Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu atap yang canggung
Cahaya matahari pagi Jakarta menembus jendela kaca besar di apartemen lantai 25 itu. Pukul 05.00 tepat, Arka sudah bangun. Itulah rutinitasnya: bangun, olahraga ringan di treadmill, mandi, dan meminum secangkir kopi hitam tanpa gula sambil membaca berita ekonomi.
Namun, pagi ini ada yang berbeda. Saat ia keluar dari kamar dengan kaus olahraga yang lembap oleh keringat, hidungnya menangkap aroma yang asing. Bukan aroma kopi specialty grade miliknya, melainkan aroma gosong yang mencurigakan.
Arka bergegas ke dapur dan menemukan pemandangan yang membuat tekanan darahnya naik seketika. Lara sedang berdiri di depan kompor, masih mengenakan piyama bergambar beruang, dengan rambut yang diikat asal-asalan ke atas.
"Lara? Apa yang kamu lakukan?" suara Arka menggelegar tenang namun penuh penekanan.
Lara tersentak sampai sutil kayu di tangannya hampir melayang. "Eh, Paman! Selamat pagi! Anu... aku tadi niatnya mau buatin Paman kopi. Tapi, emm, mesin kopi Paman kayaknya terlalu pintar buat aku. Jadi aku pakai cara tradisional."
Arka mendekat dan matanya membelalak melihat panci kecil di atas kompor. Lara ternyata merebus bubuk kopi mahal miliknya langsung di dalam panci berisi air mendidih, ditambah dengan... potongan cokelat batangan?
"Kamu merebusnya?" Arka memijat pelipisnya. "Itu biji kopi single origin dari Ethiopia, Keylara. Dan apa itu yang mengapung-ngapung?"
"Itu cokelat! Biar kayak Mocha yang di kafe-kafe gitu, Paman. Kan kalau manis lebih enak," jawab Lara dengan wajah polos tanpa dosa.
Arka menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kesabarannya yang biasanya setebal beton. "Matikan kompornya. Sekarang."
Lara menurut dengan cepat. Ia merasa agak bersalah melihat wajah Arka yang tampak sangat menderita melihat peralatan dapurnya berantakan. "Maaf ya, Paman. Aku cuma mau bantu."
Arka tidak menjawab. Ia segera membersihkan kekacauan itu dengan gerakan yang sangat efisien—dan sedikit kesal. "Pergilah mandi. Nanti aku buatkan sarapan." Apa kamu mau kuantar?"
"Paman mau antar aku?" Tanya Lara agak ragu, "Ooh nggak usah Paman makasih, nanti teman-temanku mengira aku diantar, sugar daddy!"
Sebenarnya Lara bukan tidak mau di antar, tapi karna dia masih merasa canggung akan lebih baik baginya untuk pergi seorang diri ke kampus.
Arka hampir saja menjatuhkan cangkir yang sedang ia cuci. ia menoleh dengan tatapan tajam. "Apa kamu bilang?"
"Eh, enggak! Maksudku, Paman ganteng , Kayak aktor drama Korea," Lara nyengir kuda lalu berlari kabur ke kamarnya sebelum Arka melemparnya dengan spons cuci piring.
Saat Lara sedang bersiap ke kampus, Arka sudah berdiri di dekat pintu, bersiap berangkat ke kantornya.
“Jangan lupa dikunci pintunya” katanya singkat.
Lara mengangguk. “Iya, Pak Direktur.”
“Kabari kalau nanti sudah pulang.”
“Kenapa?”
“Biar aku tahu.”
“Oh.” Lara tersenyum kecil. “Baiklah”
Ia mengenakan sepatu, lalu berhenti. Menoleh ke arah Arka.
“Paman Arka.”
Arka mengangkat alis.
“Terima kasih ya.”
“Untuk apa?”
“Untuk… pulang.”
Kalimat itu sederhana. Namun Arka membeku sesaat.
Arka pergi lebih dulu, pintu tertutup perlahan di belakangnya.Ia berdiri diam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas panjang.
Janji yang dulu ia ingkari kini berdiri di hadapannya—hidup, ceria, dan terlalu dekat untuk dihindari.
Dan ia mulai sadar, tinggal satu atap dengan Lara bukan hanya soal tanggung jawab.
Ini soal perasaan yang belum selesai.