"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Pesan di Dalam Perut
Laboratorium forensik malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Suara dengung mesin pendingin ruangan seakan beradu dengan detak jarum jam dinding yang bergerak lambat. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, sebuah aroma yang biasanya memberikan ketenangan bagi Sheril karena melambangkan logika dan sains. Namun malam ini, aroma itu justru terasa mencekik.
Di atas meja bedah berbahan baja antikarat, terbaring korban keempat. Ia adalah seorang pria muda, mantan informan kepolisian yang menjadi saksi kunci dalam kasus sindikat perdagangan gelap yang sedang diselidiki Jin. Kondisi jenazahnya sangat mengenaskan; tidak ada luka tembak, tidak ada bekas perkelahian yang brutal. Yang ada hanyalah sebuah sayatan tunggal yang sangat presisi di area leher—sebuah sayatan yang begitu bersih hingga nyaris terlihat seperti karya seorang ahli bedah... atau seorang koki yang sangat mahir dengan pisaunya.
V berdiri di seberang Sheril, wajahnya tertutup masker bedah, menyisakan sepasang mata tajam yang terus memperhatikan setiap gerak-gerik Sheril.
"Kamu tampak tidak stabil, Sheril," suara V terdengar datar, teredam oleh masker. "Jika tanganmu gemetar, Kamu bisa merusak bukti."
Sheril menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masih tidak keruan setelah pertengkaran hebat dengan Jin tadi malam. "Aku baik-baik saja, V. Mari kita mulai."
Sheril mengambil skalpel. Logam dingin itu terasa asing di tangannya yang biasanya mantap. Ia mulai melakukan sayatan Y pada dada korban. Kulit yang pucat itu terbuka, menyingkap lapisan jaringan di bawahnya. Semakin dalam ia masuk ke dalam tubuh korban, semakin Sheril merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak ada pendarahan internal yang masif, yang berarti korban sudah tidak bernapas saat organ-organnya mulai dimanipulasi.
"Lihat ini," gumam V sambil menunjuk ke arah lambung korban yang tampak sedikit menggembung secara tidak wajar.
Sheril mengerutkan kening. Ia meraba area abdomen tersebut. Ada sesuatu yang keras di dalam sana. Bukan massa tumor, bukan pula sisa makanan yang belum tercerna. Itu adalah benda asing yang sengaja diletakkan di sana.
Dengan gerakan hati-hati, Sheril membedah bagian lambung. Cairan asam lambung yang bercampur dengan sedikit sisa darah merembes keluar. Dan di sanalah benda itu berada.
Sebuah bungkusan plastik kecil, kedap udara, terselip di antara lipatan dinding lambung.
Tangan Sheril bergetar hebat saat ia menggunakan pinset untuk mengambil plastik tersebut. Ia meletakkannya di atas nampan besi dengan bunyi klunting yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia membersihkan sisa cairan lambung yang menempel di plastik tersebut dengan kain kasa.
Di balik lapisan plastik yang transparan, sebuah benda kecil berwarna putih susu berkilau terkena lampu operasi yang terang.
Mata Sheril melebar. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Itu adalah sebuah anting mutiara.
Mutiara dengan setting perak berbentuk kelopak bunga yang sangat spesifik. Anting itu bukan sekadar perhiasan biasa; itu adalah bagian dari sepasang anting yang hilang dari meja riasnya dua hari yang lalu. Anting yang menurut Jungkook mungkin terjatuh di kamar mandi atau terselip di bawah karpet saat mereka sedang bersenda gurau.
"Sheril?" suara V memecah keheningan yang menyesakkan.
Sheril tidak bisa menjawab. Dunianya seolah runtuh. Bagaimana mungkin benda yang berada di dalam rumah pribadinya, di tempat yang ia anggap paling aman, bisa berakhir di dalam perut seorang mayat yang ditemukan di pinggiran dermaga?
V mendekat, mengambil nampan tersebut dan mengamati anting itu dengan saksama. Matanya beralih dari benda itu ke wajah Sheril yang kini sepucat mayat di depan mereka.
"Ini milikmu, bukan?" tanya V. Suaranya tidak lagi datar, melainkan mengandung nada peringatan yang dingin.
Sheril masih terdiam, air mata mulai menggenang di kelopaknya. Ia teringat pagi itu, saat Jungkook membantunya mencari anting tersebut. Jungkook begitu lembut, mengusap kepalanya dan berkata, "Jangan khawatir, Sayang. Barang yang berharga bagi kita tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya sedang menunggu untuk ditemukan di saat yang tepat."
Apakah ini saat yang tepat yang dimaksud Jungkook?
"Ini pesan, Sheril," lanjut V, suaranya terdengar seperti vonis. "Siapa pun yang melakukan ini, dia ingin kau tahu bahwa tidak ada dinding yang cukup tebal untuk menghalanginya. Dia ingin kau tahu bahwa dia bisa mengambil apa pun darimu—benda-benda milikmu, privasimu, jiwamu—dan memasukkannya ke dalam kegelapan ini. Ke dalam kematian yang Kamu bedah setiap hari."
Sheril mundur selangkah, kakinya terasa lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja bedah. Skalpel yang ia pegang terjatuh ke lantai, menimbulkan suara denting yang menyakitkan.
"Jungkook..." bisik Sheril, nyaris tak terdengar.
"Kenapa Kamu menyebut namanya?" V menatapnya tajam. "Apakah Kamu punya alasan untuk mencurigainya, selain fakta bahwa dia memiliki akses ke rumahmu?"
"Tidak! Maksudku... tidak mungkin dia," bela Sheril, meski suaranya terdengar tidak yakin bahkan bagi dirinya sendiri. "Dia sedang di restoran saat mayat ini ditemukan. Dia... dia koki, V. Dia tidak tahu cara memasukkan benda ke dalam lambung tanpa merusak organ lainnya."
"Tapi sayatan di leher ini," V menunjuk pada luka di jenazah, "membutuhkan teknik pemotongan yang sangat presisi. Jenis presisi yang didapatkan seseorang setelah bertahun-tahun berlatih dengan pisau yang sangat tajam. Bukankah kau sering memuji betapa indahnya Jungkook memotong daging di dapur?"
Sheril menggelengkan kepala dengan keras, mencoba mengusir bayangan Jungkook yang tersenyum manis sambil memegang pisau koki titaniumnya. "Banyak orang yang memiliki keahlian pisau. Ahli bedah, tukang jagal, koki lainnya... Kenapa harus dia?"
"Karena tidak ada orang lain yang memiliki antingmu, Sheril," sahut V telak.
Sheril jatuh terduduk di kursi besi di sudut laboratorium. Ia menutupi wajahnya dengan tangan yang masih mengenakan sarung tangan lateks yang bersimbah darah korban. Rasa mual menghantam perutnya. Ia merasa seperti sedang diawasi. Seolah-olah di setiap sudut laboratorium ini, di balik bayangan mesin-mesin besar, Jungkook sedang berdiri di sana, memperhatikannya dengan senyum kelinci yang manis namun misterius.
Apakah Jungkook benar-benar seorang monster yang sedang bermain-main dengan mentalnya? Ataukah ada seseorang yang sedang mencoba menjebak Jungkook dengan cara yang paling kejam, memanfaatkan barang pribadi mereka untuk menghancurkan kepercayaan Sheril?
"Jangan katakan ini pada Jin Oppa," rintih Sheril. "Kumohon, V. Jika Jin tahu, dia akan langsung menangkap Jungkook tanpa bukti yang sah. Ini belum cukup. Anting ini bisa saja dicuri oleh orang lain yang masuk ke rumah kami."
V menatap anting itu sekali lagi, lalu menyimpannya ke dalam kantong bukti plastik yang baru. "Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Tapi Sheril, dengarkan aku baik-baik. Forensik tidak pernah berbohong. Manusia bisa berbohong, cinta bisa menipu, tapi bukti fisik selalu mengatakan kebenaran. Jika bukti ini mengarah padanya, kau tidak bisa terus berlari."
V berjalan keluar meninggalkan laboratorium, meninggalkan Sheril sendirian dengan mayat korban keempat.
Sheril menatap jenazah itu. Ia merasa mayat itu sedang menertawakannya. Di dalam perut pria ini, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan hidupnya. Ia teringat kembali ke malam sebelumnya, saat ia dan Jungkook makan malam bersama. Jungkook telah memasak Steak Tartare—daging mentah yang dicincang dengan sangat halus.
Saat itu, Sheril sempat bertanya, "Bagaimana Kamu bisa memotongnya begitu konsisten tanpa menghancurkan tekstur seratnya?"
Dan Jungkook menjawab sambil menatap matanya dengan intensitas yang aneh, "Kuncinya adalah mengenal anatomi, Sheril. Kau harus tahu di mana bagian yang paling lemah, dan di mana bagian yang menyimpan rasa paling dalam. Begitu Kamu menemukannya, pisaumu akan bergerak dengan sendirinya."
Sheril merinding. Kata-kata itu kini terdengar seperti pengakuan tersembunyi. Namun, Jungkook tetaplah Jungkook yang ia cintai. Pria yang selalu menyiapkan susu hangat saat ia tidak bisa tidur. Pria yang memeluknya erat saat ia bermimpi buruk tentang pekerjaan.
Ia ingin percaya pada cintanya. Ia harus percaya. Tapi mutiara itu... mutiara itu terasa seperti benih keraguan yang kini mulai berakar dan tumbuh dengan cepat di dalam jiwanya, membelah kesetiaannya menjadi dua.
Apakah Jungkook pelindungnya, ataukah dia adalah sumber dari segala kegelapan yang selama ini ia selidiki?
Sheril bangkit dengan sisa tenaganya. Ia melepaskan jas lab dan sarung tangannya. Ia harus pulang. Ia harus menatap mata Jungkook. Ia harus mencari tahu apakah di balik binar mata yang memuja itu, tersimpan seorang pria yang mampu membedah manusia dan meninggalkan pesan di dalam perut mereka.
Namun, saat ia melangkah keluar dari laboratorium, ia melihat sebuah bayangan di ujung lorong yang gelap. Seseorang sedang berdiri di sana, hanya sekejap, sebelum menghilang di balik pintu darurat.
Sosok itu mengenakan jaket gelap yang sangat ia kenali. Jaket yang ia belikan untuk Jungkook sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu.
Langkah Sheril terhenti. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit. Ia ingin mengejar, namun kakinya seolah terpaku di lantai. Misteri itu kini bukan lagi sekadar berkas kasus di atas meja kerjanya. Misteri itu telah masuk ke dalam rumahnya, ke dalam kamarnya, dan kini, ia merasa misteri itu sedang bernapas di belakang lehernya.