Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. KERAJAAN OBERYN
Perjalanan dari Kerajaan Aurelius menuju Kerajaan Oberyn bukanlah perjalanan yang singkat.
Berhari-hari Elara duduk di dalam kereta yang terus melintasi padang luas, hutan lebat, dan pegunungan yang menjulang seperti penjaga dunia.
Langit berubah berkali-kali.
Kadang cerah.
Kadang mendung.
Kadang hujan tipis membasahi jendela kereta hingga dunia di luar tampak buram seperti lukisan air.
Pada beberapa malam, rombongan berhenti di penginapan kerajaan yang telah disiapkan sebelumnya.
Pada malam lain, mereka beristirahat di kamp kecil dengan para pengawal Ravens yang setia menjaga di sekitar perapian.
Namun meski perjalanan panjang itu terasa melelahkan, Elara tidak benar-benar merasa kesepian.
Setiap kali ia membuka jendela kereta dan melihat dunia yang belum pernah ia lihat sebelumnya, ada rasa aneh yang tumbuh dalam hatinya.
Seolah-olah hidupnya benar-benar sedang bergerak menuju sesuatu yang baru.
Namun di balik semua itu, tubuh Elara masih belum sepenuhnya stabil.
Beberapa kali dalam perjalanan ia merasakan sensasi aneh di dalam tubuhnya.
Seperti aliran panas yang tiba-tiba berputar liar di dadanya.
Seperti gelombang energi yang mendorong dari dalam tulangnya.
Kadang membuat kepalanya berdenyut.
Kadang membuat pandangannya berkunang-kunang.
Untungnya Arram sudah memberinya beberapa kristal penetral energi yang harus ia bawa selama perjalanan.
Dan setiap kali gejala itu datang, Elara akan memegang kristal itu erat-erat sampai napasnya kembali stabil.
"Tenang ... tenang ...," gumam Elara. Ia selalu mengingat kata-kata Arram.
Energi itu bukan musuh. Ia hanya belum belajar mengendalikannya.
Perjalanan panjang itu akhirnya mencapai hari terakhir.
Saat matahari tinggi dari balik awan keemasan, kereta yang membawa Elara akhirnya memasuki wilayah kerajaan yang sangat terkenal di seluruh benua.
Kerajaan yang namanya selalu disebut dalam cerita para penyihir.
Kerajaan Oberyn
Begitu kereta melewati gerbang perbatasan, Elara langsung menyadari sesuatu yang berbeda.
Udara.
Rasanya berbeda.
Lebih ... hidup.
Elara membuka jendela kereta lebih lebar.
Dan saat itulah matanya membesar.
"Wow," respon Elara.
Ibukota Oberyn benar-benar tidak seperti kota mana pun yang pernah ia lihat.
Bangunan tinggi dari batu putih menjulang elegan.
Menara-menara sihir berdiri seperti pilar cahaya.
Namun yang benar-benar membuat Elara terpana adalah aktivitas di jalanan.
Beberapa pedagang menggunakan rune bercahaya untuk menyalakan lampu dagangan mereka.
Seorang wanita tua bahkan melayang beberapa sentimeter di atas tanah sambil membawa keranjang buah.
Anak-anak kecil berlari sambil membuat percikan cahaya dari ujung jari mereka.
Dan di atas langit kota ...
Beberapa kereta melayang perlahan menggunakan kristal sihir yang memancarkan cahaya biru.
Elara hampir menempelkan wajahnya ke jendela.
"Ini ... luar biasa," ucap Elara penuh kekaguman.
Kerajaan ini benar-benar bernapas dengan sihir.
Bahkan untuk kegiatan sehari-hari.
Dibandingkan dengan Aurelius yang lebih mengandalkan kekuatan pedang dan disiplin kesatria, Oberyn terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda.
Kereta akhirnya berbelok menuju distrik bangsawan.
Gerbang besi besar dengan lambang keluarga Oberyn berdiri megah.
Para penjaga langsung membuka gerbang begitu melihat lambang kereta.
Di dalamnya terbentang halaman luas dengan taman yang dipenuhi bunga bercahaya lembut.
Air mancur di tengah halaman bahkan memancarkan cahaya emas halus.
Kereta berhenti perlahan.
Elara menarik napas dalam-dalam.
Ia akhirnya sampai. Di kediaman orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
Duke Arram Oberyn
Seorang pelayan membuka pintu kereta.
Elara turun perlahan.
Dan begitu kakinya menyentuh tanah, pintu utama kediaman besar itu terbuka.
Seorang pria tinggi berambut pirang keluar lebih dulu. Pakaiannya sederhana namun aura sihir di sekitarnya terasa tenang dan dalam.
Duke Arram.
Di samping sang duke berdiri seorang wanita anggun dengan rambut cokelat panjang yang diikat lembut di belakang. Matanya hangat. Senyumnya ramah.
Para pelayan berdiri berjajar di belakang mereka.
Seolah-olah seluruh rumah memang sudah menunggu kedatangannya hari ini.
Arram melangkah mendekat. "Elara," sambutnya. Nada suaranya hangat.
Elara langsung membungkuk hormat. "Salam hormat, Duke Arram."
Arram menghela napas kecil lalu tersenyum. "Kau masih terlalu formal. Panggil aku Paman seperti biasa."
"Baik, Paman," jawab Elara.
Sebaliknya Arram langsung mengamati wajah Elara dengan serius. "Bagaimana keadaanmu selama perjalanan?"
Elara menggaruk pipinya sedikit canggung. "Sejujurnya ... ada beberapa kali aku hampir pingsan."
Arram mengangkat alis.
"Bukan karena kelelahan," lanjut Elara cepat. "Tapi karena energi dalam tubuhku terkadang masih suka meledak-ledak."
Arram mengangguk pelan. "Aku sudah menduga itu. Setelah ini aku akan memeriksamu."
Barulah Arram menoleh ke wanita di sampingnya. "Elara, ini istriku. Daria."
Wanita itu tersenyum lembut.
Elara langsung membungkuk hormat.
"Salam hormat, Duchess-"
Namun sebelum Elara selesai, Daria sudah mengangkat tangan menghentikan Elara.
"Oh tidak, tidak perlu formalitas seperti itu, Sayang," kata Daria. Ia bahkan langsung memegang tangan Elara dengan hangat.
"Selama kau di sini, anggap saja rumah ini rumahmu sendiri," tambah Daria.
Elara berkedip kaget.
Duchess Daria tersenyum cerah dan berseru, "Akhirnya ada juga anak perempuan di rumah ini!"
Nada suara sang Duchess terdengar sangat bersemangat.
Elara tidak bisa menahan senyum.
Arram hanya menggeleng kecil melihat istrinya.
"Daria sudah lama ingin punya anak perempuan," kata Arram.
Daria langsung menoleh dengan wajah penuh semangat. "Dan sekarang akhirnya ada!"
Elara tertawa kecil. Suasana hangat itu langsung membuat rasa gugup di dadanya menghilang.
Arram kemudian berbalik menuju pintu rumah. "Ayo masuk."
Mereka berjalan melewati aula besar yang dipenuhi lukisan dan kristal sihir yang berkilau lembut.
Daria dengan penuh semangat mulai memerkenalkan rumah itu.
"Ini ruang tamu utama."
"Di sana ruang makan."
"Dan itu perpustakaan Arram yang sangat besar, tapi biasanya dia melarang orang masuk kalau sedang meneliti," kata Daria.
Arram berdehem pelan.
Daria tertawa.
Kemudian mereka menaiki tangga besar menuju lantai atas.
Daria berhenti di depan sebuah pintu putih dengan ukiran bunga. Matanya berbinar.
"Aku sudah menyiapkan kamar untukmu," kata Daria pada Elara.
Sang Duchess membuka pintu dengan penuh semangat.
Pintu terbuka.
Elara melangkah masuk.
Dan langsung terdiam.
Kamarnya sangat luas.
Jendela besar menghadap taman.
Tirai putih lembut berkibar pelan tertiup angin.
Tempat tidur besar dengan selimut biru muda berdiri di tengah ruangan.
Rak buku.
Meja belajar.
Karpet lembut.
Bahkan ada balkon kecil.
Semua dekorasi terasa hangat dan elegan.
Daria tersenyum penuh harap. "Bagaimana? Kau suka?"
Elara menoleh perlahan. Matanya benar-benar bersinar dan berkata, "Tentu saja ... ini indah sekali!"
Daria langsung menutup mulutnya dengan wajah puas. "Syukurlah! Terima kasih, Elara. Akhirnya salah satu mimpiku untuk mendekor kamar anak perempuan tercapai!"
Elara tersenyum lembut. "Justru aku yang harus berterima kasih kepada Anda."
Daria lalu sedikit menenangkan diri sebelum berbicara lagi, "Arram sudah memberitahuku tentang keadaanmu. Baik tentang akademimu yang lama ... maupun tentang ledakan sihir di tubuhmu."
Elara sedikit menunduk.
Arram menyilangkan tangan dan berkata, "Untuk sementara Elara harus sering mendapatkan sihir penyembuhan dan netralisasi. Energi di dalam tubuhnya masih harus distabilkan."
Daria langsung terlihat sendu. "Kenapa anak cantik ini harus mengalami hal seperti itu."
Elara tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja. Berkat bantuan Paman Arram aku masih bisa berdiri di sini. Dan aku juga akan belajar mengendalikan energi dalam tubuhku sendiri."
Daria langsung menepuk tangan Elara lembut. "Kalau begitu ada satu aturan penting."
Elara berkedip. "Apa itu?"
"Kau tidak boleh absen makan." Daria mengangkat jari. "Dan harus istirahat cukup. Aku akan mengawasi soal itu selama kau tinggal di sini."
Elara tertawa kecil. Elara membungkuk sedikit berkata, "Terima kasih."
Arram akhirnya menghela napas. "Sekarang istirahatlah. Kau pasti kelelahan."
“Aku akan memanggilmu saat makan malam.”
Elara mengangguk.
Arram dan Daria pun pamit keluar.
Begitu pintu tertutup ... Elara langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.
"Ah, nyaman sekali," ucap sang gadis.
Tubuh Elara benar-benar terasa ringan.
Perjalanan panjang akhirnya selesai.
Matanya perlahan terpejam.
Tanpa ia sadari ...
Elara tertidur sangat lelap. Sangat lelap.
Sampai waktu berlalu tanpa terasa.
Elara keluar dari dunia mimpi ketika ia mendengar suara
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan di pintu membuat Elara mengerjap. Ia duduk perlahan. Rambutnya sedikit berantakan.
Dengan langkah malas ia berjalan ke pintu dan membukanya.
Namun orang yang berdiri di sana bukan Daria.
Melainkan seorang pria tinggi.
Tegap.
Sangat tampan.
Rambut pirangnya berkilau di bawah cahaya lampu koridor.
Elara yang masih setengah mengantuk hanya menatapnya bingung.
Pria itu tiba-tiba tertawa. "Kau tidak berubah juga ya, Lala."
Elara membeku.
Panggilan itu, Elara langsung tersadar sepenuhnya.
"Aaron?"
Pria itu tersenyum lebar.
Aaron Oberyn.
Sebelum Elara sempat berkata apa-apa, Aaron langsung menariknya ke dalam pelukan erat.
"Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Aaron. Suaranya hangat. "Aku sangat merindukanmu, Lala," lanjutnya.
Elara terdiam sejenak.
Lalu perlahan tersenyum.
Tangan Elara terangkat membalas pelukan itu.
"Aku juga."
Aaron tersenyum penuh arti tanpa Elara tahu.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣
hyper nya 🤣🤣😜
ya anda coba aja rasakan😜