NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Bertani / Slice of Life / Komedi
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Zat Kimia dan Bau Got

Gelap. Hening. Dingin.

Banyu membuka matanya perlahan. Punggungnya terasa ngilu karena berbaring di ubin yang keras. Aroma kamarnya yang lembab campuran bau buku tua dan tembok berjamur menusuk hidung.

"Gue... di mana? Neraka?"

Banyu mencoba menggerakkan jari-jarinya. Bisa. Dia mencubit pipinya sendiri. Sakit.

"Sialan. Belum mati ternyata," gumamnya, antara lega dan kecewa.

Dia mencoba duduk. Anehnya, rasa sakit yang luar biasa di dadanya sensasi dihimpit beton yang dia rasakan saat merangkak pulang tadi sudah hilang. Hanya tersisa rasa nyeri samar, seperti memar bekas pukulan biasa.

Matanya tertuju pada benda yang masih dia dekap erat di dadanya.

Botol gepeng warisan kakek.

Cahaya bulan yang masuk malu-malu lewat ventilasi menyinari benda itu. Banyu terbelalak. Darah segar yang tadi dia muntahkan ke permukaan botol itu sudah lenyap tak berbekas. Botol itu kini bersih, putih mengkilap seperti keramik atau tulang gading kualitas tinggi.

Banyu mendekatkan botol itu ke matanya. Di bagian bawah botol, ada ukiran huruf kuno yang entah bagaimana bisa dia baca dengan jelas dalam kegelapan:

"Kendi Penyuling Jiwa"

"Penyuling Jiwa? Serem amat namanya. Jangan-jangan ini tempat nyimpen tuyul?"

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Banyu mengguncang botol itu. Terasa ringan, seolah kosong. Dia membuka tutupnya yang berbentuk sumbat kecil.

Banyu membalikkan botol itu di atas telapak tangan kirinya, ingin memastikan isinya.

Tiba-tiba, setetes cairan bening meluncur keluar.

Tess.

Cairan itu jatuh tepat di punggung tangannya.

"Aduh!"

Banyu terlonjak. Cairan itu terasa panas menyengat saat bersentuhan dengan kulit, lalu berubah menjadi sensasi gatal yang aneh, seolah-olah cairan itu 'hidup' dan mencoba menyusup masuk ke dalam pori-porinya.

"Sialan! Zat kimia apa itu?" Banyu panik. "Jangan-jangan air keras?!"

Dia buru-buru menyambar kotak tisu di meja, menarik selembar, dan menggosok punggung tangannya dengan kasar. Dia takut kulitnya melepuh atau bolong.

Tapi setelah dilap, kulit tangannya baik-baik saja. Malah terlihat sedikit lebih bersih dan putih dibanding kulit sekitarnya. Cairan itu sudah kering atau lebih tepatnya, terserap habis.

"Aneh..."

Banyu menatap tisu di tangannya yang kini basah oleh cairan misterius itu. Dia bingung mau buang ke mana. Matanya melirik ke sudut kamar, ke sebuah pot tanaman Jeruk Kunci (Kasturi) yang sudah layu dan hampir mati kekeringan.

"Ya udahlah, sekalian jadi pupuk. Siapa tau mati sekalian," gumam Banyu asal.

Dia melempar gumpalan tisu basah itu ke dalam pot tanaman, tepat di atas tanah yang kering kerontang.

Setelah drama kecil itu, rasa kantuk yang luar biasa berat tiba-tiba menyerang Banyu. Kelopak matanya terasa ditarik gaya gravitasi. Tubuhnya menuntut istirahat total. Banyu merangkak naik ke kasur tipisnya, dan dalam hitungan detik, dia sudah pingsan lagi dalam tidur yang lelap tanpa mimpi.

"WOI! BANYU! BUKA PINTUNYA!"

"JANGAN MATI DULU WOI! UTANG LU BELUM LUNAS!"

DUG! DUG! DUG!

Suara gedoran pintu yang brutal memaksa Banyu membuka mata. Sinar matahari pagi sudah menerobos masuk, menyilaukan mata.

Banyu mengerang, kepalanya sedikit pening. Siapa yang pagi-pagi buta bikin rusuh?

Dia menyeret langkah gontai menuju pintu dan membukanya.

Di depan pintu berdiri Herman, sahabat kentalnya sejak SD. Wajah Herman yang biasanya cengengesan kini pucat pasi, keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya. Napasnya ngos-ngosan seperti habis lari maraton.

Begitu melihat Banyu berdiri utuh, Herman langsung lemas dan bersandar ke kusen pintu.

"Allahu Akbar... Setan alas lu, Nyu! Gue kira lu udah jadi perkedel!"

Banyu menggaruk kepalanya yang gatal. "Apaan sih lu, Man? Pagi-pagi udah ngegas."

"Ngegas gundulmu!" Herman menoyor kepala Banyu. "Gue tadi lewat gang depan, liat gerobak motor lu ngeguling di got! Barangnya tumpah semua, ancur lebur! Gue kira lu diculik wewe gombel atau dilindes truk!"

Banyu terdiam. Ingatan semalam kembali. Joni. Pukulan. Hujan.

"Oh... itu..." Banyu tersenyum kecut. "Semalem gue dicegat si Joni. Biasa, malak. Gue didorong, gerobak jatoh. Gue lari pulang."

"Si Joni Anjing itu lagi?!" Herman mengepalkan tangan, wajahnya merah padam. "Kurang ajar! Liat aja, gue samperin tongkrongannya sekarang! Mentang-mentang ada bekingan polisi, belagu amat tuh curut!"

Herman sudah siap balik badan mau labrak Joni, tapi tiba-tiba dia berhenti. Hidungnya mengendus-endus udara.

Sniff... Sniff...

Herman menutup hidungnya dengan kaos, wajahnya berubah jijik.

"Buset! Bau apaan nih? Lu nyimpen bangke tikus di kamar?"

Banyu bingung. "Bangke apaan?"

"Badan lu, bego! Bau banget sumpah! Kayak got mampet campur trasi basi!" Herman mundur dua langkah, menjauh dari Banyu. "Lu gak mandi setahun apa gimana?!"

Banyu mengendus ketiaknya sendiri.

Huek!

Herman benar. Bau busuk yang tajam dan menyengat menguar dari tubuhnya. Banyu melihat lengannya. Ada lapisan lendir hitam tipis yang menutupi kulitnya, seperti daki yang sudah menumpuk sepuluh tahun dan baru keluar sekarang.

"Kok gue jadi gini?" Banyu kaget.

"Mandi sana! Gila lu, polusi udara!" teriak Herman sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Gue tunggu di warkop depan aja deh. Bisa pingsan gue di sini."

Herman kabur, tak kuat menahan aroma "terapi detoks" alami dari tubuh Banyu.

Banyu malu setengah mati. Dia menyambar handuk dan sabun batangan, lalu berlari keluar kamar menuju kamar mandi umum di ujung lorong kosan.

Sialnya, ini jam sibuk pagi hari. Di depan kamar mandi sudah ada antrean.

Ada Rudi, tetangga kamar sebelah yang kerja jadi staf admin asuransi. Dia berdiri dengan kemeja licin dan dasi miring, memegang sikat gigi dengan gaya sok penting.

Begitu Banyu mendekat, Rudi langsung menutup hidung dengan dramatis.

"Ya ampun! Bau apaan ini?!" Rudi melirik Banyu dengan tatapan jijik. "Heh, Banyu! Lu sadar diri dong. Lu kan pengangguran, gak punya kerjaan. Mandinya ntar aja siangan! Bikin orang mau muntah aja pagi-pagi."

Banyu menunduk, sadar diri memang dia bau. "Maaf, Mas Rudi. Saya kebelet..."

"Alesan! Minggir lu, jangan deket-deket!" usir Rudi kasar.

"Mas Rudi, jangan kasar gitu dong."

"Pagi, Mas Banyu," sapa Laras ramah sesaat setelah keluar dari kamar mandi.

"Pa-pagi, Laras..." jawab Banyu gugup, berusaha menutupi badannya yang lengket dengan handuk.

"Laras, jangan deket-deket dia! Ini sumber penyakit!" seru Rudi sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, mencoba cari muka. "Biar Mas aja yang marahin dia."

Laras malah tersenyum tipis pada Banyu. "Mas Banyu mau mandi ya? Duluan aja gapapa kok, Mas. iya kan Mas Rudi?"

"Eh, serius?" Banyu kaget. "Tapi Mas Rudi udah antre..."

"Mas Rudi kan cowok, pasti mandinya cepet. Mas Banyu keliatannya lebih urgent," potong Laras halus tapi menohok. "Masuk aja, Mas."

Rudi melongo, sikat giginya nyaris jatuh. "Laras! Kok dia diduluin?! Aku kan mau ngantor! Telat nih! Dia mah pengangguran, mandinya bisa taun depan!"

Laras menatap Rudi. "Mas Rudi, sesama tetangga harus saling ngerti. Mas Banyu lagi sakit perut kayaknya. Udah lah, Mas."

Mendapat "lampu hijau" dari bidadari kos, Banyu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melempar senyum terima kasih ke Laras lalu menerobos masuk kamar mandi.

Blam! Klekk!

Pintu dikunci.

"WOI! BANYU! JANGAN LAMA-LAMA LU! GUE TELAT NIH!" teriak Rudi dari luar sambil menggedor pintu.

Di dalam, Banyu masa bodoh. Dia menyalakan kran air sekencang mungkin untuk meredam suara berisik Rudi.

Tubuhnya benar-benar kotor. Lapisan lendir hitam itu lengket seperti aspal cair. Banyu mengguyur tubuhnya dengan air dingin, lalu menggosok kulitnya dengan sabun colek ekonomi yang keras. Busa sabun langsung berubah warna menjadi abu-abu pekat.

Satu menit berlalu... Lima menit berlalu...

DUG! DUG! DUG!

"BANYUUU! LU TIDUR DI DALEM?! BUKA GAK?!" Rudi di luar sudah histeris. "GUE UDAH TELAT ABSEN FINGERPRINT, SETAN!!"

Banyu menyeringai tipis sambil terus menggosok punggungnya. Rasain lu, siapa suruh ngehina gue tadi, batinnya. Dia sengaja memperlama bilasannya.

Sepuluh menit kemudian, terdengar suara sumpah serapah terakhir dari luar. "ARGHH! AWAS LU YA! GUE MANDI DI KANTOR AJA! DASAR PENGANGGURAN MENYUSAHKAN!!"

Terdengar langkah kaki menghentak keras menjauh, diikuti suara motor yang digas kasar. Rudi akhirnya menyerah dan kabur.

Banyu tertawa pelan. Dia melanjutkan acara bersih-bersihnya dengan tenang. Total hampir setengah jam dia bertempur membersihkan daki-daki aneh itu sampai kulitnya benar-benar kesat.

Setelah bersih dan handukan, dia merasa... beda.

Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah beban 10 kilo di pundaknya diangkat. Kulitnya terasa segar dan bisa bernapas. Rasa pegal bekas tidur di lantai hilang total.

Banyu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Lorong sudah sepi. Rudi dan Laras sudah berangkat kerja.

Banyu berjalan cepat kembali ke kamarnya. Dia merasa penuh energi.

Sesampainya di kamar, dia langsung memakai kaos oblong dan celana pendek. Gerakannya gesit. Biasanya, aktivitas mandi dan pakai baju saja sudah bikin dia sedikit terengah-engah.

Dia membereskan kasurnya, melipat selimut, lalu memungut baju kotor di lantai. Semua dia lakukan dengan tempo cepat, tanpa sadar.

Setelah semua rapi, Banyu berdiri di tengah kamar. Dia diam.

Ada yang aneh.

Hening.

Tidak ada suara ngik-ngik dari dadanya. Tidak ada detak jantung yang memburu menyakitkan. Tidak ada rasa sesak yang biasanya muncul setiap kali dia habis bergerak.

Banyu meletakkan tangannya di dada kiri.

Dug... dug... dug...

Detaknya kuat. Tenang. Stabil. Seperti mesin motor baru yang stasioner.

Biasanya, setelah lari dari kamar mandi dan beres-beres kamar, dia harus duduk dulu 5 menit mengatur napas. Tapi sekarang? Dia merasa bisa lari keliling lapangan bola.

"Kok..."

Banyu menatap pantulan dirinya di cermin retak di dinding. Wajahnya tidak lagi pucat kebiruan. Ada rona merah segar di pipinya.

"Kok... gue gak ngos-ngosan?"

Banyu memegang dadanya lebih erat, matanya terbelalak tak percaya.

1
Anwar Kewer
mantab thor...ttp semangat, sehat sll n lanjut thor 😍😍😍
Nugroho Sodiq
harusnya dibalik thor..waktu di dlm kendi yg cepet, tapi dunia asli lmbat..biar cepet panen..😄
DipsJr: iya ya... nanti sy revisi lagi. 🤭
total 1 replies
Yandi Hidayat
sangat bagus
Wega Luna
papi Raka paling keren,,,,🤭🤭🤭🤭GK ada Raka Raka yg lain kalo GK Raka nya Vania Bella🤭🤭🤭
Gege
bener bener apik dan epic bangeed...asal ga kesurupan setan NT yang ngajarin kalimat mbuledd ajaa buat kejar setoran pasti rame terus ini novel...
Jujun Adnin
sampe tamat
Aji L
setengah hektar tu 5.000 m²
DipsJr: wah iya ya... 😅
makasih infonya tandi di revisi. 🙏
total 1 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣untung besar ,buat jajan di luar negeri
Gege
apik dan epic
Gege
sangat apik dan epic setiap episodenya... mungkin bisa dibuatkan cerita nelayan tajir... dengan pola yang sama tapi banyak mainan air..😄🤣
isnaini naini
gas lah pak mo..ayo brngkt...
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣 siapa yg nolak nyu ,gratis lagi
Jujun Adnin
lanjut
Apriyantho Apri
Perbanyak upgrade nya dong,please...
DipsJr: cuman bisa 3 kak. biar awet. 😔
total 1 replies
D'ken Nicko
kurang banyak babnya thor
Jujun Adnin
lagi
isnaini naini
siska mungkin pnya trauma masa lalu kali ya...kok klo liat orang bawaan nya skeptis melulu awas...nanti jth cinta loh...
isnaini naini
gpp nyu 100jt buat hdiah cuma2 tp scra tdk lngsng km sdh pnya koneksi aman lah...walau agak pait jg sih...100jt gt loh...😇
isnaini naini
smngt ya nyu buat author jg...
isnaini naini
benih lope2nih kyknya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!