Bagian I: Era Sang Ratu dan Awal Dinasti Kisah bermula dari Queen Elara, seorang wanita tangguh yang membangun fondasi kekuasaan Alexandra Group. Ia menikah dengan Adrian Alistair, pria dingin dan strategis. Dari persatuan ini, lahir dua pasang anak yang menjadi pilar keluarga: si kembar Natalie dan Nathan. Natalie tumbuh sebagai gadis yang tampak lugu namun memiliki sifat "bar-bar" yang terpendam, sementara Nathan menjadi eksekutor tangguh penjaga kehormatan keluarga.
Bagian II: Penyamaran Sang Pangeran Italia Masa muda Natalie Alistair diwarnai oleh kehadiran seorang pengawal misterius bernama Julian, yang sebenarnya adalah Giuliano de Medici, pewaris takhta mafia dan perbankan Italia yang sedang menyamar. Di tengah ancaman rival seperti Jonah dan Justin Moretti, cinta mereka tumbuh dalam gairah yang terjaga.
Bagian III: Dua Pewaris dan Rahasia Kelam Natalie dan Giuliano dikaruniai dua anak: Leonardo dan Alessandra. Leonardo tumbuh menjadi putra mahkota yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Pengorbanan
Lantai teratas Alistair Tower berguncang, bukan karena gempa, melainkan karena kebenaran yang baru saja diledakkan. Di ruang rapat utama, di hadapan dewan direksi yang pucat pasi dan puluhan detektif federal, Queen Elara Alexandra berdiri di samping Adrian Alistair.
Topeng musuh bebuyutan itu telah dilepas sepenuhnya. Thomas Alistair, sang patriark yang sombong, kini duduk terpojok dengan borgol yang mengunci pergelangan tangannya. Data pencucian uang dan bukti manipulasi kasus ayah Queen telah terpampang nyata di layar raksasa.
"Kau mengkhianati darahmu sendiri, Adrian!" raung Thomas, matanya merah karena murka.
Adrian menatap ayahnya dengan dingin. "Aku tidak mengkhianati darahku. Aku hanya membersihkannya dari noda yang kau tinggalkan. Ayah Queen akan bebas hari ini, dan kau akan menempati sel yang seharusnya menjadi milikmu sejak tiga puluh tahun lalu."
Namun, hukum memiliki celah yang kejam. "Bukti ini kuat," ucap salah satu jaksa, "namun ada beberapa transaksi yang memerlukan tanda tangan penanggung jawab operasional saat ini untuk verifikasi akhir agar Thomas bisa dijerat seumur hidup. Dan penandatangan itu adalah Anda, Tuan Adrian."
Queen menahan napas. Jika Adrian menandatanganinya, ia mengakui keterlibatannya secara hukum dalam operasional perusahaan yang kotor, meski ia berniat membongkarnya.
"Lakukan," bisik Adrian pada jaksa tersebut. Ia menoleh pada Queen, memberikan senyum tipis yang memilukan. "Aku harus masuk ke sana, Elara. Bukan sebagai penjahat, tapi sebagai jaminan agar ayahmu bisa pulang. Aku akan mengambil alih tanggung jawab operasional selama setahun di penjara minimum agar kasus ini ditutup sepenuhnya dan Thomas tidak bisa banding."
"Adrian, tidak! Kau tidak perlu melakukan pengorbanan ini!" Queen memegang lengan Adrian, air mata menggenang di matanya.
"Ini adalah satu-satunya cara agar kita benar-benar bebas dari bayang-bayangnya, Queen," Adrian mengecup dahi Queen di depan semua orang, sebuah deklarasi cinta yang paling berani. "Tunggu aku satu tahun. Bangunlah kembali kerajaan Alexandra. Aku akan kembali untuk mengambil takhtaku di sampingmu."
Malam sebelum Adrian menyerahkan diri secara resmi, mereka melarikan diri ke sebuah kapal kecil di pinggiran kota, jauh dari jangkauan media. Di bawah kesaksian Luna dan Rian, mereka bertukar janji suci. Tidak ada gaun merah atau jas desainer mewah, hanya dua jiwa yang lelah, saling mengikatkan diri dalam pernikahan rahasia yang sah secara hukum namun tersembunyi dari dunia.
Setelah itu, Adrian membawa Queen ke sebuah penthouse pribadi yang tidak diketahui siapa pun. Di sana, di antara ketegangan akan perpisahan yang akan datang, gairah yang selama ini mereka tekan meledak tanpa sisa.
Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya remang kota di balik jendela besar, Adrian menarik Queen ke dalam pelukannya. Ciuman mereka bukan lagi tentang kerinduan yang sembunyi-sembunyi, melainkan kepemilikan mutlak. Adrian mengangkat tubuh Queen, mendudukkannya di atas meja marmer yang dingin, sementara tangannya merayap di bawah gaun sutra Queen yang lembut.
"Malam ini, kau hanya milikku, Elara," bisik Adrian parau di ceruk lehernya.
Queen mengerang pelan, jarinya meremas rambut Adrian saat pria itu mencumbunya dengan intensitas yang membakar. Sentuhan Adrian di kulitnya terasa seperti api yang menjalar, menghapus semua rasa takut akan hari esok. Di tengah gairah yang memuncak, mereka saling mencumbu, saling memiliki dengan cara yang paling primitif dan jujur. Pakaian mereka berserakan di lantai, meninggalkan dua tubuh yang saling membelit dalam tarian cinta yang panas dan penuh keputusasaan—sebuah memori yang akan mereka simpan selama setahun perpisahan nanti.
Di luar pintu penthouse tersebut, Clarissa berdiri dengan napas memburu. Ia telah mengikuti mereka sejak dari kapel. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan ponsel terbarunya, bersiap untuk merekam adegan panas di dalam melalui celah pintu yang sedikit terbuka sebagai senjata terakhir untuk menghancurkan reputasi "pernikahan suci" mereka.
"Aku akan menghancurkanmu sekarang, Queen," gumam Clarissa penuh dendam.
Ia menekan tombol rekam. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan lingkaran berputar yang menyebalkan. Signal Jammer. Rian, sang ahli teknologi, telah memasang pengacak sinyal di seluruh lantai tersebut. Tidak ada gelombang elektromagnetik yang bisa masuk atau keluar, termasuk sinyal kamera digital yang memerlukan sinkronisasi cloud atau penyimpanan digital modern.
"Sialan! Kenapa tidak bisa?!" Clarissa memukul ponselnya ke dinding dengan frustrasi.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menepuk bahunya. Clarissa berbalik dan menemukan Rian berdiri di sana dengan senyum miring, memegang sebuah alat kecil yang berkedip merah.
"Mencari sinyal, Clarissa? Di sini, satu-satunya hal yang terekam hanyalah kebodohanmu," ucap Rian dingin. "Pergilah sebelum petugas keamanan menyeretmu keluar atas tuduhan pelanggaran privasi tingkat tinggi."
Clarissa terpaksa melarikan diri dalam kegelapan, tanpa bukti, tanpa senjata, hanya dengan rasa kalah yang membakar.
Pagi harinya, Adrian berdiri di depan gerbang fasilitas rehabilitasi federal. Ia menoleh ke arah Queen yang berdiri di samping mobilnya.
"Setahun, Elara," ucap Adrian.
"Setahun, Adrian," balas Queen dengan mata yang kini penuh tekad.
Adrian melangkah masuk ke dalam gerbang, namun ia tidak lagi tampak seperti pecundang. Ia adalah seorang Raja yang sedang menempuh jalan sunyi untuk melindungi Ratunya. Queen kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melihat ke arah layar bursa di dasbornya.
Harga saham Alexandra Group mulai meroket naik seiring dengan berita pembebasan ayahnya. Dunia mungkin melihat mereka sebagai musuh yang saling menghancurkan, namun di balik layar, mereka adalah pasangan penguasa yang baru saja memenangkan perang terbesar dalam hidup mereka.
Sang Ratu telah kembali ke takhtanya, dan ia akan memastikan bahwa saat suaminya kembali, dunia sudah berada di bawah kaki mereka berdua.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍