NovelToon NovelToon
ORBIT TAK TERENCANA

ORBIT TAK TERENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Pernikahan Kilat / One Night Stand
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Rencana Rahasia di Balik Pintu Penthouse

Zea perlahan membuka matanya. Langit-langit kamar penthouse yang tinggi dengan lampu kristal temaram menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Rasa pening masih berdenyut di pelipisnya, tapi ada rasa hangat yang menjalar di bagian bawah kakinya.

Ia menunduk sedikit dan menemukan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan: Dr. Antares Bagaskara, pria yang biasanya memegang mikroskop atau penggaris baja, kini sedang berlutut di ujung tempat tidur. Jas mahalnya sudah tergeletak di lantai, lengan kemejanya digulung sampai siku. Dengan sangat telaten, Antares memijat pergelangan kaki Zea yang memerah dan bengkak akibat heels 12 cm.

"Mas..." suara Zea serak.

Antares mendongak, matanya yang tajam langsung melembut. "Sudah bangun? Jangan bergerak dulu. Kakimu bengkak parah, Zea. Kenapa tidak bilang kalau sesakit ini?"

"Aku takut ngerusak acara Papa..." cicit Zea. "Sepatu itu... aku benci banget."

Antares melepaskan sepatu satin putih itu dengan gerakan sangat hati-hati, lalu mengompres kaki Zea dengan handuk dingin. "Lupakan soal sepatu dan acara itu. Kamu pingsan di depan ribuan orang, Zea. Saya hampir serangan jantung."

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan tidak sabar. Tuan Bagaskara, Mama Antares (Ny. Sofia), dan Papa Zea masuk dengan wajah panik.

"Antares! Bagaimana keadaan Zea? Apa perlu Papa panggil tim dokter spesialis sekarang?" tanya Tuan Bagaskara heboh.

Ny. Sofia langsung duduk di samping Zea, mengusap dahi menantunya. "Sayang, apa kamu merasa mual? Pusingnya luar biasa? Atau... apa kamu sudah telat bulan?" tanya Sofia dengan mata berbinar penuh harap. "Jangan-jangan kamu hamil?"

Zea melongo, wajahnya mendadak merah. "Hah? Enggak, Ma. Zea cuma capek sama berat gaunnya..."

Antares berdiri, berdiri tegak melindungi Zea dari cecaran pertanyaan ibunya. "Mama, jangan mulai. Zea tidak hamil. Saya selalu memakai pengaman setiap kali berhubungan. Saya tidak mau egois sebelum Zea benar-benar siap secara mental dan menyelesaikan pendidikannya dulu."

Suasana mendadak hening. Papa Zea berdehem canggung, sementara Tuan Bagaskara mengerutkan kening.

"Pendidikan bisa berjalan sambil mengasuh anak, Antares! Bagaskara butuh penerus!" protes Tuan Bagaskara.

"Tidak untuk sekarang, Pa. Saya tidak ingin Zea stres dengan tugas arsitektur ditambah beban kehamilan. Keputusan saya sudah bulat," tegas Antares tak terbantahkan.

Melihat keras kepalanya Antares, Ny. Sofia dan Tuan Bagaskara saling lirik. Mereka memberikan isyarat rahasia.

"Ya sudah kalau itu mau kamu," ucap Ny. Sofia dengan nada yang tiba-tiba melunak. "Tapi malam ini kalian tidak boleh di hotel. Zea butuh perawatan ekstra. Kalian harus menginap di rumah utama. Mama sudah siapkan jamu dan makanan enak untuk Zea."

Zea yang masih lemas hanya bisa mengangguk pasrah, sementara Antares tidak curiga sama sekali.

Sesampainya di rumah utama, Antares membawa Zea ke kamar lamanya yang sangat luas. Sementara itu, di lantai bawah, Ny. Sofia dan Tuan Bagaskara sedang berada di ruang penyimpanan pribadi milik Antares.

"Kamu yakin ini tidak berlebihan?" bisik Tuan Bagaskara sambil memegang sebuah jarum pentul kecil yang sangat tajam.

"Antares itu terlalu kaku logikanya. Dia nggak tahu kalau cucu Bagaskara itu lebih penting dari maket-maket Zea!" jawab Ny. Sofia sambil merogoh tas perlengkapan pribadi milik Antares yang tertinggal.

Dengan tangan gemetar namun mantap, Ny. Sofia mengeluarkan kotak latex milik anaknya. Satu per satu, dengan sangat rapi dan teliti, ia menusukkan jarum itu ke setiap bungkusan di dalamnya. Lubang yang sangat kecil, tidak kasat mata, namun cukup untuk membiarkan "takdir" bekerja.

"Masalah kuliah Zea, nanti kita yang atur. Kita bisa belikan dia satu firma arsitektur kalau dia mau, yang penting tahun depan rumah ini harus ramai suara bayi!" bisik Sofia sambil tersenyum penuh kemenangan.

Di kamar atas, Zea yang sudah selesai mandi dan merasa jauh lebih segar dengan piyama sutranya. Antares baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah mandi hitam, menatap Zea dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya.

"Kakimu masih sakit?" tanya Antares sambil mendekat.

"Sudah lebih baik, Mas. Makasih ya udah mijetin tadi," jawab Zea malu-malu.

Antares duduk di tepi kasur, menarik Zea ke pangkuannya. "Malam ini kita istirahat saja. Kamu sudah melewati banyak hal berat hari ini."

"Tapi... Mas tadi bilang ke Mama kalau Mas nggak mau egois..." Zea memainkan kancing jubah mandi Antares. "Sebenernya aku nggak masalah kok kalau... kalau hamil."

Antares terdiam, matanya menatap Zea intens. "Saya ingin kamu menikmati masa mudamu, Zea. Tapi kalau kamu memang menginginkannya..."

Antares meraih tas perlengkapannya di nakas. Ia mengambil salah satu bungkusan yang sudah "dimodifikasi" oleh ibunya tanpa rasa curiga sedikit pun.

"Malam ini saja. Tapi saya tetap akan pakai ini demi keamanan kamu," ucap Antares lembut.

Zea hanya bisa mengangguk, tanpa tahu bahwa di balik bungkusan itu, rencana besar mertuanya sedang berjalan untuk mengubah hidup mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!