"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pencobaan
Sebuah puisi untuk malam yang hampir pecah:
"Dan di antara detak yang hampir lupa caranya berdetak,
kau hadir seperti jeda di tengah badai.
Tapi lukaku belum selesai mengering,
dan hatiku—
masih terlalu terbiasa menahan sakit untuk bisa menerima bahagia."
---
Mobil melaju meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta. Di luar jendela, gedung-gedung pencakar langit perlahan berganti hamparan hijau perbukitan. Alana duduk di kursi penumpang, dagu bertumpu pada punggung tangan, matanya menerawang jauh.
Nathan tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan gerbang tol. Sesekali ia melirik, memperhatikan garis rahang Alana yang tegang, ujung jarinya yang mengetuk-ngetuk paha sendiri—kebiasaan gugup yang coba ia sembunyikan.
"Kau tidak bertanya ke mana kita pergi," Nathan memecah keheningan.
"Kau tidak akan menjawab kalau kutanya."
Nathan tersenyum kecil. "Pintar."
"Aku lelah berpikir," Alana menghela napas. "Biarlah kali ini aku hanya... ikut."
Mobil memasuki kawasan Puncak. Udara dingin mulai merayap masuk meski kaca tertutup rapat. Alana merapatkan jaket yang sejak tadi melingkar di bahunya—jaket Nathan, yang ia paksa ia pakai saat Nathan melihatnya menggigil di rest area.
"Kau selalu begitu," gumam Alana.
"Apa?"
"Memaksaku menerima sesuatu dengan cara yang tidak bisa kutolak."
Nathan tertawa pelan. "Itu namanya diplomasi, Alana. Bukan pemaksaan."
"Kau yakin?"
"Kau di sini, kan? Dengan sukarela?"
Alana membalas tatapan Nathan. Matanya dalam, menyimpan banyak hal yang bahkan ia sendiri tidak paham. "Apakah aku di sini karena sukarela, atau karena aku terlalu lelah melawan?"
Mobil berhenti di depan sebuah villa bergaya Eropa klasik. Dikelilingi kebun teh yang membentang luas, diterangi lampu-lampu taman temaram. Udara dingin langsung menyapa saat Alana turun, membawa aroma tanah basah dan daun teh.
"Ini..." Alana menoleh pada Nathan.
"Rumah kecilku. Aku kadang ke sini kalau ingin... menghilang."
Alana berjalan perlahan, jemarinya menyentuh pagar kayu yang mulai dimakan usia. "Ayahku dulu punya tempat seperti ini. Di Lembang. Kami sering ke sana, sebelum semuanya hancur."
Nathan diam. Ia tahu ini bukan sekadar nostalgia. Ini luka.
---
Malam turun dengan cepat di pegunungan. Mereka duduk di teras belakang, dikelilingi kebun teh yang bergoyang lembut ditiup angin. Nathan menyodorkan secangkir cokelat panas. Alana menerimanya, kedua telapak tangannya memeluk hangat keramik.
"Aku ingin kau tahu sesuatu," Nathan memulai, suaranya rendah.
Alana menatapnya.
"Aku tahu siapa dirimu, Alana. Bukan hanya Alana Wijaya pewaris perusahaan. Tapi Alana yang bangun setiap pagi dengan beban, yang terus berjuang meski duniamu runtuh. Aku tahu karena... aku juga seperti itu."
Alana menahan napas.
"Ayahku meninggal saat aku dua puluh. Ibuku jatuh sakit setelahnya. Aku harus membesarkan adikku sambil membangun perusahaan dari nol. Ada ribuan malam aku tidak tidur, ribuan hari aku merasa tenggelam." Nathan menoleh, matanya bertemu dengan mata Alana. "Jadi saat kau bilang kau belum selesai dengan masa lalumu... aku mengerti. Lebih dari siapa pun."
Udara terasa berubah. Ada kehangatan yang tidak berasal dari cokelat di tangan Alana.
"Lalu bagaimana caramu selesai?" tanya Alana, suaranya nyaris berbisik.
"Aku tidak selesai. Aku hanya... belajar hidup berdampingan dengannya. Dan membiarkan seseorang masuk, meski aku takut."
Nathan mengulurkan tangan. Bukan untuk menyentuh, tapi sebagai tawaran. Pilihan.
Alana menatap tangan itu. Bekas luka di jemarinya masih terlihat samar—luka kecil saat ia memegang mawar di kebun rumahnya dulu, sebelum semuanya hancur. Dulu ia percaya duri adalah bagian dari keindahan. Sekarang ia tahu duri adalah perlindungan.
Perlahan, sangat perlahan, ia mengulurkan tangannya.
Telapak tangan Nathan hangat. Sangat hangat. Alana hampir lupa kapan terakhir kali ia disentuh seperti ini—bukan dengan nafsu atau kepalsuan, tapi dengan... kelembutan.
Nathan menggenggamnya lembut, ibu jarinya mengusap punggung tangan Alana. Matanya tidak pernah lepas dari mata Alana, mencari izin, mencari jawaban.
"Alana," bisiknya.
Dan dunia seolah berhenti.
Nathan mendekat. Perlahan. Memberi waktu bagi Alana untuk mundur jika ia mau. Tapi Alana diam, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin Nathan bisa mendengarnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Napas Nathan hangat di kulitnya.
Alana bisa mencium aroma kayu dan musk—khas Nathan. Ia bisa melihat butiran halus di wajah Nathan, garis-garis halus di sudut matanya, dan di kedalaman matanya ada sesuatu yang membuatnya ingin menangis.
Kebaikan.
Seseorang memandangnya dengan kebaikan.
Nathan semakin mendekat. Bibirnya hampir—
"Aku tidak bisa."
Alana menarik diri. Bangkit berdiri begitu cepat hingga cangkir cokelatnya hampir tumpah. Ia mundur beberapa langkah, dadanya naik turun, matanya basah.
Nathan tidak bergerak. Tetap duduk, menatapnya dengan lembut.
"Maaf," Alana terbata. "Aku... aku belum selesai. Masih banyak yang harus kuhadapi. Richard, Viola, perusahaan, dan—"
"Hei." Nathan berdiri perlahan. Tidak mendekat, hanya menatapnya dengan tenang. "Tidak perlu minta maaf."
"Aku yang minta kau ke sini. Aku yang memberi harapan. Tapi aku—"
"Kau tidak memberi harapan apa pun." Suara Nathan lembut. "Aku yang memilih berharap. Dan aku bisa menunggu."
Alana menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis. "Kau tidak tahu apa yang kulakukan. Kau tidak tahu betapa kotornya—"
"Aku tidak perlu tahu masa lalumu untuk melihat siapa dirimu sekarang." Nathan melangkah maju, sangat perlahan, seperti mendekati kucing liar. "Aku melihat wanita yang bertahan. Yang berjuang. Yang meski terluka, masih punya hati untuk merasakan."
Setetes air jatuh di pipi Alana.
"Aku takut," bisiknya.
"Aku tahu."
"Aku takut jika aku membiarkan diriku bahagia, semuanya akan hancur lagi."
Nathan tersenyum—senyum paling lembut yang pernah Alana lihat. "Kau tidak akan hancur, Alana. Kau yang paling kuat dari siapa pun yang kukenal."
Diam-diam, Nathan meraih tangan Alana lagi. Kali ini ia tidak mendekat, hanya menggenggamnya, memberi jangkar.
"Malam ini," katanya pelan, "aku hanya ingin kau tahu bahwa ada satu orang di dunia ini yang tidak menginginkan apa pun darimu selain... dirimu sendiri."
Alana menangis. Bukan isakan histeris, tapi tangis hening yang keluar dari tempat terdalam hatinya. Air mata yang tiga tahun ia tahan, yang ia kubur di bawah senyum palsu dan strategi balas dendam.
Nathan menariknya perlahan, memeluknya tanpa kata. Alana membenamkan wajah di dadanya, bahunya bergetar. Dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Alana membiarkan dirinya rapuh.
Mereka berdiri di teras villa, dikelilingi kebun teh yang sunyi, diterangi lampu temaram. Angin malam membawa dingin, tapi pelukan Nathan hangat—sangat hangat.
---
Beberapa jam kemudian, Alana duduk di tepi tempat tidur kamar tamu. Air matanya sudah kering, tapi dadanya masih sesak. Ia menatap telepon genggamnya, layar menyala menampilkan pesan singkat dari Lucas:
"Richard ketemu dengan pengacara. Ada gerak-gerik mencurigakan. Hati-hati."
Alana menghela napas. Dendamnya belum selesai. Richard masih bebas, Viola masih berkeliaran, perusahaan masih butuh pengawasan ketat.
Ia menoleh ke pintu kamar yang tertutup. Di balik pintu itu, Nathan sedang tidur—atau mungkin juga tidak. Lelaki itu selalu tahu lebih dari yang ia tunjukkan.
Alana bangkit, melangkah ke jendela. Bulan purnama menggantung sempurna di langit, menyinari kebun teh yang tampak perak. Indah. Damai. Tapi di kepalanya, badai masih berkecamuk.
"Ada satu orang di dunia ini yang tidak menginginkan apa pun darimu selain dirimu sendiri."
Bisakah ia percaya?
Bisakah ia membiarkan dirinya bahagia?
Atau akankah masa lalunya selalu menghantuinya, selalu mengingatkan bahwa mawar tanpa duri hanya akan dipetik dan dibuang?
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk.
Lucas.
Alana menjawab, suaranya berbisik. "Ada apa?"
Napas Lucas di ujung sana terdengar berat. "Alana, kau harus pulang. Sekarang."
Deg.
"Ada apa?" ulang Alana, nadanya berubah.
Lucas diam sejenak. Cukup lama untuk membuat jantung Alana berhenti.
"Rekaman yang Viola sebar... itu bukan satu-satunya. Dia punya lebih banyak. Dan dia baru saja mengirimkannya ke semua media."
Alana merasakan dunia berputar.
"Aku sudah cegat beberapa, Tapi satu sudah bocor. Alana... itu rekaman malam ayahmu meninggal."
Dunia benar-benar berhenti.
--- BERSAMBUNG ---(*❛‿❛)→
Bagaimana rekaman itu bisa ada? Apa yang sebenarnya terjadi malam ayah Alana meninggal? Dan akankah Nathan tetap di sisinya saat badai berikutnya datang?