Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FAJAR PERLAWANAN
Langit di atas Pesantren Ar-Rahma masih berwarna biru pekat ketika Zafran melangkah membelah kabut fajar. Suasana syahdu yang biasanya diisi oleh lantunan sholawat kini terasa mencekam. Di gedung utama kantor pengurus, lampu-lampu masih menyala benderang, menandakan ada aktivitas yang tidak lazim di jam sedini ini. Zafran merapatkan sorbannya, menekan rasa lelah yang menghimpit setelah semalaman berjaga di rumah sakit. Ia tahu, jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahan, para pengurus yang haus kekuasaan akan menerkamnya.
Di dalam ruangan, Ustadzah Salamah duduk dikelilingi oleh tiga ustadz senior. Di atas meja kayu jati itu, tersebar lembaran petisi yang berisi tuntutan peninjauan ulang hasil ujian Asiyah.
"Kedatangan Anda sangat tepat waktu, Ustadz Zafran. Kami baru saja hendak mengirimkan utusan untuk memanggil Anda," ujar Ustadzah Salamah dengan nada bicara yang dibuat sesantun mungkin, namun tatapannya tajam menghujam.
Zafran menarik kursi di kepala meja, menegaskan posisinya sebagai pemilik tunggal Ar-Rahma. "Memanggil saya? Sejak kapan pengurus memiliki wewenang untuk memanggil pengasuh pondok di tengah malam tanpa koordinasi?"
"Ini keadaan darurat, Ustadz. Desas-desus di kalangan santriwati sudah tidak terbendung. Mereka merasa ada ketidakadilan. Bagaimana mungkin seorang santriwati yang baru menikah dengan pimpinan pondok langsung mendapatkan predikat Mumtaz di tengah kondisi ayahnya yang sekarat? Itu terlihat seperti pemberian iba, bukan murni prestasi," sahut Ustadz Mansur, salah satu pengikut setia Salamah.
Zafran tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan membuat bulu kuduk berdiri. "Iba? Kalian hadir di masjid kemarin. Kalian mendengar sendiri bagaimana Asiyah membedah kitab Fathul Mu'in dengan logika yang bahkan mungkin tidak terpikirkan oleh kalian. Apakah telinga kalian tertutup oleh kedengkian?"
"Kami tidak mendengarkan kedengkian, kami mendengarkan prosedur. Kami menuntut ujian ulang yang diawasi oleh pihak eksternal dari luar Ar-Rahma agar netralitas terjaga," tuntut Ustadzah Salamah sembari menggeser lembaran petisi ke hadapan Zafran.
Zafran berdiri, ia tidak menyentuh kertas itu sedikit pun. "Ujian ulang adalah penghinaan bagi dewan kiai yang sudah memberikan nilai. Jika kalian meragukan keputusan saya, itu artinya kalian meragukan kedaulatan saya di pondok ini. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merongrong Ar-Rahma hanya karena mereka tidak suka melihat seorang wanita cerdas memimpin kurikulum."
"Jika Anda menolak, kami akan membawa masalah ini ke forum wali santri pagi ini juga saat acara pengajian rutin. Bayangkan betapa malunya Kiai Hilman jika tahu putrinya menjadi penyebab perpecahan di sini," ancam Salamah.
Mendengar nama mertuanya disebut dalam nada ancaman, rahang Zafran mengeras. "Jangan pernah bawa nama Kiai Hilman dalam politik kotor kalian. Jika kalian ingin bermain di depan wali santri, maka saya akan melayani kalian. Kita lihat, siapa yang akan dipercayai oleh umat; pengasuh yang menjaga amanah, atau pengurus yang mencoba melakukan makar saat pimpinannya sedang berduka."
Zafran meninggalkan ruangan itu dengan langkah besar. Ia segera merogoh ponselnya, menghubungi asisten pribadinya untuk menyiapkan data-data akademik Asiyah sejak tahun pertama di pondok. Ia harus memukul balik dengan bukti otentik.
Sementara itu, di rumah sakit, Asiyah terbangun oleh sentuhan lembut di tangannya. Ia melihat perawat sedang memeriksa tensi darah ayahnya. Kiai Hilman tampak lebih tenang, meskipun masih menggunakan alat bantu napas.
"Suster, bagaimana kondisi Abah saya pagi ini?" tanya Asiyah dengan suara serak.
"Detak jantungnya sudah jauh lebih stabil dibanding semalam. Sepertinya doa-doa dari mu anak beliau semalaman didengar oleh Allah SWT" jawab perawat itu sembari tersenyum ramah.
Asiyah menarik napas lega. Ia mengambil air wudhu di kamar mandi ICU, lalu melaksanakan shalat Subuh di samping ranjang ayahnya. Dalam sujudnya, ia menangis sejadi-jadinya. Ia merasa sangat bersalah karena di saat ayahnya berjuang hidup, ia justru mengkhawatirkan fitnah di pondok. Namun, ia teringat pesan Zafran; menjaga Ar-Rahma adalah menjaga kehormatan ayahnya juga.
Usai shalat, ponsel Asiyah bergetar. Sebuah pesan dari Zulfa, santriwati yang selama ini menjadi mata-matanya di asrama.
"Ning, hati-hati. Ustadzah Salamah sudah menyebarkan fitnah di asrama bahwa ijazah Ning adalah palsu. Para santriwati mulai terhasut. Mereka berencana melakukan protes saat pengajian pagi ini," tulis Zulfa dalam pesan singkatnya.
Asiyah mengepalkan tangannya. Ia menatap wajah ayahnya yang masih terpejam. "Abah, izinkan Asiyah pergi sebentar untuk membela apa yang Abah ajarkan pada Asiyah. Asiyah tidak akan membiarkan Ar-Rahma hancur."
Asiyah memanggil suster jaga untuk menitipkan ayahnya, lalu ia segera memesan taksi menuju pesantren. Ia tidak memberitahu Zafran, ia ingin menghadapi ini sebagai seorang santriwati yang memperjuangkan haknya, bukan hanya sebagai istri pimpinan yang berlindung di balik punggung suaminya.
Sesampainya di Ar-Rahma, suasana sudah sangat ramai. Ratusan wali santri sudah berkumpul di aula besar. Di atas panggung, Ustadzah Salamah sedang memegang mikrofon, memberikan kata sambutan yang provokatif.
"Kita menginginkan putra-putri kita belajar di tempat yang menjunjung tinggi kejujuran, bukan tempat yang memberikan keistimewaan karena hubungan darah atau pernikahan!" teriak Salamah yang disambut gumaman setuju dari beberapa wali santri.
Zafran berdiri di samping panggung dengan wajah merah padam. Ia baru saja hendak menaiki podium ketika sebuah suara lantang dari pintu masuk aula menghentikan segalanya.
"Jika kejujuran yang Anda tuntut, maka saya berdiri di sini untuk memberikannya!" teriak Asiyah sembari berjalan tegap menuju panggung.
Seluruh mata tertuju padanya. Asiyah masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam, tampak lelah namun matanya memancarkan api keberanian yang luar biasa. Zafran tertegun melihat kehadiran istrinya yang tidak terduga.
"Asiyah? Kenapa kau di sini? Siapa yang menjaga Abah?" tanya Zafran dengan nada khawatir saat Asiyah sampai di dekatnya.
"Abah sudah stabil, Mas. Sekarang saatnya saya menstabilkan pondok ini. Biarkan Asiyah bicara," jawab Asiyah tegas.
Asiyah menaiki podium, merebut mikrofon dari tangan Ustadzah Salamah yang tampak pucat karena terkejut. Asiyah menatap ratusan wali santri dengan pandangan yang menyapu seluruh ruangan.
"Bapak dan Ibu sekalian, saya adalah Asiyah, putri Kiai Hilman dan istri dari Ustadz Zafran. Saya berdiri di sini bukan sebagai Ning atau sebagai Nyai, tapi sebagai santriwati yang telah menghabiskan waktu sepuluh tahun untuk menghafal kalam Allah di bawah atap ini!" ujar Asiyah dengan suara yang bergetar namun penuh power.
"Kami butuh bukti, bukan pidato!" teriak salah satu wali santri yang sudah terhasut.
Asiyah tersenyum pahit. "Bukti? Silahkan ambil mushaf mana saja di ruangan ini. Berikan pada saya. Siapa pun di antara kalian, bacalah satu ayat dari juz mana pun, dan saya akan menyambungnya beserta tafsirnya secara langsung di sini. Jika saya salah satu huruf saja, saya sendiri yang akan merobek ijazah saya dan keluar dari Ar-Rahma detik ini juga!"
Tantangan itu membuat aula seketika sunyi senyap. Ustadzah Salamah mencoba menyela, namun Zafran segera menghalanginya. "Biarkan dia membuktikannya. Bukankah ini yang kalian inginkan?"
Seorang kiai sepuh dari barisan tamu berdiri, membawa sebuah mushaf tua. Beliau membacakan sebuah ayat yang sangat sulit dari tengah Surah Al-A'raf. Tanpa jeda, Asiyah menyambungnya dengan tartil yang sangat indah, makhraj yang sempurna, dan penjelasan tafsir yang sangat mendalam hingga menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Tiga kali ujian itu dilakukan oleh orang yang berbeda, dan tiga kali pula Asiyah menjawabnya dengan sempurna tanpa cela sedikit pun. Para wali santri yang tadinya berteriak kini tertunduk malu. Beberapa ustadzah mulai menangis karena terharu melihat keteguhan hati Asiyah.
"Apakah masih ada yang meragukan ijazah saya?" tanya Asiyah dengan air mata yang mulai mengalir. "Saya berjuang menghafal saat ibu saya meninggal, saya tetap belajar saat ayah saya jatuh sakit. Jangan pernah hinakan perjuangan saya hanya karena kalian haus akan jabatan di pondok ini!"
Suara tepuk tangan membahana di seluruh aula. Zafran melangkah maju, berdiri di samping Asiyah, lalu menggenggam tangan istrinya di depan seluruh umat.
"Hari ini, Ar-Rahma telah membuktikan kualitasnya. Dan bagi mereka yang mencoba memecah belah kita dengan fitnah, pintu keluar pondok ini selalu terbuka lebar!" tegas Zafran sembari menatap tajam ke arah Ustadzah Salamah dan kroninya.
Salamah hanya bisa tertunduk, menyadari bahwa rencananya telah hancur total. Kekuatan ilmu Asiyah dan ketegasan Zafran adalah perpaduan yang tidak bisa ia kalahkan.
Setelah acara usai, Zafran membawa Asiyah ke kantornya yang sepi. Ia memeluk istrinya dengan sangat erat. "Kau luar biasa, Asiyah. Aku tidak menyangka kau akan datang seberani itu."
"Saya melakukannya untuk Abah, Mas. Dan untuk Mas juga. Saya tidak ingin Mas dianggap lemah karena membela Saya," jawab Asiyah di pelukan Zafran.
"Sekarang, mari kita kembali ke rumah sakit. Kita berikan kabar kemenangan yang sesungguhnya kepada Abah," ajak Zafran.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran, meninggalkan Ar-Rahma yang kini kembali damai. Namun, di balik kemenangan itu, Asiyah menyadari bahwa perjuangan menjaga amanah ini akan terus berlanjut. Dan ia bersyukur, ia memiliki Zafran sebagai imam yang selalu siap bertaruh nyawa demi dirinya.