Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30 Bayang-bayang kehancuran
Suara jangkrik di perbukitan Lombok selatan biasanya terdengar seperti simfoni yang menenangkan, namun malam ini, suara itu tertutup oleh deru kipas pendingin dari tiga buah laptop yang dipaksa bekerja melampaui batasnya.
Di dalam klinik kecil yang kini telah disulap menjadi pusat komando digital, cahaya biru dari layar monitor memantul di wajah Sekar dan Alvin.
Sekar baru saja menyerahkan micro-SD dari dalam kalungnya. Benda kecil itu nampak tidak berarti, namun di dalamnya tersimpan ribuan baris kode enkripsi dan data klinis yang bisa meruntuhkan imperium Von Hess Pharma dalam semalam.
Data itu adalah —kotak hitam— dari eksperimen serum biru—catatan tentang setiap kegagalan, setiap nyawa yang dikorbankan, dan setiap manipulasi genetik yang mereka sebut sebagai kemajuan medis.
"Data ini lebih dari sekadar asuransi, Sekar," gumam Alvin, jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang mengerikan. "Ini adalah bom atom digital. Steiner tidak hanya memberikanmu kunci penawar, dia memberikanmu seluruh denah kejahatan mereka."
Alvin bekerja dengan presisi seorang algojo. Ia tidak langsung menyebarkan data itu ke publik. Ia tahu Von Hess memiliki tim krisis yang bisa menghapus jejak digital dalam hitungan detik.
Alvin menggunakan teknik slow-burn. Ia mulai menyuntikkan data tersebut ke dalam sistem internal bursa saham Singapura, tempat merger Von Hess akan dilangsungkan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sekar, matanya tetap waspada pada monitor yang memantau pergerakan radar di teluk.
"Aku sedang menanam parasit di dalam sistem keuangan mereka," Alvin tersenyum licik, sebuah senyum yang memperlihatkan sisi gelap dari kecerdasannya. "Setiap kali saham mereka naik satu poin, satu dokumen malpraktik akan terunggah secara otomatis ke server para investor utama. Aku ingin mereka merasakan kepanikan yang perlahan. Aku ingin mereka melihat kekayaan mereka menguap tepat di depan mata mereka."
Sekar menatap Alvin. Ada rasa kagum yang bercampur dengan kengerian. Pria ini bisa menghancurkan sebuah perusahaan raksasa tanpa perlu melepaskan satu peluru pun.
"Kau benar-benar monster jika sedang berada di depan layar, ya?" sindir Sekar, mencoba mencairkan suasana.
Alvin tertawa kecil, meskipun wajahnya nampak sangat lelah. "Aku adalah monster yang kau pelihara, Dokter. Dan monster ini sedang sangat lapar."
Sementara orang-orang dewasa sibuk dengan perang digital, Arini duduk di sudut ruangan dengan buku gambarnya.
Kali ini ia tidak menggambar. Matanya terpejam, dan kepalanya sedikit miring, seolah-olah ia sedang mendengarkan frekuensi yang tidak bisa didengar manusia biasa.
"Ibu," panggil Arini lirih.
Sekar segera menghampirinya. "Ada apa, Arini? Kepalamu pusing lagi?"
Arini menggeleng. "Tidak. Tapi... ada suara dengungan di laut. Jauh sekali. Seperti suara lebah, tapi sangat besar."
Sekar menoleh pada Alvin. Alvin segera memeriksa radar maritimnya. "Tidak ada apa-apa di radar, Arini. Lautan bersih hingga sepuluh mil laut."
"Bukan di radar, Om Alvin," Arini menunjuk ke arah selatan, ke arah samudera Hindia yang gelap. "Suaranya datang dari bawah air. Seperti jantung yang berdetak cepat."
Alvin mengerutkan kening. Ia melakukan pemindaian frekuensi rendah (sonar). Seketika, sebuah titik merah muncul di layar, berkedip sangat cepat.
"Sialan," Alvin menggebrak meja. "Kapal selam tanpa awak. Mereka tidak mengirim tentara kali ini. Mereka mengirim mesin. Drone itu tidak terdeteksi radar permukaan karena bergerak di bawah lapisan termoklin."
"Mereka ingin meledakkan dermaga?" tanya Sekar, wajahnya memucat.
"Tidak. Drone jenis ini biasanya membawa sinyal jammer frekuensi tinggi atau gas saraf. Mereka ingin melumpuhkan seluruh desa sebelum mereka mendarat untuk mengambil Arini," Alvin segera meraih radio panggilnya. "Pak Wayan! Pak Wayan, segera evakuasi warga ke gua di perbukitan! Sekarang!
Suasana desa yang tenang seketika berubah menjadi kepanikan yang teratur. Para nelayan, yang sudah terlatih dari kejadian sebelumnya, segera bergerak membawa keluarga mereka menuju tempat persembunyian.
Alvin keluar dari klinik, memegang sebuah perangkat yang nampak seperti peluncur roket, namun ukurannya lebih kecil. "Ini adalahcElectromagnetic Pulse portabel. Jika Arini benar soal suara dengungan itu, drone itu akan muncul ke permukaan sekitar seratus meter dari dermaga untuk memancarkan sinyal."
"Kau akan menembaknya sendirian?" Sekar berdiri di sampingnya, memegang tas medis darurat.
"Dokter, tolonglah. Menembak mainan air adalah keahlianku saat liburan di Bahama," Alvin mencoba melucu, meskipun tangannya sedikit gemetar karena retak rusuknya belum sembuh total. "Sekarang, bawa Arini masuk ke dalam bunker di bawah klinik. Jangan keluar sampai aku bilang aman."
"Alvin, hati-hati," bisik Sekar.
"Selalu, Sekar. Selalu."
Saat Sekar menarik Arini masuk ke dalam bunker kecil di bawah lantai klinik, Arini tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Ia menatap ke arah bayangan pohon kelapa yang bergoyang hebat ditiup angin kencang.
"Ayah bilang, jangan gunakan lampu, Bu," bisik Arini.
Sekar membeku. "Apa?"
"Ayah berdiri di sana. Dia bilang, mesin-mesin itu mencari cahaya. Jika kita gelap, mereka buta."
Sekar segera menyadari apa yang dimaksud. Drone tersebut kemungkinan besar menggunakan sensor cahaya atau laser untuk mengunci target. "Alvin! Matikan semua lampu di dermaga! Matikan suar pelacaknya!" teriak Sekar dari balik pintu.
Alvin, yang berada di dermaga, segera menghancurkan lampu suar dengan gagang senjatanya. Seluruh pantai seketika menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya bintang yang samar.
Benar saja. Drone bawah air itu muncul ke permukaan, mengeluarkan sensor laser hijau yang menyapu seluruh garis pantai.
Namun, karena tidak menemukan sumber cahaya statis atau panas yang menonjol, drone itu nampak bingung, sensornya berputar-putar tak tentu arah.
"Terima kasih, Rahman," gumam Sekar di dalam kegelapan bunker.
Alvin memanfaatkan momen kebingungan mesin itu. Ia membidik tepat ke arah sensor laser hijau tersebut.
ZAP!
Gelombang EMP melesat, menghantam drone tersebut. Seketika, laser hijau itu padam.
Suara dengungan mesin yang tadi diceritakan Arini berubah menjadi suara percikan listrik yang pendek, sebelum akhirnya drone itu tenggelam kembali ke dasar laut, lumpuh total.
Alvin kembali ke klinik dengan langkah gontai. Ia masuk ke dalam bunker, menemukan Sekar dan Arini yang sedang berpelukan di sudut.
"Mainannya sudah rusak," ujar Alvin, menjatuhkan dirinya di lantai beton yang dingin. "Tapi ini hanya permulaan. Von Hess sudah kehilangan kesabarannya. Mereka akan mengirim tim manusia dalam skala besar besok pagi."
Sekar keluar dari persembunyiannya, segera memeriksa kondisi Alvin. Pria itu nampak sangat lelah, napasnya tersengal. "Kita harus mengirim data itu sekarang, Alvin. Tidak perlu menunggu dua minggu lagi."
"Belum bisa, Sekar," Alvin menggeleng lemah. "Sistem mereka memiliki firewall berlapis. Aku butuh waktu enam jam lagi untuk menembus server utama mereka di Singapura. Jika aku mengirimnya sekarang, mereka hanya akan memblokir akses publik dan menghapus buktinya."
Alvin menatap Sekar. "Kita harus bertahan satu malam lagi. Hanya satu malam."
Malam itu, mereka bertiga duduk di lantai bunker yang sempit. Arini sudah tertidur karena kelelahan emosional, kepalanya bersandar di pangkuan Sekar. Alvin duduk di seberang mereka, memegang laptopnya yang masih terus bekerja memproses data.
"Sekar," panggil Alvin pelan. "Jika besok... jika besok sesuatu terjadi padaku..."
"Jangan mulai, Alvin," potong Sekar tajam.
"Tidak, dengarkan aku dulu," Alvin menatap Sekar dengan intensitas yang membuat Sekar terdiam. "Aku menghabiskan seluruh hidupku mengejar angka dan kekuasaan. Aku pikir itu adalah cara untuk membuktikan bahwa aku lebih baik dari ayahku, lebih baik dari keluarga Wijaya. Tapi di sini... bersamamu dan Arini... aku baru sadar bahwa aku lebih suka mati sebagai pelindung seorang anak kecil daripada hidup sebagai milyuner yang kesepian."
Sekar merasakan air mata mulai menggenang. Ia meraih tangan Alvin, menggenggamnya erat. "Kau tidak akan mati, Alvin. Kita sudah melangkah terlalu jauh dari Berlin hingga ke sini. Kita adalah penyintas."
"Aku harap begitu," Alvin tersenyum tipis, lalu ia menyandarkan kepalanya di dinding beton. "Tapi jika aku harus pergi, pastikan Arini tahu bahwa aku bangga menjadi 'pohon' dalam gambarnya."
Sekar tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Alvin. Di dalam kegelapan bunker itu, mereka bukan lagi seorang dokter buronan dan tentara bayaran.
Mereka adalah dua jiwa yang terluka, yang mencoba menemukan makna di tengah reruntuhan hidup mereka.
Jauh di Singapura, layar monitor di kantor pusat Von Hess mulai berkedip merah. Data pertama tentang Proyek Kembar Wijaya mulai bocor ke email para pemegang saham utama.
Perang digital telah dimulai, dan besok pagi, Pantai Kuta akan menjadi saksi apakah kebenaran bisa menang melawan keserakahan yang sudah mengakar.