agar kami tidak merasa sakit saat ajal menjemput. Dia melakukan itu sambil menangis, memohon ampun padaku. Dia bukan pembunuh. Dia adalah orang yang paling terbeban oleh dosa keluarga Wren demi melindungi istrinya yang sedang hamil—Arabella."
"CUKUP!" Kakek Wren tiba-tiba berteriak dari kursi rodanya. "Itu hanya tulisan pria lemah yang tidak tahu cara menjalankan bisnis!"
"Diam, Terdakwa!" bentak Hakim sambil mengetuk palu.
Devan menutup buku itu perlahan. Ia menoleh ke arah Ara. Selama ini, ia mengira Ayah Ara adalah eksekutor yang berkhianat. Ternyata, pria itu adalah seseorang yang memikul beban rahasia mengerikan demi memberikan kematian yang lebih "tenang" bagi orang tua Devan di bawah todongan senjata.
Sidang diskors selama tiga puluh menit. Di koridor pengadilan yang sunyi, Devan berdiri menyandar pada pilar besar. Langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat.
"Mas..."
Devan menoleh. Ara berdiri di sana, matanya merah karena tangis.
"Kau baru saja membersihkan nama ayahku sepenuhnya di depan hukum," bisik Ara. "Semua rahasia itu... semua kebencian yang kau simpan untuknya... ternyata dia justru mencoba melindungimu."
"Aku tahu, Ra," Devan menunduk, tangannya gemetar. "Selama enam bulan ini aku terus mencari alasan untuk membenci ayahmu agar rasa bersalahku padamu sedikit berkurang. Tapi ternyata... aku tetaplah pihak yang paling berhutang. Ayahmu menyelamatkan jiwaku malam itu, sementara aku menyiksa putrinya selama lima tahun."
"Mas, lihat aku," Ara menyentuh lengan Devan perlahan. Devan tidak lagi menghindar, namun ia juga tidak berani membalas sentuhan itu. "Sidang ini sudah selesai. Kakekmu tidak akan pernah keluar lagi. Liliana akan membusuk di sana. Dendam itu sudah mati, Mas."
"Tapi luka itu masih ada, kan?" Devan menatap Ara dengan tatapan yang sangat jujur. "Ara, selama enam bulan ini aku belajar untuk hidup tanpa mengaturmu. Aku belajar bahwa mencintai bukan berarti memiliki. Dan hari ini, saat aku membaca buku itu... aku sadar bahwa aku tidak pantas memintamu kembali."
"Kenapa?"
"Karena kebahagiaanmu adalah utang yang tidak akan pernah bisa kubayar lunas, bahkan jika aku memberikan seluruh hidupku," Devan tersenyum pahit. "Alaska masih menunggumu di luar? Dia menjemputmu?"
Ara menggeleng pelan. "Aku datang sendiri, Mas. Dan aku akan pulang sendiri. Seperti yang kukatakan dulu, aku tidak memilih di antara kalian. Tapi..."
Ara menggantung kalimatnya, menatap lurus ke mata Devan.
"Tadi, saat kau bersaksi, aku tidak melihat Dokter Forensik yang dingin. Aku melihat suamiku yang dulu pernah berjanji akan menjagaku. Jika pintumu benar-benar tidak pernah terkunci lagi... mungkin suatu hari nanti aku akan mampir. Bukan sebagai istri yang tertindas, tapi sebagai wanita yang ingin mengenal kembali pria di depanku ini."
Harapan kecil meledak di dada Devan, namun ia tetap menahan diri. Ia hanya mengangguk pelan. "Pintunya akan selalu terbuka, Ara. Meski kau hanya datang untuk mengambil sisa barangmu, atau hanya untuk memastikan aku masih bernapas."
Taksi Ara datang. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menoleh sekali lagi. "Selamat atas keadilanmu, Mas Devan. Kau akhirnya bebas dari Kakekmu. Sekarang, belajarlah untuk bebas dari rasa bersalahmu sendiri."
Devan berdiri di tangga pengadilan, memperhatikan mobil Ara yang menjauh. Di sakunya, ia menggenggam buku harian ayahnya. Perang hukum memang berakhir hari ini, tapi perjuangan untuk memenangkan kembali hati Ara... baru saja dimulai di babak yang paling jujur.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/