NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 Persewaan Tenda

Besoknya aku bangun dengan badan masih pegal. Bukan pegal habis olahraga, tapi pegal yang datang karena kurang tidur dan kebanyakan mikir. Rasanya kayak semalaman aku jalan jauh tanpa sadar. Mata masih berat, kepala agak nyut-nyutan.

Hari ini jadwalku ke persewaan tenda sama Faris.Awalnya Rara yang mau ikut. Tapi pagi-pagi dia chat, bilang ada urusan mendadak sama pacarnya. Katanya cuma sebentar, nanti nyusul kalau sempat. Aku baca chat itu sambil duduk di pinggir kasur. Nggak kaget. Cuma mengangguk sendiri. Oke. Aku sama Faris aja.

Faris itu tipe orang yang kalau diajak kerja, ya kerja. Nggak banyak tanya, nggak banyak drama. Tapi juga bukan tipe yang peka sama suasana. Buatku, itu cukup. Aku lagi nggak pengin mikir soal perasaan orang lain. Kami janjian ketemu di depan sekolah jam sepuluh. Matahari sudah mulai panas. Aku datang duluan. Duduk di motor sambil mainin HP, ngecek ulang list barang yang mau disewa: tenda regu, tenda panitia, flysheet, patok, tali. Semua sudah kuhitung dua kali. Harusnya aman. Faris datang lima menit kemudian. Helmnya masih nempel, tas selempang di pundak.

“Langsung berangkat?” tanyanya.

“Iya.”

Kami naik motor masing-masing. Aku di depan, Faris ngikutin. Jalanan agak rame, tapi masih bisa jalan. Angin panas kena wajah, bikin mata perih. Aku mikir, kenapa hal sesederhana sewa tenda aja rasanya berat. Persewaan tendanya ada di pinggir jalan besar, ruko tua dengan papan nama agak miring. Aku parkir, turun. Faris ngikut.

Di dalam, bau kain dan debu langsung nyambut. Ada bapak-bapak duduk di kursi plastik, lagi ngitung sesuatu. “Mau sewa tenda, Pak,” kataku.

Bapaknya ngangguk. “Berapa?”

Aku sebutin satu-satu. Dia nyatet. Faris bantu ngecek tenda yang digelarin satu-satu di lantai. “Kegiatan apa?” tanya bapaknya.

“Diklat pramuka.”

“Oalah. Biasanya lama ini.”

“Iya, Pak.”

Kami lanjut ngitung. Aku cek jumlah. Cocok. Aku tarik napas lega sedikit. Setidaknya yang ini nggak ribet. “Bayarnya sekarang atau nanti?” tanya bapaknya. Aku refleks masukin tangan ke tas. Dompet. Kosong. Aku cek lagi. Tas depan. Tas samping. Nggak ada. Dadaku langsung agak kencang. Aku berdiri di situ, diem beberapa detik. Faris nengok. “Kenapa?”

Aku buka tas lagi, lebih cepat. Masih nggak ada. “Dompetku ketinggalan,” kataku akhirnya.

Faris melongo. “Serius?” Aku angguk. Kepala rasanya panas.

“Di rumah?” tanya dia.

“Mungkin.”

Aku mikir cepat. Rumahku nggak dekat. Kalau balik, bisa makan waktu hampir satu jam. Jadwal hari ini sudah padat. Aku nggak pengin bikin ribet.

“Gimana?” Faris nanya lagi. Aku lihat bapak persewaan. Dia nunggu, kelihatan biasa aja.

“Bisa DP dulu nggak, Pak?” tanyaku. Bapaknya mikir sebentar. “DP bisa. Sisanya nanti pas ambil.”

“Oke.” Aku ambil HP, buka m-banking. Saldo masih ada. Aku transfer. Aman. Selesai. Tapi rasa nggak enak itu tetap ada. Aku benci kejadian kayak gini. Bukan karena masalahnya besar, tapi karena ini kesalahan kecil yang bikin aku ngerasa ceroboh. Biasanya aku paling cerewet soal barang-barang penting. Dompet, HP, kunci. Sekarang aku lalai.

Kami keluar dari ruko. Panas makin nyengat. Aku jalan ke motor, lemes. “Kamu nggak apa-apa?” Faris tanya sambil pakai helm.

“Iya. Aman.”

“Kalau mau balik ambil dompet, aku bisa nunggu.”

Aku geleng. “Nanti aja sekalian pulang.”

Kami naik motor lagi. Di jalan, aku lebih banyak diem. Pikiran muter. Bukan soal dompet doang. Tapi soal rangkaian kejadian kecil yang bikin aku ngerasa sendirian ngurus semuanya. HP-ku getar. Chat dari Rara.

Rara : Jadi ke persewaan?

Aku balas singkat. Aku : Iya. Sudah beres.

Rara : Oh. Sama siapa?

Aku : Faris.

Balasan agak lama.

Rara : Oke. Nanti update ya.

Aku baca. Nggak bales apa-apa. Bukan karena marah. Aku cuma capek ngetik. Kami sampai sekolah siang. Aku parkir, turun. Kakiku agak gemetar, entah karena panas atau karena kesel yang numpuk. Di aula, beberapa anak sudah ada. Tara lagi duduk di lantai, ngelipet kertas. Dia nengok pas aku masuk. “Eh, sudah?” tanyanya.

“Sudah.”

“Gimana?”

“Berjalan.”

Dia senyum kecil. “Syukurlah.” Aku duduk di sampingnya. Lantai dingin kena telapak tangan. Enak. “Kamu kenapa?” Tara nanya pelan. Aku geleng. “Nggak kenapa-kenapa.” Tara nggak maksa. Dia balik ke kertasnya. Aku ngeluarin HP, buka catatan, nulis reminder: DOMPET.

Rara datang sekitar setengah jam kemudian. Mukanya santai, kayak nggak ada apa-apa. “Eh, sudah sewa?” tanyanya.

“Iya.”

“Lengkap?”

“Harusnya sih lengkap.”

“Bayarnya gimana?”

Aku nengok ke dia. “DP. Dompetku ketinggalan.” Rara angkat alis. “Loh?”

“Iya.” Dia ketawa kecil. “Kamu tuh, Nay.” Nada ketawanya ringan. Tapi entah kenapa, itu bikin aku pengin berdiri dan pergi. “Kenapa nggak bilang?” lanjutnya.

“Apa yang mau dibilang? Sudah kelar.” Rara diem sebentar. “Ya iya sih.” Dia duduk. Ngobrol sama anak lain. Aku dengar setengah-setengah. Otakku sudah keburu penuh.

Sore itu, kami lanjut ngerjain yang lain. Bagi tugas. Angkut barang. Aku jalan ke sana-sini. Badan capek, pikiran juga. Menjelang magrib, aku duduk sendirian di tangga aula. Matahari sudah turun. Langit mulai gelap. Aku buka HP. Niatnya mau cek jam. Tapi malah kebuka chat lama sama Rara. Scroll ke atas. Obrolan kami dulu rame. Panjang. Sekarang, isinya pendek-pendek. Fungsional. Aku nutup HP.

Hari ini kelihatannya sepele. Cuma sewa tenda. Dompet ketinggalan. Hal kecil. Tapi entah kenapa, aku ngerasa sendirian banget di tengah banyak orang. Aku berdiri lagi. Masih banyak yang harus dikerjain. Capek boleh, tapi berhenti belum.

Aku jalan masuk aula. Lampu dinyalain. Suara orang-orang makin rame. Aku ambil napas panjang, lalu masuk ke keramaian itu. Aku masih di sini. Masih jalan. Tapi pelan-pelan, ada bagian dari diriku yang mulai ngerasa ditinggal.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!