NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 — Perintah Baru

Di kamar besar rumah Mahendra, Alisha Mahendra berdiri di depan jendela. Pagi itu langit terlihat cerah, tetapi suasana hatinya jauh dari tenang.

Ponsel berada di tangannya sejak tadi.

Laporan yang ia terima semalam masih tersimpan di layar.

Target bersama Alvaro.

Kalimat itu terus muncul di pikirannya.

Alisha menghela napas pelan. Ia tidak suka membaca nama itu bersama nama gadis lain.

Alvaro seharusnya berada di dekatnya.

Bukan bersama gadis yang tiba-tiba muncul lalu mengacaukan semuanya.

Ia menatap layar ponsel sekali lagi sebelum akhirnya menekan nomor seseorang.

Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.

“Ya,” suara pria terdengar dari seberang.

Alisha berbicara dengan nada tenang.

“Kalian masih mengawasinya?”

“Masih.”

“Bagaimana situasinya?”

Pria itu menjawab tanpa ragu.

“Target bekerja seperti biasa di kafe. Kemarin malam dia pulang bersama seorang pria.”

Alisha sudah tahu jawaban itu, tetapi ia tetap bertanya.

“Alvaro?”

“Iya.”

Alisha menutup matanya sebentar.

Perasaan kesal muncul lagi.

“Apa kalian yakin tidak salah orang?”

“Kami sudah memastikan. Itu dia.”

Beberapa detik suasana menjadi sunyi.

Alisha berjalan perlahan di dalam kamar.

“Aku ingin kalian terus mengawasinya,” katanya akhirnya.

“Baik.”

“Catat semua kebiasaannya. Jam berapa dia datang ke kafe. Jam berapa dia pulang.”

Pria itu langsung menjawab singkat.

“Dimengerti.”

Ia sempat ragu sebelum berbicara lagi.

“Tapi ada satu hal.”

“Apa?”

“Pria itu sering berada di dekatnya.”

Alisha berhenti berjalan.

“Alvaro.”

“Iya.”

Alisha memandang ke luar jendela.

Mobil-mobil terlihat bergerak di jalan depan rumah.

“Tidak masalah,” katanya pelan.

“Kalian hanya perlu menunggu waktu yang tepat.”

“Baik.”

Alisha menutup telepon tanpa mengatakan apa pun lagi.

Ia meletakkan ponsel di atas meja.

Pikirannya masih dipenuhi berbagai kemungkinan.

Ia tidak bisa membiarkan semuanya berubah.

Selama ini ia yang berada di rumah ini.

Ia yang dikenal semua orang sebagai putri keluarga Mahendra.

Semua itu tidak boleh hilang begitu saja.

Sementara itu di kafe tempat Alisha Pratiwi bekerja, suasana pagi sudah cukup ramai.

Beberapa pelanggan duduk di meja dekat jendela.

Aroma kopi menyebar di seluruh ruangan.

Alisha berdiri di balik meja kasir sambil menuliskan pesanan.

“Latte satu,” kata seorang pelanggan.

“Baik.”

Alisha menyerahkan catatan pesanan itu ke dapur kecil di belakang.

Ia kembali membawa minuman yang sudah selesai dibuat lalu mengantarkannya ke meja pelanggan.

Rutinitas seperti itu sudah ia lakukan setiap hari.

Ia berusaha bekerja seperti biasa meski pikirannya sempat mengingat kejadian semalam.

Perasaan seperti diikuti itu masih teringat jelas.

Alisha mencoba mengabaikannya.

Mungkin itu hanya perasaan saja.

Pintu kafe terbuka.

Alisha langsung menoleh.

Alvaro masuk ke dalam ruangan.

Ia berjalan santai menuju meja dekat kasir.

“Pagi,” katanya.

Alisha tersenyum kecil.

“Pagi.”

“Kopi hitam seperti biasa?”

Alvaro mengangguk.

“Iya.”

Alisha segera menyiapkan pesanan itu.

Beberapa menit kemudian secangkir kopi panas sudah berada di depan Alvaro.

Ia meminumnya perlahan sambil melihat sekeliling kafe.

Alisha memperhatikan sikapnya.

“Kamu terlihat seperti sedang mencari sesuatu,” katanya.

Alvaro menoleh.

“Aku hanya melihat sekitar.”

“Kenapa?”

Alvaro tidak langsung menjawab.

Ia kembali melihat ke arah jendela.

Di luar sana beberapa orang berjalan di trotoar.

Sebuah mobil parkir tidak jauh dari kafe.

Kaca mobil itu cukup gelap sehingga sulit melihat siapa yang berada di dalamnya.

“Tidak apa-apa,” kata Alvaro akhirnya.

Alisha mengangkat bahu lalu kembali bekerja.

Di dalam mobil yang parkir tidak jauh dari kafe, dua pria sedang duduk diam.

Salah satu dari mereka memegang ponsel.

Foto Alisha Pratiwi terlihat di layar.

“Itu dia,” katanya pelan.

Pria di kursi pengemudi ikut melihat.

“Iya.”

Ia mengamati Alvaro yang duduk di dalam kafe.

“Pria itu lagi.”

Pria di sebelahnya mengangguk.

“Sepertinya dia sering datang.”

Pengemudi bersandar di kursinya.

“Kalau dia terus berada di dekat target, kita akan sulit bergerak.”

Pria yang memegang ponsel menutup layar.

“Kita hanya perlu menunggu.”

Pengemudi melihat ke arah kafe lagi.

“Semoga saja ada kesempatan.”

Di tempat lain, Bram sedang duduk di sebuah ruangan dengan lampu redup.

Ia memutar kursinya perlahan sambil memegang ponsel.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Ia sudah mengetahui beberapa perkembangan terakhir.

Orang-orang yang mengawasi Alisha Pratiwi jelas bukan orang sembarangan.

Bram tidak perlu waktu lama untuk menebak siapa yang berada di balik semua itu.

Alisha Mahendra.

Ia tertawa kecil.

Gadis itu ternyata bergerak lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Bram berdiri dari kursinya.

Ia berjalan menuju jendela ruangan.

Dari tempat itu terlihat jalan yang cukup ramai.

“Bagus,” gumamnya pelan.

Semakin cepat semuanya bergerak, semakin menarik permainan ini.

Ia tidak perlu ikut campur sekarang.

Cukup melihat bagaimana semua orang mulai saling berhadapan.

Malam hari tiba.

Kafe tempat Alisha bekerja mulai sepi.

Beberapa pelanggan terakhir sudah pergi.

Alisha membantu merapikan meja sebelum akhirnya menutup pintu kafe.

Lampu di dalam ruangan dimatikan satu per satu.

Setelah semuanya selesai, ia keluar dari pintu depan lalu menguncinya.

Jalan di depan kafe tidak terlalu ramai.

Alisha mulai berjalan menuju rumahnya seperti biasa.

Langkahnya santai.

Beberapa meter di belakangnya, sebuah mobil perlahan bergerak mengikuti dari jarak cukup jauh.

Dua pria masih berada di dalam mobil itu.

Pengemudi melihat ke arah jalan yang cukup sepi.

“Hari ini tempatnya tidak ramai.”

Pria di kursi sebelah menatap Alisha yang berjalan di trotoar.

“Benar.”

Ia memperhatikan sekitar.

Tidak banyak orang di jalan itu.

Beberapa toko sudah tutup.

Lampu jalan menyala redup.

Pengemudi kembali berbicara pelan.

“Kalau kita mau bergerak…”

Ia menatap gadis yang berjalan sendirian di depan mereka.

“…ini kesempatan yang bagus.”

Mobil itu masih berjalan pelan mengikuti dari jarak cukup jauh.

Lampu jalan yang redup membuat suasana di jalan itu terlihat semakin sepi.

Alisha Pratiwi masih berjalan tanpa menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.

Ia memegang tas kecil di tangannya sambil melihat ke depan.

Hari itu terasa cukup melelahkan.

Kafe cukup ramai sejak pagi. Ia hampir tidak sempat duduk lama.

Pria yang duduk di kursi penumpang mobil kembali memperhatikan jalan.

“Dia selalu lewat jalan ini?” tanyanya.

Pengemudi mengangguk pelan.

“Dari laporan sebelumnya begitu.”

Pria itu menatap Alisha yang berjalan sendirian.

“Tempat ini memang sepi.”

Pengemudi sedikit mengurangi kecepatan mobil.

“Kita tidak boleh ceroboh.”

Pria itu menghela napas.

“Aku tahu.”

Ia kembali melihat ke arah Alisha.

“Kalau kita menunggu terlalu lama, situasinya bisa berubah.”

Pengemudi tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan sekeliling jalan.

Beberapa rumah terlihat tertutup. Tidak banyak orang yang masih berada di luar.

Suasana malam terasa tenang.

“Perintahnya hanya mengawasi,” kata pengemudi akhirnya.

Pria di sampingnya terlihat tidak terlalu puas.

“Tapi kita juga diberi izin untuk bergerak kalau ada kesempatan.”

Pengemudi menatap lurus ke depan.

“Kesempatan yang aman.”

Mobil itu tetap mengikuti dari jarak cukup jauh.

Sementara itu Alisha masih berjalan menuju rumahnya.

Ia tidak terlalu memikirkan kejadian aneh yang ia rasakan beberapa hari terakhir.

Ia mencoba menenangkan dirinya.

Mungkin semua itu hanya kebetulan.

Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengikutinya.

Ia hanyalah seorang pekerja kafe biasa.

Beberapa langkah kemudian Alisha berhenti sebentar.

Ia merasa seperti mendengar suara mobil dari belakang.

Alisha menoleh.

Sebuah mobil terlihat melintas tidak jauh darinya.

Ia tidak terlalu memperhatikannya.

Mobil itu juga tidak berhenti.

Alisha kembali berjalan.

Di dalam mobil, pria yang duduk di kursi penumpang sempat melihat Alisha menoleh ke arah mereka.

“Sepertinya dia mulai curiga.”

Pengemudi menggeleng.

“Tidak juga. Dia hanya melihat ke belakang.”

Mobil mereka terus bergerak perlahan melewati Alisha.

Setelah melewati beberapa meter, pengemudi membelokkan mobil ke jalan kecil di depan.

Ia memarkir mobil di tempat yang agak gelap.

Dari tempat itu mereka masih bisa melihat jalan yang akan dilewati Alisha.

Pria di kursi penumpang melihat ke arah kaca spion.

“Dia akan lewat sini.”

Pengemudi mengangguk.

“Ya.”

Beberapa detik kemudian Alisha terlihat berjalan mendekati jalan kecil itu.

Langkahnya tetap santai.

Pria di kursi penumpang memperhatikan situasi sekitar sekali lagi.

“Kalau kita bergerak sekarang…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Pengemudi menatapnya sebentar.

“Masih terlalu cepat.”

Pria itu terlihat tidak sabar.

“Kesempatan seperti ini tidak selalu datang.”

Pengemudi tetap tenang.

“Kita tidak tahu siapa saja yang bisa lewat di jalan ini.”

Pria itu menghela napas pelan.

Mereka kembali melihat ke arah Alisha yang semakin mendekat.

Beberapa meter lagi ia akan melewati tempat mobil itu diparkir.

Suasana jalan benar-benar sepi.

Lampu jalan hanya menerangi sebagian trotoar.

Pria di kursi penumpang membuka pintu mobil sedikit.

Pengemudi langsung menoleh.

“Apa yang kamu lakukan?”

Pria itu menatap ke arah Alisha.

“Kalau kita menunggu terus, kita tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi.”

Pengemudi menahan tangannya.

“Tunggu.”

Mereka berdua melihat ke arah jalan di belakang Alisha.

Tiba-tiba sebuah motor melintas dengan suara cukup keras.

Motor itu melewati mereka lalu terus melaju ke depan.

Pria di kursi penumpang menutup pintu mobil lagi.

“Lihat?”

kata pengemudi.

“Kita tidak pernah tahu siapa yang akan lewat.”

Pria itu bersandar kembali di kursinya.

“Baiklah.”

Beberapa detik kemudian Alisha melewati jalan kecil tempat mereka parkir.

Ia tidak melihat mobil itu karena berada di tempat yang cukup gelap.

Setelah Alisha berjalan cukup jauh, pengemudi kembali menyalakan mesin mobil.

“Kita ikuti lagi dari jauh.”

“Besok mungkin akan lebih mudah.”

Pengemudi menatap jalan di depan.

“Mungkin.”

Pria itu kembali melihat Alisha yang masih berjalan di trotoar.

“Kita hanya perlu menunggu waktu yang tepat.”

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!