NovelToon NovelToon
Sang Ratu Dua Dunia

Sang Ratu Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.

Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.

Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.

Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.

Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Ketika Dunia Memilih Untuk Tidak Hancur

POV Maria Joanna

Dunia tidak berakhir.

Dan entah kenapa… itu justru terasa lebih berat.

Langit di atas Laut Hitam kembali biru, tetapi tidak sama. Ada retakan samar — seperti bekas luka yang belum sepenuhnya sembuh. Laut bergoyang pelan, namun setiap gelombang terasa terlalu sadar akan keberadaanku.

Aku berdiri di balkon kapal komando, memandangi horizon yang seharusnya terasa indah.

Seharusnya.

Tapi dadaku terasa kosong.

Veles sudah pergi.

Langit sudah menutup.

Dunia masih berdiri.

Dan sekarang…

Aku harus memastikan dunia tetap berdiri.

Angin malam meniup rambutku. Aku tidak mengikatnya. Tidak memakai mahkota. Tidak memakai jubah kerajaan.

Untuk pertama kalinya sejak duel…

Aku hanya ingin menjadi Maria.

Bukan pewaris dua darah.

Bukan komandan dunia.

Bukan simbol harapan umat manusia.

Hanya Maria.

Tapi bahkan pikiran itu terasa rapuh.

Aku menutup mata.

Dan dunia di dalam diriku masih bergetar.

Langkah kaki pelan terdengar di belakangku.

Aku tidak berbalik.

Aku tahu siapa itu.

Energi yang tenang. Hangat. Tidak menekan. Tidak menuntut.

Sebastian.

Dia berhenti beberapa langkah di belakangku. Tidak mendekat. Tidak bicara.

Dia selalu seperti itu.

Memberi ruang. Memberi waktu.

Aku menghembuskan napas panjang.

“Semua orang sudah tidur?” tanyaku pelan.

“Sebagian,” jawabnya.

“Sisanya berpura-pura sibuk supaya tidak memikirkan bahwa dunia hampir berakhir.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku mengerti mereka.”

Hening lagi.

Angin membawa bau asin laut dan sisa energi realitas yang masih belum stabil. Jauh di bawah, mesin kapal berdengung pelan seperti detak jantung raksasa.

“Maria,” katanya pelan.

Nada suaranya membuat sesuatu di dalam dadaku retak.

Bukan karena takut.

Karena terlalu lembut.

Aku akhirnya berbalik.

Dia terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan. Luka kecil di pelipisnya belum sepenuhnya sembuh. Seragam militernya masih berbau logam dan asap.

Dia terlihat… manusia.

Dan anehnya, itu membuat mataku panas.

“Kau hampir mati tadi,” katanya.

Bukan tuduhan.

Bukan kemarahan.

Hanya fakta.

Aku menelan ludah.

“Ya.”

“Kau melompat tanpa rencana mundur.”

“Ya.”

Dia menghembuskan napas panjang, menatap laut, bukan aku.

“Aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau tidak kembali.”

Dan di situlah—

Sesuatu di dalamku runtuh.

Bukan mahkota.

Bukan kekuatan.

Bukan kebanggaan.

Pertahanan.

Aku berjalan mendekat.

Dekat sekali.

“Sebastian,” kataku pelan.

Dia menoleh.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Aku melihat ketakutan murni di matanya.

Bukan untuk dirinya.

Untukku.

Tanganku bergerak duluan. Menyentuh pipinya. Hangat. Nyata.

“Aku di sini,” bisikku.

Dia menutup mata sejenak.

Seolah kalimat itu lebih kuat dari sihir apa pun.

Aku tidak tahu siapa yang bergerak dulu.

Tiba-tiba aku ada di pelukannya.

Kuat.

Tapi tidak menahan.

Tidak mengurung.

Hanya… memastikan aku ada.

Aku menempelkan wajah ke bahunya.

Dan tanpa sadar—

Air mata jatuh.

Aku tidak menangis saat Veles menekan eksistensiku.

Tidak saat langit retak.

Tidak saat laut terbelah.

Tapi sekarang…

Aku menangis.

Dan dia tidak mengatakan apa-apa.

Tangannya hanya mengusap punggungku pelan.

Ritme yang stabil.

Seperti mengatakan:

Masih di sini.

Masih hidup.

Tidak sendirian.

“Aku takut,” kataku akhirnya.

Kata itu terasa aneh di lidahku.

“Aku tahu,” jawabnya.

“Aku tidak boleh takut.”

“Kau boleh.”

“Aku pemimpin dunia sekarang.”

“Kau masih manusia.”

Aku tertawa kecil, suara serak.

“Aku tidak tahu cara menjadi keduanya.”

Dia menarik sedikit tubuhku, cukup supaya bisa melihat wajahku.

“Tidak ada yang tahu.”

“Bagaimana kalau aku gagal?”

Dia tidak menjawab langsung.

Sebaliknya, dia menempelkan dahinya ke dahiku.

“Kalau kau jatuh,” katanya pelan, “aku akan ada di sana.”

Sederhana.

Tidak heroik.

Tidak megah.

Dan justru karena itu…

Hatiku terasa penuh.

Aku menyentuh tangannya.

Merasakan bekas luka, kapalan, panas kulitnya.

“Kenapa?” tanyaku pelan.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kau masih di sini? Ini bukan perang biasa lagi. Ini bukan politik. Ini bukan kerajaan. Ini… akhir realitas.”

Dia tersenyum kecil.

“Karena kau di sini.”

Jawaban paling sederhana.

Dan paling menghancurkan.

Kami berdiri lama di sana.

Tidak bicara.

Tidak bergerak.

Hanya bernapas dalam ritme yang sama.

Dan untuk pertama kalinya sejak duel—

Tekanan di dalam dadaku… berkurang.

“Maria,” katanya akhirnya.

“Hm?”

“Bolehkah aku tinggal malam ini?”

Pertanyaan itu begitu hati-hati.

Seperti dia takut menghancurkan sesuatu yang rapuh.

Aku menatap matanya.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada harapan berlebihan.

Hanya…

Ingin memastikan aku tidak sendirian.

Aku mengangguk.

“Ya.”

POV Narasi

Kamar komando pribadi Maria gelap, hanya diterangi lampu laut biru redup dari luar jendela besar.

Tidak ada kemewahan kerajaan.

Tidak ada simbol kekuasaan.

Hanya:

Tempat tidur.

Meja kerja.

Peta dunia holografik yang dimatikan.

Dunia bisa menunggu beberapa jam.

Maria duduk di tepi tempat tidur.

Sebastian berdiri beberapa langkah darinya, seperti tidak yakin apakah dia benar-benar diizinkan ada di ruang paling pribadi seorang ratu dunia.

Maria menepuk kasur di sampingnya.

“Duduk.”

Dia menurut.

Pelan.

Hati-hati.

Seperti mendekati sesuatu yang suci.

“Aku tidak ingin jadi kuat malam ini,” kata Maria pelan.

“Jangan,” jawab Sebastian.

“Aku tidak ingin jadi simbol.”

“Jangan.”

“Aku hanya ingin…”

Dia berhenti.

Sebastian menunggu.

Selalu menunggu.

“… merasa aman.”

Dan itu menghancurkan Sebastian lebih dari duel apa pun.

Dia mengulurkan tangan.

Maria menggenggamnya.

Mereka berbaring berdampingan.

Tidak buru-buru.

Tidak lapar.

Tidak putus asa.

Hanya dua orang yang terlalu lama menahan dunia.

Sebastian memeluk Maria dari belakang.

Pelukan hangat.

Stabil.

Seperti jangkar.

Maria menghembuskan napas panjang.

Tubuhnya perlahan melepas ketegangan yang bahkan dia tidak sadar dia pegang sejak duel.

“Detak jantungmu cepat,” kata Sebastian pelan.

“Masih takut.”

“Aku di sini.”

Ia menempelkan bibirnya ke rambut Maria. Bukan ciuman penuh gairah. Hanya sentuhan yang berkata tenang.

Maria berbalik menghadapnya.

Jarak di antara mereka sangat dekat.

Napas mereka bercampur.

Tidak ada tergesa.

Tidak ada tuntutan.

Hanya pilihan.

Maria menyentuh wajahnya.

“Sebastian.”

“Ya.”

“Kalau dunia berakhir besok…”

“Aku tetap di sini malam ini.”

Air mata Maria jatuh lagi.

Dia menarik Sebastian mendekat.

Ciuman pertama mereka pelan.

Lembut.

Hampir ragu.

Seperti dua orang yang takut memecahkan momen yang terlalu berharga.

Ciuman kedua lebih dalam.

Lebih yakin.

Tangan Maria memegang kerah bajunya.

Sebastian menariknya lebih dekat, tapi tetap hati-hati — selalu memberi ruang untuk mundur.

Maria tidak mundur.

Dia mendekat.

Dunia di luar:

Masih rapuh.

Masih berbahaya.

Masih di ambang kehancuran.

Tapi di ruangan kecil itu—

Ada kehangatan.

Ada napas.

Ada kehidupan.

Malam itu bukan tentang gairah.

Bukan tentang melarikan diri.

Itu tentang:

Dua orang yang memilih hidup.

Memilih merasa.

Memilih tidak sendirian.

Setelahnya—

Maria berbaring dengan kepala di dada Sebastian.

Mendengarkan detak jantungnya.

Stabil.

Kuat.

Nyata.

“Terima kasih,” bisiknya.

“Untuk apa?”

“Untuk tidak melihatku sebagai ratu malam ini.”

Dia mencium keningnya.

“Bagiku, kau selalu Maria dulu.”

Maria akhirnya tertidur.

Tidur yang dalam.

Tanpa mimpi buruk retakan langit.

Tanpa suara entitas kuno.

Tanpa beban mahkota.

Sebastian tidak tidur lama.

Dia hanya memeluknya.

Menjaga.

Seperti dia berjanji.

Di luar jendela—

Bintang-bintang terlihat lebih terang malam itu.

Seolah dunia… memilih bertahan satu hari lagi.

POV Maria — Pagi

Aku bangun dengan hangat.

Dengan damai.

Dengan seseorang di sampingku.

Dan untuk pertama kalinya sejak dunia mulai retak…

Aku tersenyum sebelum membuka mata.

Perang belum selesai.

Raja Sejati lainnya akan bangkit.

Dunia akan menuntut segalanya dariku.

Tapi sekarang aku tahu satu hal:

Aku tidak harus memikulnya sendirian.

Perang akan datang.

Tapi aku tidak lagi sendirian menghadapinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!