Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Ketika Cinta Tumbuh di Tengah Badai, dan Obsesi Menjadi Rencana
Adrian sedang duduk di mejanya, menyelesaikan laporan kasus terakhir saat atasannya Komisaris Joko tiba-tiba memanggilnya melalui interkom.
"Adrian, ke ruanganku. Sekarang."
Adrian mengerutkan dahi nada suara atasannya terdengar… serius. Terlalu serius.
Ia berdiri, merapikan berkas di mejanya, lalu berjalan menuju ruang Komisaris dengan perasaan tidak enak.
Begitu masuk, ia melihat dua orang pria berjas duduk di kursi tamu wajah mereka tidak dikenal, tapi aura mereka… mencurigakan.
Komisaris Joko duduk di belakang meja dengan ekspresi tegang.
"Adrian, duduk," ucapnya tanpa basa-basi.
Adrian duduk dengan waspada, melirik dua pria itu dari sudut mata.
"Ada apa, Pak?" tanyanya hati-hati.
Komisaris Joko menghela napas panjang lalu menatap Adrian dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Adrian… ada laporan masuk tentang kamu."
Adrian menegang. "Laporan? Laporan apa?"
Salah satu pria berjas yang lebih tua membuka map di pangkuannya, lalu bicara dengan nada formal.
"Inspektur Adrian Mahesa. Kami dari Badan Pengawas Internal Kepolisian. Kami menerima laporan anonim bahwa Anda… diduga menerima suap dari tersangka dalam kasus yang sedang Anda tangani."
Adrian melongo. "APA?!"
Komisaris Joko mengangkat tangan menenangkan. "Adrian, tenang dulu. Ini masih tahap awal investigasi. Belum ada kesimpulan."
Adrian berdiri napasnya memburu. "Pak, ini… ini salah! Saya tidak pernah terima suap dari siapapun! Ini fitnah!"
Pria berjas itu menatapnya datar. "Kami mengerti reaksi Anda. Tapi… kami punya bukti."
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari map lalu meletakkannya di meja.
"Ini… transfer rekening atas nama Anda. Sejumlah 50 juta rupiah. Dikirim dari rekening anonim dua minggu lalu."
Adrian menatap dokumen itu dengan mata melebar tidak percaya.
"Ini… ini tidak mungkin! Saya tidak pernah terima uang sebanyak itu! Rekening saya bersih!"
Pria berjas itu tidak terpengaruh. "Kami sudah cek. Uang itu masuk ke rekening Anda. Anda bisa cek sendiri."
Adrian langsung meraih ponselnya membuka aplikasi mobile banking dengan tangan gemetar.
Dan… benar.
Di riwayat transaksi, ada transfer masuk sejumlah 50 juta rupiah.
Dari rekening anonim.
Dua minggu lalu.
Adrian menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong tidak percaya.
"Ini… ini tidak masuk akal… saya tidak pernah..."
"Inspektur Adrian," potong pria berjas itu. "Untuk sementara, Anda akan kami non-aktifkan dari tugas lapangan sampai investigasi selesai."
Adrian menatap mereka frustrasi, marah, bingung.
"Pak Joko..." Adrian menatap atasannya dengan tatapan memohon. "Ini pasti kesalahan! Saya tidak pernah.."
Komisaris Joko menghela napas. "Adrian… aku percaya kamu. Tapi… ini prosedur. Kita harus selesaikan investigasi dulu. Setelah itu, kalau kamu bersih, kamu bisa kembali bekerja seperti biasa."
Adrian mengepalkan tangannya frustrasi. Ia tahu ini bukan kebetulan.
Ini… Arkan.
Malam Itu Di Apartemen Yura...
Adrian datang ke apartemen Yura dengan wajah lelah tatapannya kosong.
Yura yang membukakan pintu langsung terkejut melihat ekspresi Adrian. "Adi?! Kamu kenapa? Kamu… kelihatan kacau."
Adrian masuk dengan langkah berat, lalu duduk di sofa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Yura duduk di sampingnya dengan ekspresi khawatir. "Adi… ada apa? Cerita sama aku."
Adrian menarik napas panjang lalu menceritakan semuanya.Tentang laporan anonim. Tentang transfer 50 juta. Tentang non-aktif dari tugas lapangan.
Yura menatapnya dengan mata melebar shock. "Ini… ini pasti… Arkan," bisiknya pelan.
Adrian mengangguk pelan rahangnya mengeras. "Iya. Aku yakin. Dia… dia mau ngancurin karir aku biar aku nggak bisa lindungi kamu."
Yura menutup mulutnya dengan tangan air matanya mulai menggenang. "Ini… ini salahku… kalau aku nggak bilang kamu tunangan aku"
"Bukan salah kamu," potong Adrian cepat menatap Yura dengan serius. "Ini salah dia. Arkan. Dia… dia gila. Dan aku nggak akan biarkan dia menang."
Yura menatapnya lama lalu meraih tangan Adrian dengan lembut.
"Adi…" bisiknya pelan. "Aku… aku nggak mau kamu kena masalah gara-gara aku. Kamu… kamu udah terlalu banyak berkorban buat aku."
Adrian menggelengkan kepala. "Aku nggak peduli. Aku akan tetep lindungi kamu. Apapun yang terjadi."
Yura menatapnya dengan mata berkaca-kaca dadanya sesak.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar melihat Adrian. Bukan hanya sebagai teman. Bukan hanya sebagai pelindung.
Tapi sebagai… pria yang tulus mencintainya.
"Adi…" bisik Yura pelan suaranya bergetar. "Aku… aku mau bilang sesuatu."
Adrian menatapnya menunggu.
Yura menarik napas lalu bicara dengan jujur. "Aku… aku terima perasaan kamu."
Adrian membeku tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. "A… apa?" tanyanya pelan hampir berbisik.
Yura tersenyum tipis meski air matanya mengalir. "Aku… aku mau coba. Aku mau… jadi pacar kamu. Bukan pura-pura. Bukan karena Arkan. Tapi karena… aku juga… mulai suka sama kamu."
Adrian menatapnya lama lalu tersenyum lebar senyum paling tulus yang pernah Yura lihat. "Yura… kamu serius?"
Yura mengangguk tersenyum meski menangis. "Iya. Aku serius."
Adrian langsung memeluknya erat sangat erat seolah takut Yura akan menghilang.
"Terima kasih…" bisiknya pelan suaranya bergetar. "Terima kasih… udah kasih aku kesempatan."
Yura memeluknya balik menutup matanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu… Ia merasa… aman. Ia merasa… dicintai.
Di Kantor Arkan...
Arkan duduk di ruang kerjanya dengan laptop terbuka menatap laporan investigasi Adrian yang baru saja masuk.
Bagas berdiri di sampingnya dengan ekspresi serius. "Pak… laporan sudah masuk ke Badan Pengawas Internal. Inspektur Adrian sudah di-non-aktifkan sementara."
Arkan tersenyum tipis puas. "Bagus. Berapa lama dia akan di-non-aktifkan?"
Bagas membuka tablet membaca laporan. "Minimal satu bulan. Kalau investigasi berlanjut… bisa lebih lama."
Arkan mengangguk pelan. "Sempurna. Satu bulan… cukup untuk aku… dekati Yura tanpa gangguan."
Bagas terdiam tidak berani bicara.
Arkan menatap layar laptop di sana, ada foto Yura yang ia ambil tadi pagi dari kamera CCTV gedungnya.
Yura sedang tersenyum melayani pelanggan dengan ramah.
Arkan menyentuh layar dengan lembut seolah menyentuh wajah Yura.
"Sebentar lagi… kau akan melihatku lagi, Yura," bisiknya pelan. "Dan kali ini… tidak ada yang akan menghalangi kita."
Bagas melirik bosnya dengan ekspresi prihatin tapi ia tidak bicara. Ia hanya bisa berharap… rencana ini tidak berakhir dengan bencana. Tapi yang tidak Arkan tahu… Saat ia sibuk menjatuhkan Adrian… Yura dan Adrian justru semakin dekat.
Mereka jatuh cinta. Dan itu… akan membuat segalanya menjadi lebih rumit.
Keesokan Pagi Di Toko Yura...
Pagi itu, Adrian datang ke toko Yura dengan secangkir kopi di tangan seperti biasa.
Tapi kali ini… ada yang berbeda.
Yura yang melihatnya datang langsung tersenyum senyum yang hangat, tulus. "Pagi, Adi," sapanya lembut.
Adrian tersenyum balik lalu menyerahkan kopi. "Pagi. Ini… buat kamu. Kopi favorit kamu."
Yura menerima dengan senyum. "Makasih."
Mereka berdiri di sana menatap satu sama lain dengan senyum kecil. Dan untuk pertama kalinya… Mereka bukan pura-pura. Mereka… benar-benar bersama. Tapi yang tidak mereka tahu…
Di lantai dua gedung seberang, Arkan berdiri di depan jendela menatap mereka dengan tatapan gelap.
Ia melihat senyum Yura.
Ia melihat cara Yura menerima kopi dari Adrian.
Ia melihat… kebahagiaan di wajah Yura.
Dan sesuatu di dalam dirinya… retak. "Kau… masih tersenyum padanya?" bisiknya pelan suaranya penuh kemarahan. "Padahal aku tidak pernah melihat senyum mu seperti itu padaku"
Tangannya mengepal erat begitu erat sampai tangannya gemetar. "Baiklah, Yura…" gumamnya pelan penuh obsesi yang gelap. "Kalau kau masih tidak mau melihatku… Maka aku akan paksa kau… untuk melihat hanya aku."