NovelToon NovelToon
SIRIUS : Revenge Of Pain

SIRIUS : Revenge Of Pain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dark Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Lucient Night

Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Kejutan Di Sekolah

Sinar matahari hari Senin pagi terasa menusuk saat Lunaris melangkah keluar dari kamar mandinya yang sempit.

Seragam sekolah SMA Sevit yang ia kenakan sudah disetrika serapi mungkin, meski warna kemejanya tak lagi seputih milik murid-murid kaya di sekolahnya.

Rambut hitamnya diikat ekor kuda, menampilkan wajah pucatnya yang masih menyisakan gurat kelelahan.

Hal pertama yang ia lakukan saat melangkah ke ruang tamu adalah mendongak ke arah balok kayu penyangga atap.

Kosong.

Tidak ada siluet pemuda jangkung yang menggantung terbalik seperti kelelawar. Sirius entah pergi ke mana. Lunaris tidak tahu dan sejujurnya, ia tidak peduli. Keabsenan iblis arogan itu adalah sebuah anugerah kecil di pagi harinya. Setidaknya, ia bisa menghemat energi mentalnya yang sudah menipis untuk menghadapi hari Senin yang biasanya selalu berat.

Lunaris menyandang tas ranselnya yang pudar dan berjalan membuka pintu depan. Begitu engsel pintu yang berkarat itu berderit terbuka, langkahnya terhenti.

Di depan teras rumahnya, berdiri Nyonya Lyn. Wanita tua itu mengenakan gaun bunga-bunga sederhananya, tersenyum hangat dengan sebuah kotak bekal makan siang di tangannya. Senyum itu begitu tulus, sangat kontras dengan lingkungan kumuh di sekitar mereka.

"Pagi, Lunaris," Sapa Nyonya Lyn lembut.

Lunaris terenyuh, saat melihat senyum nyonya Lyn membuat Lunaris teringat pada mendiang ibunya.

Padahal ibunya pergi tiga hari lalu, rasanya Lunaris sudah sangat merindukan wanita yang selalu memberinya senyum lembut seperti senyum nyonya Lyn.

"Nyonya? Ada apa nyonya pagi-pagi ke sini?"

"Membawakan ini untukmu," Nyonya Lyn menyodorkan kotak makanan berwarna biru muda itu. "Kamu pasti belum sarapan, kan? Aku buatkan nasi kepal daging dan sayuran. Bekal untuk sarapan dan makan siangmu di sekolah."

Lunaris menatap kotak itu ragu, tangannya meremas tali tas ranselnya. "Nyonya... Nyonya gak perlu repot-repot begini. Aku jadi merasa gak enak, terus-terusan ngerepotin Nyonya. Nyonya sudah terlalu baik sama aku sejak ibu meninggal." Lunaris menolak dengan sangat halus, suaranya sedikit bergetar karena haru.

Nyonya Lyn menggeleng tegas, senyumnya tidak luntur sedikit pun. Ia meraih tangan kurus Lunaris dan meletakkan kotak bekal itu di telapak tangan gadis tersebut. "Tidak ada kata repot untukmu, Luna. Aku khawatir melihat tubuhmu yang terlihat semakin kurus dia hari ini, Luna. Kamu butuh asupan makanan yang bergizi supaya kuat belajar. Tolong, terimalah. Kalau kamu menolak, aku akan sedih seharian."

Mendengar nada memohon yang begitu tulus itu, pertahanan Lunaris runtuh. Matanya sedikit berkaca-kaca saat ia mengangguk pelan. "Makasih banyak, Nyonya. Aku pasti makan bekalnya sampai habis."

"Anak pintar," Nyonya Lyn mengelus puncak kepala Lunaris dengan penuh kasih sayang.

Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama menuju halte bus, rutinitas pagi yang dulu sering mereka lakukan sebelum insiden hilangnya Lunaris.

Sepanjang jalan setapak yang berdebu, Nyonya Lyn sesekali melirik ke arah rumah Lunaris yang sudah tertinggal di belakang, raut wajahnya menyiratkan kecemasan yang tertahan.

"Luna..." Panggil Nyonya Lyn hati-hati. "Pemuda itu... Sirius. Dia masih di rumahmu?"

Lunaris menghela napas pelan. "Iya, Nyonya. Tapi pagi ini dia lagi gak ada. Entah ke mana."

"Kamu... kamu baik-baik saja, kan, Nak? Dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh padamu?" Nyonya Lyn menghentikan langkahnya sejenak, menatap mata Lunaris dengan tatapan menuntut kepastian. "Aku benar-benar tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu. Berada satu atap dengan makhluk yang memiliki aura segelap itu... aku sangat takut terjadi sesuatu yang buruk padamu."

Lunaris membalas tatapan khawatir itu dengan senyum tipis yang dipaksakan. Ia harus berbohong lagi. Ia tidak mungkin menceritakan tentang kontrak jiwa yang mengikat Lunaris dengan Sirius. "Aku baik-baik aja. Nyonya Lyn gak usah khawatir berlebihan. Sirius... dia emang kelihatan menyeramkan, tapi dia gak ngelakuin hal yang ngebahayain aku kok."

Nyonya Lyn tampak ragu, namun ia mengangguk perlahan, meski gurat kecemasan di wajahnya tidak sepenuhnya pudar. "Berjanjilah padaku, kalau dia mulai bertingkah yang bisa membahayakanmu, segera datang padaku."

"Iya, Nyonya. Aku janji."

Mereka kembali berjalan hingga akhirnya tiba di halte bus yang sudah mulai ramai oleh para pekerja dan anak sekolah. Karena arah toko bunga "Florist Lyn" berlawanan dengan rute sekolah Lunaris, Nyonya Lyn pun berpamitan.

"Belajar yang rajin, Nak. Jaga dirimu baik-baik," Pesan Nyonya Lyn sebelum berjalan menjauh, menuju deretan ruko yang berjarak beberapa blok dari halte.

Tidak lama setelah Nyonya Lyn pergi, bus kota bercat kuning dan hijau yang biasa ditumpangi Lunaris tiba. Pintu hidroliknya terbuka dengan desisan keras.

Lunaris melangkah naik, menyelipkan kartu e-money-nya pada mesin pemindai, lalu berjalan menyusuri lorong bus.

Namun, baru beberapa langkah, Lunaris merasakan ada yang salah. Sangat salah.

Udara di dalam bus terasa sangat berat dan mencekik. Orang-orang melirik ke arahnya.

Bukan sekadar lirikan biasa. Seorang ibu rumah tangga yang duduk di barisan depan tiba-tiba menarik anak perempuannya agar menjauh saat Lunaris lewat.

Di bagian tengah, sekelompok remaja sebayanya yang mengenakan seragam dari sekolah lain tampak berbisik-bisik sambil menatap layar ponsel mereka, lalu terang-terangan menatap Lunaris dengan pandangan penuh penilaian yang merendahkan.

Beberapa pria dewasa bahkan menatapnya dengan senyum miring yang membuat perut Lunaris mual seketika.

Ada apa ini? batin Lunaris panik. Kepalanya mulai pening.

Merasa sangat terintimidasi dan seolah ditelanjangi oleh ratusan pasang mata yang menghakiminya dalam diam, Lunaris bergegas menuju bangku paling belakang yang kosong. Ia duduk di sudut dekat jendela, menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap ia bisa menyatu dengan jok kulit bus dan menghilang. Tangannya mencengkeram erat kotak bekal pemberian Nyonya Lyn hingga buku-buku jarinya memutih.

Untuk mengalihkan rasa tidak nyamannya yang menyiksa, Lunaris menoleh ke arah luar jendela bus.

Namun pemandangan di luar justru membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Di sepanjang jalan yang dilalui bus, burung-burung gagak hitam berukuran besar tampak bertebaran. Sebagian dari mereka terbang rendah beriringan dengan laju bus, mengepakkan sayap gelap mereka dalam diam.

Sebagian lainnya bertengger berbaris rapi di atas kabel listrik dan dahan-dahan pohon di trotoar. Mata hitam mereka yang tajam dan tak berjiwa tampak mengawasi bus tersebut—atau lebih tepatnya, mengawasi Lunaris di balik kaca jendela.

Lunaris menelan ludah. Teringat keluhan Sirius semalam tentang suara gagak yang mengganggunya. Apakah ini gagak yang sama? Mengapa mereka ada di sini, di tengah kota yang bising ini? Firasat buruk mulai merayap naik, membelit jantungnya kuat-kuat.

Walaupun seharusnya melihat gagak berterbangan bukan hal yang aneh, bahkan sebelum ibunya meninggal pun gagak-gagak selalu beterbangan disekitar Lunaris.

Tiga puluh menit kemudian, bus berhenti di halte depan SMA Sevit. Gerbang besi raksasa berukir emas itu menjulang tinggi, menyambut para siswa-siswi dari kalangan elit kota.

Lunaris turun dari bus dengan langkah berat. Jika di dalam bus umum saja ia mendapat perlakuan tidak mengenakkan, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam gerbang sekolah ini.

Firasatnya terbukti benar. Bahkan jauh lebih buruk dari mimpi terburuknya.

Begitu sepatunya menginjak area lapangan parkir depan, suasana mendadak sunyi. Ratusan pasang mata dari para siswa yang sedang bergerombol seketika tertuju padanya. Jika biasanya tatapan mereka penuh dengan rasa jijik dan cemoohan sekelas "gadis miskin yang kotor", kali ini tatapan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam, lebih kotor, lebih sinis, dan penuh kebencian.

Beberapa siswi terang-terangan menutup hidung mereka sambil berbisik dengan nada jijik, sementara para siswa laki-laki menatapnya dengan senyum mesum yang terang-terangan mengukur bentuk tubuhnya.

Tatapan-tatapan itu terasa seperti pisau tak kasat mata yang menguliti harga dirinya lapis demi lapis, membuat Lunaris merasa benar-benar ditelanjangi di tengah lapangan.

Jantung Lunaris berdetak liar. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menundukkan kepala sedalam mungkin, mempercepat langkahnya nyaris setengah berlari membelah koridor, ingin segera mencapai kelasnya dan bersembunyi di balik mejanya.

"Lunaris!"

Langkah gadis itu terhenti mendadak. Suara bariton yang tegas itu berasal dari Pak Watson, guru Bimbingan Konseling yang terkenal ketat.

Lunaris menoleh dengan perasaan was-was. "I-iya, Pak?"

"Ikut saya sekarang. Kepala Sekolah memanggilmu ke ruangannya. Ada hal sangat serius yang harus kita bicarakan," Perintah Pak Watson dengan wajah dingin tanpa ekspresi, bahkan tanpa ada sedikit pun rasa simpati yang biasa ia tunjukkan pada siswa beasiswa.

Kebingungan dan rasa takut berpadu di dada Lunaris. "Ruang Kepala Sekolah? Tapi... saya ada kelas pertama, Pak. Apa saya melakukan kesalahan?"

"Jangan banyak tanya. Ikut saja, nanti kamu juga tau."

Tanpa bisa menolak, Lunaris mengekor di belakang guru itu. Sepanjang koridor menuju sayap administrasi, bisik-bisik dari siswa lain semakin kencang terdengar. Kata-kata kasar berdengung seperti lebah di telinganya, meski ia tak bisa menangkap kalimat utuhnya secara jelas.

Mereka tiba di depan pintu kayu mahoni berukir tebal. Ruang Kepala Sekolah. Pak Watson mengetuk pintu, lalu membuka ruang ber-AC yang dinginnya langsung menusuk tulang Lunaris.

Di balik meja kayu besarnya yang mewah, duduk Tuan Harrison, Kepala Sekolah SMA Sevit. Wajah pria paruh baya yang biasanya selalu menjaga citra ramah itu kini terlihat merah padam oleh amarah dan rasa jijik yang luar biasa. Rahangnya mengeras saat melihat Lunaris memasuki ruangan.

"Duduk," perintah Tuan Harrison dingin, tanpa basa-basi.

Lunaris duduk di kursi kulit di hadapan meja besar itu dengan tubuh gemetar. Pak Watson berdiri bersiaga di dekat pintu, melipat tangannya di dada.

Tuan Harrison tidak mengatakan apa-apa pada awalnya. Ia hanya menatap Lunaris seolah gadis itu adalah sampah paling menjijikkan yang pernah ia lihat. Tangan pria itu lalu meraih sebuah tab dari atas mejanya, menyentuh layarnya beberapa kali, lalu menggeser tablet itu ke hadapan Lunaris dengan kasar.

"Jelaskan pada saya, apa arti dari kelakuan menjijikkan ini, Lunaris."

Dengan tangan gemetar, Lunaris menunduk untuk melihat layar tablet tersebut.

Detik itu juga, napas Lunaris serasa direnggut paksa dari paru-parunya. Matanya melotot horor tak percaya melihat apa yang sedang diputar di layar beresolusi tinggi itu.

Itu adalah video. Sebuah video berdurasi tiga menit yang berlatar belakang toilet tua sekolah. Di dalam video itu, jelas-jelas terpampang wajah dirinya. Wajahnya yang memerah, rambutnya yang acak-acakan, tubuhnya yang terhimpit.

Namun, video itu telah diedit dengan sangat licik dan sadis. Wajah kelima siswa yang melecehkannya secara paksa diburamkan total sehingga identitas mereka tidak dikenali.

Suara tangisan dan jeritan minta tolong Lunaris telah dihilangkan sepenuhnya, diganti dengan kompilasi suara desahan pelan dari potongan-potongan video di mana ia mengerang kesakitan.

Sudut pandang kameranya diambil sedemikian rupa, memotong paksaan dan kekerasan yang ia alami, menyisakan frame-frame ambigu yang membangun narasi palsu seolah-olah ia menikmati setiap sentuhan tidak senonoh dari kelima pria itu.

Seolah-olah... Lunaris adalah seorang pelacur yang dengan suka rela melayani lima siswa laki-laki di toilet sekolah.

"T-tidak... ini... ini bohong!" Pekik Lunaris histeris, mendorong tablet itu menjauh seolah benda itu beracun. Air mata seketika menjebol pertahanannya, mengalir deras membasahi pipinya. "Bapak! Pak Kepala Sekolah, saya dijebak! Saya dipaksa! M-mereka... mereka menyiksa saya, menendang saya, dan melecehkan saya! Saya tidak pernah melakukan hal sehina itu, Pak! Video ini editan! Ini palsu!"

Tuan Harrison menggebrak mejanya dengan keras, membuat Lunaris tersentak mundur.

"CUKUP!" bentak pria itu menggelegar. Urat-urat di lehernya menonjol. "Jangan berani-berani memutarbalikkan fakta dengan drama murahanmu, Lunaris! Buktinya sudah sangat jelas di depan mata! Video ini sudah menyebar ke seluruh grup angkatan dan parahnya, sampai ke tangan para dewan komite sekolah!"

Tuan Harrison berdiri dari kursinya, menatap Lunaris dengan tatapan menghakimi yang mutlak. "Para orang tua murid, donatur utama sekolah ini, dan yayasan yang menjadi sponsor beasiswamu telah melihat video menjijikkan itu pagi ini. Mereka sangat marah dan resah. SMA Sevit adalah institusi pendidikan elit dengan reputasi tanpa cela. Kami tidak mentoleransi siswa yang mencoreng nama baik sekolah dengan berbuat mesum, menjadi wanita murahan di dalam properti sekolah!"

"Tapi saya korban, Pak! Saya berani sumpah, saya korban!" Lunaris meratap, menangkupkan kedua tangannya memohon keadilan. "Tolong selidiki ini, Pak. Ada yang sengaja merusak hidup saya!"

"Saya sudah tidak mau mendengar alasan apa pun dari mulutmu," potong Tuan Harrison dingin, mematikan layar tablet itu dan membuang muka.

"Keputusan yayasan sudah bulat. Kelakuanmu sudah melewati batas moral yang bisa kami toleransi. Mulai hari ini, detik ini juga, beasiswamu secara resmi dicabut. Para dewan sekolah masih berbaik hati tidak mengeluarkanmu dari sekolah. Saya harap kamu tidak melakukan hal hina seperti ini lagi."

Kata-kata itu menghantam kepala Lunaris bagai palu godam. Dicabut. Satu kata itu menghancurkan seluruh sisa dunianya.

Harapannya untuk masa depan yang lebih baik, janjinya pada mendiang ibunya, semuanya lenyap menjadi debu.

"Pak... tolong jangan, Pak..." suara Lunaris kini hanya berupa bisikan parau yang menyayat hati. "Saya mohon...jangan cabut beasiswa saya..."

"Sekolah ini bukan tempat untuk pelacur, semoga ini menjadi pelajaran untuk kamu." desis Tuan Harrison tajam, mengiris sisa harga diri Lunaris hingga tak bersisa.

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Keadilan sudah mati di ruangan ini. Uang dan kekuasaan menutup mata hati mereka terhadap kebenaran.

Dengan tubuh yang bergetar hebat dan pandangan buram oleh air mata, Lunaris bangkit berdiri. Lututnya lemas nyaris tak mampu menopang berat badannya. Ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur yang tak terlukiskan. Hatinya seperti diremas hingga hancur berkeping-keping.

Saat ia berjalan tertatih di sepanjang koridor sepi, pikiran Lunaris dipenuhi pusaran kekacauan. Siapa yang tega melakukan hal sekejam itu padanya?

Langkah Lunaris terhenti di tengah lorong yang sepi. Napasnya tercekat.

Matanya melebar saat potongan memori hari itu kembali berputar. Saat ia diseret ke dalam toilet oleh Bracia dan teman-temannya. Saat ia ditendang. Ada satu orang yang berdiri di sudut ruangan sambil memegang ponsel, tertawa merendahkan saat kelima cowok suruhannya mulai melecehkan Lunaris.

Bracia.

Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan gadis iblis berwajah malaikat itu? Bracia yang selalu membencinya. Bracia yang cemburu buta karena kedekatan Lunaris dengan Aaron.

Bracia yang memiliki akses, uang, dan kuasa untuk membungkam para siswa pelaku dan menyebarkan video editan ini ke seluruh sekolah.

Menyadari fakta itu, air mata kesedihan Lunaris mendadak berhenti mengalir. Rasa hancurnya perlahan menguap, digantikan oleh bara api kemarahan yang begitu panas dan pekat. Darahnya mendidih. Giginya gemeretak menahan amarah yang meledak-ledak di dadanya.

"Bracia..." desis Lunaris penuh kebencian.

Namun, sebelum ia bisa memikirkan langkah selanjutnya untuk mencari Bracia, suara tawa sumbang dan langkah kaki memecah konsentrasinya.

Dari arah persimpangan koridor, tiga orang siswa laki-laki bertubuh bongsor, yang seragamnya dikeluarkan secara asal-asalan, berjalan menghampirinya.

Mereka adalah kakak kelas yang tidak Lunaris kenal secara pribadi, namun sering terlihat nongkrong di kantin sambil merokok sembunyi-sembunyi.

Mereka bertiga berhenti tepat di depan Lunaris, membentuk pagar manusia yang menghalangi jalan gadis itu. Ketiganya menatap Lunaris dengan pandangan merendahkan dan lapar yang membuat Lunaris muak.

"Wuih, siapa nih yang lewat? Si artis porno baru sekolah kita, ya?" ledek salah satu dari mereka yang berambut cepak, memindai tubuh Lunaris dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Temannya yang memakai kalung perak tertawa sinis. "Eh, Lunaris. Gue udah liat video lo. Boleh juga gaya lo di toilet kemaren. Keliatan cupu dari luar, ternyata dalemnya ganas juga, ya?"

Lunaris mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Minggir. Biarin gue lewat."

"Buru-buru amat sih, cantik," cowok ketiga yang berbadan paling besar tersenyum menjijikkan, melangkah maju memangkas jarak. "Langsung aja to the point, deh. Berapa tarif lo semalem? Kalau lima cowok cupu kemaren aja bisa lo layanin, masa kita bertiga senior lo nggak bisa? Kita bisa bayar mahal kok."

Dada Lunaris naik turun menahan emosi yang siap meledak. Ia tidak sudi direndahkan seperti ini. Ia bukan wanita murahan. Ia manusia yang punya harga diri!

"Gue bilang minggir, brengsek!" bentak Lunaris keras, mencoba menerobos celah di antara mereka.

Namun, cowok berambut cepak itu langsung mencengkeram lengan Lunaris dengan sangat kasar, kuku-kukunya nyaris menusuk kulit gadis itu. "Woi, santai dong! Gak usah sok jual mahal, pelacur! Di video aja lo mendesah keenakan, sekarang sok suci di depan kita!"

"LEPASIN!" Lunaris memberontak sekuat tenaga. Ia mengayunkan tas ranselnya dan memukul dada cowok itu, lalu menendang tulang keringnya dengan sepatu pantofelnya.

"Gue bukan pelacur! Lepasin tangan gue, sialan!"

"Argh! Kurang ajar nih jalang!"

Cowok cepak itu mengaduh kesakitan, genggamannya terlepas. Namun egonya yang tinggi merasa sangat tercoreng karena dipermalukan dan ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis miskin yang ia anggap hina.

Dengan wajah merah padam karena emosi, cowok itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara. Tangannya terkepal kuat, bersiap menampar atau bahkan memukul wajah Lunaris dengan sekuat tenaga untuk memberinya "pelajaran".

Melihat ancaman yang datang begitu cepat, Lunaris memejamkan matanya rapat-rapat, mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajahnya, bersiap menerima rasa sakit dari hantaman fisik tersebut.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.

Rasa sakit itu tidak pernah datang.

Alih-alih suara tamparan keras, Lunaris justru mendengar suara benturan yang tertahan, diikuti oleh ringisan tertahan dari cowok berambut cepak di depannya.

Lunaris membuka matanya perlahan.

Udara di koridor itu mendadak berubah. Suhu ruangan seolah turun drastis belasan derajat, membawa hawa dingin yang menggetarkan jiwa.

Tepat di hadapan Lunaris, tangan besar cowok cepak yang hendak memukulnya itu kini terhenti di udara. Pergelangan tangannya dicengkeram erat oleh sebuah tangan lain.

Tangan yang berkulit sangat pucat, dengan tulang-tulang kokoh yang menonjol dan jari-jari panjang yang ramping namun memancarkan kekuatan absolut.

Itu adalah tangan seorang pria.

"Argh! Lepasin! Sakit, anjing!" Teriak cowok cepak itu, wajahnya berkerut menahan sakit yang luar biasa, seolah pergelangan tangannya sedang dijepit oleh mesin press hidrolik dari baja.

Teman-temannya terkejut dan mundur selangkah. Cowok cepak itu menoleh dengan marah, bersiap memaki siapa pun yang berani mencampuri urusannya.

Namun, makian itu tertahan di ujung lidah.

Di sampingnya, berdiri menjulang sesosok pemuda yang belum pernah terlihat di SMA Sevit sebelumnya. Pemuda itu memiliki raut wajah setampan dewa dari mitologi kuno, dengan rahang tegas, hidung bangir, dan rambut hitam kelam yang tertata sempurna tanpa cacat. Matanya yang berwarna perak berkilat dingin, menatap ketiga berandalan sekolah itu seolah mereka tidak lebih dari sekumpulan lalat busuk.

Dan yang membuat Lunaris paling melongo hingga nyaris tak bisa bernapas adalah... pakaian pemuda itu.

Sirius. Pangeran kegelapan yang semalam tidur menggantung di atap rumah gara-gara kecoa, kini berdiri di hadapannya mengenakan seragam resmi SMA Sevit.

Bukan seragam biasa. Seragam yang dikenakan Sirius terlihat jauh lebih mewah dan eksklusif. Kemeja putihnya terbuat dari bahan sutra kualitas terbaik yang jatuh sempurna di tubuh atletisnya.

Blazer merah marunnya—yang merupakan ciri khas sekolah—memiliki potongan tailor-made yang memeluk postur tubuhnya dengan sangat elegan. Dasi emasnya terpasang rapi, dan di pergelangan tangannya mengintip jam tangan perak yang terlihat sangat mahal.

Penampilan Sirius saat ini benar-benar memancarkan aura seorang pewaris takhta dari keluarga konglomerat papan atas.

"Si... siapa lo?!" gertak cowok cepak itu, meski suaranya mulai bergetar karena aura intimidasi luar biasa yang memancar dari Sirius. "Lepasin tangan gue, atau lo gue habisin!"

Alih-alih menjawab, sebelah sudut bibir Sirius terangkat, membentuk sebuah seringai miring yang indah sekaligus mematikan.

"Menghabisiku?" Suara bariton Sirius mengalun berat dan tenang, menggema di koridor yang mendadak sunyi. "Bahkan cacing tanah memiliki impian yang lebih realistis daripada dirimu."

Cengkeraman Sirius di pergelangan tangan cowok itu sedikit mengerat, menimbulkan suara retakan pelan pada tulang yang membuat si cowok memekik kesakitan.

"Kalian menyebut diri kalian pria?" Sirius memiringkan kepalanya, menatap ketiga pemuda itu dengan tatapan jijik yang tak ditutup-tutupi. "Tapi beraninya hanya mengeroyok dan mengangkat tangan pada seorang gadis? Sungguh menyedihkan. Kalian bahkan tidak layak memiliki kehormatan untuk bernapas di sekitarku. Sangat pengecut."

Merasa direndahkan di depan teman-temannya, amarah si cowok cepak mengalahkan akal sehat dan ketakutannya.

Dengan menggunakan tangan kirinya yang bebas, cowok itu melayangkan tinju bertenaga penuh ke arah wajah tampan Sirius, berniat menghancurkan wajah pendatang baru yang sombong ini.

"Mati lo, bajingan!" teriaknya kalap.

Lunaris memekik ngeri. "Sirius, awas!"

Namun, waktu seolah berjalan melambat bagi Sirius. Dengan raut wajah bosan yang luar biasa, sang iblis hanya mendesah pelan. Ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan si cowok, membiarkan tinju itu melesat ke arahnya.

Lalu, dengan kecepatan kilat yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa, Sirius memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari pukulan itu. Di saat yang bersamaan, ia mengangkat kaki panjangnya, dan melayangkan satu tendangan lurus yang terlihat sangat santai namun menyimpan tenaga destruktif yang mengerikan.

BUK!

Ujung sepatu pantofel hitam mengkilap milik Sirius mendarat tepat di perut cowok cepak itu.

Dampak dari tendangan itu sangat brutal. Mata cowok itu melotot, mulutnya memuntahkan ludah yang bercampur darah, dan tubuh bongsornya terangkat dari lantai sebelum akhirnya terpental terbang sejauh dua meter ke belakang. Ia menabrak deretan loker besi dengan suara dentuman keras yang memekakkan telinga, lalu merosot jatuh ke lantai tanpa ampun, mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang terasa remuk.

Keheningan absolut seketika menyelimuti koridor itu.

Dua temannya yang tersisa terbelalak horor, rahang mereka nyaris jatuh menatap teman mereka yang kini tak berdaya. Mereka menoleh kembali pada Sirius, yang kini sedang membersihkan debu imajiner dari ujung sepatunya dengan gerakan yang sangat aristokrat.

Kaget dan dibakar oleh solidaritas palsu, kedua cowok itu berteriak marah dan maju serentak, berniat mengeroyok Sirius dari dua arah.

"Sialan lo! Beraninya sama temen gue!"

Namun nasib mereka tidak jauh berbeda.

Tanpa perlu mengeluarkan tangannya dari saku celana, Sirius memutar tubuhnya dengan elegan bak penari. Ia menendang lutut cowok berbadan besar hingga terdengar bunyi krak yang memilukan, membuat cowok itu jatuh berlutut seketika. Lalu dengan gerakan memutar yang mulus, siku Sirius menghantam tengkuk cowok berkalung perak, mengirim pemuda itu jatuh tersungkur ke lantai marmer dengan suara gedebuk yang keras.

Semua itu terjadi hanya dalam hitungan kurang dari lima detik.

Ketiga pemuda berandal yang tadi sok berkuasa, kini mengerang tak berdaya di lantai, memegangi bagian tubuh mereka yang sakit akibat serangan telak dari entitas yang jauh di luar nalar mereka.

Menyadari bahwa pemuda tampan berseragam elit ini bukanlah manusia sembarangan dan jauh dari kata bisa dikalahkan, insting bertahan hidup ketiga berandalan itu pun mengambil alih.

Dengan susah payah, si cowok cepak dan teman-temannya bangkit berdiri, tertatih-tatih melangkah mundur.

"Awas lo! Urusan kita belum selesai! Kita bakal laporin lo ke guru!" ancam cowok cepak itu dengan suara bergetar dan nyali yang sudah menciut, sebelum akhirnya mereka bertiga berbalik dan berlari terbirit-birit menjauh dari sana. Pengecut sejati hingga akhir.

Koridor kembali sunyi. Hanya tersisa suara napas Lunaris yang memburu tak beraturan.

Sirius mendesah malas, mengangkat tangannya yang pucat untuk merapikan kerah kemeja dan manset seragamnya yang sebenarnya tidak berantakan sama sekali. Ia memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak, lalu perlahan berbalik.

Mata peraknya yang tajam menatap lurus ke arah Lunaris. Gadis itu masih berdiri mematung di tempatnya, menatap Sirius dengan mulut sedikit terbuka dan mata membelalak lebar, antara takjub, shock, dan tidak percaya dengan semua keajaiban absurd yang baru saja terjadi di depan matanya.

"Gadis bodoh kau berutang ucapan terima kasih padaku." Ucap Sirius santai, seringai tipisnya kembali menghiasi wajah tampannya yang sempurna.

1
Yani Sri
lanjut sebanyak-banyaknya kakak
Lucient Night: okayyy
total 1 replies
Draggnel
perasaan prolognya udah saya baca dan komen. kok hilang? apa error ya nt? btw ayo kita saling support. mampir juga di novel saya kalau berkenan 🤝
Draggnel: oh saya kira hilang atau error. sip, sama2. nanti saya baca lagi
total 2 replies
Draggnel
pas baca episode ini langsung berasa banget feelnya, beda sama prolognya.

lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
Yani Sri
yg like sangat sedikit kak, padahal cerita sebagus ini

berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
Lucient Night: hehe iya nih, makasih udah mampir 🤗
total 1 replies
Yani Sri
5 bunga bermekaran untukmu, kak
Yani Sri
😍💪💪💪
Yani Sri
bab ini terasa lebih panjang dari sebelum2nya....

walau sebagian tentang kilas balik...

segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭
Yani Sri
lanjut kakak,,,
Yani Sri
wow
Yani Sri
lanjut kak, aq kasih kopi untuk semangat
Yani Sri
boom like ya kak
Lucient Night: makasih 🥹🥹
total 1 replies
Yani Sri
setelah sekian lama tidak buka novel Toon, alhamdulillah nemu cerita sebagus ini, segera lanjut, ya Kak... bagus ceritanya...
Yani Sri
kapan lanjut?
Lucient Night: aku lanjut hari ini kok
total 1 replies
Yani Sri
cerita sebagus ini, kenapa like sedikit sih?
Jerryaw
mampir ketempat aku juga kk
Lucient Night: okayy, makasih udh mampir kak
total 1 replies
falea sezi
ada apa dengan aroon
falea sezi
lanjut
falea sezi
sumpah tolol diem aja lawan bego bawa pisah lipAt bunuh
tamara is here
keren bgt narasinya
tamara is here
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!