Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Tanpa Akhir
Tony, nama itu hampir terlupakan karena seolah menghilang dari dunia ini setelah menerima skorsing selama tiga bulan dari sekolah akibat tindakan manipulatif dari Axel.
Tiga bulan lalu terjadi perang besar antara geng Kelelawar Hitam melawan geng The Executioners di lapangan bola yang letaknya tidak terlalu jauh. Perang itu diakibatkan perkara sepele. Karena ada pertandingan bola tarkam, terjadi ledek-ledekkan antara suporter dua kubu. Di dalam suporter itu ada anggota Kelelawar Hitam dan The Executioners.
Kerusuhan yang seharusnya kerusuhan antarsuporter malah menjadi perang geng antara Kelelawar Hitam dan The Executioners.
Kejar-kejaran terjadi di lapangan sepak bola. Rommy yang mencoba menenangkan anak buahnya gagal. Demikian juga Erick yang waktu itu masih berada dalam kubu The Executioners juga gagal menenangkan teman-temannya.
Perang batu terjadi di tengah lapangan bola, namun untung tidak ada yang cedera.
Di tengah batu yang beterbangan di lapangan bola yang panas dan berdebu itu, Tony berlari dengan napas menderu untuk menyelamatkan diri. Namun sial, dia akhirnya terjebak di tengah para anggota The Executioners, termasuk Axel yang berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Sekitar sepuluh anggota geng Kelelawar Hitam perlahan maju untuk mencelakai Tony.
Dalam keadaan genting, tiba-tiba Tony diselamatkan oleh seorang penduduk kampung yang tak diketahui namanya. Dia dilarikan dengan sepeda motor.
“Terima kasih, Mas,” kata Tony. “Kalau nggak ada Mas, sudah jadi apa aku tadi.”
Setelah menurunkan Tony ke tempat yang aman, si Mas tadi segera pergi dan Tony tak sempat menanyakan namanya.
Tawuran yang nyaris fatal itu terdengar pihak sekolah. Rommy dan Erick selamat, karena ada beberapa saksi yang melihat mereka sudah berusaha keras mengendalikan teman-temannya, namun gagal.
Tinggal Tony dan Axel. Namun Axel sangat licik dan manipulatif. Dia melukai tubuh dan lututnya seolah-olah luka karena berkelahi.
Ketika disidang oleh Pak Sajit, dia berkilah, “Saya hanya berusaha membela diri, Pak. Dan ada puluhan saksi yang melihat itu.”
Anehnya, para saksi yang dimaksud adalah kawan-kawan Axel yang nyaris mengeroyok Tony itu.
“Itu tidak benar, Pak,” kilah Tony. “Saya hampir saja dikeroyok oleh Axel dan kawan-kawan jika tidak keburu diselamatkan oleh seorang pemuda desa.”
“Itu tidak benar, Pak. Lihat kaki dan tubuh saya penuh luka karena dihajar oleh Tony,” bantah Axel.
“Apakah kau kenal pemuda kampung itu, Ton?” tanya Pak Sajit.
“Sayangnya tidak, Pak,” jawab Tony pelan. “Karena situasi chaos saat itu, saya tidak sempat menanyakan namanya.”
“Saya percaya cerita Tony, Pak,” ujar Rommy yang membela anak buahnya.
“Atas dasar apa kamu percaya?” tukas Pak Sajit yang membuat Rommy terdiam. “Saya harus objektif. Tony tidak kenal dengan pemuda itu, jadi saya tidak bisa minta keterangan darinya.”
Axel tersenyum licik sambil melihat Tony dan luka pada lututnya.
“Tapi, Pak…” kata Tony.
Pak Sajit memotong, “Kalau sampai besok kamu tidak bisa menghadirkan pemuda kampung itu untuk Bapak mintai keterangannya, terpaksa Bapak akan menjatuhkan sanksi padamu.”
Tony hanya tertunduk dan bergumam pelan, “Ini tidak adil!”
Rommy sekilas melihat senyum licik Axel yang penuh kemenangan itu, tapi dia tidak punya bukti apa pun untuk membela Tony.
Rommy, Tony, dan beberapa anggota Kelelawar Hitam berusaha keras dalam hari itu untuk menemukan pemuda kampung tersebut dan menanyakan ke beberapa temannya yang tinggal di kampung itu berdasarkan ciri-ciri seingat Tony. Namun nihil, tak ada seorang pun yang mengenalnya.
Hari penentuan pun hadir untuk Tony. Dalam hati kecil Pak Sajit yakin Tony berkata jujur, tapi apa boleh buat, dia harus bertindak seobjektif mungkin. Tony tidak mempunyai bukti atau saksi yang mendukungnya, sedangkan Axel mempunyai bukti-bukti dan saksi-saksi yang meyakinkan.
Pagi itu Tony, Rommy, Sonny, Axel, Erick, dan beberapa anak lain serta guru telah berkumpul di ruangan Pak Sajit. Tony hanya bisa menunduk lemas dan berkata, “Maaf, Pak. Pemuda kampung yang menyelamatkan saya itu tidak saya temukan.”
Dengan pelan dan tampak terpaksa, Pak Sajit berkata, “Baik, Ton. Dengan ini kamu dinyatakan bersalah dan dihukum….”
Pak Sajit tampak berat dalam melanjutkan putusannya. Tapi dia akhirnya melanjutkan, “…tiga bulan skorsing tidak boleh mengikuti aktivitas belajar-mengajar di sekolah.”
Tony dan Rommy hanya bisa menunduk diam, dan para guru juga tak bisa berkata-kata. Pak Sajit juga hanya bisa terdiam. Akhirnya semua meninggalkan ruang Pak Sajit, hanya tersisa Tony yang duduk dengan lemas banget dan Pak Sajit yang berjalan mendekati Tony lalu menepuk pundaknya.
“Maaf, Ton. Bapak yakin kamu di pihak yang benar, tapi Bapak harus mengambil keputusan seobjektif mungkin.”
“Saya mengerti, Pak,” kata Tony dengan wajah masih tertunduk dan suara pelan.
Sehari setelah keputusan yang sangat menyakitkan bagi Tony itu, tidak ada satu pun yang bisa menemui atau menghubungi Tony. Rumahnya terkunci rapat. WA dibaca doang, DM Facebook nggak dibalas, email juga apalagi. Selama tiga bulan skorsing, Tony seolah lenyap ditelan bumi. Bahkan Rommy hampir lupa bahwa dia punya seorang teman bernama Tony.
Yang semua tidak tahu, rupanya dia menyepi ke Bangkok, ke rumah tantenya yang sudah kawin dengan orang Thailand. Di sana dia berlatih Muay Thai setiap hari pagi dan sore di Sasana Watchara, gym yang dekat rumah tantenya. Pukulan siku, tendangan, clinch, sampai latihan fisik berat yang membuatnya muntah-muntah dijalaninya. Semua cuma buat satu tujuan: balas dendam ke Axel yang licik dan manipulatif itu.
Pagi itu aktivitas di SMA Tunas Bangsa berjalan seperti biasanya. Rommy yang lari berangkat sekolah sambil selfie dan diunggah ke Facebook. Murid-murid lain mulai berdatangan satu per satu sambil berceloteh riang. Yang tidak biasa, Tony telah kembali masuk sekolah dari masa skorsingnya.
Dia duduk di kursinya di barisan depan kelas XI-B, satu kelas dengan musuh besarnya, Axel, yang telah menyebabkan dia dihukum. Axel tampak duduk di belakang dan mereka beradu pandang dengan tatapan tajam.
Tiba-tiba Tony berdiri dan berjalan mendekati Axel. Beberapa anak lain sudah bersiap-siap memisah jika Tony berbuat sesuatu, tapi dia hanya berkata dingin dan pelan kepada Axel, “Kemanapun kau berada, akan kukejar kau sampai ujung bumi pun!”
Setelah itu Tony kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Axel yang masih terbengong. Namun seberandal-berandalnya dia, Axel merasa bergidik mendengar ucapan Tony yang dingin itu.
Pada jam istirahat pertama, sebagian besar murid kelas XI-B pergi keluar, naik ke kantin, ke perpus, dan lain-lain. Kecuali Axel dan Tony. Axel berdiri dan menghampiri Tony di kelasnya, lalu berkata, “Apa maksudmu tadi?”
“Aku siap duel denganmu. Boxing, kick boxing, muay thai, dan sebagainya,” jawab Tony dingin. “Kau tentukan tempatnya, tapi bukan tarung jalanan. Aku mau duel yang elegan.”