"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 08
BAB 8 — Intervensi Pasif
Jam dinding di kelas X-1 menunjukkan pukul 10.15. Matahari bersinar terik di luar, namun di dalam ruangan berpendingin sentral itu, atmosfer terasa beku.
Pelajaran Sejarah. Bu Siska, guru yang terkenal dengan ketelitiannya terhadap kerapian catatan, sedang berdiri di depan kelas. Di tangannya ada daftar nilai tugas kelompok minggu lalu—tugas yang sempat heboh karena insiden "makalah hilang".
“Saya sudah menerima email susulan dari Kelompok 2,” kata Bu Siska sambil membetulkan letak kacamata bacanya. “Isinya bagus. Analisis kemiskinan struktural yang tajam. Mayang, Naufal, Jerry, Tasya... nilai kalian 95.”
Naufal bersorak pelan, “Yes!” sambil meninju udara. Jerry dan Tasya bertepuk tangan kecil, merasa menang tanpa kerja keras.
Mayang hanya menghembuskan napas lega. Dia menunduk, kembali menekuni buku tulisnya. Baginya, nilai 95 adalah jaminan makan bulan depan.
“Tapi,” suara Bu Siska meninggi, memotong kegembiraan itu. “Saya mendapat laporan yang mengganggu. Ada indikasi sabotase dokumen fisik di kelas ini. Sesuatu yang sangat tidak beradab untuk sekolah selevel Pelita Bangsa.”
Hening.
Vivie, yang duduk di barisan kedua, menegakkan punggungnya. Wajahnya datar, topeng ketenangan yang sempurna. Dia sudah melenyapkan bukti botol tinta kemarin. Tidak ada sidik jari. Tidak ada saksi mata selain teman-teman gengnya yang setia bungkam.
“Saya tanya sekali lagi,” Bu Siska menatap seluruh kelas. “Siapa yang merusak makalah Kelompok 2 sebelum dikumpulkan? Mengaku sekarang, hukuman diringankan. Kalau ketahuan belakangan, sanksinya skorsing.”
Tidak ada yang menjawab. Suara desing AC terdengar semakin keras.
Naufal mengangkat tangan.
“Ya, Naufal?”
“Bu, jelas ada yang iri sama kelompok kami. Makalah itu basah kuyup kena tinta hitam. Pasti pelakunya ada di kelas ini,” kata Naufal berapi-api, matanya melirik sinis ke arah Vivie.
Vivie langsung menyambar, “Maksud lo apa ngeliatin gue, Fal? Lo nuduh? Punya bukti? Jangan asal fitnah ya. Bisa aja Mayang yang ceroboh numpahin tinta sendiri terus playing victim biar dikasihani.”
“Jaga mulut lo, Vie!” bentak Naufal.
“Sudah! Diam!” Bu Siska memukul meja dengan penggaris kayu. Brak!
“Karena tidak ada yang mengaku, dan tidak ada bukti fisik... saya anggap ini kelalaian internal kelompok. Kasus ditutup. Kita lanjut ke materi Perang Dunia II.”
Vivie tersenyum miring. Tipis sekali. Kemenangan kecil. Tanpa bukti, dia tak tersentuh. Hukum di sekolah ini tajam ke bawah, tumpul ke yang punya kuasa.
Mayang meremas ujung roknya. Dia tahu Vivie pelakunya. Semua orang tahu. Tapi kebenaran tanpa bukti hanyalah gosip. Dia harus menelan rasa tidak adil ini sekali lagi. Seperti obat pahit yang harus diminum setiap hari.
Di barisan depan, Vino duduk tenang. Dia tidak ikut dalam perdebatan tadi. Dia sedang memutar-mutar sebuah fidget spinner logam di tangannya. Putarannya halus, nyaris tanpa suara.
Vino tahu kasus ini akan ditutup begitu saja. Sistem sekolah selalu mencari jalan termudah untuk menjaga reputasi. Skandal sabotase itu buruk untuk citra.
Tapi Vino punya standar keadilan sendiri.
Dia merogoh laci mejanya. Mengeluarkan sesuatu yang sejak kemarin dia simpan. Sebuah gumpalan kertas hitam yang sudah kering dan kaku.
Vino berdiri.
Bunyi kursi yang bergeser menarik perhatian seisi kelas.
Vino berjalan ke depan. Langkahnya santai, tidak terburu-buru. Tangan kirinya dimasukkan ke saku celana, tangan kanannya memegang gumpalan sampah itu.
Dia tidak meminta izin Bu Siska. Dia langsung berjalan menuju meja guru.
Vivie menatap Vino dengan jantung berdebar. Mau apa dia?
Vino berhenti tepat di samping meja Bu Siska. Dia tidak meletakkan gumpalan itu dengan kasar. Dia meletakkannya dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah artefak berharga, tepat di tengah meja, di atas buku absen.
Itu adalah bangkai makalah Mayang yang hancur. Masih terlihat sisa judul yang tertutup blok tinta hitam pekat.
“Apa ini, Vino?” tanya Bu Siska bingung.
Vino berbalik menghadap kelas. Wajahnya tanpa ekspresi. Tatapannya menyapu ruangan, melewati Naufal, melewati Mayang, dan berhenti—terkunci—pada Vivie.
“Sampah,” kata Vino. Suaranya tidak keras, tapi resonansinya memenuhi ruangan.
Dia menunjuk gumpalan kertas itu dengan dagu.
“Saya menemukannya di kolong meja paling belakang kemarin. Masih basah. Baunya tinta Yamura kualitas rendah. Jenis tinta yang sama dengan yang dipakai untuk pelajaran Kaligrafi kemarin.”
Vivie menahan napas. Tangannya di bawah meja mulai gemetar.
“Tapi bukan itu poinnya, Bu,” lanjut Vino. Dia berjalan pelan menyusuri lorong meja, mendekati meja Vivie.
Langkah kaki Vino terdengar tap... tap... tap... di lantai marmer. Seperti hitungan mundur eksekusi.
Dia berhenti tepat di samping meja Vivie. Dia tidak melihat gadis itu. Dia melihat ke depan, ke papan tulis.
“Poinnya adalah...” Vino menjeda kalimatnya.
“...sampah di kelas ini tidak dibuang pada tempatnya.”
Kalimat itu ambigu. Bermakna ganda.
Apakah Vino bicara soal kertas itu? Atau dia bicara soal orang yang melakukan perbuatan itu?
Seluruh kelas menahan napas. Mereka paham subteksnya. Vino baru saja menyebut pelaku sabotase itu sebagai "sampah" yang mengotori kelas.
Vivie merasa wajahnya ditampar keras-keras. Bukan dengan tangan, tapi dengan kata-kata. Dia merasa telanjang. Semua mata tertuju padanya. Hinaan "sampah" dari mulut Vino—pria yang dia puja—adalah hukuman paling mematikan.
“Vino,” tegur Bu Siska, merasakan ketegangan yang berbahaya. “Maksud kamu apa?”
Vino berbalik, berjalan kembali ke kursinya.
“Maksud saya, Bu, tolong ingatkan petugas piket,” jawab Vino santai sambil duduk. “Kalau ada sampah yang busuk, segera dibuang keluar. Jangan dipelihara di dalam kelas. Nanti baunya menyebar.”
Vino membuka buku paketnya.
“Halaman berapa tadi, Bu? Perang Dunia II?”
Kelas hening selama lima detik penuh. Tak ada yang berani bergerak.
Vivie menunduk dalam-dalam. Wajahnya merah padam, air mata malu menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak bisa membalas. Membalas berarti mengakui. Dia terjebak dalam permainannya sendiri.
Di bangku belakang, Mayang menatap punggung Vino.
Punggung itu tegap, dilapisi kemeja putih yang licin tanpa kusut.
Vino tidak membelanya dengan kata-kata manis seperti Naufal. Vino tidak berteriak marah. Vino hanya meletakkan sampah.
Tapi tindakan itu... itu adalah deklarasi perang. Vino baru saja menandai wilayahnya.
Dia melindungiku, batin Mayang. Ada desiran hangat yang aneh di dadanya. Perasaan aman yang sudah lama tidak dia rasakan sejak ayahnya meninggal.
Mayang terus menatap Vino, berharap cowok itu menoleh sedikit saja. Berharap ada kontak mata yang mengonfirmasi rasa terima kasihnya.
Tapi Vino tidak menoleh.
Dia fokus membaca buku sejarah, seolah kejadian barusan hanyalah selingan tidak penting dalam hidupnya yang sibuk. Bagi Vino, masalah sudah selesai. Variabel pengganggu (Vivie) sudah dinetralisir. Selesai.
Bel istirahat berbunyi.
Seperti biasa, siswa berhamburan keluar. Vivie adalah yang pertama lari keluar kelas, diikuti Sarah dan Oline, menghindari tatapan menghakimi teman-teman sekelasnya. Reputasinya retak hari ini.
Naufal memutar kursinya menghadap Mayang.
“Gila si Vino,” kata Naufal geleng-geleng kepala. “Mulutnya pedes banget. Sampah. Sumpah, gue liat muka Vivie tadi kayak kepiting rebus. Puas banget gue.”
Mayang membereskan bukunya. “Dia nggak sebut nama Vivie, Fal.”
“Ya tapi kan semua orang tahu! Itu sindiran tingkat dewa. Lo harus makasih sama dia, May. Kayaknya dia mulai peduli sama lo.”
Mayang terdiam. Peduli? Atau hanya arogansi intelektual yang tidak suka melihat kekacauan?
“Aku mau ke perpustakaan,” kata Mayang berdiri.
“Gue ikut!”
“Jangan. Kamu latihan basket aja. Kapten kok bolos latihan.”
Naufal cemberut. “Yaudah. Nanti pulang gue tunggu di parkiran ya? Awas kalau kabur naik angkot lagi.”
“Liat nanti.”
Mayang berjalan keluar kelas.
Dia tidak ke perpustakaan. Kakinya membawanya ke arah kantin, lalu berbelok ke koridor sepi menuju atap gedung, tempat favorit anak-anak OSIS bolos legal.
Tapi di tengah jalan, dia melihat Vino.
Vino sedang berdiri di depan vending machine minuman. Dia memasukkan uang kertas, menekan tombol kopi kalengan.
Klang. Kaleng kopi jatuh.
Mayang berhenti lima meter di belakangnya. Dia ragu. Haruskah dia menyapa?
Vino membungkuk mengambil kaleng kopinya. Lalu, tanpa menoleh, dia bicara.
“Kalau mau bilang makasih, nggak usah. Gue bosen dengernya.”
Mayang kaget. Punggung cowok itu seolah punya mata.
Mayang berjalan mendekat, berdiri di samping Vino.
“Saya nggak mau bilang makasih,” kata Mayang.
Vino membuka kaleng kopinya. Ctrek. Aroma kopi menyebar. Dia menoleh, menatap Mayang dengan alis terangkat sebelah.
“Terus?”
“Saya mau tanya. Kenapa Kakak simpan kertas sampah itu? Kakak ambil dari tempat sampah kemarin, kan?”
Vino meminum kopinya seteguk. Jakunnya bergerak naik turun.
“Barang bukti,” jawab Vino singkat. “Dalam hukum, corpus delicti atau bukti fisik adalah raja. Gue simpan buat jaga-jaga kalau Vivie nekat lapor balik ke bokapnya.”
“Kakak... mikir sejauh itu?”
“Selalu. Berpikir dua langkah ke depan itu standar. Tiga langkah itu keharusan.”
Vino bersandar di mesin penjual otomatis. Dia menatap Mayang dari atas ke bawah. Mayang hari ini memakai jepit rambut hitam sederhana, bukan karet gelang karet merah seperti biasanya.
“Lo potong rambut poni?” tanya Vino tiba-tiba.
Mayang refleks memegang dahinya. “Sedikit. Kepanjangan, ganggu mata pas baca.”
“Bagus. Lebih aerodinamis,” komentar Vino asal.
Mayang menahan senyum. Pujian macam apa itu? Aerodinamis? Dia dikira pesawat terbang?
“Kak Vino,” Mayang kembali serius. “Soal tadi... Kakak nyebut Vivie sampah.”
“Gue bilang sampah di kelas. Gue nggak sebut nama. Itu interpretasi bebas audiens.”
“Tapi itu jahat, Kak. Dia perempuan.”
Vino menegakkan tubuhnya, menatap Mayang tajam.
“Lo terlalu lembek, Mayang. Itu kelemahan lo. Lo pikir karena dia perempuan, dia berhak dimaafkan setelah berusaha menghancurkan masa depan lo?”
Vino mendekatkan wajahnya sedikit.
“Dunia ini hutan rimba. Kalau ada predator yang mau mangsa lo, lo nggak kasih dia bunga. Lo kasih dia pelajaran. Gue tadi cuma kasih dia shock therapy biar dia berhenti ganggu aset investasi gue.”
Lagi-lagi kata itu. Investasi.
“Jadi saya cuma aset?” tanya Mayang pelan. Ada nada kecewa yang terselip.
Vino terdiam sejenak. Dia menatap mata Mayang yang bening dan jujur. Mata yang sangat kontras dengan mata-mata penuh kepalsuan di sekelilingnya.
“Untuk saat ini... iya,” jawab Vino. Tapi nadanya tidak seyakin biasanya. “Aset yang berisiko tinggi.”
Vino merogoh saku blazernya. Mengeluarkan sebuah benda kecil.
Sebuah penghapus mahal. Merk Staedtler hitam. Masih segel.
“Nih,” Vino melempar penghapus itu ke arah Mayang. Mayang menangkapnya dengan kikuk.
“Buat apa?”
“Penghapus lo yang di kotak pensil itu udah tinggal seujung kuku. Bikin kertas sobek kalau dipake. Pake yang ini. Biar bersih kalau ngerjain soal.”
“Bayar berapa?” tanya Mayang waspada. Dia ingat utang 50 ribunya.
“Gratis. Itu bonus dividen awal.”
Vino membuang kaleng kopinya yang sudah kosong ke tempat sampah di sebelahnya. Tring. Masuk tepat sasaran.
“Ingat, Mayang. Sampah dibuang pada tempatnya. Jangan biarkan orang lain jadiin lo tempat sampah buat emosi mereka. Lawan.”
Setelah itu, Vino berjalan pergi.
Mayang menggenggam penghapus hitam itu. Rasanya dingin, tapi entah kenapa membuat telapak tangannya hangat.
Dia melihat Vino menghilang di belokan koridor.
“Lawan,” gumam Mayang mengulangi kata-kata Vino.
Dia tersenyum. Bukan senyum sopan. Tapi senyum berani.
Sore harinya. Di parkiran sekolah.
Mayang berjalan menuju gerbang. Dia melihat Naufal sudah stand by di atas Vespanya, melambaikan tangan heboh.
“May! Ayo!”
Tapi di sisi lain, Vivie dan gengnya sedang berdiri di dekat mobil jemputan Mayang. Vivie menatap Mayang dengan tatapan penuh dendam. Matanya bengkak, sisa menangis di toilet.
Mayang berhenti sejenak. Dia teringat kata-kata Vino. Lawan.
Alih-alih menunduk dan menghindar seperti biasanya, Mayang menegakkan kepala.
Dia berjalan melewati Vivie.
Saat berpapasan, Vivie mendesis, “Urusan kita belum selesai, Pelayan.”
Mayang berhenti. Dia menoleh, menatap mata Vivie lurus-lurus.
“Selesaikan saja,” kata Mayang tenang. “Aku tunggu. Tapi pastikan kali ini kamu buang sampah pada tempatnya. Malu sama Kak Vino.”
Wajah Vivie memucat. Dia tidak menyangka Mayang berani membalas menggunakan kalimat Vino.
Mayang tersenyum tipis—sangat tipis, meniru gaya Vino—lalu berjalan santai menghampiri Naufal.
“Ayo, Fal. Anterin sampai depan gang aja ya.”
Naufal bersorak senang. “Siap, Tuan Putri! Helm sudah siap!”
Mayang naik ke boncengan Naufal. Motor kuning itu melaju membelah gerbang sekolah.
Dari jendela lantai 3 Ruang OSIS, Vino melihat pemandangan itu.
Dia melihat Mayang membalas tatapan Vivie. Dia melihat Mayang naik motor Naufal.
Ada rasa bangga melihat keberanian Mayang. Tapi ada rasa tidak nyaman yang aneh melihat tangan Mayang memegang pinggang Naufal.
Vino menyentuh dadanya sendiri.
Aritmia? batin Vino menganalisis detak jantungnya yang tidak teratur. Nggak mungkin. Gue atlet renang, jantung gue sehat.
Dia menepis perasaan itu dengan logika.
Itu pasti efek kafein. Kebanyakan minum kopi kaleng.
Vino menutup tirai jendela. Kembali ke tumpukan berkas. Menutup rapat pintu hatinya yang mulai diketuk oleh gadis penjual bubur itu.
Bersambung......