Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyergapan
Kantor Pusat Hersa Grup – Jakarta
Lantai eksekutif Hersa Grup tampak lebih hidup pagi ini. Zavian melangkah melewati koridor dengan aura yang jauh berbeda. Jas slim-fit abu-abu arangnya membungkus tubuh yang tampak lebih tegap dan padat. Garis wajahnya yang dulu sering menunjukkan keraguan, kini tampak tenang dan tajam. Kepulangannya yang lebih awal dari Swiss bukan tanpa rencana.
Di ruang kerja Ivander Hersa, aroma cerutu tipis menyambut Zavian. Ivander mendongak, matanya berbinar melihat putra sulungnya kembali dengan sorot mata yang "hidup".
"Selamat datang kembali, Vian. Papah tidak menyangka kamu akan pulang secepat ini," ucap Ivander sambil berdiri dan memeluk bahu putranya.
"Terima kasih, Pah. Banyak hal yang terjadi di Swiss yang membuatku sadar bahwa menunda-nunda pekerjaan hanya akan membuang waktu," jawab Zavian tenang. Ia mengeluarkan sebuah berkas tebal dari tas kulitnya. "Ini adalah draf pengajuan untuk pembentukan Hersa Chemical Industries. Cabang baru yang akan fokus pada riset kimia murni dan bahan baku industri farmasi."
Ivander mengerutkan kening, membaca sekilas berkas tersebut. "Industri kimia? Ini serupa dengan apa yang kamu rintis di Jenewa bersama Tuan Besar Hadi?"
Zavian mengangguk pasti. "Benar, Pah. Sebulan di sana, aku belajar bahwa kekuatan sebuah korporasi bukan hanya pada seberapa banyak gedung yang kita bangun, tapi pada seberapa besar kita menguasai bahan baku utama dunia. Tuan Besar Hadi adalah mentor yang luar biasa. Beliau tidak hanya mengajarkan cara menghitung keuntungan, tapi cara membaca arah angin politik dan keamanan global."
Zavian menuangkan air mineral ke gelasnya, lalu melanjutkan dengan nada lebih detail. "Tuan Besar Hadi bercerita padaku, Pah, bahwa sebuah bisnis bisa runtuh dalam semalam jika kita tidak memiliki 'taring'. Di Swiss, aku melihat bagaimana dia mengendalikan pasar Eropa hanya dari satu laboratorium kecil. Dia juga berbagi banyak filosofi hidup... tentang kehilangan dan penyesalan. Dia adalah pria yang sangat sukses, namun jiwanya sangat rapuh. Itu membuatku belajar satu hal, jangan pernah membiarkan kesuksesan membuatmu kehilangan orang-orang yang paling berharga."
Ivander menatap Zavian lama, lalu menghela napas panjang. "Berbicara tentang orang berharga... bagaimana hubunganmu dengan Grace? Usiamu sudah melewati tiga puluh, Vian. Sudah waktunya kamu membangun rumah tangga. Teman-teman sebayamu sudah membawa anak mereka ke pesta kantor, sementara kamu masih saja terjebak dalam teka-teki cinta yang rumit."
Zavian terdiam. Ia menyesap airnya perlahan, mencoba meredam denyut nyeri di dadanya saat nama itu disebut. "Aku dan Grace sedang dalam masa... memantaskan diri, Pah. Papah dan Mamah memang tidak mempermasalahkan latar belakangnya, tapi perbedaan dunia kami terlalu kentara. Aku tidak ingin memaksanya menjadi wanita rumahan jika jiwanya adalah seorang pejuang, dan aku tidak ingin dia terluka hanya karena aku tidak punya kekuatan untuk menjaganya."
Ivander menepuk bahu Zavian. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Oh ya, Papah menyarankan, cobalah berhubungan baik dengan Tuan Muda Andreas Lukmansyah Hadi. Dia baru saja kembali dari Inggris. Karena kamu sudah bekerjasama dengan kakeknya di Swiss, akan jauh lebih mudah untuk memperluas Hersa Chemical jika kamu mendapatkan dukungan logistik dan jalur distribusi dari Blue Diamond Corp di Indonesia. Andreas pria yang sulit, tapi jika kamu bisa memenangkan hatinya, bisnis ini akan tak terkalahkan."
Zavian tersenyum tipis. "Aku akan menemuinya segera, Pah. Ada beberapa hal yang juga harus aku konfirmasikan padanya terkait Tuan Besar Hadi."
Jalan Raya Menuju Markas Blackrats – 20.00 WIB
Grace mendesah panjang sambil menyetir mobil Jeep hitamnya sendirian. Malam ini ia mengambil jatah libur mingguannya dari tugas pengawalan Andreas. Tubuhnya terasa remuk, dan bekas cambukan di punggungnya masih terasa gatal-perih.
Ia harus kembali ke markas Blackrats untuk mengontrol beberapa laporan proyek pengamanan yang masuk. Namun, di balik profesionalitasnya, sisi feminin Grace tidak bisa berbohong.
"Malam Minggu..." gumam Grace sambil menatap lampu-lampu jalanan yang temaram. "Biasanya, Bang Zavi sudah cerewet menelepon sejak sore, mengajak keluar hanya untuk minum es teh manis di pinggir jalan atau sekadar berdebat tentang menu makan malam."
Senyum getir muncul di bibirnya. Kesendirian ini terasa jauh lebih berat daripada membawa senjata berat di tengah hutan. Rindunya sudah mencapai tahap yang menyakitkan.
Tiba-tiba, sebuah mobil van perak menyalip dan mengerem mendadak di depan mobil Grace. Di belakang, dua mobil lain menutup jalan. Grace dengan sigap menarik rem tangan hingga mobilnya berputar 90 derajat.
"Sial! Jebakan!"
Grace segera meraih pistolnya di dashboard, namun sebelum ia sempat keluar, segerombolan orang bertopeng keluar dari mobil-mobil tersebut. Ada sekitar dua puluh orang. Beberapa di antaranya membawa tongkat baseball, parang, dan rantai besi.
Grace turun dari mobil dengan tenang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia berdiri tegak, menatap kerumunan pria bertopeng itu.
"Siapa kalian ini? Mau apa kalian menghadang jalanku?" suara Grace terdengar dingin dan berwibawa, ciri khas pimpinan Blackrats.
Salah satu pria bertopeng yang membawa tongkat baseball maju ke depan. Ia memukul-mukulkan tongkatnya ke telapak tangannya sendiri. "Nona Grace yang terhormat... kami hanya ingin memberikan salam hangat dari Morpork. Dan mungkin, membawa sedikit 'cinderamata' berupa kepalamu."
Grace memicingkan mata. "Morpork? Jadi tikus-tikus Lyus sudah berganti nama?"
"Beraninya kau menghina kami!" teriak salah satu dari mereka. "Habisi dia! Mr. J tidak butuh dia dalam keadaan hidup!"
"Tunggu!" teriak pria yang membawa tongkat baseball. "Mr. J bilang, jika dia menyerahkan diri secara baik-baik, kita bisa bersenang-senang dulu dengannya sebelum mengirim kepalanya ke keluarga Hadi. Lihat tubuhnya... sayang sekali kalau langsung mati."
Suara tawa menjijikkan pecah di antara gerombolan itu.
"Bersenang-senang?" Grace menyeringai, sebuah seringai iblis yang membuat beberapa orang di baris depan merinding. "Kalian salah memilih lawan. Jika kalian ingin mati, jangan banyak bicara. Sini... akan kutunjukkan cara Blackrats mencabik-cabik tikus selokan seperti kalian!"
"SERANG!"
BUGH! BRAK!
Pertarungan pecah di bawah lampu jalan yang berkedip. Grace bergerak seperti badai. Ia menghindari hantaman tongkat baseball pertama dengan gerakan meliuk, lalu memberikan serangan balasan berupa tendangan berputar yang menghantam rahang lawannya hingga terdengar bunyi tulang pecah.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Dari arah belakang, seorang pria mengayunkan rantai besi.
SRAAK!
Rantai itu mengenai bahu Grace, merobek jaket kulitnya dan mengenai luka lama yang belum sembuh total.
"AGH!" Grace meringis, darah mulai merembes.
"Dia terluka! Kepung dia!"
Grace terengah, punggungnya terasa seperti dibakar. Di tengah kepungan itu, ia teringat wajah Zavian. Bang... sepertinya aku tidak bisa menepati janjiku untuk tetap sehat, batinnya miris.
Sementara itu, hanya beberapa kilometer dari lokasi kejadian, mobil Zavian melintas di jalan raya yang sama. Ia baru saja pulang dari kantor dan ingin mencari makan malam di area yang dulu sering ia kunjungi bersama Grace.
"Tunggu, itu mobil Jeep hitam Grace?" Zavian menghentikan mobilnya saat melihat kerumunan di jalan buntu di bawah flyover.
Matanya membelalak saat melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang berjuang sendirian melawan puluhan orang. Darah Zavian mendidih. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh kemarahan purba yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Zavian membuka laci mobilnya, mengambil sebuah tongkat besi teleskopik yang ia bawa sebagai alat pertahanan hasil latihan di Swiss.
"Kali ini... tidak akan kubiarkan siapa pun menyentuhnya," desis Zavian, lalu ia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, menabrak barisan mobil penjahat itu untuk membuka jalan.
BRAAAAKKK!
Kedatangan Zavian yang tiba-tiba membuat gerombolan Morpork terkejut. Pintu mobil Zavian terbuka, dan pria itu keluar dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan seorang pelindung yang siap membunuh. Gayanya seakan mirip mafia-mafia di film asing, memakai jas berkancing satu lengannya tergulung.
Grace tertegun di tengah luka-lukanya. "Bang... Zavi?"
"Menyingkir dari wanitaku, Brengsek!" teriak Zavian, suaranya menggelegar di kegelapan malam.