Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjaga Agar Tetap Tenang
Langit sore berwarna kelabu lembut saat Reyd mengajak Lein menjauh dari lorong-lorong Academy.
Tidak ada tujuan khusus. Hanya berjalan bersama.
Mereka melewati taman kecil yang jarang didatangi murid, tempat suara langkah kaki tertelan oleh rumput dan dedaunan. Di sana, angin berhembus pelan... cukup untuk menenangkan pikiran yang masih bergejolak.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reyd akhirnya.
Lein mengangguk, meski jeda sebelum jawabannya terlalu lama untuk disebut spontan. “Aku tidak terluka.”
“Itu bukan yang kumaksud.”
Lein menatap tanah di bawah kakinya. “Aku hanya hampir marah saja.”
Reyd berhenti berjalan. Ia menoleh padanya, ekspresinya serius namun tidak menekan. “Kamu selalu menahan diri.”
Lein mengangguk lagi.
Raksha merasakan gema di dalam dadanya... kekuatan yang ditahan, emosi yang dipendam. Bukan karena takut, melainkan karena pilihan.
“Itu pasti tidak mudah,” kata Reyd pelan.
Lein tersenyum samar. “Dulu, aku tidak pernah menahan diri seperti sekarang ini.”
Reyd tidak bertanya. Ia hanya duduk di bangku batu, memberi ruang.
Lein ikut duduk, menatap kolam kecil di depan mereka. Airnya tenang, memantulkan cahaya langit.
“Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,” kata Lein. “Bahkan ketika mereka ingin menyakitiku.”
Reyd mengangguk. “Itu tidak membuatmu lemah.”
Lein menoleh. “Bagaimana jika suatu hari aku gagal?”
Reyd terdiam sejenak, lalu berkata jujur, “Kalau itu terjadi, aku harap kamu tidak sendirian. Aku berada disampingmu.”
Angin berhembus, membawa daun-daun kecil jatuh ke permukaan air.
Lein memejamkan mata, menarik napas panjang dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu, dadanya terasa lebih ringan.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Reyd tersenyum kecil. “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa.”
“Kau tetap di sini saja, sudah lebih dari cukup.” jawab Lein.
Mereka duduk tanpa bicara hingga matahari tenggelam. Tidak ada sumpah, tidak ada janji.
Namun Raksha menyadari sesuatu yang penting:
Ketenangan bukan berarti ketiadaan badai.
Tapi adanya seseorang yang membantu menahannya.
***
Reyd berjalan setengah langkah di depan Lein saat melewati lorong ramai. Reyd menunggu di luar kelas lebih lama dari biasanya. Tidak berlebihan, tidak mencolok... namun cukup untuk membuat jarak antara Lein dan tatapan yang tidak diinginkan.
Lein menyadarinya.
Namun ia tidak menegur.
Entah karena lelah atau karena rasa aman kecil yang muncul tanpa diminta.
Sore itu, Lein mengajak Reyd menjauh dari bangunan Academy. Mereka berjalan ke taman luar wilayah yang jarang dipelihara, tempat tanaman tumbuh seadanya.
Di sana, bunga-bunga tampak layu, tanah retak halus karena kurang aliran mana.
“Kau tahu Reyd, aku sering ke sini,” kata Lein pelan. “Tempat ini sunyi dan menenangkan loh.”
Reyd mengangguk. “Kamu terlihat lebih tenang di sini, ya”
Lein berlutut di tanah, menyentuh permukaannya dengan hati-hati. Ia menutup matanya.
Raksha mengalirkan mana... bukan untuk memerintah, melainkan menyapa.
“Hati Peri Malam.”
Cahaya redup menyebar seperti embun. Tanah bergetar pelan. Retakan menutup, lembap kembali. Tunas-tunas kecil muncul, lalu bunga bermekaran perlahan: bukan sekaligus, melainkan satu per satu, seolah memilih waktunya sendiri.
Reyd menyaksikannya tanpa bicara.
Serangga kecil berwarna perak terperangkap di antara daun kering. Lein mengulurkan tangan, membuka jalannya. Makhluk itu terbang bebas, meninggalkan kilau tipis di udara.
“Terima kasih, teman alam.” bisik Lein... tidak yakin pada siapa ia berbicara.
Sihir ini tidak menuntut.
Lein duduk di rerumputan, menatap hasil kecil dari sihirnya. Tidak begitu megah. Tidak terlalu mencolok.
Namun terlihat lebih hidup.
Reyd duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan. “Sihirmu menenangkan sekali,” katanya. “Bukan hanya untuk alam saja.”
Lein tersenyum tipis. “Aku merasa diterima oleh kehidupan baru.”
Angin berhembus, membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Lein memejamkan mata, membiarkan ketenangan itu meresap.
Untuk sesaat, ia lupa pada kutukan, pada tuduhan, pada bisikan.
Yang tersisa hanyalah hidup yang berlanjut.
Reyd berdiri lebih dulu, menoleh padanya. “Aku akan tetap di dekatmu karena aku merasa nyaman jika bersamamu, Roselein.”
Lein membuka matanya. “Aku tidak bisa menolakmu, Reyd.”
Raksha menyadari satu hal yang sederhana, namun berat:
Mungkin aku tidak hanya mencari cara untuk kembali ke tubuh lamaku.
Mungkin aku sedang belajar… alasan untuk tetap hidup.
Dan di taman yang hampir terlupakan itu, dengan bunga-bunga yang kembali mekar, Lein menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh kekuatan apa pun.