"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kucing, Kabel, dan Bos Pemalas
"Masuk, cepat! Jangan sampai kelihatan rambutnya sehelai pun!"
Hara setengah berbisik, setengah mendesis sambil mendorong punggung kecil dua bocah kembar itu ke sudut lift barang. Jantungnya berdegup sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Keringat dingin sudah membasahi punggung blazernya, padahal AC gedung Alger Tower disetel di suhu beku enam belas derajat.
"Mami, bau apek," Elia menutup hidung mancungnya dengan gaya dramatis. Anak perempuan berusia empat tahun itu menatap dinding lift yang penuh goresan dengan tatapan jijik. "Ini lift sampah ya? Kok kita nggak naik lift kaca yang di depan tadi? Yang ada lampu kelap-kelipnya?"
"Sstt! Elia, volumenya dikecilin," Hara menempelkan telunjuk di bibir, matanya waspada menatap angka lantai yang bergerak lambat. "Ini bukan lift sampah. Ini... lift rahasia. Khusus agen rahasia."
Elio, kembaran laki-laki Elia yang berdiri dengan wajah datar sambil memeluk ransel robotnya, mendongak. Tatapannya tajam, terlalu tajam untuk bocah seusianya. "Mami bohong. Lift depan itu ada sensor kartu aksesnya. Kartu Mami cuma level karyawan biasa, nggak bisa akses lift VIP. Makanya kita lewat belakang."
Hara tersedak ludahnya sendiri. Anak ini. Kenapa dia harus mewarisi otak bapaknya, sih?
"Elio, simpan analisisnya buat nanti," Hara memijat pelipisnya. "Dengar baik-baik. Misi hari ini level bahaya bintang lima. Kalau sampai ada orang yang lihat kalian, terutama monster... maksud Mami, Bos Besar di lantai paling atas, Mami bisa dipecat. Kalau Mami dipecat, nggak ada lagi es krim premium, nggak ada mainan baru, dan kita bakal tinggal di kolong jembatan. Paham?"
"Kolong jembatan ada Wi-Fi nya nggak?" tanya Elio polos tapi menusuk.
"Nggak ada!" sambar Hara cepat. Lift berdenting. Lantai 25. Lantai khusus arsip dan gudang logistik. Syukurlah, sepi. "Ayo keluar, jalan jongkok!"
Mereka bertiga mengendap-endap keluar dari lift barang seperti pencuri profesional. Hara menyeret dua koper kecil berisi 'perbekalan darurat'—susu kotak, biskuit cokelat, dan dua tablet yang sudah diisi penuh daya baterainya.
Situasi pagi ini benar-benar bencana. Pengasuh langganan mereka mendadak tipes dan harus dirawat di rumah sakit. Daycare di dekat apartemen penuh karena ada renovasi.
Hara tidak punya pilihan. Cayvion Alger, bosnya yang terkenal sebagai manusia paling anti-anak-kecil di muka bumi, punya jadwal rapat krusial pagi ini. Rapat yang menentukan nasib perusahaan selama satu kuartal ke depan. Hara harus ada di sana.
"Oke, markas kalian di sini." Hara membuka pintu Ruang Arsip C. Ruangan itu penuh rak besi tinggi berisi tumpukan dokumen tua yang berdebu. Baunya seperti kertas lapuk dan kopi basi.
Elia cemberut. "Gelap. Sempit. Nggak estetik."
"Ini sementara, Sayang. Cuma sampai jam makan siang," bujuk Hara sambil mengeluarkan senjata andalannya: dua bungkus besar keripik kentang rasa rumput laut dan tablet. "Nih. Mami sudah download film kartun robot dan princess kesukaan kalian. Duduk di karpet ini, jangan injak lantai dingin."
Elio menerima tabletnya, lalu mengetuk layarnya dua kali. "Sandi Wi-Fi gedung ini apa, Mi? Kuota Mami lemot."
"Pakai offline dulu! Jangan coba-coba konek ke Wi-Fi kantor, nanti ketahuan IT!" Hara memperingatkan dengan nada horor. Dia tahu Elio suka mengutak-atik pengaturan tablet, meski dia ragu anak empat tahun benar-benar paham internet. Paling cuma pencet-pencet asal.
"Janji ya? Jangan keluar dari pintu ini. Kalau kebelet pipis, pakai pispot darurat di pojok sana. Jangan keluar cari toilet!" Hara menunjuk ember kecil bersih yang memang dia siapkan. "Mami kunci dari luar biar nggak ada monster masuk."
"Monster yang Mami maksud itu Om Bos ya?" tanya Elia sambil membuka bungkus keripik dengan suara kriuk nyaring. "Emang dia makan anak kecil?"
"Lebih parah. Dia bisa menyemburkan api dan memotong gaji," jawab Hara asal. Dia mengecup puncak kepala si kembar bergantian. Bau sampo stroberi mereka sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. "Jadilah anak baik. I love you."
" Love you, Mi. Sana kerja, cari uang yang banyak," usir Elio santai, matanya sudah terpaku pada layar tablet.
Hara menghela napas panjang, keluar ruangan, dan mengunci pintu. Dia bersandar sejenak di pintu besi itu, merapikan rok pensil dan blazernya yang sedikit kusut, lalu memasang topeng profesionalnya.
"Oke, Hara. Tarik napas. Kamu bisa. Cuma empat jam. Jangan sampai Cayvion tahu."
Satu jam berlalu.
Di dalam ruang arsip yang senyap, Elio mulai bosan. Film kartun robot yang diunduh Mami alurnya terlalu mudah ditebak. Penjahatnya bodoh, pahlawannya cuma modal teriak-teriak. Dia meletakkan tabletnya di atas tumpukan kardus arsip tahun 2018.
"Elia, bagi keripiknya," pinta Elio.
"Habis," jawab Elia tanpa dosa, menjilat bumbu hijau di jari-jarinya.
"Rakus."
"Biarin. Mami bilang aku dalam masa pertumbuhan." Elia berdiri, merenggangkan tubuh mungilnya. Gaun ruffle warna pink yang dipakainya sedikit kusut. "Elio, aku bosan. Di sini bau kertas tua. Aku mau cari Mami."
"Nggak boleh. Nanti Mami dipecat. Kita jadi gelandangan," sahut Elio, meski kakinya sendiri gatal ingin jalan-jalan. Dia melihat sekeliling. Matanya menyipit melihat celah ventilasi di bawah rak.
"Meong..."
Suara halus itu membuat dua kepala kecil itu menoleh serentak.
Di atas tumpukan kardus paling tinggi, seekor kucing gemuk berbulu oranye sedang menatap mereka dengan malas. Kucing itu memakai kalung leher berwarna biru berkilau.
"KUCING!" Elia memekik girang. Matanya berbinar-binar. "Lucu banget! Elio, lihat! Ada 'Mpus' gendut!"
Elio mengernyit. "Kok bisa ada kucing di kantor? Bukannya peraturan gedung melarang hewan peliharaan?"
"Mungkin dia agen rahasia juga kayak kita!" Elia berusaha memanjat tumpukan kardus. "Sini Mpus... pus pus..."
Si kucing oranye, merasa terganggu privasinya, mengibaskan ekor lalu melompat turun dengan lincah.
Bruk. Dia mendarat di lantai dan langsung berlari menuju pintu.
"Yah! Kabur!" Elia langsung mengejar.
"Elia, jangan! Pintunya dikunci!" teriak Elio.
Tapi ternyata, keberuntungan—atau kesialan—sedang berpihak pada mereka. Pintu ruang arsip itu tidak terkunci rapat. Kunci otomatisnya macet karena ganjalan kertas yang terselip di engsel. Saat si kucing menyeruduk dengan kepalanya, pintu besi itu terbuka sedikit. Cukup untuk seekor kucing gemuk lolos.
Elia tanpa pikir panjang menarik gagang pintu dan menghambur keluar. "Mpus! Tunggu! Elia mau peluk!"
"Elia! Balik!" Elio mendecak kesal. Dia menyambar tabletnya, lalu lari menyusul adiknya. Dia tidak bisa membiarkan kembarannya yang ceroboh itu berkeliaran sendirian. Tugasnya sebagai kakak (yang lahir lima menit lebih dulu) adalah memastikan Elia tidak membuat masalah.
Lorong lantai 25 sepi. Kucing oranye itu berlari menaiki tangga darurat yang pintunya juga terbuka.
"Dia naik ke atas!" tunjuk Elia semangat.
"Itu tangga ke lantai Monster Bos. Kita nggak boleh ke sana!" Elio mencoba menarik tangan adiknya.
"Tapi Mpus-nya sendirian. Nanti kalau dia dimakan Monster Bos gimana? Kita harus selamatin!" Logika Elia yang ajaib membuat Elio tepuk jidat. Sebelum Elio sempat membantah, Elia sudah lari menaiki anak tangga dengan kaki-kaki kecilnya.
"Astaga... kenapa sih perempuan susah banget dibilangin," gumam Elio meniru gaya bicara kakek di film yang pernah dia tonton, lalu pasrah mengikuti adiknya.
Mereka sampai di lantai 26. Lantai teratas. Lantai kekuasaan.
Suasananya beda total. Karpetnya tebal dan empuk, dindingnya kaca, dan udaranya wangi lemon mahal. Sepi sekali. Tidak ada orang yang berlalu-lalang karena semua staf sedang dipanggil rapat di lantai bawah, menyisakan area kantor CEO kosong melompong.
Si kucing oranye terlihat berjalan santai memasuki sebuah pintu ganda besar dari kayu mahoni yang sedikit terbuka.
"Itu sarang monsternya pasti," bisik Elio waspada. "Elia, jangan masuk."
"Sstt! Nanti ketahuan." Elia justru merangkak. "Kita harus operasi penyelamatan senyap. Kayak di film."
Dua bocah itu merangkak masuk ke dalam ruangan super besar itu.
***
Di dalam ruangan bernuansa abu-abu dan hitam itu, Cayvion Alger sedang duduk di kursi kebesarannya. Wajahnya tegang, matanya menatap tajam ke arah tiga layar monitor besar di depannya.
Dia sedang melakukan video conference via aplikasi V-Connect dengan investor dari Eropa. Nilai kesepakatannya triliunan rupiah. Satu kesalahan kecil, saham Alger Corp akan terjun bebas.
"Data yang kalian kirimkan tidak masuk akal," suara Cayvion berat dan dingin, membuat para direktur di layar monitor itu menunduk takut. "Kalian pikir saya bodoh? Margin keuntungan di kuartal tiga itu jelas dimanipulasi. Saya minta audit ulang sekarang, atau kesepakatan batal."
"Ta-tapi Pak Cayvion," suara dari seberang terdengar putus-putus. "Kami butuh waktu..."
"Saya tidak jual waktu. Saya jual hasil." Cayvion memijat pangkal hidungnya. Kepalanya pening. Kopinya sudah habis, dan Hara entah kemana. Biasanya asistennya itu selalu stand by dengan kopi panas di jam segini.
Tanpa Cayvion sadari, di bawah meja kerjanya yang besar dan tertutup di bagian depan, ada pergerakan.
Elia dan Elio berhasil menyusup ke bawah meja. Si kucing oranye—yang ternyata bernama 'Bubu' (terbaca di kalungnya)—sedang meringkuk nyaman di dekat kaki Cayvion yang berbalut sepatu pantofel mengkilap.
"Itu dia," bisik Elia tanpa suara. Dia mengulurkan tangan mau menarik ekor kucing itu.
Elio menahan tangan adiknya. "Jangan. Nanti orang di atas sadar."
Elio mendongak. Di atas kepala mereka adalah papan meja kayu yang kokoh. Dia melihat banyak kabel bergantungan semrawut. Untuk ukuran kantor CEO teknologi, manajemen kabel di bawah meja ini berantakan sekali.
"Kabelnya jelek," gumam Elio pelan, jiwa perfeksionisnya terusik. Dia melihat satu kabel power utama yang terhubung ke PC dan monitor. Colokannya longgar, hampir lepas. Posisinya tepat di jalur kaki si Bapak Bos kalau dia meregangkan kaki sedikit saja.
"Kalau kesenggol, mati semua ini," analisis Elio.
Tiba-tiba, Cayvion di atas sana menggebrak meja karena kesal dengan jawaban investor. "Cukup! Saya tidak mau dengar alasan!"
Gebrakan itu membuat si kucing kaget. Bubu melompat, cakarnya tidak sengaja menyangkut di celana Elio. Elio kaget dan refleks mundur. Punggung kecilnya menabrak tumpukan Central Processing Unit (CPU) di bawah meja.
Tangannya melayang mencari pegangan.
Dan yang terpegang adalah kabel power utama yang longgar itu.
Tarik.
ZTET!
Bunyi listrik mati terdengar singkat.
Di atas meja, tiga layar monitor canggih yang menampilkan wajah-wajah investor penting itu mendadak hitam pekat. Lampu indikator komputer mati. Koneksi terputus total.
Hening.
Cayvion membeku. Dia menatap layar hitam di depannya dengan tatapan tidak percaya. Dia menekan tombol power. Tidak ada respon.
"Apa-apaan ini?" geramnya. Suaranya rendah tapi mengerikan, seperti gemuruh sebelum badai. "Siapa yang berani mematikan listrik di tengah negosiasi?!"
Cayvion mendorong kursi kerjanya ke belakang dengan kasar. Dia menunduk, siap memaki staf IT atau siapapun yang bertanggung jawab atas kekacauan teknis memalukan ini. Dia menyibakkan taplak meja kulit yang menutupi bagian depan mejanya.
"Siapa di san—"
Kalimat Cayvion terhenti di tenggorokan.
Matanya membelalak lebar.
Di bawah kolong mejanya, tidak ada teknisi IT. Tidak ada tikus.
Yang ada adalah dua bocah ingusan.
Satu bocah perempuan dengan pipi gembil dan mata bulat yang menatapnya ngeri sambil memeluk kucing oranye gemuk.
Dan satu bocah laki-laki...
Cayvion merasa seolah sedang bercermin ke masa lalu. Bocah laki-laki itu memiliki rambut hitam legam yang sama dengannya, bentuk rahang yang sama, dan tatapan mata dingin yang sama persis. Bedanya, versi ini jauh lebih kecil dan memegang kabel power yang terlepas di tangan mungilnya.
Keheningan di antara mereka bertiga berlangsung selama lima detik yang terasa seperti lima abad.
Elio, yang masih memegang kabel, tidak terlihat takut. Dia malah menghela napas panjang, seolah dia yang lebih dewasa di sini. Dia mengangkat kabel itu, menunjukkannya pada Cayvion.
"Om, komputernya jelek ya?" komentar Elio datar.
Cayvion masih terlalu syok untuk menjawab. Otaknya yang jenius mendadak blank. Darimana datangnya makhluk-makhluk ini? Kenapa mereka ada di bawah selangkangannya?
Elio menggeleng-gelengkan kepala prihatin. "Kabelnya kesenggol dikit langsung mati. Longgar banget. Om pasti nggak punya uang buat beli yang bagus, ya? Kasihan."
Rahang Cayvion jatuh. Anak ini... barusan dia mengasihaniku? CEO Alger Corp? Karena kabel?!
"Kamu... siapa?" suara Cayvion akhirnya keluar, serak dan penuh ancaman.
Sebelum Elio sempat menjawab, pintu ruangan CEO terbuka lebar dengan bantingan keras.
BRAK!
"Pak Cayvion! Maaf saya terlam—"
Hara berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat pasi, seputih kertas HVS. Napasnya memburu seolah dia baru saja lari maraton menaiki 26 lantai. Matanya langsung tertuju ke kolong meja, tempat Cayvion sedang berjongkok berhadapan dengan dua "paket rahasia"-nya.
Dunia Hara runtuh saat itu juga. Tamat riwayatnya.
Elio menoleh ke arah pintu, wajahnya langsung cerah melihat ibunya. Dia merangkak keluar dari bawah meja, berdiri, lalu menunjuk Cayvion dengan telunjuk kecilnya.
"Mami!" panggil Elio lantang. "Om ini kerjanya cuma duduk dari tadi. Terus marah-marah sendiri. Padahal Mami di luar lari-lari terus sampai keringetan."
Elio menatap Cayvion lagi dengan tatapan menghakimi.
"Mami, Om ini pemalas ya?"
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri