Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : PERJALANAN KE PASAR
Pagi itu Lia bangun lebih awal dari biasanya – pukul 04.30 tepat ketika adzan subuh mulai terdengar dari masjid kecil di ujung gang kontrakan. Udara pagi yang segar membawa aroma tanah lembap dan bunga kamboja yang tumbuh liar di halaman belakang rumah sakit. Dia segera menyiapkan diri, mengenakan baju kerja lama berwarna biru tua yang sudah mulai memudar warnanya, kemudian menyelesaikan pekerjaan rumah tangga kecil sebelum anak-anak bangun – membersihkan lantai dengan kain lap bekas, menyiram tanaman kangkung yang ditanam di ember plastik di depan rumah, dan menyiapkan air bersih untuk mandi dari sumur yang terletak di belakang rumah kontrakan.
“Lia, kamu sudah bangun ya?” teriak Bu Warsih dari ruangan sebelah, suaranya masih berat akibat baru saja terbangun dari tidur. “Saya taruh nasi hangat di dapur ya – kamu sarapan dulu sebelum pergi kerja, jangan sampai sakit karena kurang makan.”
“Terima kasih banyak Bu Warsih,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil mengusap peluh yang mulai menetes di dahinya. Dia mengambil piring keramik kecil yang diberikan oleh Bu Warsih, menyantap nasi hangat dengan lauk tempe orek yang masih hangat. Setiap suapan membuatnya merasa lebih bertenaga, mengingat hari yang akan datang pasti penuh dengan pekerjaan yang banyak di rumah sakit.
Setelah menyelesaikan sarapan dan memastikan Mal dan Rini masih tidur nyenyak di ranjang kasur yang dibagikan – kedua anak itu selalu saling berbagi tempat tidur dengan erat karena ukuran kasurnya yang terbatas – Lia mengambil tas kerja yang sudah dia siapkan semalam. Tas itu berisi cadangan kaos kerja, sapu tangan yang sudah dicuci berkali-kali, dan buku catatan kecil yang selalu dia bawa untuk mencatat setiap informasi tentang anak-anak yang mungkin memiliki kondisi sama dengan Adit.
Pada pukul 05.45 dia berangkat menuju rumah sakit dengan berjalan kaki – jaraknya hanya sekitar 15 menit jika jalan cepat. Di sepanjang jalan, dia menyapa setiap orang yang sudah mulai aktif – dari pedagang sayur yang baru saja membuka kiosnya hingga tukang becak yang sedang membersihkan kendaraannya. Di sudut jalan dekat pasar Cikini, sebuah spanduk besar menarik perhatiannya: “KOMUNITAS PERSAHABATAN ANAK – Bantu Kami Temukan Keluarga Mereka” dengan nomor kontak yang jelas tertera di bawahnya.
Lia berhenti sejenak, menatap spanduk itu dengan hati yang penuh harap. Dia sudah beberapa kali mendengar tentang komunitas ini dari Bu Siti, seorang pekerja sosial di rumah sakit yang sering membantu anak-anak yang membutuhkan. Namun selama ini dia terlalu fokus pada pekerjaan dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak sehingga tidak punya waktu untuk bergabung. Kali ini, hati dia merasa terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar bekerja dan mencari.
“Sekarang atau tidak pernah,” bisiknya sendiri sebelum melanjutkan jalan menuju rumah sakit.
Ketika tiba di bagian cuci rumah sakit, Pak Joko sudah menunggu dengan membawa daftar pekerjaan hari itu. “Lia, hari ini ada banyak cucian dari ruangan perawatan anak-anak lho,” jelasnya dengan suara yang khas. “Ada sekitar lima karung pakaian dan selimut yang perlu dicuci dengan cara khusus – jangan pakai deterjen terlalu banyak ya, karena beberapa anak memiliki kulit sensitif.”
Lia mengangguk sambil mulai mempersiapkan larutan cuci yang tepat – air hangat dengan takaran deterjen yang sudah dia kuasai selama bertahun-tahun bekerja di sini. Dia memisahkan cucian berdasarkan jenis kain: kain katun dari pasien dewasa di satu ember, kain kapas untuk bayi dan anak-anak di ember lain, serta selimut dan sprei yang membutuhkan perawatan khusus di ember terpisah. Setiap langkahnya dilakukan dengan hati-hati – dari mengoleskan deterjen pada noda yang sulit, menggulung kain agar tidak sobek, hingga membilasnya hingga benar-benar bersih.
Saat sedang menggantungkan cucian di tali yang direntangkan antara dua pohon jambu air di halaman belakang, Lia melihat sekelompok anak-anak dari sekolah dasar dekat desa sedang bermain di halaman depan rumah sakit. Di antara mereka ada seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan rambut pirang dan wajah yang ceria – namun ketika dia melihat Lia, matanya seolah mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Anak itu mendekat dengan hati-hati, tangannya masih memegang mainan mobil kecil yang sudah aus. “Bu, kenapa kamu selalu melihat saya dengan mata seperti itu?” tanya dia dengan suara lembut.
Lia meraih tangannya dengan lembut, merasakan kehangatan kulitnya yang lembut. “Kamu punya wajah yang mirip dengan anak saya yang hilang,” ucapnya dengan suara sedikit getar. “Nama kamu apa, nak?”
“Saya Rio, Bu,” jawab anak itu dengan senyum ceria. “Ayah saya bekerja sebagai guru di sekolah desa, dan ibu saya mengajar saya untuk selalu ramah pada orang baru.”
Lia merasa hati berdebar kencang. Dia melihat dengan cermat – alis anak itu yang tebal, mata coklat gelap yang hangat, dan saat dia menoleh ke samping, terlihatlah bintik merah berbentuk hati kecil di bagian punggung kanannya yang terbuka karena kaosnya yang sedikit sobek di bagian belakang. Air mata mulai menggenang di matanya saat menyadari bahwa ini adalah anaknya yang sudah dia cari selama delapan tahun.
Namun dia tetap tenang, tidak ingin membuat Rio merasa takut atau cemas. “Rio, kamu mau cerita sama saya tentang sekolahmu tidak?” ucapnya dengan senyum hangat. “Saya punya dua adik perempuan yang seusiamu, mereka pasti senang bermain denganmu.”
Rio mengangguk dengan gembira. “Saya mau sekali, Bu! Saya selalu menginginkan saudara kandung karena teman-teman saya punya saudara dan saya merasa sendiri.”
Saat itu juga, Lia mengambil buku catatan kecilnya dan menuliskan nama “Rio” di halaman baru – lengkap dengan tanggal pertemuan mereka dan ciri-ciri fisiknya yang dia ingat dengan jelas. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kali ini dia akan melakukan segalanya dengan cara yang benar, sesuai hukum dan untuk kebaikan anak itu.
Setelah selesai menggantungkan semua cucian yang sudah bersih, Lia menghampiri Rio yang sedang bermain dengan daun kering di tanah. “Rio, besok kamu mau datang ke rumah saya tidak? Kakak perempuanmu sudah menyiapkan mainan dan cerita untukmu.”
Rio tersenyum lebar, matanya bersinar seperti bintang. “Betul sekali Bu! Saya akan minta izin pada ayah dan ibu saya dulu ya.”
Di saat yang sama, Nina – ibu Rio yang sekarang – sedang mengajarinya di rumah tentang pentingnya menghargai orang lain. Dia melihat dari jendela kamar mereka, melihat Lia dan Rio sedang berbincang dengan hangat. Hatinya merasa penuh dengan pemahaman – bahwa cinta tidak harus membuat seseorang menjadi milik kita semata, melainkan harus memberi mereka kesempatan untuk tahu siapa diri mereka sebenarnya.
“Sekarang kamu sudah besar, Rio,” ucap Nina dengan menyentuh kepalanya. “Kamu punya hak untuk tahu keluarga kandungmu dan mereka punya hak untuk mengenalmu juga.”
Rio mengangguk dengan mengerti. Dia sudah mulai menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini – bahwa dia punya keluarga yang mencintainya di dua tempat yang berbeda, namun cinta yang diberikan sama dalam kehangatannya.
Di malam hari, Lia duduk bersama Mal dan Rini di rumah kontrakan yang kecil namun penuh cinta. Dia menunjukkan foto kembaran mereka kepada kedua anaknya. “Ini kakak kamu yang sudah kamu cari selama ini, nak,” ucapnya dengan suara lembut. “Besok kita akan bertemu dengannya dan kamu akan tahu betapa bahagianya memiliki saudara kandung.”
Mal dan Rini melihat foto itu dengan mata penuh kagum dan rasa rindu yang mendalam. “Kita akan selalu menunggu dia kan Bu?” tanya Rini dengan suara lembut.
“Iya sayang, kita akan selalu menunggu dan memberikan yang terbaik untuk kakakmu itu,” jawab Lia dengan penuh cinta, sambil berdoa agar semua yang terjadi esok hari akan membawa kebaikan bagi semua pihak yang terlibat.