NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Yang Tersembunyi Mulai Terlihat

POV AISYAH

Pagi itu Aisyah terbangun dengan perasaan tidak nyaman.

Sebelum membuka mata, ia sudah merasakan ada yang berbeda. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Lebih lembap. Seperti ada sesuatu yang menempel di kulit.

Ketika ia membuka mata, ia mengerti kenapa.

Kabut putih sangat pekat menutupi seluruh ruangan. Tidak seperti kabut pagi biasa yang tipis dan cepat hilang. Ini tebal. Seperti asap yang sengaja dimasukkan ke dalam rumah. Bahkan jendela yang ada di seberang kamar hampir tidak terlihat.

Aisyah bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke jendela. Lalu membukanya.

Kabut di luar lebih tebal lagi. Menutupi halaman, jalan, rumah-rumah tetangga. Seperti desa ini tenggelam di dalam awan.

Bayangan orang-orang terlihat melintas dari balik kabut. Tidak jelas siapa. Hanya siluet yang bergerak perlahan, seperti berjalan tanpa tujuan.

"Ada apa ini?" gumamnya pelan.

Ia menutup jendela kembali. Keluar dari kamarnya.

"Pak!"

Aisyah berjalan di lorong menuju kamar Darma Wijaya. Menyapu sekeliling dengan mata yang masih setengah terjaga. Kabut bahkan masuk ke dalam rumah, mengalir pelan di lantai seperti air.

"Bapak..."

Ia membuka pintu kamar ayahnya perlahan.

Kosong.

Kasur sudah rapi. Seperti tidak dipakai semalam. Atau sudah bangun sejak dini hari.

Aisyah menutup pintu. Berjalan ke arah halaman belakang.

"Mas Karno!"

Rumah yang sering ditempati Karno dan anak buah Darma Wijaya lainnya ada di belakang, terpisah dari rumah utama. Pintunya terbuka sedikit. Aisyah mendorong lebih lebar.

Kosong juga.

Tidak ada siapa-siapa.

Suara binatang ternak tiba-tiba terdengar keras dari sebelah timur.

Saling bersahutan. Bukan suara biasa. Lebih seperti jeritan. Lolongan. Eraman yang tidak wajar.

Aisyah tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia berjalan perlahan menuju arah suara itu. Menuju rumah besar yang sering dipakai Darma Wijaya bersama para pengikutnya untuk pertemuan penting.

Dan di sana ia melihat mereka.

Beberapa warga berdiri di depan teras halaman depan. Diam. Seperti sedang menunggu sesuatu. Wajah mereka kosong. Mata menatap ke arah pintu yang masih tertutup.

Anak buah Darma Wijaya berdiri di samping mereka. Karno ada di sana. Tidak bergerak. Tidak bicara.

Lalu pintu terbuka.

Darma Wijaya berjalan keluar.

Dengan pakaian serba hitam. Tubuhnya diselimuti kabut putih yang bergerak mengikutinya seperti hidup. Dan kakinya...

Tidak menyentuh tanah.

Ia berjalan di udara. Setinggi satu jengkal dari lantai teras. Bergerak perlahan seperti ada yang mengangkatnya, mengikatnya dengan sesuatu yang tidak terlihat.

Aisyah mundur selangkah.

Napasnya tertahan di tenggorokan. Tangannya naik ke mulut, menutupi agar tidak keluar suara. Matanya tidak bisa lepas dari pemandangan itu.

"Ba... bapak."

Suaranya keluar pelan. Gemetar. Hampir tidak terdengar.

Wajah Darma Wijaya berbeda dari biasanya. Lebih pucat. Mata lebih tajam. Dan ada sesuatu di cara ia bergerak yang membuat Aisyah merasa ia tidak sedang melihat ayahnya, tapi sesuatu yang lain yang memakai tubuh ayahnya.

Aisyah bergerak diam-diam. Merapatkan tubuhnya ke dinding. Bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun di samping rumah. Dari sana ia bisa melihat tapi tidak terlihat orang-orang yang berkumpul.

Darma Wijaya berdiri di depan para warga.

Lalu ia bicara.

Tapi suaranya bukan suara Darma Wijaya.

Lebih berat. Menggelegar. Seperti ada dua suara yang keluar bersamaan dari satu mulut.

"Wahai para pengikutku..."

Suara itu bergema di udara. Membuat dada Aisyah terasa sesak meski ia berdiri jauh.

"Aku sudah menunggu waktu ini. Dan sekarang sudah saatnya aku meminta pengabdian kalian."

Tiba-tiba tubuh Darma Wijaya limbung.

Kakinya yang tadinya melayang turun ke tanah. Tubuhnya oleng ke depan. Lalu ambruk.

Dua orang anak buah di sampingnya langsung mengangkat tubuhnya sebelum benar-benar jatuh. Menopang dengan hati-hati. Wajah mereka tidak panik. Seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya.

Hanya beberapa detik.

Lalu Darma Wijaya membuka mata.

Bangkit. Berdiri sendiri.

Tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang.

Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Matanya lebih tajam. Dan ketika ia menatap para warga di hadapannya, tatapan itu bukan tatapan Darma Wijaya yang Aisyah kenal.

Itu tatapan sesuatu yang jauh lebih tua. Jauh lebih dingin.

Darma Wijaya membelakangi para warga. Menghadap ke arah yang tidak ada apa-apa. Tapi ia berlutut. Membungkuk dalam.

"Ratu Dewi Kuasa, aku siap menerima perintahmu."

Suaranya berlapis sekarang. Suara Darma Wijaya di luar, tapi ada suara lain di dalam yang membuat setiap kata terasa lebih berat.

Semua warga di belakangnya langsung mengikuti. Berlutut. Membungkuk. Tidak ada yang berani mengangkat kepala.

Suara gemerisik angin terdengar keras.

Sesuatu bergerak. Cepat. Tanpa bentuk. Tanpa suara kaki.

Angin itu berputar-putar mengelilingi tubuh para warga yang sedang membungkuk. Lalu perlahan, angin itu membentuk sesuatu.

Asap putih yang naik dari tanah. Membentuk siluet seperti manusia. Tinggi. Ramping. Tapi tidak stabil. Bergerak seperti air yang mengalir ke atas.

Asap itu mendekat ke Darma Wijaya. Melingkari kepalanya. Lalu turun ke telinganya.

Membisikkan sesuatu.

Aisyah tidak bisa mendengar dengan jelas. Terlalu jauh. Tapi ia menangkap potongan kata-kata. Bahasa yang asing. Atau bahasa yang sangat kuno. Kata-kata yang bunyinya seperti doa tapi terasa terbalik.

"...tunggu...waktunya...bawa mereka..."

Darma Wijaya mengangguk pelan. Tidak bicara. Hanya mendengar.

Lalu asap itu menghilang. Seperti tersedot kembali ke dalam tanah.

Aisyah tidak bisa berkata apa-apa.

Dadanya sesak. Napasnya pendek. Tangannya gemetar di sisi tubuh.

Sekarang ia melihat sendiri.

Bukan dari cerita orang. Bukan dari dugaan. Tapi dari matanya sendiri.

Apa yang ayahnya lakukan ketika desa dalam keadaan kritis.

Dan siapa yang sebenarnya berkuasa di sini.

Dalam benaknya, satu nama muncul.

Fariz.

Ia harus menemui Fariz.

Tapi ia tidak bisa keluar sekarang. Beberapa warga terus berdatangan. Satu per satu. Memasuki halaman. Berlutut di barisan belakang. Tidak ada yang berbicara. Semua diam. Seperti boneka yang bergerak tanpa kehendak sendiri.

Aisyah menunggu. Bersembunyi di balik semak. Tidak berani bergerak.

Hampir setengah jam.

Lalu Darma Wijaya bangkit. Berbalik. Masuk kembali ke dalam rumah besar itu. Para warga mengikuti satu per satu. Seperti prosesi yang sudah diatur.

Pintu tertutup.

Aisyah menunggu beberapa menit lagi. Memastikan tidak ada yang keluar.

Lalu ia bergerak. Perlahan. Mengendap kembali masuk ke dalam rumah.

KEMBALI KE RAHMAN DAN FARIZ

Hampir setengah desa mereka kelilingi berdua untuk melihat semuanya.

Di mata mereka, wabah ini sudah mulai menyebar dengan cepat. Kabut putih pekat menutupi jalan-jalan. Tanaman menghitam saat terkena sinar matahari. Dan di dalam rumah-rumah, warga tergeletak sakit.

Tapi anehnya, hanya orangtua dan beberapa anak saja yang tampak di dalam rumah yang terkena wabah. Sementara sisanya tidak terlihat di mana-mana.

"Ke mana orang-orang, Man?" Fariz bertanya heran. Desa ini tampak sepi sekali. Seperti setengah dari penduduknya menghilang.

"Biasanya mereka akan dikumpulkan di satu tempat." Rahman menjawab pelan. "Tapi dari dulu, Kyai tidak pernah terbuka kepadaku tentang ini. Ia hanya selalu memperingatkan kami untuk tetap berada di dalam sambil membaca doa dan berdzikir."

Fariz tidak menjawab. Hanya menatap rumah-rumah yang mereka lewati. Pintu-pintu tertutup. Jendela-jendela tertutup tirai. Seperti semua orang bersembunyi.

Atau dibawa pergi.

Lalu Fariz berhenti di depan satu rumah.

Yaitu rumahnya sendiri.

"Bapak!"

Fariz masuk. Rahman mengikuti dari belakang.

"Ibu!"

Rumah itu ditutupi oleh kabut tebal. Lebih tebal dari di luar. Dan aroma busuk menyengat di setiap sudut. Seperti sesuatu yang sudah mati dan dibiarkan membusuk di dalam.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya tumpukan piring kotor di meja makan dan pakaian yang berceceran di lantai. Seperti ditinggalkan dengan terburu-buru.

"Pak!"

Fariz berjalan ke belakang rumah. Kosong.

"Ibu!"

Ia mengetuk kamar mandi. Pintu terbuka pelan.

Kosong juga.

Fariz berdiri di tengah rumah. Napasnya mulai tidak teratur. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Mereka tidak ada di mana-mana.

BRAK.

Tiba-tiba tubuh Fariz terpental ke belakang.

Keras. Seperti ditendang oleh sesuatu yang tidak terlihat. Punggungnya menabrak pintu kamarnya sampai pintu itu copot dari engsel.

"Fariz!"

Rahman berlari mendekat. Tapi sebelum sampai, sesuatu menariknya. Menyeretnya ke belakang. Tubuhnya terangkat dari lantai, lalu dibanting ke dinding.

"MAN!"

Fariz bangkit dari lantai. Tapi sebelum ia sempat berdiri tegak, sesuatu menindih punggungnya. Berat. Sangat berat. Seperti ada yang berdiri di atas tubuhnya dan menekan ke bawah dengan seluruh beban yang tidak wajar.

"Argh!"

Ia berusaha melawan. Mengangkat tubuhnya. Tapi tekanan itu semakin kuat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menekan kepalanya ke lantai.

Rahman membuka mulut. Ingin berteriak. Tapi tidak ada suara keluar. Seperti ada yang menyumbat tenggorokannya dari dalam. Ia hanya bisa menatap Fariz dengan mata terbelalak, tidak bisa berbuat apa-apa.

"Akh!"

Fariz terus berusaha melawan. Tapi akhirnya tubuhnya ambruk. Tertelungkup di lantai. Pipinya menyentuh lantai yang dingin dan berdebu.

Lalu suara itu terdengar.

Suara wanita. Menggema di seluruh ruangan. Bukan dari satu arah. Tapi dari mana-mana sekaligus.

"Jangan coba-coba untuk melawanku... Fariz."

Suara itu halus. Lembut. Tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Kamu masih terlalu polos untuk bermain-main denganku."

Lalu suara itu berubah.

Mengeram. Dalam. Seperti binatang buas yang lapar.

Tubuh Fariz terangkat.

Seperti boneka kayu yang ditarik dengan tali. Kakinya melayang dari lantai. Tubuhnya terseret ke atas. Lalu didorong keras ke dinding.

Punggungnya membentur dinding dengan bunyi yang keras. Napasnya keluar paksa dari mulut.

Fariz membuka mata.

Dan ia melihatnya.

Bayangan.

Tinggi. Menjulang sampai hampir menyentuh langit-langit. Tapi bentuknya tidak stabil. Bergerak seperti asap. Berubah-ubah. Kadang terlihat seperti manusia, kadang seperti sesuatu yang lain.

Dan wajahnya.

Fariz hanya melihat sekilas sebelum ia memejamkan matanya kembali.

Wajah wanita. Cantik. Tapi tidak wajar. Kulit terlalu putih. Mata terlalu tajam. Dan yang paling mengerikan, wajah itu berubah-ubah. Satu detik terlihat seperti wanita cantik. Detik berikutnya seperti sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh mata manusia. Seperti melihat dua wajah sekaligus yang tidak seharusnya ada di satu kepala.

Fariz tidak mampu menahan rasa takutnya. Tubuhnya gemetar. Napasnya pendek dan tidak teratur.

Lalu sesuatu terjadi.

Di dalam kegelapan matanya yang terpejam, ia melihat sesuatu.

Kilasan memori.

Sawah. Malam hari. Kyai Salman berdiri di hadapannya.

Tangan tua itu menunjuk ke dada Fariz. Mata yang penuh kasih sayang menatapnya.

Dan suara itu. Suara yang pernah ia dengar di mimpi pertama.

"Tuhanmu itu Allah. Ingat itu. Apa pun yang terjadi."

Memori itu datang dengan sangat jelas. Lebih jelas dari yang pernah ia ingat. Seperti baru saja terjadi. Seperti Kyai Salman berdiri di hadapannya sekarang, bukan sekedar di dalam mimpi.

Dan dari memori itu, sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Rasa hangat.

Seperti yang ia rasakan setiap kali ia ingat Kyai Salman. Tapi kali ini lebih kuat. Menyebar dari dada ke seluruh tubuh. Ke tangan. Ke kaki. Ke kepala.

Dan dari rasa hangat itu, muncul satu kata.

Bukan karena ia diajari. Bukan karena ia berpikir.

Tapi karena tubuhnya sendiri yang mengingatkan.

Fariz membuka mata.

Napasnya masih tersengal. Tubuhnya masih tertekan di dinding. Bayangan itu masih di hadapannya.

Tapi ada sesuatu yang berbeda sekarang.

Di dadanya, rasa hangat itu terus menyebar. Membuat tekanan di tubuhnya terasa sedikit lebih ringan.

Mulutnya bergerak.

Pelan. Gemetar. Tapi keluar.

"Bismillah."

Satu kata. Pelan. Hampir seperti bisikan.

Tapi cukup.

Bayangan itu tersentak.

Mundur selangkah. Seperti terkena sesuatu yang tidak terlihat.

Tekanan di tubuh Fariz berkurang. Ia jatuh dari dinding. Mendarat di lantai dengan lutut yang hampir tidak kuat menahan.

Rahman terbebas juga. Jatuh ke lantai. Batuk-batuk. Napasnya kembali.

Bayangan itu masih ada. Tapi sekarang tidak bergerak maju lagi. Hanya melayang di tengah ruangan. Menatap Fariz dengan mata yang menyipit.

Lalu suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih dingin.

"Kamu pikir itu cukup?"

Bayangan itu bergerak melingkar. Mengelilingi Fariz yang masih berlutut di lantai.

"Kamu pikir satu kata bisa menghentikanku?"

Suara itu tertawa. Tidak seperti tawa manusia. Lebih seperti eraman yang dibuat jadi suara.

"Kita akan bertemu lagi, Fariz. Dan lain kali, kamu tidak akan seberuntung ini."

Lalu bayangan itu menghilang.

Seperti asap yang tersedot ke dalam tanah.

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara napas Fariz dan Rahman yang terengah.

Fariz masih berlutut di lantai. Tangannya menekan dada. Merasakan rasa hangat yang masih ada di sana. Lebih lemah sekarang. Tapi masih terasa.

Rahman merangkak mendekat. "Iz... kamu tidak apa-apa?"

Fariz tidak langsung menjawab. Hanya menatap lantai. Napasnya perlahan mulai teratur kembali.

Lalu ia mendongak. Menatap Rahman.

"Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, Man." Suaranya serak. "Tapi ada sesuatu di dalam tubuhku. Sesuatu yang Kyai Salman berikan. Dan baru saja... itu melindungiku."

Rahman menatapnya cukup lama. Lalu mengangguk pelan.

"Kyai tahu kamu akan membutuhkannya."

Fariz menarik napas panjang. Lalu berdiri. Tubuhnya masih gemetar. Tapi ia berdiri.

"Kita harus pergi dari sini." Rahman berdiri juga. "Tempat ini tidak aman lagi."

Fariz mengangguk. Melirik sekeliling rumahnya satu kali terakhir. Rumah yang kosong. Tanpa ayah. Tanpa ibu.

Lalu ia berbalik dan berjalan keluar.

Tidak menoleh lagi.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!