EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pidato Yang Menggetarkan
Suasana menjadi sangat dingin, Zunaira memperhatikan rahang Ning Syifa yang sedikit mengeras saat membaca kalimat demi kalimat yang ditulisnya.
Terutama bagian di mana Zunaira secara halus menolak bingkisan mewah dan menyatakan bahwa takdir Gus Azlan bukan di tangan manusia.
Syifa melipat kembali surat itu perlahan, dengan gerakan halus namun ada kemarahan didalamnya dan Zunaira bisa melihat perubahan raut wajahnya.
"Jawaban yang sangat cerdas ustadzah Zunaira, sangat... filosofis tapi tahukah kamu? Di dunia nyata cinta dan pengabdian saja tidak cukup untuk menjaga institusi sebesar pesantren ini dan Al-Anwar butuh pondasi yang kuat bukan hanya sekadar romantisme kurikulum." ucap Ning Syifa.
Zunaira memberanikan diri menatap mata Ning Syifa, dia tidak boleh goyah.
"Saya setuju Ning dan pondasi terkuat bagi seorang mukmin adalah ketetapan Allah, jika Allah menghendaki sesuatu maka tidak ada diplomasi manusia yang bisa menghalanginya." sahut Zunaira dengan berani dengan ketetapan sang penciptanya.
Syifa berdiri dan senyumnya kembali terkembang, namun kali ini terasa lebih tajam.
"Kita lihat saja nanti ustadzah Zunaira, semoga kesehatanmu segera pulih karena babak baru di pesantren ini akan segera dimulai." ujar Ning Syifa.
Begitu Syifa keluar Zunaira jatuh terduduk di ranjangnya, ia merasa baru saja melewati sebuah medan perang tanpa senjata fisik.
Ning Syifa tidak marah, tapi ia baru saja mendeklarasikan bahwa ia tidak akan menyerah.
Sementara itu di kediaman utama, Gus Azlan sedang duduk di teras samping bersama Gus Haidar.
Naura kecil nampak asyik bermain dengan kucing persia kesayangannya di dekat pot-pot bunga anggrek milik Ummi Salamah.
"Paman Azlan! Lihat kucingnya bisa salim!" seru Naura sambil menarik-narik ujung jari Azlan untuk melihat atraksi kucingnya.
Gus Azlan tertawa kecil, meski pikirannya masih tertuju pada laporan Ning Arifa tentang kondisi Zunaira.
"Iya, hebat. Kayak Naura ya pinter salim." sahut Gus Azlan.
Gus Haidar menyesap kopi hitamnya, matanya menatap ke arah gerbang asrama putri yang terlihat dari kejauhan.
"Barusan Ning Syifa ke asrama ustadzah Lan, mas lihat dia bawa khadam." seru Gus Haidar.
Azlan langsung menegang sambil menatap lekat sang kakak, entah dia begitu takut terjadi apa-apa dengan Zunaira.
"Apa? Untuk apa dia ke sana?" tanya Gus Azlan dengan khawatir.
"Menjenguk Zunaira katanya, tapi kamu tahu sendiri dalam politik keluarga seperti ini, menjenguk bisa berarti mengintimidasi. Kamu harus segera mengambil sikap tegas di depan publik setelah akad nanti Lan, meski masih dirahasiakan tapi setidaknya kamu harus memberikan sinyal bahwa posisi Zunaira terlindungi." tutur Gus Haidar.
Azlan mengangguk pelan setelah sang kakak bicara tadi, karena apa yang diucapkan sang kakak sangat betul.
"Azlan sudah menyiapkan semuanya Mas, besok sore Azlan akan memberikan mahar kitab tafsir itu melalui Ummi. Azlan ingin Zunaira tahu bahwa dia adalah prioritas utama, bukan Ning Syifa atau siapapun." seru Gus Azlan yang memang sudah memikirkan tentang mahar tersebut.
Tak lama kemudian Ning Arifa muncul dari arah dapur membawa piring berisi pisang goreng hangat, wajahnya yang biasanya ceria nampak sedikit mendung.
"Mas Azlan tadi Arifa lewat dekat kamar Ustadzah Zu pas Ning Syifa keluar, Ning Syifa mukanya kayak habis makan cabe pedes banget, Arifa takut Ustadzah Zu makin drop kena tekanan batin." lapor Arifa sambil duduk bersila di karpet.
Naura yang mendengar nama Ustadzah Zu langsung menyahut.
"Ustadzah Zu sakit ya Paman? Nanti Naura mau kasih permen biar Ustadzah Zu sembuh." seru bocah kecil itu.
Gus Azlan menggendong Naura kemudian mencium pipi keponakannya itu.
"Naura sayang sama Ustadzah Zu?" tnya Gus Azlan.
"Sayang! Ustadzah Zu baik, suaranya lembut, kayak Ummi." jawab Naura polos.
Gus Haidar tersenyum tipis dengan ucapan sang putri yang sudah tahu dan bisa menilai mana orang uang baik dan bukan.
"Bahkan anak kecil pun tahu di mana keteduhan itu berada Lan, jangan goyah. Paman Mansur mungkin punya pengaruh, tapi kita punya kebenaran niat." ucap Gus Haidar.
Malam harinya sebelum pengajian kitab Bulughul Maram dimulai, Gus Azlan meminta waktu sejenak di depan para pengurus pesantren, termasuk beberapa orang kepercayaan Kyai Mansur yang masih memantau di sana, ia berdiri di mimbar kecil masjid dengan wibawa yang tak tergoyahkan.
"Sebelum kita mulai." suara Gus Azlan menggema.
"Saya ingin menekankan satu hal mengenai etika di lingkungan Al-Anwar, pesantren ini berdiri di atas fondasi ilmu dan akhlak. Saya tidak ingin melihat ada pengelompokan-pengelompokan atau upaya intimidasi terhadap siapapun, baik santri maupun ustadzah, atas dasar kepentingan pribadi atau keluarga." seru Gus Azlan.
Azlan menatap tajam ke arah barisan depan dan barisan lainnya, dia harus tegas karena ini demi kebaikan bersama.
"Ingatlah pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih."
"Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (kepada musuh)." (HR. Bukhari & Muslim).
"Siapapun yang mencoba mengusik ketenangan pengabdian di sini, berarti dia sedang berurusan dengan saya secara pribadi sebagai pengasuh harian dan saya harap ini dipahami." ucap Gus Azlan.
Di barisan belakang ustadzah, Zunaira yang baru saja kuat untuk hadir pun merasakan getaran di dadanya.
Ia tahu pidato itu adalah perisai yang sedang dibangun Gus Azlan untuknya, dan di sisi lain ia melihat Ning Syifa yang duduk di barisan kehormatan, nampak tenang namun jemarinya meremas tasbih dengan sangat kuat.
Selesai pengajian dan saat suasana mulai cair Gus Azlan berjalan melewati barisan ustadzah menuju pintu keluar.
Saat posisinya cukup dekat dengan Zunaira, meski terhalang beberapa meter ia berhenti sejenak untuk memperbaiki posisi sorbannya, dan memberikan isyarat mata yang sangat cepat namun penuh makna kepada Zunaira.
Isyarat yang seolah berkata bertahanlah, sebentar lagi semuanya akan sah.
Zunaira menundukkan kepala sedalam-dalamnya, ia merasakan kekuatan baru mengalir di nadinya.
Kabut dari Jawa Timur mungkin belum sepenuhnya sirna dan Ning Syifa mungkin masih memiliki seribu rencana.
Namun di antara interaksi hangat keluarga Kyai Hamid dan ketegasan Gus Azlan, Zunaira sadar bahwa ia tidak sedang berjalan menuju lubang kehancuran melainkan menuju sebuah ikatan suci yang akan menjaganya selamanya.
Malam itu, tekanan dari keluarga Kyai Mansur nampak mereda di permukaan.
Mereka menyadari bahwa Azlan bukan pria yang mudah didikte, namun bagi Zunaira tantangan sesungguhnya adalah menyiapkan batinnya sendiri.
Detik-detik menuju pukul dua dini hari di hari Kamis nanti terasa semakin nyata.
Antara rasa takut rahasia ini terbongkar dan rasa rindu untuk segera halal, Zunaira bersujud panjang di penghujung malam dan menyerahkan seluruh takdirnya kepada Sang Pemilik Hati.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...