Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGELISAHAN MAUDI MEMBAWA KABAR
Surya melangkah masuk ke dalam kamar tanpa banyak suara. Tirai tipis di balkon terbuka, membiarkan angin malam menyelinap pelan. Di sana, Maudi berdiri membelakangi pintu, menatap jauh ke luar balkon dengan pandangan kosong—seolah pikirannya melayang ke tempat yang tak bisa di jangkau oleh siapapun.
Ia terlalu diam untuk sekadar menikmati malam.
Surya kemudian berhenti beberapa langkah di belakangnya. Matanya menyipit, menangkap kebiasaan yang akhir-akhir ini terlalu sering terulang. “Ma…” suaranya rendah, nyaris hhati-hati “Mama lagi mikirin apa lagi, sih?”
Maudi tak langsung menjawab.
“Papa lihat akhir-akhir ini Mama sering ngelamun terus.”
Angin menggerakkan ujung rambut Maudi, namun wanita itu tetap berdiri di tempatnya. Seakan kata-kata Surya benar, namun terlalu berat untuk diakui dengan cepat.
"Ma?" Desak Surya.
Akhirnya, napas Maudi terhela. Terlalu panjang untuk mengungkapkan kekhawatiran. Kedua lengannya saling melipat di bawah dada sambil menatap Surya penuh dan serius. "Mama khawatir sama Dea, Pa."
Surya mengkerutkan dahi. "Khawatir? Khawatir gimana, Ma?"
"Pa... Dea itu sepertinya suka deh sama Vhirel." Tandas Maudi.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Maudi, tanpa pengantar, tanpa basa-basi. Seolah terlalu lama mengendap di dadanya, hingga akhirnya membeludak dan menuntut keluar. Udara di kamar mendadak mulai terasa berat, menekan dada dengan cara yang tak kasatmata.
"Pa. Papa sadar gak si gimana reaksi Dea pada saat Luna dekat dengan Vhirel?"
Surya membisu, wajahnya mengeras dengan ekspresi yang sulit ditebak—antara ikut merenung atau menimbang sesuatu yang jauh lebih dalam. Namun, detik berikutnya, ia justru tertawa kecil. Bukan tawa lepas, melainkan tawa pendek yang terdengar ganjil yang bahkan ia sendiri pun tak yakin apakah itu lahir dari keyakinan, atau sekadar upaya menenangkan dirinya.
"Papa kok malah ketawa, si?!" Protes Maudi dengan nada yang mendadak meninggi setengah kesal. "Mama serius, Pa! Kayaknya usaha kita untuk menjodohkan Vhirel kepada Luna tidak akan berjalan mulus kalau Dea..."
"Ma." Potong Surya tenang. "Mama itu kebanyakan nonton sinetron. Mana mungkin Kakak beradik bisa saling jatuh cinta?"
"Ya bisa lah, Pa!" Tandas Maudi cepat. "Jelas-jelas mereka itu bukan saudara kandung, Pa!"
Maudi melangkah lebih maju ke arah Surya, menangkap kegelisahan yang mulai retak di wajah suaminya. Tatapannya tajam, bukan untuk menyerang, melainkan memastikan Surya tak lagi bersembunyi di balik tawa yang dipaksakan.
Papa pasti ingat...” ucapnya pelan namun tegas, “... gimana kita mengangkat Dea di rumah sakit waktu itu. Tubuhnya masih kecil, dingin… dan ibunya baru saja meninggal.”
Surya menelan ludah. Ingatan itu datang tanpa izin—belum jauh dengan bau antiseptik yang menyengat dan lorong rumah sakit yang sunyi, hingga tangisan bayi yang terdengar terlalu lirih untuk dunia yang baru saja merenggut segalanya. Ia masih ingat pada kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang di tempat, sebelum akhirnya keduanya pergi meninggalkan bayi malang itu sendirian.
“Kita yang memutuskan untuk mengadopsinya, Pa...” lanjut Maudi memecah setengah lamunan Surya. “... kita yang memilih jadi orang tuanya. Bukan sekadar memberi rumah, tapi juga batas. Juga tanggung jawab. Karena itu mereka pantas untuk saling jatuh cinta, Pa!”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada makna kata-katanya agar benar-benar jatuh.
“Dan sekarang… Papa mau bilang ini cuma perasaan Mama saja?” Maudi mendesis dengan gelengan di kepala. "Mama kira tujuan Papa menjodohkan Vhirel pada Luna itu salah satunya untuk memisahkan perasaan Dea saja. Papa sadar, gak..."
Maudi menghembuskan napas perlahan, seolah menahan gejolak yang sejak tadi berdesakan di dadanya. “…Papa pernah benar-benar memperhatikan caranya Dea menatap Vhirel?” ucapnya pelan, namun tiap katanya mengandung tekanan. “Cara matanya selalu mencari, cara tubuhnya tanpa sadar mendekat, juga gerak-gerik kecil yang terlalu personal untuk sekadar adik pada kakaknya.”
Ia menggeleng lirih, suaranya mulai bergetar—bukan karena marah, melainkan karena takut akan kebenaran yang kian jelas.
“Lihat bagaimana mereka bersikap di depan kita,” lanjutnya. “Kaku, canggung, tapi di saat yang sama… terlalu intim. Itu bukan kedekatan kakak beradik yang wajar, Pa. Itu...”
Maudi terdiam sejenak, menelan kata yang terasa pahit. “... lebih mirip pasangan yang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.”
Tatapannya kembali pada Surya, penuh kekhawatiran yang tak lagi bisa disamarkan. "Perasaan seorang Ibu itu kuat, Pa! Dan, Mama khawatir soal itu."
Surya mengangguk perlahan, mulai kehabisan alasan untuk menyangkal. Rahangnya mengeras, matanya tak lagi mencari-cari celah untuk menertawakan kegelisahan Maudi. Ada kesadaran pahit yang akhirnya menemukan bentuknya.
“Tujuan kita mengangkat Dea sebagai anak kita itu untuk menjadi keluarga yang utuh...” kata Surya kemudian. Suaranya tenang, namun sarat tekanan yang tak lagi ia sembunyikan. “... untuk memberi dia rumah, kasih sayang, dan rasa aman, bukan kebingungan seperti ini.”
Ia menghela napas panjang, seolah setiap kata mengikis keyakinannya sendiri.
“Bukan ini yang kita harapkan kan, Ma...” lanjutnya lirih. “... dan bukan ini yang seharusnya terjadi.”
Maudi mengangguk. Perlahan, seolah beban di dadanya ikut turun bersama gerakan itu.
Di sela hening yang menggantung, suasana di balik pintu justru terasa lebih dingin daripada udara malam itu sendiri. Vhirel, yang sejak tadi berdiri mematung dengan kunci mobil di tangannya, merasakan debaran jantungnya memburu.
Setiap kalimat Surya dan Maudi seperti hantaman godam yang menghancurkan dinding pertahanan Vhirel yang tak hanya merobohkan dinding pertahanan, tapi juga meretakkan keyakinan yang selama ini ia jaga rapat.
Napasnya tertahan. Tenggorokannya terasa kering, seolah setiap tarikan udara harus diperjuangkan. Ia menatap kosong ke celah pintu yang sedikit terbuka di hadapannya, menyadari satu hal pahit bahwa pembicaraan itu bukan sekadar kekhawatiran orang tua, melainkan pernyataan yang terkuak tanpa sengaja, yang entah sudah berapa lama menjadi rahasia sunyi.
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,