Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"sebab kau bukan benda yang dapat kupegang sesuka hati,kau adalh arah yang kupilih dengan ragu,takut jika mencintaimu,berarti harus belajar merelakanmu"
Malam hari mulai menjelang, suasana cafeteria kecil di pinggir jalan cukup tenang dengan beberapa pelanggan yang sedang menikmati makan malam. Luna duduk di sudut pojok dengan wajah yang penuh pikiran, sambil mengamati Zayla yang baru saja masuk dan mencari tempat duduk.
Luna yang selama ini mengamati kegiatan Biru dan Elona ya Luna masih belum mau menyerah hanya hanya dia sedang menunggu kesempatan. Luna yang hampir tiap hari melihat Zayla si anak baru yang selalu mendekati Biru akhirnya menemukan celah ia akan memanfaatkan kesempatan ini.
"Zayla kamu Zyla kan ada yang ingin ku bicarakan denganmu "ucap Luna
"yah kakak kenal aku,ada apa yah?"tanya Luna
"siapa yang tidak mengenal mu si Anak baru yang selalu menginkuti ketua OSIS kita "ucap Luna
Muka Zayla memerah apa iya terlalu terang-terangan dengan mengejar Biru, oh Tuhan ia malu Zayla hanya mengangguk membenarkan perkataan Luna membuat Luna hanya tersenyum sinis ia akan menggunakan Zayla sebagai pion
Zayla apa kamu tahu Biru sudah memiliki orang yang dia suka tanya Luna memancing.
"Aku tau,lalu apa masalahnya?apa kamu pacar Biru"tanya Zayla
Bukan, Bukan aku,aku hanya memberitahu mu bhwa pacar Biru sekelas denganmu"ucap Luna
Sekelas denganku?? siapa menurutnya tidak ada yang lebih cantik selain dirinya
Elona,namanya Elona "lanjut Luna
"Apa ,Kak Luna bercanda yah tidak mungkin Kak Biru menyukai Elona apa yang menarik darinya"ucap Zayla
"Zayla mungkin kamu tidak tahu, tapi kami di sini tahu Biru selamanya hanya akan melihat Elona dan kamu, kamu tidak terlihat sama sekali di matanya dan
"Cukup Kak Luna apa yang kamu inginkan sebenarnya "ucapnya memotong pembicaraan Luna
"aku ingin menawarkan kesepakatan,kau menyukai Biru bukan,sedangkan aku ..
"Kau Menyukai Elona ya Tuhan kak Luna ap itu benar
astaga memalukan"ucap Zayla yang lagi lagi memotong pembicaraan Luna
"Mengap kau selalu memotong ucapanku,pantas saja Biru tidak melihatmu otak mu terlalu bodoh"ucapLuna marah
"apa maksudmu,kau mengataiku bodoh"ucap Zayla menantang
Aku belum selesai berbicara jadi jangan memotongnya lagi ok,Zayla hanya memgangguk.
Dia kemudian mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Tapi kamu tahu kan siapa Elona – gadis yang baru saja tinggal bersama keluarga Rekai itu. Dia bukanlah orang yang layak untuk Biru, Zayla. Dia hanya ingin menggunakan Biru untuk meningkatkan status dirinya sendiri.”
Zayla melihatnya dengan ekspresi yang penuh kebingungan. “Benarkah Kak Luna? Tapi aku lihat, Elona adalah orang yang baik dan tidak pernah melakukan apa-apa yang salah.”
“Kamu terlalu muda untuk melihat kebenaran yang sebenarnya, Zayla,” ujar Luna dengan nada yang semakin meyakinkan. “Elona adalah ahli dalam menyembunyikan kepura-puraannya. Dia sudah membuat banyak orang terluka hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk aku sendiri.”
Dia kemudian memegang tangan Zayla dengan lembut. “Aku punya ide untuk kita berdua bekerja sama. Kamu membantu aku membuat Elona menunjukkan wajah aslinya, dan aku akan membantu kamu mendapatkan perhatian Biru yang kamu layakkan. Bagaimana ?”
"Aku tak akan membiarkan Kak Biru dimanfaatkan oleh Elona baiik aku setuju"ucap Luna
Bagus Luna hanya tersenyum sinis dalam hatinya ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik baiknya.
DI RUANGAN KOSONG SEKOLAH
Keesokan harinya, Luna mengajak Zayla bertemu di ruangan kosong yang jarang digunakan di lantai tiga sekolah. Tempat itu cukup sepi dan aman untuk berbicara tanpa diganggu.
“Kita perlu membuat rencana yang matang, Zayla,” ujar Luna dengan suara yang penuh tekad. “Elona sangat pandai dalam membungkam orang-orang yang mencoba untuk membocorkan rahasianya. Kita harus berhati-hati dan melakukan semuanya dengan cara yang cerdas.”
Zayla mengangguk tanpa keraguan sedikit pun . “Aku akan melakukan apa saja yang kamu katakan, Kak Luna. aku akan membantu Kak Biru untuk melihat siapa Elona yang sebenarnya,tapi kita tak akan ketahuankan.”
“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu,” jawab Luna dengan senyum yang sedikit mengerikan. “Kita hanya akan membuka mata semua orang tentang siapa Elona yang sebenarnya. Kita tidak akan melakukan apa-apa yang salah, hanya menunjukkan kebenaran yang telah disembunyikannya.”
Luna kemudian menjelaskan rencananya secara rinci – mulai dari cara untuk membuat Elona terlihat buruk di depan teman-teman sekelasnya, hingga bagaimana cara membuat Biru menyadari bahwa Elona bukanlah orang yang layak untuknya. Dia menjelaskan bahwa Zayla akan menjadi pion utama dalam rencana tersebut, karena kedatangannya yang baru akan membuat orang lain lebih mudah mempercayainya.
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku katakan, Zayla,” ujar Luna dengan suara yang semakin meyakinkan. “Setelah semua ini selesai, Biru akan menyadari bahwa kamu adalah orang yang paling cocok untuknya. Kamu akan mendapatkan cinta yang kamu inginkan, dan aku akan mendapatkan keadilan yang pantasku terima.”
Setelah berbicara panjang lebar, mereka berdua keluar dari ruangan kosong dan berjalan menuju halaman sekolah yang mulai sepi menjelang pulang. Zayla masih merasa ragu dengan rencana yang telah mereka buat, namun dia juga merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian Biru.
“Kamu pasti tidak akan menyesal dengan kesepakatan ini, Zayla,” ujar Luna dengan suara yang penuh keyakinan. “Kita akan saling membantu satu sama lain dan mendapatkan apa yang kita inginkan.”
Zayla hanya bisa mengangguk meyakinkan dirinya sendiri. Dia merasa bahwa dia sedang berdiri di ambang keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, dia juga merasa bahwa dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan Luna – karena dia sangat menginginkan cinta dan perhatian dari Biru.
Di dalam hati, Luna merasa sangat senang karena berhasil mendapatkan dukungan dari Zayla. Dia tahu bahwa dengan menggunakan Zayla sebagai pionnya, dia akan bisa dengan mudah menghancurkan Elona dan mengambil alih hati Biru seperti yang seharusnya. Dia tidak peduli apakah Zayla akan terluka atau tidak – yang penting adalah dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya lagi.
“Semuanya akan berjalan sesuai rencana,” gumam Luna dengan senyum sinis saat mereka berpisah di depan gerbang sekolah. “Elona akan mendapatkan apa yang dia pantaskan, dan aku akan akhirnya mendapatkan cinta Biru yang telah kutunggu-tunggu selama ini.”