NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai

Setelah dua minggu yang penuh kedamaian di tanah suci, Bagas kembali mendarat di Dubai dengan hati yang lebih lapang. Namun, kedatangannya di kantor pusat kali ini tidak disambut dengan rutinitas biasa.

Begitu ia menempelkan kartu aksesnya di pintu kaca lantai 15, ia merasakan ketegangan yang pekat. Orang-orang berlarian dengan wajah pucat, telepon berdering tanpa henti, dan Mr. Khan terlihat sedang berdiri di tengah ruangan sambil memijat pelipisnya. "Bagas! You're back! God, I need you right now," ujar Mr. Khan begitu melihat Bagas. Tanpa sempat menaruh tas, Bagas langsung ditarik ke ruang rapat utama.

Ternyata, prediksi Bagas di Bab 8 benar-benar terjadi. Vendor logistik yang dulu dipaksakan oleh Marco dan Sarah ternyata melakukan penipuan besar-besaran. Mereka melarikan uang muka jutaan dolar dan meninggalkan ratusan kontainer barang perusahaan terlantar di pelabuhan transit tanpa kejelasan dokumen. Akibatnya, rantai pasok perusahaan untuk wilayah Timur Tengah lumpuh total. "Perusahaan bisa bangkrut dalam hitungan minggu jika barang-barang itu tidak sampai ke klien tepat waktu. Penaltinya sangat besar, Bagas. Dan Marco? Dia sudah menghilang, kemungkinan kabur ke luar negeri," Mr. Khan menjelaskan dengan suara bergetar.

Bagas menarik napas panjang. Ia melihat data di layar. Kekacauan ini adalah "warisan" dari orang-orang yang mengandalkan jalur belakang dan manipulasi. Kini, ia anak SMK dari gang sempit Jakarta adalah orang yang dipercaya untuk membereskan kotoran para pejabat korporat itu.

"Give me full authority, Sir. Saya butuh akses langsung ke sistem keuangan darurat dan izin untuk bernegosiasi ulang dengan otoritas pelabuhan secara mandiri," kata Bagas dengan nada yang sangat tegas.

Selama 72 jam berikutnya, Bagas tidak pulang ke apartemennya. Ia tidur di sofa kantor, hanya bangun untuk shalat dan membasuh muka. Ia menghubungi kembali semua kenalan sopir truk dan pemilik kapal kecil yang dulu ia bina hubungannya saat masih menjadi koordinator lapangan.

Inilah momen di mana "kebaikan" Bagas di masa lalu terbayar. Karena Bagas dulu selalu jujur dan tidak pernah memeras para sopir, mereka kini mau membantu Bagas dengan sukarela di masa krisis.

"Bagas, my brother! For you, I will send my five best trucks to Jebel Ali tonight. No worries about the deposit, we settle later," ujar seorang pemilik jasa angkutan asal Pakistan lewat telepon. Bagas bekerja seperti seorang konduktor orkestra di tengah badai. Ia membedah satu per satu masalah dokumen yang ditinggalkan Marco.

Ia mendapati bahwa banyak data yang dikunci dengan kata sandi pribadi. Bagas menggunakan logika teknisnya, mencoba merunut pola pikir Marco yang malas, sampai akhirnya ia berhasil membongkar sistem tersebut.

"Ketemu! Semua datanya disembunyikan di folder sampah," gumam Bagas sambil tersenyum sinis. Di hari kelima, satu per satu kontainer mulai bergerak. Berita tentang keberhasilan Bagas menstabilkan situasi mulai menyebar ke seluruh kantor. Para kolega internasional yang dulu sempat memandangnya sebelah mata karena latar belakang pendidikannya yang "hanya" sekolah kejuruan, kini menatapnya dengan rasa hormat yang mendalam.

Di tengah kesibukan itu, Bagas sempat menerima pesan WhatsApp dari Sarah, rekan kerjanya yang juga terlibat skandal Marco. Bagas, maafkan aku. Aku hanya takut kehilangan pekerjaan jika tidak mengikuti kemauan Marco. Sekarang karirku hancur. Aku harap kamu bisa menyelamatkan perusahaan ini.'

Bagas hanya membacanya tanpa membalas. Ia belajar bahwa dalam dunia kerja, rasa takut adalah musuh terbesar bagi integritas. Jika seseorang sudah mulai takut kehilangan posisi, ia akan mulai melakukan apa saja, termasuk menghancurkan orang lain.

Krisis akhirnya teratasi. Perusahaan tidak jadi bangkrut, meskipun harus menanggung kerugian yang tidak sedikit. Mr. Khan mengadakan pertemuan besar di akhir pekan untuk merayakan keberhasilan tim darurat yang dipimpin Bagas.

"Bagas, I was wrong about you," ujar Mr. Khan di depan semua orang. "I thought you were just a lucky young man. But you are a leader. You saved us not with a degree from Harvard, but with honesty and the relationships you built in the mud of the warehouse.

" Mr. Khan memberikan pengumuman yang mengejutkan: Bagas dipromosikan menjadi Head of Logistics Operations for Middle East Region. Sebuah jabatan yang bahkan tidak pernah Bagas bayangkan dalam mimpi terliarnya. Gaji, fasilitas, dan otoritasnya kini meningkat berkali-kali lipat.

Malam itu, Bagas berdiri di balkon apartemennya, menatap kerlip lampu Burj Khalifa yang megah. Ia mengambil ponselnya, melakukan video call dengan Ibu. "Ibu... Bapak... pekerjaan Bagas lancar. Alhamdulillah, sekarang tanggung jawab Bagas lebih besar lagi," lapor Bagas.

"Jangan lupa diri ya, Gas. Ingat, makin tinggi pohon, makin kencang anginnya. Tetaplah jadi Bagas yang dulu, yang suka bantu Bapak di bengkel," pesan Bapak di ujung telepon.

Bagas tersenyum. "Pasti, Pak. Oh ya, bulan depan, Bagas mau ajak Ibu dan Bapak ke Paris. Kita lihat Menara Eiffel yang asli, bukan cuma yang di baliho halte busway."

"Paris? Itu yang ada roti panjangnya ya, Gas?" tanya Ibu polos, membuat Bagas tertawa lepas.

Bagas menutup teleponnya dengan hati yang penuh. Perjuangannya ini telah membuktikan satu hal: Nasib memang di tangan Tuhan, tapi Tuhan selalu menitipkan keberuntungan pada tangan yang tidak pernah berhenti berusaha dan hati yang tetap tulus.

Namun, di tengah kesuksesan ini, sebuah bayangan dari masa lalu kembali muncul. Sebuah surat misterius datang ke mejanya esok harinya, berasal dari sebuah perusahaan kompetitor di Jakarta yang dikelola oleh seseorang yang sangat ingin menjatuhkan karir Bagas.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!