NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Teratai Putih di Selokan Hitam

Bau busuk yang menyengat, campuran antara limbah kotoran manusia dan bangkai tikus, memenuhi rongga hidung Ye Yuan.

Di dalam saluran air bawah tanah yang gelap gulita dan berlendir, Ye Yuan menyeret tubuhnya melawan arus air keruh. Setiap gerakan mengirimkan rasa sakit yang menyentak dari dada hingga ke ujung kaki.

Tulang rusuknya retak di tiga tempat. Organ dalamnya terguncang hebat akibat hantaman Telapak Vajra milik Tetua Agung Gu Tian. Jika bukan karena Tubuh Pedang Perunggu yang sekeras logam, Ye Yuan pasti sudah mati menjadi bubur daging di gedung lelang tadi.

"Uhuk..." Ye Yuan terbatuk, memuntahkan darah hitam yang menggumpal ke dalam air limbah.

Dia terus berjalan selama satu jam penuh, memastikan dia sudah jauh dari jangkauan indra spiritual Gu Tian, sebelum akhirnya memanjat naik ke sebuah tepian batu kering di persimpangan saluran air.

"Di sini aman," bisik Ye Yuan.

Dia menyandarkan punggungnya ke dinding bata yang lembap. Tangannya meraba pinggangnya. Sangkar besi kecil itu masih terikat kuat di sana.

Di dalam sangkar, Musang Pencari Harta menatapnya dengan mata emas besar yang ketakutan. Bulu hitamnya basah kuyup dan menggigil.

Ye Yuan membuka sangkar itu. "Keluar."

Musang itu ragu sejenak, lalu melompat keluar. Ia tidak lari. Hidungnya kembang kempis mencium bau obat dari tubuh Ye Yuan. Binatang roh ini cerdas; dia tahu lari di tempat asing ini sama dengan mati.

Ye Yuan mengabaikan musang itu. Dia mengeluarkan kotak giok dari cincin penyimpanannya—cincin milik Tetua Li Batian yang dia bunuh di hutan.

Di dalam kotak itu, terbaring Teratai Roh Penyambung Tulang. Bunga yang dibeli Tetua Li seharga 8.000 Batu Roh, kini menjadi penyelamat Ye Yuan.

"Ironis," Ye Yuan tersenyum getir. "Obat yang kau beli untuk anakmu, justru menyelamatkan pembunuhmu."

Ye Yuan memetik satu kelopak bunga putih itu. Kelopak itu memancarkan cahaya lembut yang menerangi kegelapan selokan.

Dia menelannya bulat-bulat.

WUSH!

Sensasi dingin yang menyegarkan meledak di tenggorokannya, lalu berubah menjadi aliran hangat yang merambat ke seluruh tulang-tulangnya.

Krekk... Krekk...

Suara tulang yang menyambung kembali terdengar dari dalam tubuh Ye Yuan. Rasa sakitnya luar biasa gatal, tapi Ye Yuan menahannya dengan wajah datar. Qi penyembuhan dari teratai itu bekerja sepuluh kali lebih cepat daripada pil biasa.

Dalam waktu setengah jam, napas Ye Yuan kembali teratur. Wajah pucatnya mulai merona merah. Retakan di tulangnya telah menutup sempurna, bahkan menjadi lebih padat dari sebelumnya.

"Sisa delapan kelopak," Ye Yuan menyimpan kembali bunga itu. "Harta karun yang luar biasa."

Dia menoleh ke samping. Musang hitam itu masih duduk di sana, menatap Ye Yuan—atau lebih tepatnya, menatap sisa aura obat di bibir Ye Yuan—dengan air liur menetes.

Ye Yuan mengambil sebutir Batu Roh Tingkat Menengah dan melemparkannya.

"Makan."

Musang itu menangkap batu roh itu dengan dua kaki depannya, lalu menggerogotinya dengan bunyi krak-krak yang renyah seperti memakan kerupuk.

"Kau suka makan uang, ya?" Ye Yuan mengelus kepala musang itu. "Mulai sekarang namamu Xiao Jin (Si Emas Kecil), karena matamu itu."

Xiao Jin mencicit setuju, lebih karena batu rohnya enak daripada suka namanya.

Ye Yuan berdiri. Dia membersihkan kotoran di jubahnya dengan getaran Qi.

"Ayo pergi. Kita punya janji di Ngarai Tulang Menangis."

Dua Hari Kemudian.

Ye Yuan keluar dari saluran pembuangan air di sebuah sungai kering, lima puluh kilometer di luar Kota Barat.

Tanpa istirahat, dia langsung memacu langkahnya ke arah barat daya.

Pemandangan di depannya berubah drastis. Gurun pasir merah perlahan digantikan oleh tanah tandus berwarna abu-abu yang dipenuhi bebatuan tajam. Tidak ada pohon, hanya ada kerangka binatang raksasa purba yang menyembul dari tanah.

Angin di sini bertiup sangat kencang, melewati celah-celah bebatuan berlubang, menciptakan suara siulan yang terdengar seperti tangisan wanita.

Ngarai Tulang Menangis.

Sepanjang perjalanan, Ye Yuan harus menghindari beberapa kelompok pencari jejak dari Sekte Pedang Surgawi dan Sekte Gagak Api. Untungnya, berkat hidung tajam Xiao Jin, Ye Yuan bisa mendeteksi musuh dari jarak 5 kilometer dan memutar arah sebelum terlihat.

"Anak pintar," puji Ye Yuan, memberi Xiao Jin batu roh lagi. Investasi 100.000 Batu Roh ini mulai terbayar.

Akhirnya, di hari ketiga, Ye Yuan tiba di tujuan.

Dia bersembunyi di balik sebuah tebing batu kapur, menatap ke depan.

Di kejauhan, tanah terbelah menjadi jurang raksasa yang membentang sampai cakrawala. Jurang itu tertutup kabut abu-abu tebal yang berputar-putar.

Namun, yang membuat Ye Yuan menahan napas bukanlah jurangnya. Melainkan siapa yang ada di depan pintu masuknya.

Ribuan kultivator telah berkumpul. Kemah-kemah didirikan di bibir jurang. Bendera berbagai sekte berkibar.

"Semua orang ada di sini," desis Ye Yuan.

Dia melihat bendera Pedang Emas (Sekte Pedang Surgawi), bendera Matahari (Sekte Gagak Api), bendera Kalajengking Hitam, dan bendera Awan Biru.

Di garis depan, berdiri tokoh-tokoh besar yang memancarkan aura mengerikan.

Gu Tian (Tetua Agung Pedang Surgawi) berdiri melayang dengan wajah muram. Di sebelahnya, ada Yan Lie dan ayahnya, Tetua Yan (Pembentukan Fondasi Tingkat Sembilan). Dan agak menjauh dari mereka, berdiri Mu Bingyun yang tenang dan anggun.

Mereka semua menatap ke arah jembatan batu kuno yang menyeberangi jurang, menuju sebuah gerbang batu raksasa yang tertutup rapat di seberang sana.

Gerbang itu memiliki ukiran naga tanpa mata.

"Kenapa mereka tidak masuk?" tanya Ye Yuan dalam hati.

Dia mempertajam pendengarannya. Angin membawa suara perdebatan para tetua itu.

"Gu Tian!" seru Tetua Yan dari Sekte Gagak Api. "Kita sudah menyerang gerbang itu selama dua hari! Tidak ada gunanya! Segel Naga itu tidak bisa ditembus dengan kekuatan kasar!"

"Diam kau!" balas Gu Tian kasar. "Peta kuncinya dicuri oleh bajingan kecil bernama Ye Yuan itu! Jika dia tidak datang, kita semua hanya akan jadi penonton di sini!"

"Lalu apa rencanamu?" tanya Mu Bingyun dingin. "Menunggu sampai dia datang menyerahkan diri?"

"Dia pasti datang," Gu Tian menyeringai kejam. "Keserakahan manusia tidak ada batasnya. Dia memegang kunci harta karun, dia tidak akan tahan untuk tidak menggunakannya."

Gu Tian berbalik menghadap ribuan murid dan pengembara di belakangnya.

"DENGARKAN!" suaranya menggelegar. "Siapa pun yang melihat Ye Yuan, segera lapor! Dan ingat, tanpa Peta Naga Tulang itu, siapa pun yang mencoba menyeberangi jembatan ini akan dimakan oleh Kabut Jiwa!"

Ye Yuan di balik tebing menyentuh dada kirinya, tempat peta kulit naga itu tersimpan.

"Jadi peta ini bukan cuma penunjuk jalan, tapi juga jimat pelindung untuk melewati kabut?" Ye Yuan menyadari nilainya.

Situasinya sulit. Pintu masuk dijaga ketat oleh tiga faksi besar. Jika dia muncul, dia akan dikeroyok oleh tiga ahli tingkat tinggi sekaligus.

"Aku butuh pengalihan," pikir Ye Yuan.

Dia melihat Xiao Jin di bahunya. Musang itu tiba-tiba mencicit pelan, menunjuk ke arah celah sempit di sisi tebing jurang yang jauh dari jembatan utama.

"Apa ada jalan lain?" tanya Ye Yuan.

Xiao Jin mengangguk antusias, lalu menunjuk ke bawah jurang yang tertutup kabut.

Ye Yuan mengerutkan kening. "Kau mau aku lompat ke dalam kabut beracun itu tanpa lewat jembatan?"

Xiao Jin menepuk peta di dada Ye Yuan dengan cakar kecilnya, seolah berkata: Peta itu akan melindungimu.

Ye Yuan menimbang risikonya. Lewat depan \= mati dikeroyok. Lewat jalan rahasia \= risiko dimakan kabut.

"Baiklah. Aku percaya padamu, tikus mahal."

Ye Yuan mundur perlahan, menjauh dari kerumunan. Dia memutar jalan, mendaki tebing curam di sisi barat, menuju titik buta yang ditunjuk Xiao Jin.

Tempat itu adalah sebuah celah retakan bumi yang sempit, tertutup semak berduri. Di bawahnya, kabut abu-abu Ngarai Tulang Menangis bergolak seperti lautan awan.

Ye Yuan mengeluarkan Peta Naga Tulang. Dia memegang peta itu di tangan kirinya, dan pedang besarnya di tangan kanan.

"Semoga ini berhasil."

Ye Yuan melompat.

Tubuhnya meluncur jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.

Angin siulan di telinganya berubah menjadi jeritan hantu. Kabut abu-abu segera menyelimutinya.

Saat kabut itu menyentuh kulitnya, Ye Yuan merasakan sensasi terbakar. Kabut ini mengandung racun korosif yang melarutkan daging!

"Sial! Peta ini tidak bekerja?!"

Namun, sedetik kemudian, Peta Naga Tulang di tangannya bersinar keemasan.

WUUUNG!

Sebuah kubah cahaya emas berbentuk naga transparan muncul dari peta itu, menyelimuti tubuh Ye Yuan dalam bola pelindung.

Kabut racun itu terpental saat menyentuh kubah emas. Suara jeritan hantu di telinganya lenyap, digantikan oleh nyanyian naga yang agung.

"Berhasil!"

Ye Yuan melayang turun dengan kecepatan tinggi di dalam bola pelindung itu. Dia melihat dinding tebing jurang yang penuh dengan tulang belulang raksasa—tulang naga yang membatu.

Setelah jatuh selama hampir satu menit, Ye Yuan melihat dasar jurang.

Bukan tanah, melainkan sungai hitam yang mengalir deras. Dan di tepi sungai itu, terdapat sebuah pintu gua raksasa yang berbentuk mulut naga yang menganga.

Itu adalah Pintu Belakang Ranah Naga Tulang.

Jalur rahasia yang hanya diketahui oleh pemilik peta asli—dan musang pencari harta yang sangat peka.

Ye Yuan mendarat di tepi sungai dengan mulus. Bola pelindung emas itu memudar, tapi peta di tangannya masih bersinar redup.

"Kita masuk duluan," Ye Yuan menyeringai. "Biarkan orang-orang tua bodoh itu menunggu di atas jembatan sampai lumutan."

Ye Yuan melangkah masuk ke dalam mulut gua naga.

Namun, dia tidak tahu bahwa di atas sana, Mu Bingyun tiba-tiba membuka matanya. Dia menatap ke arah celah tebing barat tempat Ye Yuan melompat tadi.

"Aura peta itu... menghilang ke bawah jurang?" batin Mu Bingyun.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Gu Tian, Yan Lie... kalian jagalah jembatan ini. Aku ada urusan lain."

Mu Bingyun berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kerumunan, diam-diam menuju ke arah celah barat.

Permainan kucing dan tikus berlanjut ke dalam perut bumi.

[Bersambung ke Bab 32]

Poin Ringkas Bab 31:

Recovery: Ye Yuan sembuh total berkat Teratai Penyambung Tulang.

Companion: Musang Harta Karun diberi nama Xiao Jin dan mulai menunjukkan kegunaannya.

Stand off: Pintu masuk utama Ngarai Tulang dijaga ketat oleh aliansi sekte besar yang menunggu Ye Yuan.

Secret Path: Berkat Xiao Jin, Ye Yuan menemukan jalan belakang dengan melompat ke jurang, dilindungi oleh Peta Naga.

Pursuit: Mu Bingyun menyadari pergerakan Ye Yuan dan memisahkan diri dari kelompok utama untuk mengejarnya (atau membantunya?).

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!