NovelToon NovelToon
Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Suamiku Kuli Bangunan ~ Penyesalan Setelah Bercerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.

Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.

Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.

"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Hidup dan Mati

Tangis Andini pecah. Gadis itu panik karena tubuh ayahnya panas tinggi hingga menggigil hebat. Namun, ia belum mengerti harus melakukan apa.

"Dini, Ayah nggak papa. Ayah hanya butuh istirahat," jawab Arga dengan suara bergetar.

Andini tidak bisa tenang. Gadis itu melompat dari ranjang dan berlari keluar rumah. "Tolong! Tolong Ayah!" teriaknya.

Sepasang kaki mungilnya berlari sambil berteriak berharap ada yang mendengar suaranya di tengah malam, di mana semua orang pasti sudah terlelap.

Beberapa pintu rumah tak lama terbuka. Para pria muncul dan langsung mendekati Andini.

"Ada apa, Din? Ada masalah?" tanya seorang pria yang mengenakan sarung.

"Ayah, Pak. Badan ayah sangat panas. Andini takut Ayah kenapa-napa. Tolong Ayah," jawab gadis itu sambil terisak.

Para pria itu langsung berlari menuju rumah Andini dan menemukan Arga yang sudah pingsan di ambang pintu. Pria itu tadi sempat ingin menghentikan putrinya, namun kondisi tubuhnya yang lemah membuat dia justru tersungkur dan tak sadarkan diri.

"Bawa ke puskesmas aja, Pak. Tadi Mas Arga kakinya kena cangkul, khawatir itu penyebabnya dia demam tinggi!" seru tetangga Arga yang merupakan rekan kerjanya.

Andini sambil memeluk boneka kesayangannya langsung berlari mengikuti. Namun, kaki mungilnya dihentikan oleh seorang wanita.

"Andini jangan ikut. Tunggu di rumah Ibu aja. Biar Ayah kamu dibawa suami ibu ke puskesmas."

"Tapi Andini mau sama Ayah. Andini takut Ayah kenapa-napa," geleng Andini.

"Ayah kamu pasti baik-baik aja, Din. Kan mau dibawa berobat. Ya, tunggu aja. Ayo, ikut ibu. Kamu tidur di rumah ibu aja," ajak salah seorang wanita paruh baya merasa prihatin.

Andini, akhirnya terpaksa menuruti wanita itu. Ia memandang kepergian ayahnya yang dibonceng motor dengan air mata yang mengalir deras.

"Ayah, Ayah jangan tinggalin Andini. Ibu udah ninggalin Andini. Andini cuma punya ayah," gumam gadis itu pilu.

Tubuh Arga langsung dibaringkan di ranjang pemeriksaan begitu tiba di puskesmas. Rini, yang merupakan bidan dan kebetulan piket di puskesmas langsung memeriksa kondisi pria itu.

"Lukanya infeksi. Kenapa bisa kayak gini?" gumam Rini sambil mengamati luka di kaki Arga.

Dia melakukan perawatan terhadap luka Arga. Membersihkan luka, memberikan cairan antiseptik sebelum menutupinya dengan perban.

"Bagaimana, Rin? Arga baik-baik aja, kan?" tanya Ruslan, pria yang membawa Arga ke puskesmas.

"Saya terpaksa harus kasih infusan, Mas. Soalnya Mas Arga seperti sudah kehilangan banyak cairan, terus tubuhnya lemah. Pasti ini akibat luka yang tidak dirawat dengan baik," tutur Rini lalu memasang infusan di pergelangan tangan Arga.

"Mbak Nadira mana? Dia tidak ikut?" tanya Rini, tanpa mengalihkan pandangan.

Ruslan terdiam sejenak, sebelum menjawab, "Saya kurang tahu. Tapi, tadi di rumah Mas Arga hanya ada dia dan Andini. Saya nggak lihat Mbak Nadira."

Rini mengangguk mengerti. Tidak banyak bertanya lagi.

"Demamnya sekarang sudah mulai turun. Semoga Mas Arga cepet sadar," kata Rini sebelum pamit pergi meninggalkan ruangan.

Ruslan menatap keadaan rekannya dengan perasaan gelisah. "Ya Allah, Ga. Sampai hati Nadira ninggalin kamu sama Andini demi pria lain."

Meskipun Arga tidak cerita, tapi istrinya selalu tahu banyak hal tentang rumah tangga Arga karena rumah mereka berdekatan.

Ruslan keluar dari ruangan dan menghampiri Rini. "Rin, untuk biayanya... kamu bisa potong dari upah kerjanya aja," bisik Ruslan.

Rini tersenyum tipis. "Nggak papa, Mas. Kecelakaan itu kan terjadi saat kerja di rumah saya, jadi biar saya yang tanggung jawab," jawab Rini bijaksana.

"Alhamdulillah." Ruslan menghela napas lega.

"Syukurlah kalo begitu. Tapi, apa nggak papa kalo saya tinggal pulang? Besok kan saya masih harus kerja di tempat kamu."

"Nggak papa, Mas. Mas Arga biar saya yang jaga. Kebetulan malam ini saya kebagian piket," angguk Rini.

Ruslan tersenyum lebar, dan segera pergi meninggalkan puskesmas. Sementara itu di dalam ruangan, mata Arga perlahan terbuka.

Ia mengamati sekeliling dan tersadar jika dia tidak berada di rumah. "Kenapa aku di sini?"

"Di mana Dini?"

Ia mendudukkan tubuh sambil memegangi kepala yang terasa berat. Tatapannya tertuju pada luka di kakinya yang sudah dibungkus perban dengan rapi.

"Dini!" panggil Arga.

Tak melihat keberadaan putrinya. Arga mencabut jarum infusan dan perlahan turun dari ranjang. Ia berjalan sedikit tertatih keluar dari ruangan.

"Dini!" panggilnya lagi.

"Eh, Mas Arga udah sadar!" Rini berlari kecil dan memegang pundak pria itu.

"Di mana Dini?" tanya Arga sambil menahan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Demamnya sudah mulai turun, hanya rasa lelah yang masih tersisa.

"Mas Arga tadi diantar Mas Ruslan ke sini. Dini kemungkinan tunggu di rumah," sahut Rini.

"Oh. Kalo begitu, biar saya pulang saja, Rin. Kasihan Dini. Dia pasti khawatir," kata Arga mulai melangkah.

Rini menggeleng tegas. "Jangan, Mas. Mas Arga harus istirahat dulu sampai kondisinya benar-benar stabil. Dini pasti baik-baik aja. Dia pasti ditemenin sama istrinya Mas Ruslan."

Arga terdiam, matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Tubuh pria itu merosot dan duduk di kursi tunggu. "Andai Nadira nggak pergi. Dini nggak perlu sendirian di rumah," batinnya.

"Ayo, Mas. Saya antar ke ruangan lagi. Luka di kaki Mas Arga infeksi. Makanya tadi sempat demam tinggi. Tapi sekarang udah turun setelah saya obatin lukanya dengan benar dan kasih obat."

"Makasih ya, Rin. Nanti, kamu bisa potong upah saya untuk bayar biaya perawatan saya," kata Arga sembari membaringkan tubuh.

"Sudahlah, Mas. Nggak perlu di pikirin. Yang penting Mas Arga sehat aja dulu. Biar bisa kerja lagi. Rumah saya masih 25 persen loh. Saya masih butuh tenaga Mas Arga," kata Rini, dengan nada bergurau.

Arga kembali mengistirahatkan tubuh. Dia memang merasakan sendi-sendi tubuhnya begitu sakit dan letih.

---

Di tempat lain...

Jauh dari desa, Nadira kini sudah berada di sebuah rumah mewah berlantai dua milik keluarga Bima. Mereka tiba malam hari, itu siasat Bima supaya keluarganya tidak langsung bertemu dengan Nadira dalam keadaan sangat lusuh.

"Kamu bisa tidur di kamar ini sementara waktu." Bima mengantar Nadira ke kamar tamu dan menyerahkan beberapa pakaian yang sudah dia siapkan.

"Besok kamu harus bangun pagi dan buatkan sarapan, Dira. Ingat! Sebisa mungkin kamu harus ambil hati orangtuaku, supaya mereka tidak meragukan kamu sebagai calon istriku."

Nadira mengangguk singkat. "Pasti, Mas. Aku akan buat orangtua kamu terpukau padaku. Mereka pasti akan menyukaiku."

"Bagus. Sekarang kamu bisa istirahat. Kita bicara lagi besok." Bima menutup pintu kamar dan segera pergi ke kamarnya.

Nadira tersenyum lebar, matanya berbinar-binar melihat setiap sudut kamar dengan ranjang berukuran besar yang nampak nyaman di hadapannya. Ia langsung melompat dan berguling-guling di atas ranjang.

"Ini nyaman sekali. Kehidupan inilah yang aku inginkan sejak dulu. Aku bersyukur karena bertemu Mas Bima. Dia sudah membantuku keluar dari neraka Mas Arga," gumamnya sambil tersenyum puas.

"Selanjutnya... aku hanya perlu bersikap seperti menantu idaman di depan orangtuanya."

Bersambung...

1
Wanita Aries
cuit cuit bu bidan di lamar 🤭
Wanita Aries
ya kerja lah nadira jgn berpangku tangan
Nelramstrong: keenakan dikasih 😆
total 1 replies
Wanita Aries
deritamu nadira mau aja di bodohi
Nelramstrong: 🫢🫢🫢 jangan diketawain, kak. kasihan
total 1 replies
Wanita Aries
haduhh nadira nasibmu makin ngenes
Nelramstrong: nasibbbbb, kak 🤭🤭
total 1 replies
Wanita Aries
nah nah makin seru
Wanita Aries
arga makin sukses, nadhira makin nelangsa
Nelramstrong: itu karma baik dan buruk buat mereka, kak 😄
total 1 replies
Wanita Aries
suka thor gk bosen bacanya
Nelramstrong: aaaa... Makasih, kak
total 1 replies
Wanita Aries
kyknya nadira korban selanjutnya
Wanita Aries
nah lhoo siap2 aj nadira menyesal nntinya
Nelramstrong: harus sih 😄
total 1 replies
Wanita Aries
bagus thorr
Nelramstrong: terima kasih 🙏
total 1 replies
Wanita Aries
mampir thor
Nelramstrong: hai, kak. terimakasih sudah mampir, ya 🙏
total 1 replies
Arema Nia
semoga sukses untuk penulisnya
Arema Nia
ceritanya bagus dan lancar
Ani
nahkan pasti Mamanya Bima juga dijadikan pembokat sampe stroke.
Ani
bau baunya Si Nandira mau dijadikan pembokat sekalian pengasuh mamanya Bima nih...
Nelramstrong: lanjut baca yuk, kak. terima kasih sudah mampir 🙏
total 1 replies
Arema Nia
bagus danenarik
Nelramstrong: Terima kasih ulasannya, Kak. Ditunggu bab selanjutnya, ya 😁
total 1 replies
Arema Nia
pertama baca bagus ceritanya ...sukses selalu
Nelramstrong: Terima kasih, kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!