Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pesta Desa
Aroma nasi liwet yang baru diangkat dari tungku berpadu dengan ikan asin goreng, sambal terasi pedas, sayur daun singkong rebus, dan pisang goreng yang masih mengepul—semua itu naik ke udara seperti undangan hangat untuk jiwa yang lama kelaparan akan kebersamaan. Anak-anak berlarian di antara orang dewasa, tawa mereka menggema seperti lonceng kecil, sementara para ibu sibuk menyendok makanan ke piring tamu dengan senyum lebar yang tak lagi dibayangi bayang-bayang malam.
Bada Magrib. Ini adalah pesta panen pertama setelah kutukan berakhir—bukan sekadar pesta panen biasa, tapi pesta syukur yang lebih dalam, pesta yang merayakan kehidupan yang kembali utuh. Monumen kecil di pinggir hutan, dengan batu besar yang bertuliskan permintaan maaf kepada Mbah Saroh, diberi karangan bunga melati segar setiap hari, dan sore ini karangan itu dibawa ke lapangan sebagai pusat perayaan.
Warga berkumpul melingkar, duduk bersila di atas tikar, wajah-wajah mereka yang dulu penuh ketakutan kini bercahaya oleh api unggun kecil di tengah dan cahaya lampu minyak yang mulai dinyalakan saat senja turun.
Daeng Tasi berdiri di tengah lingkaran, tangannya memegang cangkir bambu berisi teh tubruk yang masih panas. Ia mengenakan baju kurung sederhana berwarna merah, sarung Samarinda berwana ungu , hijau dan merah dengan motif gabungan bugis dan dayak dan songkok hitam di kepala—penampilan yang jarang ia pakai di desa, tapi malam ini terasa tepat.
Di sampingnya, Sari Wangi duduk dengan Lilis di pangkuan, bayi itu mengunyah pisang dengan tangan kecilnya, tertawa kecil setiap kali Sari mencium pipinya.
Siti Aisyah dan Kang Asep duduk tak jauh, Cecep, Ratih, dan Lila bermain di sekitar mereka, sementara Kang Ujang membantu Bang Jaim membagikan makanan ke warga yang baru datang.
Pak Kades berdiri, suaranya pelan tapi menggema di bawah langit senja yang mulai gelap.
“Saudara-saudara... malam ini kita bukan hanya merayakan panen. Kita merayakan kehidupan yang kembali. Kita rayakan pengampunan yang kita dapat dari Mbah Saroh... dan dari Allah Tuhan Semensta Alam. Mari kita syukuri bersama. Dan malam ini... kita dengar cerita dari Daeng Tasi—cerita yang membuktikan bahwa keajaiban bisa datang dari mana saja, bahkan dari lautan yang ganas.”
Warga bertepuk tangan pelan, mata mereka tertuju pada Daeng Tasi. Lelaki itu tersenyum tipis, lalu mulai bicara—suara dalamnya yang biasa tegas kini lembut, penuh rasa syukur.
“Aku... aku dulu pikir hidupku cuma di laut. Kapal Phinisi milik ayahku, ‘Bintang Selatan’, sudah membawaku bertualang ke mana-mana—dari Selat Sunda sampai ke Balikpapan. Kota minyak itu... ramai sekali waktu itu. Sumur-sumur minyak baru ditemukan, orang-orang datang dari segala penjuru, kapal-kapal berjejer di dermaga, asap hitam dari kilang minyak naik ke langit seperti kabut pagi. Tapi di balik hiruk-pikuk itu... ada keajaiban yang tak banyak orang tahu.”
Ia berhenti sejenak, matanya menatap ke langit senja seperti melihat kembali pemandangan itu. “Di Teluk Balikpapan... aku pernah melihat pesut. Bukan pesut Sungai Mahakam yang kalian kenal—pesut itu lebih ramping tapi besar, lebih gelap warnanya, punggungnya abu-abu kehitaman dengan sirip punggung yang melengkung tajam seperti pisau kecil.
Pesut Mahakam biasanya hidup di air tawar, tubuhnya lebih gemuk terlihat imut, siripnya lebih lembut, warnanya abu-abu muda sampai merah muda. Mereka suka berenang bergerombol, main-main di permukaan, seperti anak kecil yang tak pernah lelah.
Tapi pesut Teluk Balikpapan... mereka hidup di air payau, di muara yang campur antara laut dan sungai. Tubuhnya langsing kekar, lebih kuat melawan arus pasang surut yang ganas. Mereka jarang muncul bergerombol kecuali kalau ada bahaya—sering sendirian atau berpasangan, muncul tiba-tiba di permukaan, hembus napas panjang, lalu lenyap lagi ke kedalaman. Mereka... seperti penjaga teluk yang diam-diam, tak banyak bicara, tapi selalu ada saat dibutuhkan.”
Warga mendengar dengan mata berbinar. Anak-anak berhenti bermain, duduk mendekat. Cecep bertanya, “Paman Daeng... pesut itu bisa bicara tidak?”
Daeng Tasi tertawa kecil. “Mungkin tidak dengan bahasa kita, Cecep. Tapi mereka bicara dengan cara mereka sendiri—dengan lompatan di permukaan, dengan hembusan napas yang terdengar dari jauh, dengan kehadiran mereka yang selalu muncul di saat kapal hampir karam.
Aku pernah lihat... kapal kami hampir tenggelam karena badai di teluk itu. Gelombang tinggi seperti gunung, angin ribut seperti jeritan. Tiba-tiba... pesut-pesut itu muncul. Mereka lompat di depan kapal, berenang mengikuti kami, seperti memandu kami ke jalur aman. Kami selamat... karena mereka.”
Sari Wangi tersenyum, tangannya memeluk Lilis lebih erat. “Seperti Mbah Saroh... dia juga muncul di saat-saat terakhir. Bukan untuk mengambil, tapi untuk lepaskan.”
Daeng Tasi mengangguk, matanya basah. “Iya, Sari. Dan itu yang bikin aku percaya... ada keajaiban di lautan, di hutan, di hati manusia. Nusantara ini penuh cerita monster laut—cumi raksasa yang hampir telan kapal kami, hiu yang besar seperti kapal perahu, ular laut yang panjangnya puluhan meter. Aku pernah lihat sendiri... di perairan dekat Karimunjawa, kami diserang kawanan monster laut kecil—ikan-ikan beracun yang muncul dari kedalaman setelah badai besar. Mereka menggigit tali layar, merusak lambung kapal. Kami bertarung sepanjang malam, parang dan tombak kami berlumur darah ikan. Tapi kami menang... karena kami tak sendirian. Ada nelayan lain dari pulau terdekat yang datang membantu, ada doa dari awak kapal, ada kekuatan yang tak terlihat.”
Warga bertepuk tangan pelan, beberapa menangis diam-diam. Bang Jaim menambahkan dengan suara pelan, “Daeng... itu seperti kita di gua. Kami tak sendirian. Kami punya satu sama lain. Kami punya doa... dan kami punya pengampunan.”
Daeng Tasi mengangkat cangkir bambunya. “Malam ini... kita merayakan panen, kita merayakan kebebasan, kita rayakan cinta dan persaudaraan. Mari kita makan bersama, tertawa bersama, dan janji bersama—kita nggak akan ulangi kesalahan masa lalu. Kita akan jaga desa ini... dengan hati yang terbuka.”
Warga mengangkat cangkir dan piring mereka, suara “amin” dan tepuk tangan menggema. Api unggun di tengah lapangan menyala lebih terang, tarian kecil dimulai—anak-anak dan ibu-ibu menari dengan gerak sederhana, tawa mereka bercampur dengan suara gamelan kecil yang dimainkan warga. Daeng Tasi duduk kembali di samping Sari, tangannya memeluk istrinya dan Lilis. Sari bersandar di bahunya, bisiknya pelan.
“Daeng... aku bahagia sekali malam ini. Aku pikir kita tidak akan pernah bisa seperti ini lagi... tapi lihat... kita di sini. Bersama.”
Daeng Tasi mencium kening istrinya. “Kita akan terus bersama, Sari. Selamanya.”
Di sudut lain, Kang Ujang duduk bersama warga muda. Ia tersenyum saat mendengar cerita Daeng Tasi, tapi matanya sesekali melirik ke arah gadis desa yang sedang menari. “Aku... aku mau jadi seperti Daeng,” bisiknya pada temannya. “Aku mau punya keluarga... tapi dengan hati yang bersih.”
Teman itu menepuk bahunya. “Kau sudah berubah, Ujang. Kau akan dapat yang terbaik.”
Malam itu berlanjut dengan tawa, makanan, cerita, dan pelukan. Desa Durian Berduri menyatu dalam kebersamaan yang lama hilang—bukan karena tak ada lagi monster, tapi karena hati mereka akhirnya bersatu. Pesta panen itu bukan akhir dari cerita, tapi awal dari kehidupan yang lebih indah.
\*\*\*