Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTANA KECIL DI ATAS BUKIT.
Seminggu setelah kunjungan ibu mertuanya, suasana di desa yang biasanya sunyi mendadak berubah menjadi sibuk. Deru mesin truk dan suara langkah kaki para pekerja memenuhi udara pagi. Farel datang dengan persiapan matang, membawa material bangunan terbaik dan tim kontraktor ahli yang biasa menangani proyek-proyek besar perusahaan Haris. Haniyah yang baru saja keluar ke teras untuk menikmati udara pagi, tertegun melihat kesibukan di lahan yang terletak tak jauh dari pondok nenek Ratih.
Melihat Haris berdiri di tengah lahan itu dengan membawa beberapa gulungan kertas denah, Haniyah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia berjalan perlahan menghampiri suaminya, menapaki rumput yang masih basah oleh embun.
"Mas, apa yang sedang kalian lakukan di sini? Kenapa Farel membawa begitu banyak orang dan material bangunan?" tanya Haniyah sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu jati dan kaca-kaca besar.
Haris menoleh dan tersenyum lebar, ia segera merangkul pundak istrinya. "Kejutan, Sayang. Mas sedang membangun vila untukmu. Mas ingin kamu memiliki tempat yang nyaman selama kita tinggal di sini."
Haniyah membelalakkan mata, ia menatap lahan luas itu dengan bingung. "Membangun vila? Tapi ini lahan siapa, Mas? Kenapa kamu bertindak semaumu tanpa bicara dulu padaku?"
"Tenanglah, ini lahan milik Kakek Usman yang sudah Mas beli secara sah. Jadi, kamu tidak perlu khawatir akan mengganggu siapa pun. Mas hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu dan calon anak kita," jelas Haris dengan nada yang sangat lembut.
Haniyah menghela napas panjang. Ia tahu betul jika suaminya sudah bertekad melakukan sesuatu, tidak akan ada yang bisa membantahnya. Akhirnya, ia hanya bisa pasrah dan memilih untuk memperhatikan dari kejauhan. Ia duduk di teras pondok nenek Ratih, menyaksikan betapa cekatannya para pekerja pilihan Haris.
Orang-orang itu benar-benar profesional. Hanya dalam waktu tujuh hari, struktur bangunan sudah terlihat berdiri tegak. Vila itu didesain minimalis dengan sentuhan kayu yang mewah namun tetap menyatu dengan alam sekitarnya. Dinding-dindingnya didominasi oleh kaca besar, sehingga dari dalam ruangan, siapa pun bisa melihat pemandangan lembah dan sungai di bawah bukit tanpa terhalang.
Haris juga meminta secara khusus agar dibuatkan taman kecil yang indah di sekeliling vila. Di bagian samping, ia menyiapkan lahan khusus yang tertata rapi bagi Haniyah jika istrinya itu ingin menyalurkan hobinya menanam sayuran. Vila itu kini berdiri cantik di atas bukit, terlihat begitu kontras namun serasi dengan lingkungan sekitarnya.
Kakek Usman yang memperhatikan dari kejauhan akhirnya datang menghampiri Haris. Ia tampak sangat kagum melihat kecepatan pembangunan tersebut.
"Luar biasa, Nak Haris. Baru satu Minggu yang lalu kita bicara, sekarang rumah ini sudah hampir siap dihuni. Pekerjamu ini seperti menggunakan sihir," puji Kakek Usman sambil terkekeh.
Haris tertawa renyah mendengar komentar sang kakek. "Ini hanya manajemen waktu yang baik, Kek. Mumpung para pekerja masih di sini, apa Kakek juga ingin vila kecil untuk menggantikan pondok lama Kakek?"
Kakek Usman segera menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Terima kasih tawarannya, tapi pondok itu adalah kenangan berharga bersama almarhumah istri saya. Saya tidak ingin merubah satu inci pun kayu di sana. Biarlah tetap sederhana seperti kenangan kami."
Haris terdiam sejenak, ia menatap Kakek Usman dengan penuh rasa hormat. Ia mengerti betul perasaan itu, karena ia sendiri pun mencintai Haniyah dengan kedalaman yang sama. "Saya mengerti, Kek. Maaf jika tawaran saya menyinggung perasaan Kakek."
Saat mereka sedang asyik berbincang, sebuah mobil meluncur perlahan dari arah jalan desa dan terparkir di bawah bukit. Sosok wanita dengan pakaian kantor yang modis keluar dari sana. Itu Ratih. Ia tampak berdiri mematung sambil memandangi perubahan drastis di sekitar pondok neneknya.
Haniyah segera berlari menuruni bukit dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Ratih! Maafkan aku, Mas Haris merombak sedikit pondok nenekmu agar pintunya lebih tinggi dan jaringannya lancar."
Ratih melepaskan pelukan dan menatap pondoknya yang kini tampak lebih cantik dan kokoh. "Astaga, Hani! Kamu tidak perlu minta maaf. Aku justru senang melihat pondok ini jadi lebih terawat dan besar. Aku hampir tidak mengenalinya lagi dari bawah sana."
Haris berjalan mendekat, menyalami Ratih dengan penuh rasa hormat. "Terima kasih, Ratih. Terima kasih sudah menjaga Haniyah saat aku kehilangan arah. Dan aku minta maaf atas kelakuanku yang kasar saat di kantormu waktu itu."
Ratih tersenyum tulus. "Lupakan saja, Haris. Aku mengerti perasaanmu saat itu. Aku justru iri melihat kalian. Kalian ini pasangan yang sangat tangguh, dari zaman kuliah sampai sekarang tetap saling memperjuangkan."
Haris tersenyum bangga sambil merangkul Haniyah. "Itu karena Haniyah adalah nyawaku, Ratih."
"Yah, sayangnya tidak semua orang seberuntung kalian. Aku sendiri selalu gagal urusan laki-laki, makanya sekarang aku memilih menutup diri saja," keluh Ratih dengan nada bercanda namun terselip sedikit rasa getir.
Haris tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menunjuk ke arah Farel yang sedang berdiri di taman belakang vila baru, sibuk mengawasi pemasangan ayunan kayu yang artistik.
"Bagaimana dengan Farel? Dia asisten kepercayaanku. Tampan, mapan, dan yang paling penting, dia belum memiliki istri," goda Haris.
Ratih mengikuti arah telunjuk Haris. Matanya tertuju pada sosok Farel yang terlihat sangat serius, bahkan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun saat berbicara dengan para tukang.
"Tampan sih memang, tapi kelihatannya dia orang yang sangat dingin. Aku tidak yakin bisa bicara lama-sama dengannya," bisik Ratih sambil tertawa kecil.
Haris tersenyum penuh arti. "Percayalah, Ratih. Lelaki yang dingin di luar biasanya adalah sosok yang paling setia dan hangat jika sudah menemukan orang yang tepat. Dia itu pilar kekuatanku di perusahaan."
Haniyah ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Ia berharap sahabatnya itu pun bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Sementara itu, di kejauhan, Farel seolah merasakan ada yang membicarakannya. Ia menoleh ke arah mereka, memberikan anggukan sopan sejenak, lalu kembali fokus pada pekerjaannya tanpa ekspresi sedikit pun.
"Tuh kan, baru dilirik saja sudah kaku begitu," celetuk Ratih yang membuat Haris dan Haniyah tertawa bersama.
Sore itu, di bawah bayang-bayang vila baru yang hampir selesai, mereka semua berkumpul dengan tawa. Haniyah merasakan ketenangan yang selama ini ia impikan. Ia mengusap perutnya yang mulai terasa sedikit mengencang, berharap buah hatinya bisa tumbuh sehat di istana kecil yang dibangun ayahnya dengan penuh cinta ini.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪