Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Bersama, Lagi
Baskara memasuki ruangannya. Tampak Kavi masih menyandar manja pada Aditi di sofa. Matanya memandangi tangannya sendiri yang memutar-mutar jepitan baju.
Sagara terduduk di kursi di depan meja kerja Baskara. Kaki kirinya ia angkat dan menekuk, ditopang oleh lutut kanannya.
Tangan Sagara bertumpu di meja kerja, menopang kepalanya. Ia menatap ke arah sofa.
"Diti, aku sama Suci mau survei ke sekolah inklusi dulu ya. Kamu maksi sama temen-temen lagi kayak waktu Jum'at ya," kata Baskara.
Aditi tersenyum. "Iya Mas Bas. Ih, kayak ke bocah aja."
"Bocahlah, tukang naek pohon." Baskara dan Aditi terkekeh. Sagara mencebikkan bibir.
"Diti maksi ama gue, Bas. Gue udah order makanan. Minjem ruangan lo ya," tukas Sagara.
Baskara terhenyak. Ia menatap Aditi yang menipiskan bibir ke arahnya. "Oh gitu, ya udah."
Baskara mengambil kunci mobil dan tas kecilnya, kemudian berjalan ke pintu. "Gue jalan Gar. Diti, aku berangkat. Kita pulang bareng ya, bye."
Aditi mengangguk kepada Baskara. Sagara kembali mencebik mendengar perkataan Baskara.
Aditi menunduk untuk mengecek Kavi. Ternyata sang anak istimewa memejamkan matanya. Tertidur. Terapi memang menguras energi untuk anak sepertinya.
Aditi beringsut. Sagara dengan cepat menghampiri. Ia berikan bantalan sofa pada Aditi, untuk dijadikan alas kepala Kavi.
Aditi tersenyum melihat wajah damai Kavi. Ia berdiri berdampingan dengan Sagara di depan sofa.
Sagara juga tersenyum menatap Kavi. Ia kemudian melirik Aditi, senyum Sagara melebar.
Wibi mengetuk pintu, ia membawa pesanan makan siang Sagara. Ia mengangguk untuk berpamitan setelah paket itu diterima Sagara. Sagara balas mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Makan dulu yuk Diti. Mumpung Kavi tidur." Sagara menyimpan makanan di meja kerja Baskara. Ia memiringkan kursi Baskara dan duduk di sana.
Aditi menghampiri meja kerja dan duduk di bangku di depan meja kerja. Ia melihat pesanan makan siang Sagara. Tertulis nama restoran premium di bungkusan berwarna cokelat itu.
Sagara memperhatikan Aditi yang terdiam. "Kenapa? Ngarepin baso?"
Aditi menoleh ke arah Sagara. "Ih nggak. Apa sih, Pak." Ia merengut pada Sagara yang suka asal berbicara.
"Abisnya malah ngeliatin makanannya. Bukan dimakan." Sagara mengulum senyum.
"Ya Bapak aja nggak makan. Nggak sopan dong kalo saya ngeduluin."
"Kirain kamu mau ngelayanin saya. Ngambilin gitu, kan saya udah bayarin kamu makanan enak kayak gini."
Sombong ampe langit dah si somse. Hadeuh, ampun dah Kavi ama bapak kamuuu....
Aditi mengeluarkan dua kotak makan hitam dalam bungkusan itu. Menu rice bowl premium. Sagara memajukan duduknya.
"Kamu pilih mau yang mana. Saya pesen truffle sama salmon," ujar Sagara.
"Salmon aja. Lidah ndeso saya takut nggak cocok ama truffle." Aditi mengangsurkan kotak yang berisi menu truffle gyudon pada Sagara.
Sagara terkekeh mendengar ucapan Aditi. Ia mulai memakan makan siangnya. Aroma menggugah selera menguar di ruangan Baskara.
Aditi menggigit salmon saus mentai yang menjadi pilihannya. Ih enak banget. Nggak salah pilih gue. Wkwkwk, norak deh gue.
"Enak kan?" tanya Sagara.
"Enak lah Pak. Kebangetan kalo makanan mahal kayak gini, nggak enak," seloroh Aditi.
Sagara tersenyum. Ia senang tak salah memilih menu makan siang. Ia menatap Aditi.
"Siap-siap bakal sering makan kayak gini. Kamu jadi terapis Kavi, bakal sering saya traktir makan enak."
"Nggak usah sih Pak. Nanti terapis yang laen sirik sama saya."
"Ya udah, yang laen saya traktir juga lah. Berapa sih terapis di sini? Nggak nyampe 20 orang kan? Aman lah itu."
Sombong terooss. Aditi menggelengkan kepalanya.
"Kamu kalem banget sekarang," ucap Sagara.
"Mau koprol, takut keselek." Aditi menggigit edamame kupas. Rasa enak di mulut Aditi bertambah.
Sagara tertawa kecil. "Itu bawa jepitan baju, ide kamu sendiri?"
Aditi mengangguk. "Saya pikir sesekali pake media yang ada di rumah. Jadi bisa praktek di rumah kapan aja."
"Tapi di rumah saya nggak pake jepitan modelan kayak gitu."
Aditi menatap malas pada Sagara. "Ya udah, di rumah saya kalo gitu."
"Jadi, kamu ngundang saya sama Kavi ke rumah kamu lagi, buat terapi pake jepitan baju? Boleh banget Diti." Sagara tersenyum.
"Nggak gitu sih arahnya." Aditi mencebikkan bibir. Sagara tergelak.
"Arahnya apa? Apa kamu maunya saya datang sendiri? Ih, jahat ih sama Kavi," goda Sagara.
"Bapak ngomong mulu, lagi makan juga. Ntar keselek, saya biarin, tau rasa." Aditi agak mendelikkan matanya.
"Hahaha, ampun Diti. Galak juga kamu. Kirain penyabar taunya serem juga kalo melotot." Aditi merengut mendengar perkataan Sagara.
Sagara melanjutkan makan siangnya sambil sesekali menatap Aditi. Ia agak kecewa Aditi tidak banyak bicara. Tidak seperti jika ada Baskara.
Sagara menyelesaikan makannya. Ia mengambil minuman yang telah ia pesan. Ia simpan sebuah gelas karton di depan Aditi.
Aditi memelankan kunyahannya. Tak menyangka hal yang telah dilakukan Sagara. Sagara tersenyum.
"Itu iced sea salt latte. Maaf saya nggak nanya kamu suka apa. Tapi cewek biasanya suka latte kan? Kamu suka?"
Aditi meringis. "Saya ngopi dua kali dong Pak. Tadi pagi dari Mas Bas, sekarang dari Bapak. Doain perut saya nggak kembung, Pak."
Sagara tergelak. "Mau tuker? Saya pesen ocha, tapi nggak pake gula."
"Hhmm, emang nggak apa-apa?" Aditi memicingkan mata.
"Ya nggak apa-apa. Daripada kamu kembung." Sagara menaikkan alisnya.
Aditi tersenyum lebar. Sagara lega, akhirnya muncul juga senyum yang ia tunggu. "Boleh deh, Pak. Rido ya Pak?"
"Iya." Sagara menukar gelasnya dengan gelas di hadapan Aditi.
Aditi menyudahi makannya. Ia segera meneguk ocha dari Sagara. Segar, walau tak manis. Kalau ada sedikit rasa manis, ia pasti lebih suka. Tapi inipun enak baginya.
"Pak, saya mau solat Zuhur dulu ya. Udah mau jam 1." Aditi merapikan kotak bekas makannya dan Sagara.
Tadinya Sagara mau menawarkan pada Aditi untuk berjamaah tapi ia sadar ini terlalu dini. "OK Diti."
Di musala, Aditi bertemu dengan Renata, terapis senior. "Diti, Bu Suci bilang kan waktu briefing, kita abis maksi mentoring soal media terapi," Renata mengingatkan.
"Siap Kak Renata. Di lantai dua? Apa di mana?"
"Lantai dua aja kali ya. Ada ruang yang nggak kepake kok," jawab Renata.
"OK, Kak Renata. Aku solat dulu ya," pamit Aditi.
Setelah selesai salat, Aditi terburu-buru kembali ke lantai 3, tempat ruangan Baskara. Ia hendak mengambil buku catatannya. Ia juga tidak mau Renata melapor pada Suci bahwa ia kembali terlambat bekerja setelah istirahat.
"Pak, saya tinggal dulu ya. Mau mentoring ama senior," ujar Aditi pada Sagara yang masih duduk di kursi kerja Baskara sambil fokus pada tabletnya.
"OK, belajar yang bener Diti." Sagara tersenyum pada Aditi. Aditi mengangguk sambil tersenyum. Hati Sagara menghangat melihatnya.
Di salah satu ruangan terapi yang dapat dipantau melalui ruang observasi, Aditi dan Renata mulai melakukan proses transfer ilmu.
"Diti, berdasarkan evaluasi Bu Suci, kamu tadi udah bagus banget pake jepitan baju buat Kavi. Pencetannya pasti masih lemah ya?" tanya Renata.
Aditi mengangguk. "Iya Kak. Aku mau fokusin itu di next terapi. Sesuai ama RPI aku juga."
"Ya, aku udah baca. Bagus RPI kamu. Semangat ya Dit." Aditi tersenyum pada Renata. Aditi senang mendapatkan rekan kerja yang suportif.
"Sebelumnya, kita evaluasi hasil terapi tadi pagi, berdasarkan catatan Bu Suci ya," ujar Renata. Aditi mengangguk. Ia menyiapkan pulpen dan buku catatannya.
"OK, kamu udah bagus, nerapin hand-over-hand. Kamu peluk dia juga. Kasih rasa nyaman. Bagus.
Ke depannya pelan-pelan kurangin full physical prompt. Pelan-pelan, nggak mesti besok. Kamu liat kesiapan Kavi. Nanti mulai kasih sedikit-sedikit gestural prompt. Biar Kavi lebih mandiri."
"Siap Kak." Tangan Aditi mencatat cepat masukan dari Renata.
Renata melanjutkan evaluasinya berupa penjelasan tentang grafik perkembangan, yang menjadi dasar kerja Aditi. Grafik ABC.
A adalah antecendent, instruksi untuk Kavi. B untuk behavior atau perilaku yang ditunjukkan Kavi. C ialah consequence. Tindakan yang dilakukan Aditi sebagai terapis.
Renata kemudian melanjutkan media apa saja di kantor yang dapat digunakan oleh Aditi, untuk terapi selanjutnya. Aditi begitu antusias.
Aditi membayangkan lusa akan kembali terapi bersama Kavi dengan alat-alat ini. Matanya berbinar.
Banyak hal dibahas oleh Renata dan Aditi. Suci tak salah memilihkan mentor untuk Aditi.
Tak terasa mentoring berlangsung hingga waktu Asar tiba. Renata memutuskan menyudahi pelajaran bagi Aditi.
"OK Diti, ada pertanyaan lagi? Kalo nggak ada, kita udahan," ujar Renata.
"Nggak Kak, cukup. Eh, solat bareng yuk," ajak Aditi. Renata mengangguk. Mereka terlibat pembicaraan ringan sambil menuju musala di lantai 1.
Setelah selesai salat, Aditi berniat kembali ke ruangan Baskara. Ia terkejut ketika mendapati Sagara dan Kavi masih ada di ruangan sang bos.
Sagara terlihat sedang merapikan bekas makan siang Kavi yang tertunda. Ia tersenyum melihat kedatangan Aditi.
"Kavi nyenyak banget tidurnya. Tadi jam dua lewat baru bangun. Minta makan. Nih baru beres. Makan nyambi maenin jepitan baju kamu."
Aditi menghampiri Kavi dan menekan halus lengan sang anak. Aditi memuji perilaku Kavi melalui ritme andalannya.
Kavi menatap Aditi dan menyodorkan jepitan baju berwarna biru yang sedari tadi ia genggam. Aditi tersenyum dan meraihnya.
"Ka-vi... a-jak... Kak-Ti... ma-in... ba-reng?" Kavi terus menatap Aditi.
Aditi kemudian duduk di samping Kavi dan meraih tangan anak itu. Ia bimbing Kavi menekan jepitan itu. Ada tekanan lembut yang dihasilkan oleh sang balita.
Sagara ikut bergabung di sofa. Ia tak peduli sofa itu menjadi sesak. Ia pastikan anaknya tak terganggu. Kavi terlihat tenang. Pertanda aman.
"Pulang bareng saya ya Diti." Sagara menatap Aditi.
"Hah? Nggak lah Pak. Mas Bas kan mau pulang bareng saya. Bapak denger sendiri tadi."
"Ini bonding kamu lagi bagus sama Kavi. Sama saya aja. Nanti saya yang bilang sama Baskara."
Aditi mengerutkan alis. Ya Allah, Kavi.... masih aja bapak kamu jadi tukang maksa.