Terobsesi Kamu Season 2
Demi bakti pada orang tua, Vira merelakan waktunya Jakarta-Bandung merawat sang ayah.
Namun, tanpa disadari, jarak yang ia tempuh justru menciptakan celah lebar di rumah tangganya sendiri. Ia perlahan kehilangan pijakan sebagai pendamping suami dan sosok ibu sambung bagi putri mereka.
Celah itu tak dibiarkan kosong. Hadirnya seorang tutor muda—Cintya yang begitu akrab dengan sang putri membawa badai hasutan yang mengguncang pondasi pernikahannya.
Ketika pengkhianatan mulai membayangi dan kenyamanan rumahnya mulai direbut, Vira tidak membiarkan kebahagiaannya dirampas begitu saja oleh mereka yang berniat menghancurkan.
"Kau terobsesi ingin memiliki suamiku?" Vira menatap tajam wanita muda yang menjadi tutor putrinya.
"Aku akan merebutnya dan menggantikan posisimu secepatnya, Vira," balas Cintya dengan seringai dingin.
Akankah Vira dan William mampu bertahan dalam menjalani pernikahan yang mulai terkoyak karena orang ketiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebagai Istri dan Ibu
"Iya, Ma, perlu apa?" Vira melangkah mendekat ke arah Inneke yang hampir menuruni anak tangga terakhir.
Ibu mertuanya itu mengembuskan napas lega, tampak tenang setelah panggilannya akhirnya bersambut. "Di mana William, Vir? Mommy dari tadi mencari anak itu tidak ada."
"Ada di kamar, Ma. Sedang bersiap-siap. Kita sarapan dulu yuk!" Vira mencoba mencairkan suasana dengan melingkarkan tangannya di lengan Inneke, sebuah usaha kecil untuk menjalin keakraban dengan ibu mertuanya.
"Astaga ... kalian habis 'begitu' ya?" goda Inneke dengan kerlingan mata.
Vira tersenyum canggung. "Tidak, Ma... belum," jawabnya jujur sembari membuka pintu kulkas untuk mencari bahan makanan.
"Lho... tidak nyaman ya di Villa?" tanya Inneke penasaran. Ia mengekor di belakang Vira, mengamati gerak-gerik menantunya yang mulai sibuk menyiapkan bahan masakan di dapur.
"Bukan begitu, Ma. Vira sedang berhalangan," jelas Vira santai, memberikan alasan, mengapa ia belum bisa memenuhi kewajibannya secara batin sebagai istri William.
"Oh, begitu," sahut Inneke singkat. Ia menarik kursi makan dan duduk dengan anggun, mengamati Vira yang mulai lihai memotong sayuran. "Kalau bisa, jangan punya anak dulu ya, Vir," lanjutnya tiba-tiba.
Gerakan pisau Vira seketika terhenti. Ia terpaku di depan papan pemotong, lalu perlahan menoleh menatap mertuanya dengan dahi berkerut.
"Anggi masih lima tahun. Kamu rawat dulu Anggi sampai dia seusia Chika, baru nanti pikirkan soal adik baru untuk mereka." Inneke memberikan titah tersirat, sebuah pesan agar Vira lebih fokus memberikan perhatian penuh pada cucu-cucunya daripada menambah anggota keluarga baru dalam waktu dekat.
"Minum pil dulu atau kalian bisa cari cara lain untuk menundanya."
Vira membalas dengan senyum tipis, lalu kembali berkutat dengan bahan spageti di depannya.
"Mommy akan ke Aussie besok untuk pemeriksaan rutin. Karena kamu sudah resmi ada di rumah, Mommy serahkan tanggung jawab Chika dan Anggi sepenuhnya padamu sekarang," tambahnya lagi.
Vira kembali menghentikan gerakannya. Ia menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Tapi... Vira ingin tinggal di rumah orang tua sehari dulu, Ma, untuk berkemas."
"Lho, kenapa harus pulang lagi? Nanti biar Mommy suruh orang untuk mengangkut barang-barangmu," protes Inneke cepat.
"Hanya sehari saja, Ma. Kan barang-barang belum disiapkan semua. Sekalian ingin menjenguk Ayah."
Inneke berdecak kesal, suara yang cukup jelas tertangkap oleh indra pendengaran Vira. Desahan kecewa itu seolah menjadi beban baru yang menggantung di pundak Vira.
"Masak apa, Sayang?" Suara bariton William memecah ketegangan, pria itu mendekat dengan aroma parfum yang segar.
"Spageti saja ya, karena stok di kulkas sudah menipis," jawab Vira sembari menata piring di meja makan.
William membantu menyiapkan peralatan makan, lalu meneriaki putri sulungnya yang tak kunjung turun meski waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. "CHIKAAA!" teriaknya menggelegar.
"Sstt ... jangan berteriak. Biar aku yang membangunkannya," tegur Vira lembut, menepuk bahu suaminya.
Vira segera meninggalkan ruang makan untuk menjemput putri sulungnya.
Saat menaiki tangga, ia berpapasan dengan Anggi yang berlari kecil ke arahnya. "Jangan lari, Sayang, pelan-pelan." Vira sigap menangkap putri kecil itu dan menggendongnya.
"Sus, biar Anggi dengan saya saja. Suster tolong bantu bangunkan Chika ya."
"Iya, Bu."
Vira kembali ke ruang makan, sembari menghujani pipi Anggi dengan ciuman gemas. "Anggi sudah mandi? Wangi sekali," pujinya.
"Mana Chika, Sayang?" tanya William saat melihat Vira kembali hanya bersama si bungsu.
"Sedang dibangunkan Suster." Vira mendudukkan Anggi di kursi, lalu mulai menyuapinya dengan telaten.
"Nty ... mam ... enak," celoteh Anggi riang sembari menunjuk piringnya.
"Anggi jangan panggil Onty lagi. Panggil Mama ... Ma-ma, ya?" koreksi William, membiasakan lidah putrinya untuk mengenali sosok baru di hadapannya. Anggi mengangguk polos, lalu mengusap lembut pipi Vira dengan tangannya yang mungil.
Dunia Vira telah berubah seutuhnya pagi ini. Dahulu, ia terbiasa bangun dan langsung menyantap masakan ibunya, bermanja pada ayah dan kedua kakaknya. Kini, memori manis itu harus ia simpan rapat-rapat sebagai bagian dari masa lalunya sebagai seorang putri.
"Apaan nih?" Chika muncul dengan wajah bantal, menatap piring spageti di depannya dengan dahi berkerut.
"Itu Mama yang bikin, cobain deh." Vira menarik kursi di sampingnya untuk Chika.
Chika duduk, memutar-mutar garpunya dengan raut tak selera. "Tidak mau ah, aku bosan makan spageti. Bikin yang lain saja," protesnya sembari mendorong piring itu menjauh.
"Eum ... Chika ingin makan apa?" tanya Vira sabar, menggeser kursinya lebih dekat.
"Ayam goreng saja. Malas jam begini makan mi." Gadis belia itu bangkit dari kursi dengan wajah ditekuk. "Nanti kalau sudah ada ayam gorengnya baru panggil aku lagi."
Vira hanya bisa tersenyum getir melihat penolakan putri sulungnya yang memang bersikap dingin sejak awal.
"Nanti ke rumah diantar Pak Ojan saja, Sayang. Siapkan barang-barang yang mau dibawa agar sekalian diangkut," usul William.
"Iya, Sayang," jawab Vira lirih. Tatapannya masih terpaku pada piring spageti Chika yang tak disentuh. Ada rasa sesak dan tidak dihargai yang mulai menyelinap, apalagi harus segera menyiapkan ayam goreng permintaan putrinya setelah ini.
"Liam, Mommy langsung ke bandara saja sore ini," celetuk Inneke.
"Lho, Mommy berangkat hari ini?"
"Iya, semua sudah siap. Jadi kamu bisa segera pulang ke rumah bersama Chika dan Anggi." Inneke mengelap sudut bibirnya, lalu bangkit dan menepuk pundak Vira. "Mommy mau bersiap dulu. Ingat Vira, kamu hanya menginap semalam kan di rumah orang tuamu? Kamu bukan lagi seorang putri yang leluasa bolak-balik. Ada suami dan anak-anak yang harus kamu urus sepenuhnya."
"Iya, Ma," jawab Vira parau.
Ia menatap William yang masih asyik dengan makanannya, sementara pikirannya melayang jauh pada ucapan mertuanya. Seolah-olah, mulai detik ini, hidupnya hanya diabdikan untuk orang lain, tanpa ruang sedikit pun bagi keinginannya sendiri.
'Apa aku bisa menjalaninya?'
Bersambung...
🤣🤣semuanya aja lah
mulai bsk dicatat tiap bln-nya will spy bs jaga, sblm 'dapat' minta jatah dl🤭