Slamet, seorang pengangguran yang hobi main game dan punya utang pinjol (pinjaman online) di 12 aplikasi berbeda, saking frustasinya, dia mencoba melakukan ritual pesugihan yang dia temukan di grup Facebook "Cepat Kaya Tanpa Kerja".
Bukannya dapat emas setumpuk, Slamet malah salah kirim sesajen. Dia malah melakukan kontrak kerja dengan Koperasi Makhluk Halus Nasional. Ternyata, dunia ghaib sedang mengalami krisis eksistensi karena manusia zaman sekarang sudah tidak takut setan (lebih takut tagihan cicilan).Slamet tidak jadi tumbal, tapi dipekerjakan sebagai "Manager Citra & Viralitas" untuk hantu-hantu lokal supaya mereka bisa eksis lagi di TikTok dan menakuti manusia modern. Komedinya muncul dari Slamet yang harus mengajari Kuntilanak cara skincare-an biar nggak kusam saat live streaming, atau Pocong yang minta dicarikan jasa lari maraton karena bosan lompat terus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesugihan Salah Sambung
Dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tapi dunia ini kelebihan orang yang kepepet. Slamet adalah definisi dari kategori kedua. Di kamarnya yang sempit, yang baunya campuran antara sisa mi instan semalam dan keputusasaan, Slamet menatap layar HP-nya dengan tatapan nanar.
Notifikasi dari aplikasi 'Dana Kilat' muncul seperti rentetan tembakan AK-47: "Pinjaman Anda jatuh tempo hari ini! Bayar atau seluruh kontak Anda kami jadikan grup arisan tumbal!"
"Sialan," umpat Slamet. "Gue cuma pinjam dua juta buat benerin motor, sekarang tagihannya jadi tujuh juta. Ini bunga atau biakan bakteri? Cepat banget gedenya!"
Slamet mengacak rambutnya yang sudah mirip sarang burung kucek stres. Dia sudah mencoba segala cara. Jual ginjal? Prosedurnya ribet, takutnya malah ginjalnya dihargai seharga token listrik sebulan. Kerja jadi ojol? Motornya saja masih ditahan di bengkel karena kurang bayar.
Akhirnya, di titik nadir kewarasannya, Slamet menoleh ke arah sebuah buku tua bersampul kain mori kusam milik kakeknya yang dulu dikenal sebagai 'orang pintar' di kampung.
Judulnya: *Panduan Praktis Memanggil Rezeki Lewat Jalur Belakang (Edisi Revisi).
Slamet membacanya dengan teliti. "Syarat: Ayam cemani, bunga tujuh rupa, dan niat yang tulus untuk tidak bekerja keras." Ayam cemani mahal, jadi Slamet menggantinya dengan ayam goreng tepung pinggir jalan yang kulitnya sudah agak gosong biar mirip-mirip hitamnya cemani, pikirnya. Bunga tujuh rupa juga dia ganti dengan kelopak mawar layu sisa pemakaman tetangga sebelah dan beberapa helai daun salam dari dapur ibunya.
"Wangi adalah kunci," gumam Slamet sambil menyalakan kemenyan curian.
Asap mulai mengepul, memenuhi kamar berukuran 2x3 meter itu. Slamet mulai merapalkan mantra yang ada di buku, tapi karena tulisannya banyak yang luntur kena tumpahan kopi, dia improvisasi.
"Wahai penunggu pohon beringin depan gang yang katanya paling sangar... saya Slamet. Saya nggak mau kaya raya mendadak kayak Sultan Andara, saya cuma mau utang pinjol saya lunas. Kalau perlu, tolong hack server aplikasi 'Dana Kilat' biar data saya hilang. Sebagai gantinya... terserahlah mau ambil apa, asal jangan nyawa saya. Saya belum sempat nikah, kasihan keturunan saya belum ada yang lahir."
Hening.
Satu menit berlalu. Lima menit berlalu. Hanya suara nyamuk yang lewat di kuping Slamet, seolah menertawakan kebodohannya.
"Tuh kan, setan aja pilih-pilih mau nolong orang," keluh Slamet. Dia hendak membereskan "sesajen" ekonomisnya itu untuk dimakan sendiri sebelum sebuah keajaiban atau bencana terjadi.
Layar HP Slamet tiba-tiba bergetar hebat. Layarnya berubah warna menjadi merah darah, lalu muncul logo sebuah koperasi yang sangat tidak asing: K.MN (Koperasi Makhluk-halus Nasional)**. Di bawahnya ada tulisan: *Status: Menghubungkan ke Admin Sektor Ghaib Regional Jakarta Timur.*
"Lho, kok lewat WA?" Slamet melongo.
Sebuah pesan masuk dari nomor +666:
[Halo, Slamet. Kami sudah menerima sinyal darurat Anda. Mohon maaf, divisi 'Pesugihan Emas Tiba-Tiba' sedang penuh antrean sampai tahun 2030 karena efek resesi global. Namun, kami punya lowongan di divisi 'Branding & Social Media'. Minat? Gaji: UMR (Upah Minimum Regional Ghaib) + Asuransi Santet.]
Slamet mengucek matanya. Dia pikir dia sedang berhalusinasi karena kurang gizi. Tapi pesan itu nyata. Di bawah pesan itu ada sebuah dokumen PDF berjudul 'KONTRAK_KERJA_TUMBAL_ADMIN.pdf'.
"Syarat dan Ketentuan: Calon pekerja wajib menyediakan materai sepuluh ribu satu lembar. Tanda tangan dilakukan di bawah pohon beringin depan gang pukul 00:00 WIB. Harap berpakaian rapi (kaos oblong dilarang, minimal kemeja flanel). Kegagalan menghadiri interview akan berakibat pada munculnya penampakan di dalam bak mandi selama 40 hari."
"Edan!" Slamet berteriak kecil. "Gue mau minta pesugihan, malah dikasih loker! Setannya beneran ikut arus modernisasi apa gimana?!"
Slamet melihat jam dinding. Pukul 23:45. Dia melihat ke arah laci mejanya, untungnya masih ada satu materai sisa pendaftaran bansos kemarin yang gagal total. Dengan tangan gemetar, dia menyambar kemeja flanel yang sudah tidak dicuci seminggu, menyemprotkan parfum refill bau melati (biar setannya merasa dihargai), dan berlari menuju pohon beringin yang terkenal angker itu.
Jalanan gang sudah sepi. Hanya ada satu lampu jalan yang hidup-mati seperti sedang mengalami sakaratul maut. Di bawah pohon beringin, suasana mendadak dingin. Bukan dingin yang sejuk, tapi dingin yang seolah-olah ada es batu yang diletakkan di tengkuk.
"Permisi... Paket?" Slamet mencoba melucu untuk menutupi ketakutannya yang sudah di ubun-ubun.
Tiba-tiba, dari balik bayangan pohon yang lebat, muncul sesosok pria tinggi besar. Tingginya hampir tiga meter, badannya berbulu hitam lebat, tapi yang membuat Slamet hampir pingsan bukan taringnya yang mencuat keluar, melainkan fakta bahwa makhluk itu memakai rompi kantor warna hijau neon dan memegang sebuah tablet iPad Pro terbaru.
"Slamet Sudjatmiko?" suara makhluk itu berat, seperti suara knalpot truk yang masuk ke dalam terowongan.
"I-iya, Pak... Eh, Mbah... Eh, Oom Genderuwo?"
Makhluk itu menghela napas, embusan napasnya bau kopi pahit. "Panggil saya Pak Gendut. Saya Head of Human Resources di KK.N. Kamu yang tadi kirim sesajen ayam goreng tepung dingin itu, ya? Tolong ya, Met, lain kali kalau niat nyogok ghaib itu ayamnya yang masih panas. Nyi Blorong tadi komplen, ayamnya alot kayak karet ban."
Slamet ternganga. "Anu, Pak... itu... budget saya terbatas. Jadi, ini beneran saya diterima kerja?"
"Zaman sekarang susah cari manusia yang nggak punya urat takut," kata Pak Gendut sambil mengotak-atik iPad-nya. "Manusia sekarang lebih takut saldo nol daripada takut sama saya. Jadi, kami butuh 'orang dalam' buat benerin citra hantu lokal. Anak-anak sekarang cuma takut sama hantu luar kayak Valak atau Annabelle. Pocong kita diketawain di TikTok. Kuntilanak kita malah dijadikan konten prank sama bocah kematian. Ini penghinaan terhadap kedaulatan alam sebelah!"
Pak Gendut menyodorkan iPad nya. "Tanda tangan di sini. Tempel materainya di layar, nanti diserap otomatis."
Slamet ragu sejenak. "Gaji saya... bisa buat bayar pinjol?"
"Kita sistemnya komisi. Satu manusia yang sukses kamu bikin nangis darah karena ketakutan, kamu dapet bonus. Kalau kamu bisa bikin satu hantu kita viral dan trending satu di Twitter tanpa dihujat netizen, utang kamu di 'Dana Kilat' saya yang beresin. Gimana? Deal?"
Slamet menatap materai di tangannya. Antara jadi gelandangan yang dikejar debt collector atau jadi manajer hantu yang mungkin nyawanya terancam setiap hari. Bagi Slamet, jawabannya jelas.
"Deal, Pak Gendut!" Slamet menempelkan materai dan menanda tangani layar iPad itu dengan jari gemetar.
Seketika, petir menyambar meski langit sedang cerah. Pohon beringin itu bergoyang hebat, dan Slamet merasakan sebuah tanda lahir berbentuk logo 'Verified' warna biru muncul di pergelangan tangan kirinya.
"Selamat, Met," Pak Gendut menyeringai, memperlihatkan taringnya yang mengkilap di bawah lampu jalan. "Tugas pertamamu dimulai besok pagi. Kamu harus bikin Pocong komplek ini berhenti nangis karena dia gagal nakutin anak kost sebelah gara-gara mukanya dibilang mirip guling laundry. Perbaiki visualnya, atau kamu yang saya jadikan guling gantinya."
Slamet menelan ludah. "Siap, Pak..."
Malam itu, Slamet pulang ke rumah bukan sebagai pengangguran lagi. Dia pulang sebagai satu-satunya manusia di dunia yang punya deskripsi pekerjaan paling absurd Konsultan Estetika Makhluk Halus.