NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:589.5k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Sembilan

Hening lima detik setelah jatuh itu terasa seperti film slow motion. Kirana masih berada tepat di atas tubuh Samudera, dengan jarak wajah yang bahkan semut pun mungkin bisa lewat sambil say hi. Deg-degan. Nafas campur. Tatapan intens.

Sampai akhirnya terdengar bunyi. Suara yang entah dari mana, mungkin dari punggung Samudera yang protes dipaksa jadi matras darurat, membuat keduanya tersentak bersamaan.

“A—aduh!” Sam memegangi pinggang. “Pinggangku! Badanmu berat juga Kiran. Untung tak patah pinggangku!"

Kirana langsung bangkit panik. “Astaga Sam! Kamu nggak apa-apa? Tapi, badanku tak berat ya. Jangan asal bicara!"

"Nggak berat, tapi posisi jatuhmu di tubuhku itu tak nyaman bagiku!"

Kirana lalu bangun dari tubuh suaminya itu. Tapi saat ia mencoba berdiri, kembali jatuh. Karena saat ia bangkit kakinya yang masih di lantai basah kembali

“KI–RANAAA!!”

Ia jatuh lagi. Tepat di atas perut Samudera. Pria itu merasa tubuhnya remuk.

“Ya Allah Kiran! Jangan dijadikan aku sebagai trampolin hidup!!”

Kirana panik total. “Sam! Sam! Ya Tuhan maaf, maaf ... maaf!! Aku ....”

“Aduh … tunggu. Izinkan aku mengingat kembali bagaimana rasanya punya tulang belakang.”

Kirana buru-buru bangkit, kali ini dengan merangkak supaya tidak jatuh lagi. Tapi karena gugup … ia malah kepleset kali ketiga.

Kirana terjerembap ke samping sofa. Samudera menutup muka dengan satu tangan sambil tertawa meski masih meringis.

“Kiran … kamu tuh bukan kepleset. Kamu tuh kayak nabrak skripsi, jatuhnya berkali-kali tapi masih lanjut aja.”

Kirana mendongak dari lantai dengan muka kusut seperti daun singkong. “Samudera … ini lantai terlalu licin!”

“Lah jelas! Kamu tuang cairan pembersihnya kayak tuang sirup buat buka puasa! Ini lantai, bukan es campur!”

Kirana meraih sapu pel sambil bersusah payah. “Ya ampun … pokoknya jangan ketawa! Kamu hampir mati tertindih aku!”

“Gimana aku nggak ketawa,” Samudera duduk sambil memegang pinggang, “kamu jatuh tiga kali dan semua jatuhnya ke Aku. Tiga kali! Persentase keberhasilan kamu menimpa aku itu 100%! Itu statistik luar biasa!”

Kirana lempar tatapan mematikan. “Aku bantuin kamu bersih-bersih, tau!”

“Iya, iya. Makasih. Tapi ....” Sam menunjuk lantai,

“Untuk keselamatan kita, mari berhenti sebelum apartemen ini berubah jadi Rumah Sakit.”

Samudera berjalan pelan dan mengambil baju kering yang tak dipakai lagi, dia mengelap ke lantai basah itu agar tak licin lagi.

Setelah lantai agak kering dan Samudera memastikan Kirana tidak terjun bebas lagi, mereka duduk di sofa sambil menarik napas panjang.

Kirana memeluk bantal. Pipinya masih merah, entah karena capek, malu, atau semua kejadian memalukan barusan.

“Aku … sumpah … itu semua kecelakaan. Tak aku sengaja,” ucap Kirana malu.

Samudera meneguk air minum sambil mengibas-ngibaskan baju yang basah. “Iya. Dan aku percaya. Tapi kalo kamu jatuh sekali lagi, aku bakal pake helm.”

Kirana mendengus. “Jangan bercanda!”

“Aku serius,” jawab Sam dengan muka sok tegang. “Aku akan beli helm hitam, tulisannya besar:

‘HELM ANTI KIRANA’.”

“Samudera!!”

Sam ngakak sampai sofa bergoyang.

Tapi kemudian ia menatap Kirana sebentar. Lebih lembut. Lebih lama. Tanpa tawa.

“Tapi … Kiran,” ucap Samudera pelan. “Tadi waktu kamu jatuh pertama kali … kita kan, ehm, dekat banget.”

Kirana membeku. “Jangan bahas itu.”

“Kenapa?” Samudera menyenggol bahunya. “Kamu malu ya?”

“Aku nggak malu!” bantah Kirana spontan.

“Terus apa?”

“Aku … cuma … ya sedikit malu.”

Sam tertawa lagi. Kirana melempar bantal ke muka Sam. “Kamu itu nggak bisa serius sedetik aja ya?”

Sam menangkap bantal itu dan meletakkannya di pangkuannya, lalu menatap Kirana dengan senyum kecil yang aduh, menyusahkan jantung.

“Aku bisa serius, Kirana.”

Detik itu, hening turun sebentar. Tapi sebelum suasana berubah jadi romantis lagi, Sam menambahkan:

“Tapi kamu tuh kalau jatuh menggemaskan banget. Kayak bayi kura-kura kebalik.”

“Samudera.”

“Iya?”

“Tolong diam sebelum aku lempar setrika.”

Sam langsung terdiam tapi matanya tetap berbinar menahan tawa.

Kirana akhirnya berdiri. “Oke! Lantai udah kering. Aku mau ke kamar mandi dulu, cuci muka. Kamu jangan bikin lantai ini licin lagi ya!”

“Siap, yang punya rumah.”

Kirana menuju kamar mandi. Samudera bersandar di sofa, menghela napas panjang sambil mengusap pinggangnya.

“Aduh sakit … tapi lucu sih,” gumam Samudera sambil tertawa kecil.

Namun saat Kirana menutup pintu kamar mandi, terdengar suara jatuh lagi. Suara keras terdengar dari dalam.

“Kiran! Kamu kejatuhan apa lagi?!” teriak Samudera panik sambil lari.

Dari dalam terdengar suara Kirana, putus asa:

“Sam ... aku terpeleset lagi," ucap Kirana dari dalam kamar mandi.

Samudera langsung berlari ke kamar mandi, beruntung belum di kunci. Dia langsung menggendong Kirana ke kamar.

Samudera menurunkan tubuh Kirana dengan pelan ke atas tempat tidur.

"Hobi kok jatuh sih," ucap Samudera.

"Bukan hobi, Sam. Mana ada orang yang mau terpeleset terus," balas Kirana.

Samudera berjalan menuju meja rias. Dia membuka lacinya seperti mencari sesuatu. Ia lalu mengambil balsem.

Samudera naik ke ranjang dan mendekati istrinya itu. "Ayo tengkurap!" perintahnya.

Dengan pelan Kirana melakukan perintah suaminya itu, walau dengan penuh tanda tanya. "Kamu mau apa, Sam?"

"Jangan ingatkan soal kontrak yang tanpa sentuhan fisik. Dari tadi kita juga sudah banyak bersentuhan.

Samudera tanpa permisi lalu menurunkan celana Kirana membuat gadis itu menahan tangannya. "Sam, jangan gila kamu mau apa?" tanya Kirana, mencoba menahan tangan Sam yang menurunkan celananya.

"Kamu tuh sudah dua puluh enam tahun, tapi pikirannya masih aja jelek terus. Aku mau mengoles balsem biar pinggang dan pinggulmu tak nyeri!" ucap Samudera.

Kirana akhirnya pasrah dengan apa yang suaminya itu lakukan. Saat Samudera sedang mengoles balsem, tanpa ia dan istri sadar, mami telah berdiri di ambang pintu.

"Astaga Sam, Kirana, kalau mau gituan tutup pintu dulu, kunci dari dalam!" teriak Mami Vania.

Samudera langsung menarik tangannya dari pinggang Kirana, dan gadis itu juga menarik celananya ke atas. Mami Vania sudah tak terlihat, mungkin ada di ruang keluarga. Samudera turun dari ranjang ingin menyusul maminya.

**

Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

1
syh 03
rata2 novel selalu bayi kembar
syh 03
cuma di dunia novel org jahat dpt karma...klo real mh yg jahat makin bahagia dan panjang umur
syh 03
knpa nama nya Mika kya nama cewe 😆
syh 03
aku wkt ngidam anak pertama sukanya mkn sayur g suka mkn lauk..sampai hamil besar cuma mkn sayur..mkn lauk itu pun cuma telur dan harus di campur sayur klo di dadar...dan pas lahiran anakku cewe dan dia g suka sayur ampe dewasa g suka sayur...anak kedua ngidam bakso jd g bs makan klo ga mkn bakso..itu pun harus di makan di tempatnya..jd tiap hari mkn bakso ampe abang yg jual hapal wajahku..dan anak kedua cowok..dan dia ga suka makan bakso..lika liku ibu ngidam mmng kadang aneh2 😅
Mama Reni: Lah 😭😭🤣🤣
total 3 replies
Irma Windiarti
/Good//Good/
Rahma Inayah
akhirnya yg bahagia
Rahma Inayah
semoga dilncrkn lahirannya aamiin
Rahma Inayah
tisa GK takut cerai dr km Krn SDH GK ada ank LG diantara kalian
Rahma Inayah
stlh ank meninggal br nyesel dan nangis GK guna
Rahma Inayah
krm mmg Irfan pantas mendptkn tamapran dr papa Kirana
Rahma Inayah
suami GK punya rasa tanggung jwb jgn2 Irfan punya wanita simpenan lgi ..
Rahma Inayah
ank yg km pilihnkasih ternyata JD dewa penolong mu ..papa.kirana baru sadr stlh usia yg hampir sepuh..atas apa yg dia lakukan PD Kiran di masa lalu
Rahma Inayah
gula lo Irfan satu juta 1 bulan ..GK mirk otak nya SDH konslet ckp apa uang segitu
Rahma Inayah
setlh. GK punya br sadr papa nya Kirana ank yg dia Anggo beban skrg membantu nya dlm kesusuhan
Rahma Inayah
orng yg km hina GK guna GK PNY kerjaan berandalan skrg JD dewa penolong BG ank mu .kira saya mama Kirana Mash hidup tau nya Mak trii nya .LP klu mama Kirana meninggal 🤭🤭.gengsi Irfan digedein tp nyata nya GK mampu byr biaya operasi ank nya lbh tepat nya syg uang nya dr pada nyawa ank nya
Rahma Inayah
kirain mama Kirana meninggal tau nya cerai hidup dr papa nya
Rahma Inayah
bnr Kirana utg Irfan GK JD nikah SM km dia nikah SM tisa yg mn utk ngidam aja GK BS penuhi perhitungan padhl dia katanya manager
Rahma Inayah
mami lbh syg SM mantu ketimbang ank sendri 🤭🤭yg
Rahma Inayah
nah Sam saat nya km nuriti ngidam bumil yg random SPT kata papi mu
Rahma Inayah
Sam akan JD ayah muda ..20 THN SDH jadi ayah 🤭🤭👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!